"Bagaimana keadaannya? apa lukanya dalam Erdogan?"
Pria yang mengenakan jas berwarna putih itu nampak mengernyitkan dahinya,
"Apa dia kekasih barumu Tristan? Kau nampak begitu mengkhawatirkan nya?" pria itu terkekeh sebelum akhirnya duduk berhadapan dengan lawan bicaranya.
"Bukan! maksud- ku belum untuk sekarang! tapi akan bagus jika ku jadikan koleksi, dia sungguh memiliki pesona tersendiri! kekuatan tendangan nya, membuat ku penasaran untuk bisa mencoba bergulat bersama nya di atas ranjang!" Tristan berucap enteng dan turut terkekeh begitu saja.
"Berhentilah bermain-main, ingat kau itu anak tunggal di keluarga mu! mulai lah menata masa depan mu!"
"Jangan menasehati diriku Erdogan! bagaimana dengan mu? kau memang terlihat bijaksana saat bersembunyi mengenakan jas putih mu itu! tapi setelah jas mu itu terlepas, kau jauh lebih liar dibandingkan dengan dariku!"
"Selama ini diriku memang selalu menyewa mahal tubuh seorang wanita, menurut ku itu terlihat lebih gentleman! daripada menyimpan dan berpura-pura mencintai seorang wanita demi bisa menikmati dan mengikat tubuhnya."
"Cara bermain kita berbeda Erdogan! aku hanya ingin memastikan diriku bersih dari penyakit menular!"
"Apa kau yakin wanita mu itu setia?" Erdogan berucap datar dan nampak menaikkan satu alisnya.
"Kupikir begitu! itulah alasan kenapa aku tak juga menikahi nya! dan mungkin gadis itu, aku ingin mencoba nya!"
"Dirimu benar-benar sudah tidak waras Tristan!"
Kedua sahabat yang nampak saling mengenal itu kembali melontarkan pernyataan masing-masing dan kembali hanyut dalam candaan mereka.
"Sepertinya dia mengulang pada sayatan yang sama, dan itu memang terlihat cukup dalam!" Erdogan kembali membuka suara dengan wajah serius nya.
"Mengulang? maksudnya, dia menyayat itu berkali-kali dalam waktu yang berbeda?"
"Kau tepat Tristan! apa yang kau lakukan padanya? apa dirimu telah mencampakkan gadis itu sebelumnya?"
"Aku tidak akan se_bercanda itu jika mengenai nyawa seseorang Erdogan!" suara Tristan terdengar tegas dalam menyanggah pernyataan kawan dokter nya.
"Lalu apa alasannya melakukan hal itu?" sang dokter kembali berujar tanya sembari menatap dalam mata sahabatnya.
Tristan hanya menggeleng perlahan, raut wajahnya nampak menyiratkan kekhawatiran.
Bisa-bisanya pria ini bersikap seolah dia ayah kandung ku,
Kalau saja dokter itu bukan sahabat karibnya, sudah ku tendang kembali kelamin nya, biar hancur kehidupan masa depan yang ia miliki.
Sepanjang langkah keluar menuju mobil, Claresta nampak menggerutu dalam hati.
"Kenapa wajahmu se_masam ini? apa kau kesal padaku karena kejadian tadi? maaf, aku hanya ingin mengetahui seberapa parah luka itu!" Tristan tersenyum sembari membuka pintu mobilnya untuk Claresta.
Gadis itu hanya memalingkan wajah, sama sekali tak menghiraukan ucapan pria yang berniat untuk membantu menangani pergelangan tangan kirinya.
"Dimana alamat rumah mu Lucia? akan ku antar kau sampai rumah! tenang saja aku tak akan mengadukan apapun pada orang tuamu!"
Claresta masih saja enggan menanggapi pertanyaan dari pria tampan yang membuat suasana hatinya kembali kesal.
"Tak perlu! turunkan saja aku didekat taman dimana kita bertemu sebelumnya, Tuan Tristan!" ucapan dengan nada ketus itu kembali terdengar.
"Waaah, jadi siapa yang telah memohon padaku untuk dilepaskan tadi? ini sungguh bukan gadis yang ku kenal!"
"Bukankah kita memang tidak saling mengenal? dan jangan sok kenal dengan ku,"
"Kenapa jika aku ingin mengenal mu? dirimu sendiri, apa alasan mu menyayat urat nadi mu hingga seperti sekarang ini? apa kau ingin mati?" Tristan turut berujar dengan ketus pada Claresta.
"Itu bukan urusan mu! kenapa kau membawa ku ke rumah sakit, dan memaksa ku untuk diperiksa? aku ini bukan bocah Tuan!"
Tristan hanya terkekeh,
"Kau ini sungguh tak sadar diri sekali Lucia! tunggu, apa benar namamu Lucia?" Tristan menatap sekilas wajah kesal Resta yang terus memandangi luar jendela kaca mobilnya.
Tak ada jawaban, Claresta kembali bungkam mengacuhkan pertanyaan pria dengan sapaan Tristan itu sembari terus mengusap lembut pergelangan tangannya.
"Apa masih terasa nyeri?"
"Sedikit!" ucapan Claresta terdengar lirih, matanya nampak sayu.
Haruskah aku menghubungi keluarganya? tapi dia bahkan tak memiliki ponsel.
Tristan kembali menghela nafas kasar, baru kali ini hatinya turut merasakan iba pada seseorang.
Tak lagi ingin pusing karena memikirkan gadis yang kini nampak tertidur di samping nya, pria itu memutuskan untuk membawa Lucia ke apartemennya.
...****...
"Apa anakmu belum juga kembali Adam? bagaimana caramu mengurus nya? kenapa dia jadi semakin membangkang seperti ini?" nada suara sinis itu terdengar begitu nyaring di telinga lelaki paruh baya yang tak lain adalah ayah Claresta.
"Anakku? bukankah dia anakmu juga? kenapa hanya menyalahkan ku Emilia? seharusnya sebagai seorang ibu kau bisa mengajari nya dengan baik, terlebih tentang etika!" suara Tuan Adam tak kalah meninggi,
Nyonya Emili kembali meluapkan emosinya pada sang mantan suami saat mengetahui Resta tak juga kembali bersama beberapa bodyguard serta orang suruhan nya malam itu,
Wanita itu kembali berkacak pinggang dengan gawai yang tak juga lepas dari genggaman jemari tangan yang tak beralih dari telinganya, berjalan kesana-kemari sembari menahan emosi.
"Apa kalian sudah mencari nya di tempat-tempat yang telah ku sebutkan?" Nyonya Ramsey kembali menatap tajam pada seluruh pria berotot berwajah datar dihadapan nya.
"Sudah Madam, dari taman sungai Lucia hingga asrama universitas serta cafe biasa yang Nona Muda kunjungi, hampir semua tempat favoritnya telah kami periksa!" salah satu bodyguard nampak tertunduk dan menjabarkan semua informasi.
Sialan! kemana sebenarnya anak ini?
Keheningan yang terjadi nampak terpecah saat sebuah panggilan kembali tersambung pada Nyonya Emili, raut wajahnya nampak gugup seketika saat menatap gawai yang berada pada genggaman tangannya.
"Bisakah kita menundanya Sir? dia sedikit kurang enak badan, kondisi nya benar-benar tidak memungkinkan untuk bisa membawa nya pada Anda, saya sungguh mohon maaf sebelumnya. Tapi saya pastikan setelah kondisi tubuhnya membaik, saya akan lekas menemui Anda!"
Suara sang wanita berparas cantik paripurna itu terdengar lembut mendayu, saat berbicara dengan seseorang yang berada dalam sambungan telepon nya.
Ia kembali menghela nafas kasar, begitu sambungan nya terputus.
Wanita itu kembali meraih coat serta kacamata hitamnya dan mengisyaratkan pada beberapa bodyguard nya untuk mendampingi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments