Bab 9 : Bukti dan Jalan

Geo merindukan Jia hingga titik di mana kehilangannya membuatnya hampir kehilangan akal. Setiap hari, bayang-bayang Jia menghantui pikirannya, memenuhi setiap sudut hatinya hingga dia merasa tak bisa bernafas. Rasa rindu itu begitu menggigit, seolah-olah ada lubang hitam di dalam dada yang tak pernah bisa diisi kembali.

Malam-malam yang sepi membuat Geo terjaga, merasa seolah Jia masih berada di sampingnya, berbisik pelan di telinganya dan mengelus rambutnya dengan lembut. Namun, saat dia membuka matanya, realitas yang pahit menyadarkannya bahwa Jia tak akan pernah kembali.

Hari itu, malam itu juga, dalam halusinasinya, Geo melihat Jia berdiri di samping jendela, cahaya rembulan menyoroti wajahnya yang cantik. Dia merasa seolah-olah Jia benar-benar ada di sana bersamanya.

Dengan penuh rindu, Geo mulai berbicara.

"Jia, aku tak tahu bagaimana cara mengatasi rasa rindu ini. Setiap hari, aku bangun dengan harapan dapat melihat senyumanmu lagi, tapi kamu tak ada di sini. Aku merasa sangat kesepian, Jia. Aku sangat merindukanmu."

Jia, dalam halusinasi Geo, hanya tersenyum lembut, seolah mendengarkan setiap kata yang diucapkan Geo.

"Rasanya tak adil. Mengapa harus kamu yang pergi? Aku membutuhkanmu di sini, Jia. Aku membutuhkanmu untuk melengkapi hidupku. Aku merasa tak lengkap tanpamu." lanjutnya.

Jia tetap diam, namun matanya menatap Geo dengan penuh kasih sayang, seolah ingin mengatakan bahwa dia selalu ada di hati Geo.

"Jia. Aku benar-benar tak tahu bagaimana cara melanjutkan hidup tanpamu di sini. Aku sangat merindukan cara kamu mengelus rambutku saat aku sedih, atau bagaimana kamu selalu bisa membuatku tertawa saat lelah. Aku merindukan segala hal tentangmu, Jia," ucapnya seraya menatap bayang bayang Jia dengan mata yang berbinar sedih.

Geo mengulurkan tangannya, ingin meraih Jia, merindukan kehangatan yang selalu dia rasakan dari sentuhan Jia. Namun, saat tangannya hampir menyentuh Jia, Jia perlahan menghilang, seperti kabut yang ditiup angin.

Geo mencoba mengendalikan emosinya yang meluap-luap, menahan air matanya yang hendak jatuh, dan mengekang perasaan rindu yang amat sangat terhadap Jia. Dia merasakan hatinya bergetar, berusaha keras untuk tetap tegar di tengah kenangan indah yang terus menerpa pikirannya.

Beberapa hari kemudian...

Nadia memutuskan untuk menghubungi Geo untuk mengatur pertemuan. Saat Geo menjawab telepon, Nadia mengatakan ingin mengembalikan uang yang ia pinjam setelah keluar dari sel tahanan. Geo yang menganggap tak akan ada masalah jika bertemu Nadia sebentar pun, setuju untuk bertemu. Namun, Nadia meminta agar Geo datang kerumahnya.

Ketika Geo memasuki rumah Nadia, dia tampak sedikit dingin dan tertutup. Dia memandang sekeliling dengan ekspresi serius dan sedikit tidak tertarik. Namun, Nadia, mencoba untuk menghangatkan suasana.

"Geo, terima kasih sudah datang. Aku pikir akan membuang buang waktu jika keluar dan tak melanjutkan pekerjaanmu ... Ah, bukan berarti aku mengatakan kau membuang-buang waktu dengan datang ke sini. Aku akan sangat senang jika kamu tidak berpikir seperti itu." ucap Nadia.

Geo, dengan nada datar berkata,"Tidak masalah. Aku di sini untuk mengambil kembali uangku. Aku tak ingin memberikan kelonggaran padamu, karena jika orang lain yang kau pinjami, mereka tak akan selembut ini padamu. Dunia sangatlah keras, kau harus bisa mengimbanginya dengan bekerja keras."

Nadia merasa sedikit kesal dengan sikap Geo yang dingin, namun dia tetap berusaha menjaga suasana tetap ceria.

"Tentu, ini uangmu, juga bunganya. Tapi, sebelum pergi bagaimana kalau kita duduk sebentar dan berbicara? Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu dengan novelku," ucap Nadia dan menahan Geo yang hendak pergi setelah mengambil uangnya

Geo, tampak agak enggan, akhirnya setuju dan mereka mulai berbicara tentang novel Nadia. Meskipun Geo tampak tidak terlalu tertarik pada awalnya, dia mulai membuka diri saat mereka mulai membahas plot dan karakter dalam novel.

"Mungkin kamu bisa mengeksplorasi lebih dalam tentang latar belakang karakter utama. Mungkin ada rahasia atau pengalaman masa lalu yang mempengaruhi keputusan mereka saat ini." ucap Geo memberikan saran.

"Itu ide yang bagus, Geo. Terima kasih!"

Nadia, tampak ragu, menambahkan, "Kamu tahu, kamu bisa jadi lebih baik jika kamu sedikit lebih terbuka dan ramah."

Geo, tampak sedikit terkejut dengan komentar Nadia, hanya tersenyum tipis dan kembali ke pembahasan novel. Meskipun, Nadia kadang merasa kesal dengan sikap Geo yang menyebalkan.

Saat Geo dan Nadia tengah asyik membahas novel, tiba-tiba telepon Geo bergetar. Dia melihat layar teleponnya dan tampak terkejut.

"Maaf, Nadia. Ini Raka, aku harus mengangkatnya." ucap Geo.

Geo menjauh sedikit dan mengangkat telepon. Nadia hanya bisa duduk dan menunggu, merasa penasaran dan khawatir dengan ekspresi serius Geo.

"Halo, Raka? Ada apa?" tanya Geo.

Raka, di ujung telepon, terdengar gugup dan terburu-buru "Geo, kami menemukan tempat di mana Jia dibunuh. Kamu harus tahu tentang ini."

Geo tampak terpaku. Dia mendengarkan apa yang Raka katakan dengan serius, tampaknya berusaha memahami setiap detail. Setelah beberapa menit, dia mengakhiri panggilan dan menaruh teleponnya kembali ke saku.

Geo menoleh ke Nadia, wajahnya tampak pucat dan serius. Dia berdiri dan berkata, "Nadia, maaf, aku harus pergi. Ada sesuatu yang penting yang harus aku urus."

Nadia, yang merasa prihatin dan ingin membantu, "Geo, apakah ada yang bisa aku bantu? Kamu tampak sangat khawatir." tanya Nadia seraya berdiri dan ingin menghampiri Geo.

Namun, Geo, dengan sikap dingin, menggelengkan kepala dan menjawab, "Tidak, ini adalah sesuatu yang harus aku hadapi sendiri."

Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Geo segera beranjak meninggalkan rumah Nadia. Nadia merasa bingung dan kecewa, tetapi dia menghormati keputusan Geo dan memutuskan untuk memberinya ruang yang dia butuhkan.

Raka menjelaskan bahwa pelaku meninggalkan sebuah buku catatan di tas milik Jia yang berisi informasi penting tentang gudang tempat dia dibunuh dengan tulisan tangan pelaku itu sendiri.

Sebelum melaksanakan rencananya, pelaku menyembunyikan buku catatan tersebut di dalam tas milik Jia yang ditemukan di tempat kejadian. Setelahnya, pelaku dengan sengaja meletakkan tak milik Jia di kantor Raka tanpa sepengetahuan siapapun.

Pelaku tahu bahwa Geo dan Raka akan mencoba mencari tahu lebih banyak tentang hubungan Jia dengan gudang tersebut dan akan menemukan buku catatan itu saat mereka menyelidiki tas tersebut.

Namun, ada saat dimana Raka bertemu dengan koleganya untuk membahas kasus pembunuhan keluarga Geo dan memutuskan untuk menggali lebih dalam ke dalam bukti yang mereka miliki. Mereka sedikit curiga dengan tas milik Jia dan mulai mengeluarkan isinya. Ketika mereka menemukan buku catatan tersebut, mereka segera membaca setiap halamannya

Mereka membuka buku catatan dan mulai membaca entri yang ditulis oleh Jia. Di antara catatan harian dan gambar, mereka menemukan beberapa halaman yang berisi informasi tentang gudang, termasuk alamat dan beberapa detail tentang kegiatan yang terjadi di sana. Tapi, di informasi tersebut tulisannya tak sama seperti tulisan Jia sebelumnya.

Raka segera menyadari bahwa mereka mungkin telah menemukan lokasi tempat Jia dibunuh. dengan segeralah Raka menghubungi Geo dan memberitahu hal tersebut kepadanya.

Mengikuti petunjuk yang ditemukan dalam buku catatan, Geo dan Raka segera pergi ke gudang yang dituliskan di catatan Jia.

Ketika mereka tiba di sana, mereka menemukan lebih banyak bukti yang menghubungkan gudang tersebut dengan pembunuhan Jia dan mulai menyusun teka-teki untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.

Terpopuler

Comments

R Suryatie

R Suryatie

mulai ada titik terang

2023-09-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!