Senja yang selalu melampirkan warna orange di taman tepian sungai Lucia membuat gadis itu selalu betah untuk berlama-lama duduk diam disana.
"Cla ..., ini! aku ingin mengembalikan ini padamu!" gadis tambun berkacamata itu nampak menyodorkan sesuatu pada sahabat nya.
Claresta seketika menoleh pada seseorang yang tengah menyapanya,
"Vivian?, bagaimana kau tahu aku berada disini?" gadis itu tersenyum,
"Maaf, aku mengikuti mu beberapa hari ini!" Vivian berucap terbata, raut wajahnya juga nampak tak tenang saat berhadapan dengan Claresta.
"Tak apa! kau bawa saja kartu itu Vivian, sepertinya dirimu lebih membuat nya."
"Tidak Cla, aku tahu siapa sebenarnya dirimu! aku hanya tak ingin jika sampai tersangkut masalah apalagi jika mommy mu menuntut ku!"
Vivian akhirnya meninggalkan sebuah black card yang pernah diberikan Claresta pada sahabat universitas nya, gadis tambun itu pun akhirnya kembali berlari menjauh dari hadapan Claresta.
"Nona Muda! Nyonya ingin bicara," pria kekar dengan baju serba hitam nampak mengejutkan Claresta.
"Tak bisakah diriku pergi sendiri mom? aku ini bukan bayi! kau bahkan tega melepas dan membiarkan ku tinggal sendiri diluar negeri! kenapa aku harus selalu diikuti manusia-manusia batu itu ketika berada di negeri sendiri?" Claresta berdecak kesal.
"Jangan mengomel terlebih dulu sweetie! mom hanya ingin kau selalu menjawab panggilan, karena kau selalu mengacuhkan mom dan membuat mom sedih!" suara Nyonya Emili nampak terdengar lembut mendayu.
Sandiwara macam apalagi ini? apa dia merencanakan sesuatu?
Claresta memicingkan matanya, ia nampak memahami perilaku lembut sang ibu yang tampak ada maunya.
"Apa teman miskin mu itu sudah mengembalikan barang yang ia pinjam sebelumnya? lain kali berhati-hatilah dalam berteman Claresta! mom tidak suka jikalau dirimu sampai bermain di lingkungan kumuh mereka!"
"Apalagi ini? kenapa kau harus mengatur dengan siapa aku harus bergaul?, sialan!!!"
"Jaga bicara mu Claresta!" Nyonya Emili akhirnya meninggikan suaranya,
"Selama ini aku selalu menuruti perkataan mu bukan? masuk universitas ini, berpindah ke sana dan kemari, apa itu masih juga kurang?"
"Kau harus ingat Resta! dirimu yang bilang bahwa kau itu boneka milik mom! jadi turuti perkataan mom!"
Sambungan terputus, Nyonya Emili nampak tak menginginkan Claresta menyanggah perkataan nya.
"Hyaaaaaakk!" Claresta memekik, perlahan tubuhnya merosot dan akhirnya terduduk serta memeluk kedua kakinya,
Aku membenci nya Tuhan! kenapa kau membiarkan diriku terlahir dari wanita seperti nya?
Tubuhnya gemetar, lagi-lagi kecewa dan emosi menguasai dirinya. Gawai yang hancur dengan puing yang nampak berceceran cukup bisa memastikan bahwa Claresta tengah meluapkan amarahnya.
"Sebaiknya kita kembali ke rumah sekarang Nona! itu akan lebih baik!" suara seorang bodyguardnya kiriman ibu Claresta nampak memperingatkan gadis itu.
"Kalian bisa pergi! aku masih ingin berada disini!"
"Maaf Nona Muda, lebih baik Anda menurut karena Nyonya memberikan kuasa pada kami untuk membawa Nona Muda dengan paksa, tolong jangan membuat kami berlaku kasar pada Nona!"
Buliran air mata kembali mengalir membasahi pipi Claresta, ia sama sekali tak memiliki pilihan jika tinggal bersama ibu kandungnya, alasan nya nampak bersyukur saat bisa berada dan tinggal dirumah Nyonya Anne, istri kedua dari Tuan Adam.
Tanpa disadari oleh siapapun, Vivian nampak memperhatikan nasib malang dari sahabat barunya,
Ternyata kehidupan Claresta tidak seindah yang ku bayangkan, aku ingin menjadi sahabat mu Cla! tapi sepertinya kita memang berbeda.
Maaf jika aku menjauhi mu,
Tatapan Vivian masih saja tak lepas dari gadis yang kini masih saja terduduk diam dengan kedua bodyguard kiriman Nyonya Emili,
...*****...
"Terima kasih atas jamuan makan malamnya Tuan Adam! saya sungguh menikmati nya!" Liam tersenyum dan nampak berbicara dengan begitu hangat.
"Putri ku meminta ku untuk mengundang mu ke rumah Nak Liam! bagaimana keadaan ibu mu? apa dia baik-baik saja?"
Liam kembali mengangguk perlahan,
Sepanjang acara makan malam Rensi tampak tak menyurutkan senyuman, gadis itu terlihat begitu mengagumi sosok psikiater muda yang kini hadir di kediaman nya.
Perbincangan hangat antara Tuan Adam juga Liam membuat Nyonya Anne melupakan sedikit perselisihan antara dirinya juga suaminya.
"Apa Resta sudah mengunjungi mu Nak?" Nyonya Anne akhirnya turut membuka suara dengan menyajikan makanan penutup untuk tamunya.
"Belum Nyonya, bahkan saya kehilangan nomor ponselnya," raut wajah kecewa nampak terlihat begitu nyata pada diri Liam.
"Kenapa harus membahas nya sekarang sayang?" Tuan Adam nampak menyela,
"Aku mengkhawatirkan nya Adam, apa kau tak melihat lukanya kian bertambah?"
Kak Resta, kenapa dia selalu membuat ayah juga ibu berdebat?
kenapa selalu menyusahkan semua orang seperti ini kak?
Raut wajah Rensi berubah seketika, nampaknya gadis itu sedikit gusar karena Resta selalu menyulut pertikaian diantara kedua orang tuanya.
...*****...
"Ganti pakaian mu sekarang! mom sudah memilih gaun untuk mu! kita akan pergi sepuluh menit lagi!"
Kalimat ketus itu kembali tertuju pada Resta begitu ia melangkah memasuki hunian mewah milik ibu kandungnya.
"Aku lelah! aku ingin istirahat," Claresta hanya menanggapi dengan ucapan datar dengan wajah tanpa ekspresi.
"Claresta! jangan selalu membuat darah mom mendidih seperti ini!" tatapan tajam penuh intimidasi nampak kembali terlampir pada wajah sang model.
"Apa kau ingin kembali menampar ku? lihat lah caramu membuat sahabat ku ketakutan! sungguh Anda jago sekali dalam hal mengancam seseorang!" gadis itu terkekeh dengan memalingkan wajahnya.
" Sahabat? mereka hanya memanfaatkan uang mu Resta! jangan tolol kamu! mereka tak akan pernah sudi mendekati gadis aneh sepertimu jika kau tak berdiri di samping mom! apa mereka juga yang mengajari mu merokok? sejak kapan kau merokok?"
"Itu semua tak ada sangkut pautnya dengan mereka! kenapa kau baru menyadari nya? bukankah dirimu juga terbiasa menyesap nikotin? kenapa harus berpura-pura terkejut seperti ini?" gadis itu kembali berucap enteng.
"Cukup Claresta! Jangan salahkan mom jika sampai mom hilang kendali! mom sudah cukup bersabar selama ini!"
Dia bersabar? untuk siapa dia bersabar?
Claresta sama sekali tak gentar dengan ancaman yang telah biasa ia terima dari lisan ibu kandungnya,
"Terserah! aku tak akan pernah mau mengikuti kemauan mu lagi mulai saat ini! itu membosankan!"
Claresta, gadis itu berlalu dan melangkah cepat menuju kamarnya, membanting pintu serta melempar tubuh nya di atas ranjang.
"Aku benci berada di rumah ini! wanita ****** itu? apa dia akan turut menjual diriku?" Claresta bergumam, tangannya nampak meremas kuat dan memeluk guling kamarnya.
Sementara itu, sang model papan atas nampak kembali mondar-mandir di dalam ruangan nya.
Bagaimana caraku meyakinkan Claresta? tidak mungkin juga diriku membawa nya dengan keadaan tangannya yang penuh luka seperti itu,
sama sekali tidak anggun,
Wanita itu kembali mengomel dalam hati dengan menggigit kuku jarinya,
"Aaaaaghh, Claresta aku bisa gila! kenapa kau selalu saja membuat ku berpikir keras seperti ini? aku membencimu, tapi kau satu-satunya putri ku! belum lagi ancaman Blare malam itu! aku harus bagaimana sekarang?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments