Seorang pria nampak berdiri tegak sebelum akhirnya melangkah perlahan untuk mendekati gadis yang begitu terlihat menyedihkan dibawah gelapnya langit malam.
"Ambillah!" Liam menyodorkan sapu tangan miliknya dengan tatapan yang tak teralihkan.
"Terima kasih, tapi sepertinya aku tak memerlukan nya!"
"Baiklah kalau begitu, diam sekarang!"
Liam menangkup wajah Resta yang masih tertunduk untuk menatapnya, dengan lembut pria itu menghapus air mata yang sebelumnya telah membasahi pipi gadis dihadapannya.
"Ikut lah dengan ku! akan ku antar kau pulang sekarang. Ini sudah terlalu malam Nona Lucia!"
Pria itu kembali menautkan jemarinya pada tangan Resta, dan dengan perlahan membawa Resta melangkah menuju mobilnya.
Siapa sebenarnya pria ini? kenapa dia begitu hangat padaku?
"Li, apa kau melihat semuanya?" gadis itu kembali membuka suara saat terduduk bersama Liam.
"Melihat bagian mana?" Liam tersenyum dengan tatapan fokus pada jalanan dihadapan nya.
"Apa kau melihat wanita yang bersama ku tadi?" suara Resta melemah, ia kini mengalihkan pandangan dari senyuman di wajah Liam.
"Satu-satunya yang ku lihat dengan jelas hanyalah dirimu yang terduduk dengan terus memegangi perban di tangan kiri mu! kenapa kau ini bandel sekali? kapan kau akan mengunjungi dokter untuk memeriksa luka itu?"
Resta tersenyum, ia sedikit lega karena Liam tak mengenali siapa sebenarnya wanita yang telah ia temui.
"Bolehkah aku mengunjungi mu? bisakah aku meminta mu untuk membalut luka ku?" Resta kembali menatap pria itu dengan senyum lembut.
Bahkan setelah apa yang dialami nya, ia masih bisa menarik senyum diwajahnya.
Liam mengangguk dengan tatapan iba terhadap gadis yang kini tersenyum dihadapannya.
...****...
Langkah Liam begitu tegas, ia menapaki lantai rumah ibunya dengan wajah berbinar menatap sambutan hangat dari wanita kebanggaan hatinya.
"Kau sudah kembali sayang? segera bersihkan dirimu, ibu akan segera menyiapkan makanan untuk mu!"
"Terima kasih ibu! aku menyayangimu! ayolah ibu, jangan menatap ku seperti itu! dan jangan ada air mata."
Suara Liam terdengar tegas meskipun wajahnya melempar senyuman, pria itu nampak bergegas menuju kamar lamanya untuk membersihkan diri.
"Liam, kenapa kau tak tinggal bersama kami saja Nak? kau tahu bukan, ibumu tak bisa jauh darimu?" suara berat seorang lelaki terdengar membuka percakapan dalam sebuah makan malam hangat.
"Aku ingin mencoba mandiri paman! lagipula aku masih akan tetap berkunjung sesering mungkin, jadi ibu tak perlu khawatir."
"Jaga dirimu baik-baik Liam, dan ingat pesan ibu! jangan berulah ibu tak ingin dirimu berurusan dengan orang-orang berbahaya."
"Orang-orang berbahaya yang bagaimana maksudnya ibu? diriku bekerja sebagai psikiater, sudah menjadi tugasku untuk membantu seseorang yang memiliki permasalahan mental bukan? tidak semua gangguan mental itu berarti gila ibu, jadi ibu tenanglah." Liam terkekeh saat mendengar kalimat nasehat dari ibunya.
...****...
"Apa kau menemuinya?" suara Tuan Adam kembali menahan langkah putri sulungnya.
"Clara Emilia Ramsey, seorang model papan atas dengan popularitas yang tak diragukan lagi. Apa kau menemui ibu kandungmu?"
Resta terdiam, ia terlihat begitu malas mendengar kata ibu kandungmu.
"Apa itu penting? apa dia menghubungi ayah?" suara Resta bergetar.
"Kau itu anak kami, jadi sedikit banyak kami harus tetap berunding tentang dirimu yang keras kepala dan sulit diatur ini!"
Kau bilang anak? sejak kapan kau melihat ku sebagai seorang putri Tuan Adam?
"Terserah! aku ingin tidur sekarang."
"Kakak! apa kakak tidak ingin makan bersama kami?" suara Rensi nampak mengalihkan perhatian Resta.
"Duduk dan makan sekarang! jangan buat adik mu kecewa!"
"Apa kau tak takut jika putri kesayangan mu itu tertular sial?" Resta kembali berucap dengan entengnya.
"Apa maksudmu Claresta? apa kau sengaja memancing emosi ku, dasar anak sialan!" Tuan Adam kembali mencengkeram dagu putri sulungnya tanpa ragu.
"Ayah hentikan! cukup ayah!" Nyonya Anne akhirnya meninggikan suara diiringi langkah terburu-buru.
Wanita itu menghempas kasar tangan suaminya dan menarik tubuh Resta dibelakangnya.
"Kenapa kau selalu mencoba membela nya Anne? anak itu hanyalah beban bagi hidupku, jika bukan karena janji pada mendiang ibuku! aku benar-benar tak akan sudi untuk menerimanya."
"Adam, walau bagaimanapun ..."
"Ibu, terima kasih! tolong jangan lakukan ini lagi, aku tak ingin pria itu juga memusuhi mu!"
Resta kembali membuka suara sebelum akhirnya melangkah menuju kamarnya.
Kakak? maafkan aku kak!
Rensi yang lagi-lagi mendapati wajah lesu kakak perempuannya nampak meneteskan air mata, gadis itu terlihat begitu tulus pada saudarinya, meskipun Resta tak pernah terbuka.
"Resta tunggu Nak!" Nyonya Anne nampak mencoba menahan langkah putri sulungnya namun sia-sia.
Membanting pintu kamar serta menguncinya seketika, emosi Claresta kembali meledak dadanya begitu sesak, ia membongkar kasar perban yang menutupi lukanya.
Langkahnya kembali sempoyongan menuju laci pada meja di samping ranjang, ia meraih sebuah benda yang cukup lancip sebelum akhirnya terduduk dengan gemetar.
Kenapa selalu saja seperti ini? untuk apa mereka mempertahankan diriku jika hanya dijadikan sebagai lahan luapan emosi,
Tuhan, aku lelah! kenapa kau membiarkan diriku seperti ini?
Jawab sialan!
Mata gadis itu terpejam, ia kembali merasakan nyeri yang menjalar dari tangan ke seluruh tubuhnya.
"Lihatlah Resta, kau masih hidup! kau sungguh gadis yang hebat bukan? kau masih bertahan Claresta! hidup mu masih akan tetap berlanjut."
Gadis itu tertawa meskipun cairan merah telah membasahi tangannya,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments