Kenapa Diriku Mendapat Perlakuan Berbeda?

Asap nikotin kembali menemani kesunyian pandangan Resta di taman pinggiran kota sungai Lucia, tempat favorit Resta untuk melepas segala kepenatan hatinya.

"Masa depan? masa depan seperti apa yang bisa kuharap kan?" gadis itu menghela nafas panjang sembari memejamkan mata.

Ponsel yang berdering seketika membuatnya kembali tersadar dan merogoh saku hoodie nya.

Nyonya Emili,

"Untuk apa dia menghubungi ku?" Resta bergumam dan memasukkan kembali ponsel nya ke dalam saku hoodie meskipun panggilan itu tak juga berhenti.

"Kenapa tidak menjawab? siapa tahu itu penting?" seseorang terdengar berucap lembut melihat tingkah laku gadis dihadapannya.

"Bukan urusanmu! berhentilah membuntuti ku! aku benci itu!"

"Kau salah jika berpikir aku tengah membuntuti mu! sungai ini memiliki kenangan tersendiri bagiku. Jadi jangan terlalu percaya diri Nona!"

"Setidaknya pilih lah lokasi yang lain, kenapa kau selalu mengekor padaku? tempat ini luas bukan?"

Liam tersenyum mendapati ucapan Resta,

"Baiklah, aku minta maaf! aku hanya kesepian karena tak ada yang bisa ku ajak bicara disini. Biasanya dulu aku kemari bersama saudara perempuan ku," pria itu tersenyum sebelum akhirnya tertunduk.

"Lalu, kenapa sekarang kemari seorang diri?" suara Resta akhirnya terdengar lembut begitu Liam memasang wajah sendu nya.

"Dia sudah bahagia bersama Tuhan."

"Maaf, aku sama sekali tak bermaksud untuk membuat mu kembali menelan rasa duka."

"Tak apa, kau sama sekali tak mengetahuinya," Liam kembali menghela nafas dan menatap gadis dihadapannya.

Pandangan Resta akhirnya bertemu dengan tatapan Liam, kecanggungan kembali membuat suasana menjadi hening.

"Bagaimana dengan lukamu?" pria itu perlahan memegang dan memeriksa pergelangan tangan Resta.

"Aku sudah mengganti perban nya, ini sudah jauh lebih baik!" gadis itu tersenyum sebelum akhirnya menarik perlahan tangannya.

"Apa kau terlalu banyak menangis? atau bahkan begadang?"

"Kenapa bertanya seperti itu? darimana kau tahu?" Resta tertunduk dan mencoba menyembunyikan wajahnya.

"Tentu aku tahu, aku sering menangani orang-orang putus asa seperti mu."

"Apa diriku terlihat putus asa?" Resta berujar tanya dengan melempar ke sembarang arah puntung rokoknya.

"Jangan membohongi dirimu sendiri, kau kesepian bukan?"

Gadis itu kembali bungkam, ia ingin menyanggah namun mulutnya tak mampu berucap sepatah katapun dihadapan Liam.

***

"Gadis bodoh ini, kenapa tidak juga menjawab panggilan ku? padahal diriku mengkhawatirkan nya."

Wanita anggun dengan penampilan modis nan elegan itu nampak mondar-mandir di kamar mewahnya.

"Ayolah sweetie, jawab panggilan ku!" wajah serius nya kembali terpampang nyata dengan tangan yang menyangga ponsel ditelinga.

Tak juga mendapati jawaban membuat wanita itu beralih dan menekan kontak lain pada layar ponselnya.

"Apa dia masih belum juga kembali ke rumah? kenapa kau tak mencarinya? ini sudah hampir tengah malam, ayah macam apa kau ini?"

"Jangan menyalahkan ku! kau sendiri tak becus dalam mengurus anak sialan itu bukan?" suara dari seberang tak kalah bengis.

"Kenapa kau menyuruhnya datang kemari? dia hanya bisa menyusahkan ku disini!"

"Hei Tuan! dengar baik-baik, Resta juga merupakan darah daging mu bukan? kenapa kau terlihat begitu terbebani atas kehadirannya? bukankah kita sudah memiliki kesepakatan sebelumnya? apa kau tak ingat?" suara tegas Nyonya Emili membuatnya memutuskan panggilan sepihak karena luapan emosi.

"Dasar pria sialan! berani-beraninya dia membuat ku kesal seperti ini! pecundang kau Adam!"

Wanita itu kembali berteriak sebelum akhirnya menenggak satu sloki wine yang ia sambar di atas meja.

"Apa gadis bastard itu membuat ulah kembali? kenapa kau memintanya untuk kembali kemari? bukankah sebelumnya dia sudah aman di luar negeri?"

"Entah lah sayang, aku hanya ingin membuat Resta mendapatkan sedikit kasih sayang dari ayahnya, kupikir itu bisa sedikit merubah wajah dingin nya terhadap ku!" tatapan Nyonya Emili nampak berubah seketika.

"Ayo lah! jangan menampilkan raut wajah seperti ini baby, bukankah lebih baik kita bermain?" pria dengan penampilan yang jauh lebih muda nampak tersenyum genit sembari menggoda wanitanya.

"Aaaaaghh Christian! slowly please!" tangan Emili nampak menahan dada bidang milik pria muda yang entah sejak kapan telah melucuti pakaiannya.

"I don't think so! i'm fucking loving you Emili. Aku menginginkannya lagi, tubuh mu begitu candu bagiku!" tangan Christian kembali menarik tengkuk leher Emili sebelum akhirnya melayangkan sebuah kecupan yang semakin lama semakin brutal, gairah masa mudanya membuat pria itu tampak menggebu dan tak sabar untuk merengkuh kenikmatan bersama wanita yang kini pasrah dalam kungkungan tubuh kekarnya.

Pasangan beda usia itu nampak bergumul mesra di atas ranjang, Emili sama sekali tak ingin ambil pusing tentang keadaan putrinya, wanita egois itu selalu mengutamakan kebahagiaannya.

***

"Darimana saja kau Nak? ibu menunggu mu dari tadi," suara lembut penuh kecemasan dari Nyonya Anne tetap saja membuat Resta terkejut malam itu.

"I-ibu? maaf aku pulang terlambat. Aku dari taman ..."

Derap suara langkah kaki kembali membuat Resta terdiam, siapa lagi kalau bukan ayahnya?

"Jam berapa ini? apa kau tak bisa memberikan contoh yang baik pada saudarimu?" suara datar itu semakin menampakkan wajah seriusnya.

"Ikuti peraturan di rumah ini jika masih ingin tinggal dan berada disini Resta!"

Tak adanya jawaban dari bibir Resta kembali membuat pria itu mendekat dengan wajah penuh amarah.

Tuhan, tolong selamatkan diriku! setidaknya jangan biarkan pria ini kembali memukuli diriku.

Tubuh Resta nampak gemetar, wajahnya tertunduk karena ia menyadari kesalahannya.

"Sayang tolong! biarkan diriku yang berbicara padanya." Nyonya Anne dengan seketika membawa putri sambung nya menuju kamar.

Wanita yang nampak lembut itu sama sekali tak melepaskan genggamannya pada jemari Resta hingga mereka tiba di ruang kamarnya.

"Bersihkan dirimu Nak, aku akan menyiapkan makanan untuk mu."

"Tidak perlu ibu, terima kasih. Aku sudah makan diluar. Ibu beristirahat lah, maaf karena telah membuat ibu menunggu ku." Resta tertunduk meskipun bibirnya tersenyum, hatinya kembali terasa ngilu.

"Apa kita perlu ke rumah sakit besok pagi? luka ditangan mu? kenapa belum juga melepas perban nya?"

"Ini, masih belum bisa Bu. Rasanya masih sedikit perih setiap kali terkena percikan air. Ibu Annne tenang saja, saya bisa mengurus ini."

"Kau yakin Nak? apa kau yakin dirimu baik-baik saja?" suara itu kembali terdengar tulus ditelinga Resta, wanita itu berharap Resta bisa sedikit terbuka padanya.

Namun nihil,

Resta nampak mengangguk tanpa ragu dengan tetap menyunggingkan senyum.

Terbaring di samping Tuan Adam suaminya, pikiran Nyonya Anne nampak melayang.

Aku ingin menjadi sahabat yang baik untuk nya, tapi kenapa dia selalu menutup diri seperti ini?

"Apa yang kau pikirkan sayang? tidur lah ini sudah larut. Maaf, kau pasti merasa tak nyaman karena kehadiran nya." Pria paruh baya itu berucap seraya memeluk dan mencium pipi istrinya.

"Kenapa diriku harus merasa tak nyaman? aku ingin menganggap nya sebagai putriku sendiri sayang."

"Kau tak perlu melakukan itu Anne, anak keras kepala itu tak berhak mendapatkan perhatian darimu! aku tak ingin kau kecewa karena ulahnya."

"Tapi sayang,"

"Sudah lah aku tak ingin membahas nya, aku ada meeting bersama klien besok pagi. Jadi tolong bangunkan diriku tepat waktu!"

Mendengar hal itu Nyonya Anne kembali terdiam,

Fajar berlalu gelapnya langit malam nampak telah memudar karena cahaya mentari yang semakin terasa hangat.

Resta keluar dari kamar mandinya, dengan rambut yang masih basah gadis itu bergegas untuk meraih hair dryer dan mengeringkan setiap surai rambutnya.

"Kakak! kita bisa berangkat bersama, ayah bilang kakak bisa berangkat bersama ku hari ini."

Gadis cantik dengan rambut lurus bergelombang itu nampak memperhatikan setiap sudut kamar kakaknya.

"Kenapa ada begitu banyak kain kasa di sini? apa luka kakak belum kering juga? sebenarnya tangan kakak kenapa kak?"

"Tak apa Rensi, ini hanya luka kecil. Pasti akan segera membaik," Resta menanggapi kalimat saudari nya dengan fokus mengeringkan rambut.

Selama berada dalam mobil bersama ayah serta saudari nya, Resta hanya terdiam. Ia menatap kosong pada jalanan yang mulai dipenuhi mobil yang berlalu-lalang.

"Aku turun dulu ayah, kakak! sampai jumpa nanti, aku menyayangi kalian!"

Mobil Tuan Adam berhenti tepat pada sebuah secondary school dimana Rensi mendapatkan pendidikan nya.

"Berhati-hatilah dan selamat menjalankan aktivitas mu sayang!" Tuan Adam mencium kening putrinya dengan senyum lebar yang menghiasi bibir.

Keheningan kembali terjadi begitu Tuan Adam hendak melajukan mobilnya,

"Aku bisa turun disini ayah! maaf telah merepotkan." Resta menerobos keluar dari mobil ayahnya seketika.

Tuan Adam terdiam menatap langkah putri sulungnya yang semakin menjauh dari pandangan.

Gadis itu kembali melangkah cepat mengingat waktu yang telah memburunya.

"Hei Nona Lucia! ikut lah dengan ku!" Liam nampak melambat kan laju mobilnya demi bisa mendapatkan atensi seseorang.

Tanpa berpikir panjang Resta akhirnya memasuki mobil Liam,

Aku beruntung kali ini,

Gadis itu tersenyum dengan menunduk.

"Apa kau salah jalan? kenapa bisa sampai kemari?"

"Tuan Li, bisakah kau mengantar ku sampai kampus? aku mohon!" Resta berucap dengan begitu lembut pada pria yang kini menatap dirinya dengan keheranan.

Dia bisa semanis ini? wajah jutek yang pernah kulihat sebelumnya? apa benar ini gadis yang sama?

"Apa Tuan baik-baik saja? helloii ..." Resta melambaikan tangannya tepat dihadapan wajah Liam.

"Aaaaaaa, tentu saja! baiklah aku akan mengantarmu."

"Terima kasih Tuan!"

Perubahan sikap Resta membuat Liam terpaku, ia sungguh tak menyangka Resta bisa sehangat pagi itu.

...***...

Ternyata tak ada salahnya berkomunikasi dengan orang lain,

Resta kembali bergumam dengan senyum tipis dibibir nya, ia nampak tenang dan kembali melanjutkan membaca buku yang ia genggam.

"Pindah dari sini sekarang! ini bukan lah tempat untuk gadis pindahan seperti mu!"

"Bukankah ini sarana belajar bagi setiap orang yang mengejar pendidikan disini?" Resta berucap datar tanpa menatap siapa yang menghardik dirinya.

"Apa kau ingin membuat ulah? kau tak tahu siapa diriku?"

Resta menggeleng, gadis itu cukup malas untuk terjun dalam sebuah perseteruan.

"Hentikan Sofia!" seseorang nampak menghentikan pergerakan tangan gadis yang hampir melayangkan pukulan pada Resta.

"Apa kau tak tahu siapa dia sebenarnya? kau bisa berada dalam masalah besar jika sampai menyentuh apalagi melukai nya!"

Bisikan dari seorang gadis yang mungkin merupakan sahabat dekat dari Sofia membuat Resta turut menegang dan menyipitkan matanya.

"Maaf Cla, aku sungguh tak bermaksud untuk mengganggu dirimu! kau bisa duduk dimana pun kau mau, sungguh ..., sebenarnya aku hanya ingin bisa kenal lebih dekat dengan dirimu Claresta."

Ada apa ini? apa mereka telah mengetahui identitas ku?

"Katakan apa kau butuh sesuatu? aku bisa melayani dirimu jika kau mau !"

Tak menghiraukan semua kalimat dari Sofia, Resta justru beranjak pergi tanpa sepatah katapun.

"Cla, tunggu! kau tak marah padaku bukan?" Sofia tetap saja mengejar langkah Resta demi memastikan nasibnya akan baik-baik saja.

Tatapan tajam dengan wajah datar Resta membuat gadis itu semakin bergidik ngeri, Sofia seketika melepas pegangan tangannya pada lengan Resta.

"Maaf aku tak akan mengganggumu lagi."

"Kenapa? bukankah akan menyenangkan bagimu untuk bisa mem_bully anak-anak baru seperti ku?"

Satu ucapan dari bibir Resta kembali membuat Sofia beserta dua kawannya terdiam.

Beberapa mahasiswa lain yang sempat menyaksikan hal itu seketika tersenyum dengan penuh kebahagiaan karena kini ada seseorang yang membuat Sofia takut bahkan tunduk padanya.

Ini dari kami, terima kasih telah hadir di kampus ini,

Semoga kau menerima nya Cla, dan jika tidak keberatan bisakah kita bertemu nanti setelah usai pada jam materi pulang?

Sebuah minuman herbal dengan note yang tertera di mejanya membuat Resta kembali melayangkan pandangan pada seluruh ruangan.

"Siapa yang mengirimkan ini?" gadis itu bergumam sebelum akhirnya menerbitkan senyum tipis.

...***...

"Nona Lucia, ternyata dirimu jauh lebih menarik dari apa yang ku bayangkan."

Guratan garis senyum kembali nampak di bibir Liam, wajahnya cukup menampilkan aura bahagia semenjak tak sengaja menemui dan memberikan tumpangan pada Resta.

"Apa sebenarnya yang terjadi dalam kehidupannya? kantung mata, nikotin yang selalu saja tersemat dibibir mungilnya, serta perban yang tak juga lepas dari pergelangan tangannya?"

Semua pertanyaan dalam diri Liam kembali membuat senyum nya memudar seketika.

Episodes
1 Sambutan Keluarga
2 Sungai Lucia
3 Kenapa Diriku Mendapat Perlakuan Berbeda?
4 Teman Tambun Berkacamata
5 Sang Psikiater
6 Ibu Peri?
7 Si Nona Lucia
8 Tak Ada Salahnya Untuk Bermimpi
9 Wanita Tanpa Etika
10 Rute Bus Kota
11 Gadis Incaran Sang Casanova
12 Rasa Sayang Atau Penebusan Dosa Masa Lalu?
13 Boneka Si Wanita Berparas Paripurna
14 Kaleng Soda Kosong
15 Dokter Hidung Belang
16 Sarang Pria Mesum
17 First Kiss,
18 Kericuhan Keluarga Adam
19 Sahabat Tak Sederajat
20 Sang Pemilik Hati Christian,
21 Inner Child Erdogan Yang Terluka
22 Langit Orange Selalu Memberi Ketenangan
23 Impian Sederhana,
24 Kencan Sang Penguasa
25 Luapan Emosi Nyonya Emili
26 Permohonan Seorang Christian
27 Kamar Rawat Yang Telah Kosong
28 Sembuh Tanpa Bercerita
29 Luka Dan Air Mata Masa Lalu,
30 Badai Pasti Berlalu
31 Baku Hantam Di Tengah Gerimis Malam
32 Kasih Sayang Sang Pelayan
33 Si Dokter Buaya,
34 Gadis Topi Hitam
35 Kesalahpahaman Erdogan
36 Traktiran Makan Malam
37 Sugar Daddy?
38 Gaun Hitam Yang Cantik Elegan
39 Impian Kebahagiaan Rensi
40 Bisik-bisik Pelayan
41 Ketulusan? Atau Rasa Iba?
42 Claresta, Bukan Lucia!
43 Kekasih Pura-pura Di Mansion Tuan Buaya
44 Air Mata Sang Model Cantik Paripurna
45 My Ello
46 Aku Tak Salah! Aku Tak Akan Minta Maaf!
47 Kekhawatiran Sang Dokter Tampan
48 Ukiran Indah Pada Pergelangan Tangan,
49 Sang Pembalut Luka,
50 Dalamnya Luka Hati, Siapa Yang Tahu?
51 Resep Obat Dari Dokter Kesayangan
52 Bayangan Seseorang Yang Kian Nyata
53 Kecurigaan Christian
54 Kadar Glukosa,
55 Greek Yogurt
56 Tragedi Anak Tangga
57 Sandaran Hati Claresta
58 Pelita Dalam Kesunyian
59 Wajah Chubby Yang Menggemaskan Bagi Erdogan
60 Pengkhianat Atau Pecundang?
61 Hatiku Sakit!
62 Liontin
63 Sahabat Masa Muda
64 Hangat Senja Membaur Dengan Kecemasan
65 My Mom My Enemy
66 Fitting Room
67 Musuh Ku, Sahabat Ku
68 Kebenaran Yang Terucap Tanpa Sadar
69 Kecemburuan Yang Merusak Segalanya
70 Berhati-hatilah! Ucapan Adalah Sebuah Do'a
71 Senyum Kebahagiaan Claresta,
72 Mawar Putih Untuk Sang Kekasih Hati
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Sambutan Keluarga
2
Sungai Lucia
3
Kenapa Diriku Mendapat Perlakuan Berbeda?
4
Teman Tambun Berkacamata
5
Sang Psikiater
6
Ibu Peri?
7
Si Nona Lucia
8
Tak Ada Salahnya Untuk Bermimpi
9
Wanita Tanpa Etika
10
Rute Bus Kota
11
Gadis Incaran Sang Casanova
12
Rasa Sayang Atau Penebusan Dosa Masa Lalu?
13
Boneka Si Wanita Berparas Paripurna
14
Kaleng Soda Kosong
15
Dokter Hidung Belang
16
Sarang Pria Mesum
17
First Kiss,
18
Kericuhan Keluarga Adam
19
Sahabat Tak Sederajat
20
Sang Pemilik Hati Christian,
21
Inner Child Erdogan Yang Terluka
22
Langit Orange Selalu Memberi Ketenangan
23
Impian Sederhana,
24
Kencan Sang Penguasa
25
Luapan Emosi Nyonya Emili
26
Permohonan Seorang Christian
27
Kamar Rawat Yang Telah Kosong
28
Sembuh Tanpa Bercerita
29
Luka Dan Air Mata Masa Lalu,
30
Badai Pasti Berlalu
31
Baku Hantam Di Tengah Gerimis Malam
32
Kasih Sayang Sang Pelayan
33
Si Dokter Buaya,
34
Gadis Topi Hitam
35
Kesalahpahaman Erdogan
36
Traktiran Makan Malam
37
Sugar Daddy?
38
Gaun Hitam Yang Cantik Elegan
39
Impian Kebahagiaan Rensi
40
Bisik-bisik Pelayan
41
Ketulusan? Atau Rasa Iba?
42
Claresta, Bukan Lucia!
43
Kekasih Pura-pura Di Mansion Tuan Buaya
44
Air Mata Sang Model Cantik Paripurna
45
My Ello
46
Aku Tak Salah! Aku Tak Akan Minta Maaf!
47
Kekhawatiran Sang Dokter Tampan
48
Ukiran Indah Pada Pergelangan Tangan,
49
Sang Pembalut Luka,
50
Dalamnya Luka Hati, Siapa Yang Tahu?
51
Resep Obat Dari Dokter Kesayangan
52
Bayangan Seseorang Yang Kian Nyata
53
Kecurigaan Christian
54
Kadar Glukosa,
55
Greek Yogurt
56
Tragedi Anak Tangga
57
Sandaran Hati Claresta
58
Pelita Dalam Kesunyian
59
Wajah Chubby Yang Menggemaskan Bagi Erdogan
60
Pengkhianat Atau Pecundang?
61
Hatiku Sakit!
62
Liontin
63
Sahabat Masa Muda
64
Hangat Senja Membaur Dengan Kecemasan
65
My Mom My Enemy
66
Fitting Room
67
Musuh Ku, Sahabat Ku
68
Kebenaran Yang Terucap Tanpa Sadar
69
Kecemburuan Yang Merusak Segalanya
70
Berhati-hatilah! Ucapan Adalah Sebuah Do'a
71
Senyum Kebahagiaan Claresta,
72
Mawar Putih Untuk Sang Kekasih Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!