Pada malam hari, Dika merasa sangat gelisah. Dia merasa seperti ada beban berat di hatinya yang tidak bisa dia lepaskan. Dia merasa perlu untuk berbicara dengan Jia, untuk mencari petunjuk dan dukungan dari Jia tentang bagaimana dia harus melanjutkan hidupnya.
Dika juga merasa bahwa dia perlu waktu sendirian untuk merenung dan berbicara dengan Jia. Dia merasa bahwa dia bisa lebih jujur dan terbuka tentang perasaannya ketika dia sendirian. Dia tidak ingin mengganggu Geo atau orang lain dengan perasaannya, jadi dia memutuskan untuk pergi sendirian.
Selain itu, Dika merasa bahwa malam adalah waktu yang paling tenang dan damai untuk mengunjungi makam Jia. Dia merasa bahwa dia bisa lebih fokus dan merasa lebih dekat dengan Jia di malam hari, ketika tidak ada orang lain di sekitar.
Sementara itu, seorang pria misterius, yang telah mengawasi Dika selama beberapa waktu, melihat Dika pergi sendirian. Melihat ini sebagai kesempatan yang sempurna, pria misterius ini mengikuti Dika dengan diam-diam.
Ketika Dika tiba di makam Jia, dia berlutut di depan batu nisan dan mulai berbicara dengan lembut pada Jia, mengungkapkan perasaan dan ketakutannya. Dia merasa terhubung dengan Jia dan mencari dukungan dalam menghadapi kesulitan yang dihadapinya.
Dika berdiri di depan batu nisan Jia, merasa seolah-olah dia berdiri di depan Jia sendiri. Dia merasakan kehadiran Jia yang tenang dan damai, dan mulai berbicara dengan lembut.
"Jia, aku merindukanmu. Setiap hari rasanya seperti seumur hidup tanpamu. Aku merindukan senyummu, tawamu, dan cara kamu selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk membuatku merasa lebih baik."
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air matanya.
"Aku merasa begitu bingung dan hilang tanpamu, Jia. Aku tidak tahu bagaimana melanjutkan hidupku saat melihat saudaraku terluka seperti itu. Aku merasa seperti aku kehilangan bagian dari diriku."
Dika menundukkan kepalanya, merasakan kesedihan yang mendalam menyerangnya.
"Aku berharap kamu masih di sini, Jia. Aku berharap kita masih bisa berbicara, tertawa seperti dulu. Aku berharap aku bisa memberi tahu kamu betapa aku mencintaimu dan menghormatimu sebagai kakak iparku."
Dia menatap batu nisan Jia, merasakan rasa kehilangan yang begitu mendalam.
"Tapi aku tahu aku harus melanjutkan hidup, Jia. Aku tahu itu yang kamu inginkan. Aku berjanji akan mencoba yang terbaik untuk menjadi adik ipar yang kamu banggakan. Aku akan mencoba untuk menemukan kebahagiaan dan tujuan dalam hidupku, seperti yang kamu lakukan."
Dika menarik napas dalam-dalam, merasa seolah-olah dia telah mengungkapkan sebagian dari beban yang dia rasakan.
"Aku akan selalu merindukanmu, Kak Jia. Aku berjanji, aku tidak akan pernah melupakanmu."
Dengan hati yang berat, Dika berdiri dan pergi, meninggalkan batu nisan Jia dalam damai dan kesunyian malam.
Pria misterius itu, yang bersembunyi di balik pohon, memutuskan bahwa saatnya sudah tiba untuk menghadapi Dika. Dia keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Dika dengan langkah cepat. Dika, yang terkejut oleh kehadiran pria misterius itu, berdiri dengan cepat dan mundur beberapa langkah.
Pria misterius itu berkata, "Kau tahu sesuatu yang tidak seharusnya kau ketahui, Dika."
Dika, yang ketakutan dan bingung, mencoba berbicara dengan pria misterius tersebut.
"Aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!" ucap Dika dengan lantang.
Pria misterius, yang marah dan tidak percaya, mengambil pisau dari sakunya dan mengancam Dika.
"Jangan berbohong padaku! Kau harus tahu sesuatu!" ucap pria misterius itu.
Dika, yang ketakutan dan putus asa, terus menegaskan bahwa dia tidak tahu apa-apa. Pria misterius, yang frustrasi dan marah, mengayunkan pisau ke arah Dika, menusuknya di perut. Dika jatuh ke tanah, merintih kesakitan.
"Tolong... jangan bunuh aku. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa." ucap Dika memohon.
Pria misterius, yang merasa tidak ada pilihan lain, mengayunkan pisau lagi, mengakhiri hidup Dika. Dia meninggalkan tubuh Dika di samping makam Jia, yakin bahwa dia telah mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi rahasianya.
Merasa menusuk Dika saja tidak puas, pria misterius itu melanjutkan aksinya dengan mencekik Dika. Memastikan jika pria itu benar benar sudah tidak bernyawa lagi.
Keesokan harinya, sinar matahari menembus jendela rumah Geo, namun tak ada kehangatan yang biasanya dirasakannya. Geo merasakan sesuatu yang familiar, ada sesuatu yang berat di hatinya. Dia berjalan keluar rumah, berharap udara segar bisa mengusir perasaan buruk ini. Meskipun masih sangat pagi, Geo membersihkan dirinya dan menuju kuburan Jia, tempat dia dan Dika sering menghabiskan waktu bersama, berbicara dan mengenang Jia.
Sampai di sana, pemandangan yang dia temukan membuat napasnya terhenti. Di samping batu nisan Jia, terbaring tubuh Dika yang tidak bergerak. Wajahnya pucat, matanya terpejam, dan di perutnya terdapat luka tusuk yang menghancurkan hati Geo.
Geo berlari mendekati Dika, berharap ini semua hanya mimpi buruk. Dia menatap wajah Dika, memegang tangannya yang dingin, dan berteriak memanggil namanya, berharap Dika akan bangun. Tapi tidak ada jawaban, hanya kesunyian yang memekakkan telinga.
Rasa sakit yang mendalam menyerang Geo. Dia merasa seolah-olah dunianya runtuh. Dia baru saja kehilangan Jia, dan sekarang, Dika, saudaranya, orang yang selalu ada untuknya, juga telah pergi. Kenyataan ini terasa begitu kejam dan tidak adil.
Geo jatuh berlutut di samping tubuh Dika, menangis dengan suara hancur. Dia berbisik pada Dika, mengungkapkan penyesalannya karena tidak ada di sana untuk melindunginya, dan berjanji akan mencari tahu siapa yang telah melakukan ini.
Kesedihan yang mendalam menyelimuti Geo. Dia merasa seolah-olah dia kehilangan bagian dari dirinya. Dia merasa hampa, marah, dan tak berdaya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan beristirahat sampai dia menemukan pembunuh Dika dan membawanya ke pengadilan.
Hari itu, Geo kembali ke rumah dengan hati yang berat dan penuh duka. Dia berjalan melewati kamar Dika, melihat foto-foto mereka berdua, dan merasakan kehilangan yang begitu dalam. Dia merindukan suara Dika, tawanya, dan bahkan pertengkarannya.
Geo tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia kehilangan dua orang yang paling dia cintai dalam waktu yang sangat singkat. Tapi dia juga tahu bahwa dia harus kuat, untuk menghormati ingatan mereka dan mencari keadilan untuk mereka.
Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan membiarkan kematian mereka sia-sia. Dia akan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab dan memastikan bahwa mereka membayar untuk apa yang telah mereka lakukan.
Setelah menemukan Dika tewas, Geo merasa perlu mencari tahu lebih banyak tentang apa yang terjadi pada hari-hari terakhir Dika. Dia berbicara dengan teman-teman dan rekan kerja Dika, mencoba mencari tahu apakah Dika pernah menyebutkan sesuatu yang mencurigakan atau tidak biasa.
Salah satu teman Dika, Rani, mengungkapkan bahwa Dika tampak gelisah dan khawatir beberapa hari sebelum kematiannya.
"Dika bilang dia merasa seperti ada seseorang yang mengikutinya. Dia bilang dia melihat orang yang sama beberapa kali dan merasa tidak nyaman. Dia tidak tahu siapa orang itu atau mengapa dia mengikutinya."
Informasi ini membuat Geo semakin curiga bahwa kematian Dika mungkin bukan kecelakaan atau kebetulan. Dia berterima kasih kepada Rani dan memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang orang misterius yang mungkin telah mengikuti Dika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments