Memasuki pintu rumahnya,
Tuan Adam nampak duduk di sofa, dan membentangkan majalah berita sembari memperhatikan gerak-gerik putri sulungnya yang sama sekali tak menghiraukan keberadaannya.
"Kau baru pulang? jam berapa ini? tugas apa saja yang diberikan oleh dosen-dosen mu Resta?"
"Aku sungguh malas dengan basa-basi! katakan ada apa?" Resta menghentikan langkahnya dan menatap datar wajah ayahnya.
"Apa mom Emili menghubungi mu? dia bilang kau sama sekali tak menjawab panggilannya!"
Claresta, gadis itu kembali menampilkan raut wajah jengah dihadapan ayah kandungnya, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkah.
"Jawab ayah Resta! tidak bisakah kau sedikit menghormati orang tua? ibu kandung mu itu bahkan sangat berisik dan terus menghubungi ku!"
Langkah kaki Resta kembali melambat, gadis itu kembali tertunduk sebelum akhirnya menyuarakan isi hatinya,
"Menghormati? apa itu menghormati?, ayah? tak ada yang mengajarkan hal itu padaku!"
"Claresta!"
Suara dengan nada tinggi itu kembali terlontar begitu saja,
Bukan hal baru lagi bukan? lupakan lah, kita harus tidur sekarang.
Resta tersenyum getir, bentakan dari ayahnya tak lagi ia hiraukan.
Gadis itu tetap memacu langkah kakinya menaiki tangga dan kembali bersembunyi di kamarnya yang dingin.
Gemericik air keran yang ia basuh kan di paras cantiknya nampak membuat wajah Claresta kembali segar. Ia kembali terduduk dan memeriksa ponselnya yang memang tertinggal di kamar.
Begitu banyak notifikasi pesan yang terlihat pada layar ponselnya, namun Claresta sama sekali tak berniat untuk membuka apalagi membalasnya.
Apa diriku harus pindah lagi? kenapa mereka tak membiarkan ku tetap berada diluar negeri,
Itu jauh lebih baik bukan? mereka tak akan pernah terbebani dengan kehadiran ku disini.
Apa uang kedua orang tua itu mulai menyusut?
Resta memejamkan matanya, ia ingin segera berlari ke alam mimpi, namun nyatanya rasa nyeri ditangan nya kembali membuat ia beranjak dan membersihkan lukanya.
Luka sayat itu masih saja sama, dan akan tetap sama.
Tertunduk sibuk dengan aktivitas menggulung perban ditangannya, atensi Claresta kembali teralihkan saat ketukan pintu kembali terdengar diiringi suara lembut dari ibu sambungnya.
Ada apa lagi dengan wanita satu itu?
"Ada apa ibu?" Resta menjulurkan kepalanya dan tak membiarkan Nyonya Anne memasuki kamarnya.
"Kau sudah makan Nak? apa perlu ...,"
"Tidak! terima kasih! ibu aku lelah, tolong jangan mengganggu ku!"
Resta kembali membanting pintu kamarnya dan membuat Nyonya Anne terkejut seketika.
Tolong jangan berpura-pura baik seperti ini? aku sungguh bingung sekarang,
Kalau saja kau tak menggoda ayahku, mungkin kehidupan ku tak akan seperti sekarang.
Mungkin wanita ****** itu bisa sedikit menyayangi ku, mungkin aku bisa mendapatkan sedikit kasih sayang dari pria tua bernama Adam itu.
Aku membencimu Nyonya Anne, sungguh aku sangat membenci mu!
Buliran air mata kembali terjun bebas dari mata indah Claresta, ia terduduk bersandar di pintu kamarnya dengan memegangi luka pada pergelangan tangan.
Di lain tempat seorang pria nampak gelisah karena sama sekali tak melihat sosok nona Lucia dalam beberapa hari ini di sungai tempat ia biasa memperhatikan gadis itu.
"Apa dia baik-baik saja? atau terjadi sesuatu padanya? kenapa dia sama sekali tak menjawab panggilan dariku?" Liam nampak menyandarkan kepala di kursi kerjanya, matanya terpejam sempurna dengan pemikiran yang tertuju pada Claresta.
...****...
'Apa kalian sudah mendengar beritanya? anak model papan atas itu berada di universitas ini!'
'Waaaah benarkah? tapi yang mana? ada beberapa mahasiswa pindahan bukan? tampilan nya pasti anggun menawan,
'Tak bisa kubayangkan jika itu diriku, aaaawwwhhhh!'
Langkah kaki Resta sedikit melambat tatkala mendengar mahasiswa senior yang tengah membicarakan tentang seseorang, dan mungkin itu dirinya.
Gadis itu menghela nafas kasar,
Entah kenapa mood nya seketika berubah saat mendengar segala hal tentang model papan atas.
"Heiii Cla! apa kau tak ingin makan siang? kami telah menunggu mu lama di kantin, tapi dirimu justru disini!" Vivian nampak duduk dengan seenaknya dihadapan Claresta.
"Cla! apa kau tak mendengar ku?" Vivian kembali mengulang kalimat pertanyaan nya saat Resta menatap kosong buku yang ia genggam.
"Maaf, aku hanya sedikit mengantuk!"
"Apa ada masalah Cla? kau bisa berbagi cerita pada kami jika tak keberatan." Andrew kembali menimpali ucapan Vivian.
"A-aku? apa kalian mendengar sesuatu tentang ku? maksud- ku, apa kalian benar-benar tak keberatan berteman dengan gadis aneh seperti ku?" ucapan Resta nampak tersendat sebelum akhirnya ia menundukkan pandangan.
"Gadis aneh? apa maksudmu Cla? bukankah Vivian tak kalah aneh?" Aluna akhirnya membuka suara setelah lama bungkam.
"Apa maksudmu Aluna? kau yang aneh karena kau itu kerempeng! tulang belulang tanpa daging!"
Perdebatan kecil antara Aluna juga Vivian kembali membuat Resta tersenyum geli karena tingkah kedua sahabat barunya.
"Cla, ponsel mu terus berdering! kenapa tak juga memeriksa nya? barangkali itu penting," sahabat pria Claresta nampak mengingatkan gadis itu tatkala ia mendapati Claresta kembali memasukkan ponsel ke dalam saku hoodie nya.
"Tidak Andrew, tak ada yang begitu penting dalam hidup ku selama ini!" Claresta kembali menampilkan senyum palsunya.
"Tapi ponsel mu sudah berdering lebih dari lima kali Cla! Andrew benar, kenapa tak mencoba menjawab panggilan terlebih dulu? siapa tau kedua orang tuamu tengah mencemaskan mu, terutama pergelangan tangan mu,"
Ucapan dari kawan-kawannya membuat Claresta akhirnya beranjak dan menghela nafas kasar, ia nampak mengirimkan sebuah pesan balasan pada Nyonya Emili.
...****...
"Sialan! benar-benar anak tak tahu di untung! kenapa dia tak juga menghubungi ku hingga saat ini? apa sebenarnya mau mu Claresta? tak bisakah kau membuat mom sedikit bahagia?"
Wanita dengan paras ayu paripurna yang merupakan ibu kandung Claresta itu nampak kembali meluapkan amarahnya dengan berceloteh dan mengumpat seorang diri di kamarnya.
Tak berselang lama, perhatian sang model kembali teralihkan saat layar ponselnya kembali menyala.
Kita bertemu sore ini, aku akan menunggu mom di tempat biasa.
"Gadis pintar! mom ingin kamu juga bersinar sayang, sudah saatnya dirimu tampil di layar kaca," tatapan sinis kembali terpancar dari mata si wanita cantik paripurna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments