Tristan sama sekali tak melepas dekapan nya, pria itu bernafas lega karena berhasil menenangkan suasana hati Claresta.
Kenapa dia se nekat ini?
Apa benar perkataan Erdogan tentang kejiwaan nya?
"Dengarkan aku! aku bukanlah orang jahat Lucia, sungguh jika diriku mau, aku bisa saja melecehkan dirimu tadi malam! jujur aku tertarik dengan mu dari awal kita bertemu di taman pagi itu ...,"
Ungkapan lembut dari lisan Christian membuat Claresta kembali nampak hening, tak ada lagi perlawanan tangannya untuk mencoba terlepas dari dalam dekapan tangan pria kekar yang masih saja membelenggu tubuh rampingnya.
Tertarik? apa maksudnya dengan tertarik?
"Tolong diam sebentar, dan jangan berpikir untuk melakukan apapun! kau paham?" pria itu tersenyum, perlahan melepas dekapan hangat nya, sebelum akhirnya berlalu dan meninggalkan Resta yang terduduk diam di sofa.
Tak lama pria itu kembali dengan beberapa perlengkapan obat-obatan dalam sebuah kotak.
"Kenapa kau melakukan ini semua? kenapa selalu melukai diri sendiri?" Christian berjongkok dan membalut dengan lembut sebuah goresan dalam telapak tangan Claresta.
Hening,
Claresta sama sekali tak mengeluarkan suara, gadis itu hanya memperhatikan gerak-gerik Christian dalam mengobati lukanya.
"Diriku juga pernah kecewa pada masa lalu! tapi aku tetap mencintai diriku sendiri, ku lakukan apapun yang membuat hatiku bahagia. Aku bahkan melanggar semua larangan dari orang tuaku ...," pria itu terkekeh dan berbicara seorang diri, meskipun perkataan itu ia tujukan pada Claresta.
"Orang tuaku, bahkan tak menginginkan diriku Tristan!" lisan mungil itu akhirnya mengeluarkan suara.
Tristan, panggilan akrab dari seorang pria bernama lengkap Christian Dave Smith.
Suara lembut itu,
Untuk pertama kalinya Christian mendengar nya,
Pria itu sontak menghentikan pergerakan tangannya dalam mengoleskan antiseptik pada luka Claresta.
"Jika bagi keluarga lain seorang anak merupakan sebuah anugerah, berbeda dengan orang tuaku! bagi mereka diriku hanyalah sebuah bentuk kesalahan dari masa lalu, mereka sama sekali tak menginginkan ku! itulah kenapa aku membenci diriku sendiri, tak ada yang mengharap kehadiran ku di dunia ini," Resta tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca.
Christian kembali tak percaya dengan apa yang telah diungkapkan gadis dihadapannya.
"Jangan ucapkan hal itu! bagi dunia mungkin dirimu tak berarti apa-apa, tapi bisa saja bagi seseorang dirimu adalah dunianya!"
Entah apa maksudnya? namun Christian kembali memeluk perlahan tubuh Resta, bahkan terlalu nyaman untuk sekedar menenangkan.
Tangannya tak berhenti mengusap lembut surai gadis yang kini mulai nampak sedikit terbuka padanya, hati Christian turut tersayat mendengar semua kalimat yang diungkapkan oleh Claresta.
"Jangan memendam semuanya seorang diri! berbagi lah rasa sakit dengan ku Lucia, mungkin itu bisa sedikit mengurangi beban mu!" pria itu kembali bergumam perlahan seraya mencium surai rambut Claresta.
Dia mendengar semua cerita ku? apa dia pria baik? masih adakah pria baik di dunia ini? (Claresta Sesilia Ramsey).
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
"Tidak Tristan, aku baik-baik saja! ini tidak lebih dalam dari sebelumnya. Aku bisa mengatasi ini, terima kasih!"
"Apa kau yakin Luci?"
"Claresta. Itu nama asliku," gadis itu memotong perkataan Tristan dengan menyunggingkan senyum simpul.
Nama yang indah, seindah senyum dibibir nya.
Christian kembali tersadar dari lamunannya, ia tak percaya Claresta bisa semanis itu.
"Maaf jika diriku membohongi teman dokter mu sebelumnya, aku hanya tidak nyaman untuk mengungkapkan nama dihadapan orang asing. Seseorang pernah mengatakan 'bersembunyi dan menenggelamkan diri itu lebih baik daripada mendapatkan perhatian dari khalayak umum', itu yang membuat ku sedikit nyaman dan lebih memilih untuk kesepian."
Christian, pria itu hanya kembali mengangguk tersenyum dan nampak memahami alasan Claresta.
...****...
"Apa Cla tidak masuk hari ini?" Andrew nampak menatap pintu ruang kelas kuliah nya, raut wajahnya menyiratkan bahwa ia sangat menantikan kehadiran seseorang.
"Sepertinya begitu!" Aluna menjawab dengan nada malas.
"Atau mungkin dia bersembunyi seperti biasa di perpustakaan?" Vivian kembali menimpali percakapan kedua sahabat nya, sebelum akhirnya hendak beranjak namun tertahan.
"Kau mau kemana? jangan berlagak pahlawan kau Vivian, apa kau mau turut membolos dengan nya? ingat kau itu siapa? Claresta bisa melakukan apapun semaunya karena dia berbeda dari kita! jangan merusak nilai mu di universitas ini! atau impian orang tuamu akan hancur!"
Vivian akhirnya kembali bungkam, gadis tambun itu juga nampak merenungi perkataan Aluna, sahabatnya.
Aluna benar, Resta bahkan tak pernah mendapatkan sanksi meskipun ia membolos dan tertidur di perpustakaan.
tapi, aku juga ingin memperbaiki hubungan dengannya,
Cla, maaf kan aku! aku ingin tetap berteman dengan mu, tapi ...,
Lamunan Vivian nampak buyar begitu dosen memasuki ruang kelasnya,
Andrew yang turut memperhatikan raut wajah Vivian nampak tertunduk,
Aku juga merindukan nya Vivian, bukan hanya dirimu.
Wajah dingin itu, aku merindukan nya!
...****...
"Apa benar ini rumah mu?" Tristan memperhatikan sekeliling sebelum akhirnya berhenti tepat dihadapan kediaman Tuan Adam.
Resta mengangguk,
Gadis itu nampak berterima kasih dan seketika membuka pintu mobil.
"Claresta!" suara Tristan kembali menggema, pria itu menarik tangan Resta hingga kembali terduduk dan berhadapan dengan dirinya.
Cup.
"Apa yang kau lakukan Tris- tan!" suara Resta nampak tersendat, tangannya terlihat sibuk mencoba untuk mendorong dada pria itu,
Namun nihil,
Tristan justru menarik tengkuk leher Claresta dan kembali menyematkan sebuah kecupan lembut pada bibir gadis mungilnya.
Claresta yang semula memberontak, perlahan hanyut dalam permainan lidah Tristan yang semakin memancing dan menuntut nya untuk memberikan balasan, mata Claresta terpejam gadis itu nampaknya telah tunduk pada Tristan, tak ada lagi perlawanan, yang ada hanya tautan bibir yang semakin nampak sensual.
"Kau milikku sekarang Claresta ...," pria itu berucap tak jelas ditengah hangatnya tautan bibir juga lidah antara dirinya juga Claresta.
Tak ada jawaban, Resta hanya memejamkan matanya menikmati first kiss nya, bersama pria asing yang beberapa hari ini selalu beradu argument dengan nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments