Kaleng Soda Kosong

"Kak Iam!" gadis itu melambaikan tangan pada Liam dengan menyunggingkan senyuman.

"Bagaimana kabarmu? apa bibi baik-baik saja?" Liam turut tersenyum dan mendudukkan dirinya dihadapan Rensi, gadis yang selama ini selalu bersikap manis padanya.

"Ibu baik-baik saja kak, meskipun suasana hatinya sering berubah."

Liam mengangguk-angguk pertanda ia memahami kalimat Rensi, pria itu sedikit banyak telah tahu kenapa Nyonya Anne mengalami mood swing.

"Apa dia belum juga mengunjungi mu kak?"

Liam menggeleng perlahan, ia kembali tersenyum getir seraya mengaduk cappucino yang telah disuguhkan oleh pelayan.

"Bagaimana dengan acara camping waktu itu Rensi? apa kau menikmati nya?" Liam mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.

"Hari itu ..., cukup menyenangkan kak! sayang kakak tidak turut hadir bersama kita."

Rensi, gadis cantik dengan rambut lurus bergelombang itu nampak bercerita dengan antusias serta mata berbinar sepanjang percakapan nya bersama Liam siang itu di sebuah cafe langganan mereka.

"Apa kakak ada waktu weekend ini? aku ingin mengundang kakak untuk makan malam dirumah, sudah lama juga kakak tidak mampir kan?"

Liam nampak kembali berpikir dalam diam sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya untuk memenuhi undangan makan malam dari Rensi.

Di tempat lain, seseorang terlihat kembali memohon dan mencoba untuk mengalihkan perhatian Resta.

"Tolong pikirkan lebih dulu Cla! kita bisa menjadi team yang paling disegani di kampus ini!" Sofia kembali berucap dengan sungguh-sungguh bahkan nampak memohon.

"Berhenti lah mengikuti ku! kau membuatku risih Sofia! dan sekali lagi, aku tak tertarik untuk mengikuti event semacam itu! apalagi masuk dalam team pem_bully seperti mu!" ucapan ketus dengan wajah datar semakin membuat Resta dijuluki gadis dingin di kalangan teman-teman kampusnya.

Sikap acuh serta jarang nya Resta membuka suara semakin membuat Resta tenggelam dan tak ada satupun yang berani mendekati nya kecuali Sofia, gadis yang sedikit banyak telah mengetahui tentang siapa diri Resta sebenarnya.

"Sepertinya akan sulit untuk bisa membuatnya bergabung bersama kita Sofia!"

"Tidak! aku akan tetap mencoba untuk mengambil hatinya, kita bisa mendapatkan banyak keuntungan jika Resta mau bergabung dengan team kita Agnes! apa kau tak melihat tempat Claresta menghabiskan waktunya setiap pulang kuliah?"

"Maksud mu?" Agnes kembali menampilkan raut wajah yang penuh tanya.

"Claresta memberikan sebuah black card pada Aluna, untuk pegangan teman-teman miskin nya itu!"

"What the f*ck? are you sure?" Agnes terbelalak seketika karena ucapan Sofia.

Sofia mengangguk dengan yakin,

"Jadi itu alasan mu mendekati nya?" Agnes terkekeh.

"Tentu saja! Claresta bisa menjadi mesin uang untuk memenuhi keinginan kita, jika kita bisa benar-benar merebut hatinya!" gadis itu kembali menampilkan senyum licik nya.

"Dari awal ini salah mu Sofia! kalau saja dirimu tak mencoba untuk mem_bully nya waktu itu, Resta pasti sudah bergabung bersama kita tanpa ragu!" Agnes berdecak kesal saat menyadari akal busuk Sofia.

"Diam lah! kenapa kau juga tak memberikan informasi yang jelas padaku tentang semua mahasiswa pindahan saat itu? jangan menyalahkan diriku saja, itu semua juga karena kecerobohan mu!"

Agnes seketika bungkam mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Sofia.

Sofia, dirimu itu memang arogan!

Gadis yang telah lama bersahabat itu nampaknya kini tengah berada dalam selisih paham.

Apa kau butuh tempat bersandar?

Kalimat Liam kembali berputar dalam ingatan Claresta, gadis itu kembali duduk membungkuk dan bersandar di atas meja kelasnya, ia juga nampak menyembunyikan kepalanya dibawah lengan kirinya.

"Apa Claresta masih marah pada kita?" Vivian nampak berujar tanya pada Andrew.

"Harusnya dia marah padaku! bukan padamu atau Aluna."

Kedua sahabat Claresta itu nampak memperhatikan Claresta dari tempat duduknya, mereka bingung karena kejadian yang sempat membuat mereka canggung sebelumnya.

Perubahan sikap Claresta benar-benar membuat tiga sahabat nya tak berani berbuat apa-apa. Sikap Resta yang semakin acuh dan tak ingin bertegur sapa saat mereka berpapasan, membuat Andrew juga Vivian mengurung kan niatnya untuk mendekati si nona Lucia.

Mungkin untuk sementara memang lebih baik seperti ini,

Resta berjalan seorang diri, atensinya teralihkan saat mendapati sebuah kaleng kosong tepat dibawah kaki kanannya, dan tanpa ragu gadis itu menendang kaleng kosong dihadapan nya dengan sekuat tenaga.

"Aaaiiiish! manusia tak waras mana yang dengan sembarangan menendang kaleng ditempat umum seperti ini?" seorang pria nampak mengusap perlahan kepalanya karena ulah Resta.

Dia? pria itu, bagaimana bisa dia berada ditempat ini? aku harus kabur, jangan sampai dia melihat ku!

Resta melotot tak percaya dan kembali mengambil ancang-ancang untuk berlari saat itu juga.

"Heiii, kau! berhenti disitu!"

Langkah Resta nampak terhenti, tubuhnya terasa berat karena rasa bersalah yang telah ia lakukan.

"Maaf Tuan saya sungguh tidak sengaja! sungguh saya minta maaf!" Resta berucap tanpa memperhatikan pria yang semakin melangkah cepat menuju ke arahnya.

"Hanya maaf? kau bisa membuat ku mengalami gegar otak! apa kau tahu itu?" Christian menarik lengan Resta dan seketika membuat gadis itu berbalik badan hingga menatapnya.

"Kau???"

"Saya sungguh minta maaf Tuan, tolong lepaskan saya!" gadis itu tertunduk dihadapan pria asing yang beberapa kali pernah terlibat insiden dengan nya.

Senyum licik nampak menghiasi bibir Christian,

"Aaaaaghh, bagaimana bisa kau ingin kabur begitu saja? setidaknya bawa aku ke rumah sakit untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mu, manis!"

"Rumah sakit? apa separah itu? sepertinya itu tidak terlalu keras!" suara Resta kini terdengar terbata.

"Apa kau pikir kepalaku ini sebuah besi batangan? belum juga diriku melupakan tentang tendangan kakimu pada junior ku malam itu, sekarang kau berulah lagi dan ingin merusak isi otakku?"

Ucapan Christian semakin membuat Claresta tertunduk, saat mengingat tingkah kurang ajarnya.

"Maaf, saya sungguh minta maaf Tuan! tolong lepaskan saya."

Christian kembali melayangkan tatapan nya menuju pergelangan tangan Claresta, sebelum akhirnya menarik gadis itu untuk mengikuti langkahnya.

"Temani diriku ke rumah sakit sekarang! atau aku akan mencari orang tuamu untuk meminta pertanggungjawaban!" pria itu menarik paksa tubuh Resta dan memasukan gadis itu ke dalam mobil berwarna silver miliknya.

Orang tua? pertanggungjawaban?

Ayolah Resta turuti saja kemauannya, jangan sampai masalah ini menjalar pada Nyonya Emili apalagi Tuan Adam, kau akan jauh lebih repot nantinya,

Resta akhirnya duduk diam dan bungkam seketika, saat Christian mengancam nya dengan kalimat pertanggungjawaban orang tua atas tingkah nya.

Bagus akhirnya aku bisa tahu siapa gadis ini sebenarnya.

Tak ada percakapan sama sekali di dalam mobil itu, Claresta benar-benar bungkam dengan wajah datarnya. Hal itu justru membuat Christian terpaku menatap paras cantik Claresta, gadis berwajah datar dengan dagu lancip dan bibir mungil yang menawan.

Semoga saja pria ini tak menuntut ku macam-macam,

Tuhan, tolong lah diriku!

Episodes
1 Sambutan Keluarga
2 Sungai Lucia
3 Kenapa Diriku Mendapat Perlakuan Berbeda?
4 Teman Tambun Berkacamata
5 Sang Psikiater
6 Ibu Peri?
7 Si Nona Lucia
8 Tak Ada Salahnya Untuk Bermimpi
9 Wanita Tanpa Etika
10 Rute Bus Kota
11 Gadis Incaran Sang Casanova
12 Rasa Sayang Atau Penebusan Dosa Masa Lalu?
13 Boneka Si Wanita Berparas Paripurna
14 Kaleng Soda Kosong
15 Dokter Hidung Belang
16 Sarang Pria Mesum
17 First Kiss,
18 Kericuhan Keluarga Adam
19 Sahabat Tak Sederajat
20 Sang Pemilik Hati Christian,
21 Inner Child Erdogan Yang Terluka
22 Langit Orange Selalu Memberi Ketenangan
23 Impian Sederhana,
24 Kencan Sang Penguasa
25 Luapan Emosi Nyonya Emili
26 Permohonan Seorang Christian
27 Kamar Rawat Yang Telah Kosong
28 Sembuh Tanpa Bercerita
29 Luka Dan Air Mata Masa Lalu,
30 Badai Pasti Berlalu
31 Baku Hantam Di Tengah Gerimis Malam
32 Kasih Sayang Sang Pelayan
33 Si Dokter Buaya,
34 Gadis Topi Hitam
35 Kesalahpahaman Erdogan
36 Traktiran Makan Malam
37 Sugar Daddy?
38 Gaun Hitam Yang Cantik Elegan
39 Impian Kebahagiaan Rensi
40 Bisik-bisik Pelayan
41 Ketulusan? Atau Rasa Iba?
42 Claresta, Bukan Lucia!
43 Kekasih Pura-pura Di Mansion Tuan Buaya
44 Air Mata Sang Model Cantik Paripurna
45 My Ello
46 Aku Tak Salah! Aku Tak Akan Minta Maaf!
47 Kekhawatiran Sang Dokter Tampan
48 Ukiran Indah Pada Pergelangan Tangan,
49 Sang Pembalut Luka,
50 Dalamnya Luka Hati, Siapa Yang Tahu?
51 Resep Obat Dari Dokter Kesayangan
52 Bayangan Seseorang Yang Kian Nyata
53 Kecurigaan Christian
54 Kadar Glukosa,
55 Greek Yogurt
56 Tragedi Anak Tangga
57 Sandaran Hati Claresta
58 Pelita Dalam Kesunyian
59 Wajah Chubby Yang Menggemaskan Bagi Erdogan
60 Pengkhianat Atau Pecundang?
61 Hatiku Sakit!
62 Liontin
63 Sahabat Masa Muda
64 Hangat Senja Membaur Dengan Kecemasan
65 My Mom My Enemy
66 Fitting Room
67 Musuh Ku, Sahabat Ku
68 Kebenaran Yang Terucap Tanpa Sadar
69 Kecemburuan Yang Merusak Segalanya
70 Berhati-hatilah! Ucapan Adalah Sebuah Do'a
71 Senyum Kebahagiaan Claresta,
72 Mawar Putih Untuk Sang Kekasih Hati
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Sambutan Keluarga
2
Sungai Lucia
3
Kenapa Diriku Mendapat Perlakuan Berbeda?
4
Teman Tambun Berkacamata
5
Sang Psikiater
6
Ibu Peri?
7
Si Nona Lucia
8
Tak Ada Salahnya Untuk Bermimpi
9
Wanita Tanpa Etika
10
Rute Bus Kota
11
Gadis Incaran Sang Casanova
12
Rasa Sayang Atau Penebusan Dosa Masa Lalu?
13
Boneka Si Wanita Berparas Paripurna
14
Kaleng Soda Kosong
15
Dokter Hidung Belang
16
Sarang Pria Mesum
17
First Kiss,
18
Kericuhan Keluarga Adam
19
Sahabat Tak Sederajat
20
Sang Pemilik Hati Christian,
21
Inner Child Erdogan Yang Terluka
22
Langit Orange Selalu Memberi Ketenangan
23
Impian Sederhana,
24
Kencan Sang Penguasa
25
Luapan Emosi Nyonya Emili
26
Permohonan Seorang Christian
27
Kamar Rawat Yang Telah Kosong
28
Sembuh Tanpa Bercerita
29
Luka Dan Air Mata Masa Lalu,
30
Badai Pasti Berlalu
31
Baku Hantam Di Tengah Gerimis Malam
32
Kasih Sayang Sang Pelayan
33
Si Dokter Buaya,
34
Gadis Topi Hitam
35
Kesalahpahaman Erdogan
36
Traktiran Makan Malam
37
Sugar Daddy?
38
Gaun Hitam Yang Cantik Elegan
39
Impian Kebahagiaan Rensi
40
Bisik-bisik Pelayan
41
Ketulusan? Atau Rasa Iba?
42
Claresta, Bukan Lucia!
43
Kekasih Pura-pura Di Mansion Tuan Buaya
44
Air Mata Sang Model Cantik Paripurna
45
My Ello
46
Aku Tak Salah! Aku Tak Akan Minta Maaf!
47
Kekhawatiran Sang Dokter Tampan
48
Ukiran Indah Pada Pergelangan Tangan,
49
Sang Pembalut Luka,
50
Dalamnya Luka Hati, Siapa Yang Tahu?
51
Resep Obat Dari Dokter Kesayangan
52
Bayangan Seseorang Yang Kian Nyata
53
Kecurigaan Christian
54
Kadar Glukosa,
55
Greek Yogurt
56
Tragedi Anak Tangga
57
Sandaran Hati Claresta
58
Pelita Dalam Kesunyian
59
Wajah Chubby Yang Menggemaskan Bagi Erdogan
60
Pengkhianat Atau Pecundang?
61
Hatiku Sakit!
62
Liontin
63
Sahabat Masa Muda
64
Hangat Senja Membaur Dengan Kecemasan
65
My Mom My Enemy
66
Fitting Room
67
Musuh Ku, Sahabat Ku
68
Kebenaran Yang Terucap Tanpa Sadar
69
Kecemburuan Yang Merusak Segalanya
70
Berhati-hatilah! Ucapan Adalah Sebuah Do'a
71
Senyum Kebahagiaan Claresta,
72
Mawar Putih Untuk Sang Kekasih Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!