Dua hari berlalu,
Claresta semakin menampilkan sikap dinginnya,
Semenjak kejadian rusuh di area camping sebelumnya, gadis dengan mata indah serta berambut hitam pekat itu semakin tak ingin membuka suara pada penghuni kediaman ayahnya, tak terkecuali Rensi.
"Kak! bolehkah aku masuk?" jemari Rensi nampak mengayun ringan sebelum akhirnya pintu terbuka.
"Apa yang kakak lakukan?" gadis itu perlahan mendaratkan tubuhnya pada ranjang di kamar kakak perempuannya.
"Tak ada, hanya mengganti kain kasa!"
"Kita ke rumah sakit saja kak! luka kakak sudah hampir satu Minggu tapi belum juga mengering," Rensi menatap nanar pergelangan tangan kakaknya yang telah kembali terbungkus dengan kain kasa.
"Tak perlu, aku masih sanggup untuk mengobatinya sendiri!" gadis itu menyelesaikan pergerakan dengan memotong perekat untuk kain kasa yang beberapa hari ini selalu melilit pada pergelangan tangannya.
"Kak, ayah ...,"
"Maaf aku harus pergi sekarang! jadi bisa tolong kau keluar? aku ingin segera mengganti pakaian!" gadis keras kepala itu kembali berucap datar.
Rensi tak lagi berani bersuara, ia beranjak dan melangkah memenuhi permintaan kakak perempuannya.
Maaf Rensi, aku tak bermaksud kasar padamu!
Aku hanya tidak ingin jika sampai diriku lepas kendali dan tanpa sengaja melukai hatimu,
Sesak kembali terasa memenuhi dada Claresta, gadis itu duduk serta menggenggam T-shirt nya dengan pandangan tertunduk, penyesalan begitu nampak pada raut wajahnya.
Tak berselang lama,
Notifikasi dari layar ponselnya yang menyala kembali mengalihkan atensi gadis dengan mata indah itu, perlahan senyuman nampak terukir di bibirnya.
"Apa kalian sudah berada di sana? aku akan segera tiba dalam sepuluh menit!" Resta kembali meletakkan gawai miliknya.
Gadis itu melangkah, meraih Hoodie hitam dan mengenakan nya seketika sebelum akhirnya berlari menuruni tangga.
"Mau kemana? bukankah kau baru tiba? apa kau sudah ingin kembali berkeliaran di luar sana?"
"Ada tugas kelompok dari dosen, jadi aku harus menemui temanku!"
"Teman? apa kau yakin gadis sepertimu memiliki teman?" Tuan Adam kembali terkekeh dan meremehkan perkataan Resta, putri sulungnya.
Jangan hiraukan manusia super waras satu ini Resta,
Tak menginginkan untuk kembali berdebat dengan pria tua dihadapan nya, Resta memilih untuk melenggang pergi saat itu juga.
"Ingat jangan pulang terlambat! atau kau akan menikmati dinginnya udara luar sepanjang malam!" nada suara tinggi kembali mengiringi kepergian Claresta.
Tiga remaja dengan mata berbinar nampak melambaikan tangan begitu Claresta muncul serta perlahan mendekati ketiganya.
"Jadi, apa kita harus ke pusat perbelanjaan X hari ini? sepertinya ada yang membutuhkan sneaker baru!" Resta berucap dengan melirik salah satu kaki sahabat nya.
"Cla, ini kartu ...,"
"Kalian pegang saja! untuk jaga-jaga jika kalian membutuhkan sesuatu."
"Tidak Cla, kita baru kenal! aku tidak ingin kedua orang tuamu marah, dan menganggap bahwa kami ini hanya memanfaatkan dirimu," Vivian berucap serius dengan menatap wajah Claresta.
"Memanfaatkan ku?" Resta sempat terdiam sebelum akhirnya kembali bersuara dengan menaikkan satu alisnya.
"Cla, sebenarnya ...,"
"Kita mengerjakan tugas dirumah ku saja! aku sudah memberitahu ibuku dan meminta nya untuk memasak untuk kalian semua!" Andrew kembali berucap dan memotong kalimat dari lisan Vivian.
"Benarkah? apa boleh?" Resta kembali terperanjat dan menampilkan wajah antusiasnya.
"Tentu saja! aku sudah berjanji sebelumnya bukan?" sahabat pria satu-satunya para gadis remaja itu turut mengangguk dengan tegas.
Kedua sahabat wanita Claresta itu kembali terdiam menatap Resta juga Andrew, raut wajah para gadis itu nampak ingin mengungkapkan sesuatu namun Andrew menghentikan mereka.
"Apa rumah mu jauh dari sini Andrew? haruskah kita naik taksi?"
"Tidak Cla! kita berempat akan sangat tidak nyaman jika kita naik taksi, bagaimana jika kita naik bus saja?"
Aluna serta Vivian hanya saling melempar pandangan dengan telinga yang setia mendengarkan percakapan antara Resta juga Andrew.
"Bus? baiklah, sepertinya itu akan menyenangkan! tapi apa kau hafal rutenya?" gadis bermata indah itu kembali meragukan ucapan sahabat pria nya.
"Cla apa kau tak pernah menaiki bus sebelumnya? aku hafal rute bus untuk menuju area universitas karena ayah ku dulu selalu bercerita," Aluna tiba-tiba melontarkan pertanyaan juga pernyataan yang seketika membuat Resta bungkam.
"A-aku, hanya sesekali!"
Suasana nampak canggung dan kembali hening,
Vivian nampak mencubit pelan tangan Aluna yang berada disampingnya, sementara Andrew pria remaja itu nampak berdecak kesal karena tingkah Aluna.
"Sepertinya kita harus sering-sering naik bus dan pergi bersama!" Andrew kembali membuka suara untuk memecah keheningan diantara para sahabat gadisnya.
"Kalian benar," Claresta kembali menanggapi kalimat Andrew dengan menampilkan senyum palsunya.
Hampir setiap anak perempuan memiliki kenangan indah bersama ayah ataupun ibunya,
tapi aku ...,
Keheningan didalam bus yang melaju membuat gadis yang mendapat julukan si nona Lucia itu kembali berdebat dengan isi pikirannya.
...****...
Kau itu seorang pembohong, kenapa namamu agamis sekali? sungguh tidak sesuai!
Kalimat itu kembali terngiang dan berputar dalam kepala Christian, tanpa ia sadari senyum simpul nampak telah menghiasi bibirnya.
"Gadis itu, kenapa aku memikirkannya? sikap keras kepalanya seakan menantang adrenalin dalam diriku untuk bisa menaklukkan nya."
Tatapan nakal dengan bibir tergigit nampak menampilkan aura seksi dari seorang Christian, pria itu bahkan nampak acuh saat gawai nya bergetar dan menampilkan nama seseorang.
"Ada apa dia menghubungiku? bukankah dia sibuk dengan pemotretan?" pria itu bergumam, sedikit melakukan peregangan sebelum akhirnya kembali fokus pada ponsel di meja kerjanya.
Jemari Christian kembali menari lentik di atas layar ponselnya, ia nampak mengirim sebuah pesan balasan karena telah mengacuhkan panggilan sebelumnya.
"Max, bisakah kita bertemu? aku ingin meminta mu untuk mencari tahu sesuatu tentang seseorang!" suara pria tampan bertubuh kekar itu kembali terdengar tegas saat menghubungi seseorang.
Si Casanova satu itu memang bukanlah pria sembarangan,
...****...
Brakk.
Pintu ruangan terbanting dengan kencangnya,
Seorang wanita cantik paripurna nampak muncul dan terlihat sulit untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
'Tumben sekali Nyonya pulang jam segini, biasanya lewat tengah malam baru dia kembali'
'Diam lah kau! jangan meludah pada sumur yang airnya kau ambil dan kau konsumsi.
Bisik-bisik dari seorang pelayan baru dirumah itu nampak membuat sahabatnya memperingati dirinya.
Para pelayan di kediaman mewah itu hanya tertunduk mendapati kelakuan majikan mereka, salah satu dari asisten rumah tangganya nampak mencoba membantu memapahnya namun berakhir dengan sebuah bentakan kasar.
"Kemana dirimu Claresta? kenapa dirimu selalu saja membuat mom kesal seperti ini? bisa-bisanya kau mengacuhkan semua panggilan juga pesan dariku! dasar anak sialan!" wanita itu kembali berteriak dan mengacak-acak segala sesuatu yang berhasil diraihnya.
"Tidak bisakah kau menghargai sedikit pengorbanan ku ini Claresta? aku bahkan rela merusak tubuh ku sendiri demi membawa mu lahir ke dunia ini! lihat saja, aku akan benar-benar membunuh mu jika kau tak menuruti semua perkataan ku! kau dengar itu haaaa ...," wanita itu kembali berceloteh seorang diri sebelum akhirnya terlelap karena pengaruh minuman beralkohol yang menguasai dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments