Di hari yang berbeda, di sebuah cafe yang cukup sepi, Nadia dan Geo duduk berseberangan. Cahaya senja yang meredup membuat suasana semakin intens. Mereka berdua tengah membahas mengenai novel yang sedang ditulis oleh Nadia.
Geo, dengan penampilannya yang khas jurnalis investigasi, tampak serius. Matanya yang tajam menatap Nadia, seolah mencoba membaca apa yang tersimpan di balik ekspresi wajahnya. Ia kemudian meraih buku catatan yang ada di depannya dan menyentuhkan ujung penanya ke bibirnya, seolah sedang berpikir keras.
Sementara itu, Nadia merasa tidak nyaman dengan tatapan Geo. Ia tahu bahwa Geo bukan tipe orang yang mudah ditipu. Nadia merasa seolah-olah Geo bisa melihat rahasia yang ia simpan mengenai di dalam laci pamannya, ada foto Jia yang ia kenal sebagai istri Geo yang sudah meninggal.
Mereka berdua kemudian terdiam, hanya suara gemerisik daun yang terdengar. Geo kemudian memecah keheningan itu. "Nadia," ujarnya lembut, "Apa yang terjadi padamu? Kamu tampak gundah dari tadi."
Nadia menunduk, mencoba mengumpulkan kata-kata. Ia merasa terjepit antara keinginan untuk jujur dan takut kehilangan kepercayaan Geo. Akhirnya, ia memutuskan untuk tetap diam dan berharap Geo tidak mengejar lebih jauh.
Namun, tatapan Geo semakin dalam, seolah menunggu penjelasan dari Nadia. Suasana semakin tegang, namun di tengah ketegangan itu, ada juga rasa penasaran dan harapan bahwa mereka bisa saling memahami satu sama lain.
"Nadia, kau tahu bagaimana cara menghilangkan kegundahanmu?" tanya Geo seraya menatapnya lembut dengan sedikit kerutan di dahinya.
Tatapan Geo pada Nadia penuh dengan kehangatan dan kepedulian. Matanya mencerminkan keinginannya untuk mengerti dan membantu Nadia melewati kegundahan yang sedang dia alami.
"Bagaimana caranya?" tanya Nadia dengan bingung, ia menatap Geo dengan harapan, mencari petunjuk atau jawaban yang bisa membantunya melewati kegundahan ini. Ada sedikit keraguan dalam matanya, seolah-olah ia bertanya-tanya apakah Geo benar-benar bisa membantunya.
"Ikuti aku," ucap Geo seraya membereskan semua barangnya.
Nadia merasa bingung melihat tingkah Geo yang sedikit bersemangat saat akan mengajaknya entah kemana.
Nadia dan Geo berjalan bersama menuju taman hiburan yang ramai. Seiring mereka memasuki area wahana, langit cerah dan suara tawa pengunjung menyambut mereka. Nadia merasa bingung dengan keputusan Geo untuk membawanya ke sini, namun ia tetap mengikuti langkahnya.
Mereka berdua melihat berbagai wahana yang mengesankan, seperti roller coaster yang menjulang tinggi dan wahana air yang menjanjikan sensasi menyegarkan. Di sepanjang jalan, mereka menyaksikan pertunjukan musik dan tarian yang menghibur pengunjung.
Namun, Geo tampak kaku sepanjang waktu, tidak mencoba untuk menikmati suasana atau mengajak Nadia mencoba wahana. Nadia mulai merasa kecewa, bertanya-tanya apa tujuan sebenarnya Geo membawanya ke sini.
Nadia dan Geo berjalan melewati wahana-wahana yang penuh dengan keceriaan dan tawa. Nadia tidak bisa menahan rasa kecewa dan kebingungannya lebih lama lagi, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada Geo.
"Geo, kenapa kita ke sini jika kita tidak mencoba wahana? Apa tujuan sebenarnya kita di sini?" tanya Nadia dengan nada sedikit sedih dan penasaran.
Geo menoleh ke Nadia, tersenyum lembut sebelum menjawab pertanyaannya. "Nadia, melihat orang lain tertawa lebih menyenangkan dari yang kau bayangkan. Terkadang, kita tidak perlu mencari kebahagiaan dengan mencoba segala sesuatu sendiri. Melihat orang lain bahagia, bisa membuat kita merasa bahagia juga."
Nadia terkejut dengan jawaban Geo, ia mencoba memahami maksudnya. Mereka berdua duduk di sebuah bangku taman, menatap keluarga-keluarga yang menikmati waktu mereka di taman hiburan.
Perlahan, Nadia mulai merasakan kehangatan dalam hatinya. Ia menyadari bahwa Geo benar, melihat orang lain bahagia bisa membuat kita merasa bahagia juga. Air mata haru mengalir di pipi Nadia saat ia tersenyum, menatap Geo dengan rasa terima kasih.
"Geo, aku mulai mengerti maksudmu. Tapi, melihat orang lain bahagia belum cukup untuk membuat hati kita ikut bahagia." ucap Nadia. "Kita perlu merasakannya juga, merasakan bagaimana orang itu bisa bahagia," imbuhnya.
Nadia bangkit dan menarik tangan Geo, mengajaknya untuk membeli tiket dan mencoba salah satu wahana yang menegangkan. Di sepanjang perjalanan wahana, Geo merasa sangat tegang dan tidak bisa bersuara karena rasa takut dan gugup yang menyelimuti dirinya. Meskipun pernah menaiki wahana yang sama bersama Jia sebelumnya, Geo tetap merasa takut akan kecepatan wahana tersebut.
Geo tersenyum, merasa lega telah berhasil membantu Nadia menemukan kebahagiaan dalam caranya. Mereka berdua melanjutkan hari itu dengan menikmati pemandangan dan keceriaan di taman hiburan, merasa lebih bahagia dan dekat satu sama lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments