Ibu Peri?

"Ibu aku berangkat!"

"Berhati-hatilah Nak, perhatikan langkah kakimu!" sang ibu berteriak saat mendapati anak perempuan tambun itu berlari sesuka hatinya.

"Apa itu dewasa? dia masih sama saja seperti anak balita."

Sang wanita paruh baya yang merupakan ibu dari sahabat nona Lucia yang bernama Vivian itu tampak menggerutu karena tingkah sembrono dari anak gadisnya.

"Waah secantik itu tubuh juga parasnya? apa dia hanya mengkonsumsi sebutir nasi setiap hari? kenapa diriku susah sekali untuk mengatur pola makan? tunggu apa benar anaknya sudah kembali? aaaaaawwgh, sensasi model serta artis ternama selalu menjadi topik dalam acara televisi."

Wanita bertubuh tambun itupun berkacak pinggang sebelum akhirnya melanjutkan aktivitas beres-beres nya setelah puas membandingkan dirinya dengan sosok di layar kaca.

"Andrew tunggu! dimana Aluna? apa dia sudah berangkat terlebih dulu?" Vivian berujar tanya dengan suara nafas pengap nya.

"Sepertinya begitu, diantara kita bertiga bukankah Aluna yang paling rajin?"

"Apa maksudmu aku ini pemalas?"

Andrew terkekeh mendengar kalimat yang kembali dilontarkan oleh Vivian.

...****...

Berkali-kali mengetuk pintu kamar Claresta dan tak mendapati jawaban, membuat Nyonya Anne akhirnya membuka dengan lancang pintu kamar putri sambung nya.

"Resta, apa kau masih tidur Nak? apa kau tidak ingin berangkat kuliah?" suara lembutnya kembali terdengar ditelinga nya sendiri.

Wanita itu nampak memperhatikan kamar Resta yang nampak rapi meskipun begitu banyak botol alcohol 70% serta kain kasa berjejer di meja rias putri sulungnya.

"Apa dia sudah berangkat? kenapa pagi sekali?"

"Ibu, apa kakak masih belum siap? ayah meminta supaya ...," kalimat Rensi terhenti begitu mendapati ibunya yang mematung seorang diri.

"Sepertinya kakak mu sudah berangkat terlebih dulu Nak!" nyonya Anne kembali tersenyum getir karena memikirkan putri sambung nya.

Rensi, gadis yang duduk di secondary school itu nampaknya memahami perasaan ibunya.

Kuharap kakak baik-baik saja, kenapa sepertinya ayah begitu membenci kak Resta?

Apa itu semua karena ku?

Tuhan tolong ubah sikap Ayah ku, aku sungguh sangat menyayangi kak Resta Tuhan,

Aku tak ingin kak Resta membenci ku hanya karena ayah selalu mengutamakan kepentingan ku,

"Ayo sayang, ayah sudah hampir terlambat! jangan hiraukan kakak mu jika memang dia tak ingin berangkat bersama kita!"

Tuan Adam terdengar kembali bersuara untuk memperingatkan Rensi putri tercintanya, hal itu seketika membuat Rensi tersadar dan melangkah kan kaki untuk kembali menemui sosok ayahnya.

...****...

Claresta mengelilingi ruang perpustakaan, tempat favoritnya setiap kali berada di universitas, ia hanya akan diam dan duduk dengan menyembunyikan wajahnya dan terkadang juga gadis itu mendalami isi buku yang berada dalam genggaman tangannya.

"Astaga kau disini lagi? ini sudah memasuki jam materi pelajaran. Apa kau tahu? siapa namamu?"

"Tunggu! kau anak dari model itu? kau anak pindahan itu bukan?" raut wajah petugas perpustakaan kembali berubah drastis.

Ternyata benar, beberapa orang memang telah mengetahui identitas ku,

Resta kembali tersenyum hambar, pandangan nya kembali menatap staff perpustakaan yang menampilkan raut wajah kebingungan.

"Apa Anda tak ingin memberikan sanksi? saya siap menerima sanksi nya," gadis itu kembali berucap dingin.

"Bagaimana bisa diriku menjatuhkan sanksi pada mu Nona? Nyonya Clara, ia merupakan donatur tetap yang dengan baik hati selalu menyumbangkan sebagian besar pendapatannya untuk membangun kembali beberapa gedung di universitas ini."

"Siapa Clara?" Resta mencoba memastikan pendengaran nya.

"Nona ini sungguh pandai bercanda, sebagian besar dosen serta staff di universitas ini juga pasti mengenal siapa mommy mu Nona!"

Baik hati? wanita baik hati dia bilang? ini sungguh lucu sekali,

Dalam pandangan dunia luar dia memang terlihat seperti ibu peri,

"Maaf Nona, saya permisi!" staff perpustakaan itu kembali meninggalkan Resta termenung seorang diri.

"Apa diriku juga harus bersandiwara seperti wanita itu? mereka menghancurkan mental ku dari kecil, dan sekarang mereka menampilkan topeng pahlawan dihadapan orang-orang! kalian benar-benar manusia sialan!"

Gadis itu kembali memukul kasar rak buku di ruang perpustakaan, hingga beberapa buku terjatuh dan keluar secara bersamaan.

Dering ponselnya kembali membuat Resta frustasi, ia hampir melempar gawai nya ke sembarang arah, namun atensinya teralihkan saat mendapati nomor asing yang tertera dalam layar.

"Siapa?" gadis itu mengawali percakapan dengan nada ketus tak beretika.

"Apa kau membolos lagi Nona Lucia?"

"Maaf dirimu salah sambung, aku bukan Luci- ...,"

"Lucia aku memberimu nama itu karena kau tak juga menyebutkan nama mu padaku!"

"Li? apa ini dirimu?" nada suara Resta berubah seketika.

"Kau tak mengenali suaraku? kenapa terkejut seperti itu Nona Lucia?"

"Katakan lah, ada apa kau menghubungi ku?"

"Hanya ingin memastikan apa kau sedang membolos atau tidak!" Liam kembali terkekeh saat membayangkan ekspresi gadis yang kini berada dalam sambungan teleponnya.

"Aku sedang di perpustakaan, jangan banyak tanya! aku sedang tak ingin bercanda sekarang."

"Baiklah, bolehkah aku menjemputmu nanti?"

"Entah lah, aku ingin pulang bersama sahabat ku! baiklah aku tutup dulu." Resta kembali menanggapi dengan acuh.

Dia memiliki sahabat? benarkah?

Itu sepertinya awal yang baik,

Liam termenung, pria itu nampak bergulat dengan pemikiran nya sendiri setelah Resta mengakhiri panggilannya secara sepihak.

...****...

"Ada apa denganmu Vivian? apa kau sakit?" Resta mencoba untuk menyadarkan Vivian yang sedari tadi nampak memperhatikan wajahnya.

"Bukan Cla, tapi sepertinya diriku tak asing dengan dirimu? tapi siapa wanita yang berwajah mirip dengan mu?" gadis tambun berkacamata itu nampak menaikkan sebelah alisnya.

Apa mereka akan kembali menjauhi ku jika mereka tahu yang sebenarnya?

Resta nampak menghela nafas kasar, dengan memalingkan wajah.

"Apa maksudmu Vivian? siapa yang kau maksud dengan mirip Cla? kau ini ada-ada saja!" Andrew menyahut sebelum akhirnya kembali meminum soda kaleng setelah menikmati makan siangnya.

"Tidak Andrew sungguh, aku pernah melihat wanita yang mirip dengan Claresta! tapi siapa?"

"Jangan berpura-pura seperti itu Vivian, bilang saja terima kasih! jangan berlagak sok dekat dengan sahabat baru kita!" Aluna terkekeh dan kembali meledek sahabat nya.

"Aaaaaaa, mungkin kau benar Aluna! terima kasih Cla, jujur aku bahagia karena kau selalu mentraktir makan siang kita!" gadis tambun berkacamata itu akhirnya menyerah dan membuat para sahabatnya tertawa.

Gadis dengan mata indah dan berambut hitam pekat itu akhirnya bernafas lega, karena kedua sahabatnya turut menyanggah kalimat pernyataan dari Vivian.

"Jangan sungkan, kalian bisa memesan apapun! tapi ingat janji kalian! masakan rumahan ibu."

"Itu bukan lah hal yang sulit Resta! kau tenang saja, kita hanya butuh kau mengatur waktu mu! tapi ..., bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"

"Katakan saja!" Resta menanggapi dengan enteng pertanyaan Andrew.

"Kenapa dengan tangan mu Cla? kami sungguh mengkhawatirkan hal itu,"

Tanpa Resta sadari perban di pergelangan tangannya tak lagi nampak putih bersih, hal itu seketika membuatnya teringat saat ia mengayunkan tangannya dengan kasar pada rak buku di perpustakaan,

Resta kembali terdiam sembari mengulum senyumnya.

"Ini ...,"

Haruskah ku ceritakan ini pada mereka?

Resta kembali menatap wajah teman-temannya secara bergantian sebelum akhirnya menghela nafas kasar.

Episodes
1 Sambutan Keluarga
2 Sungai Lucia
3 Kenapa Diriku Mendapat Perlakuan Berbeda?
4 Teman Tambun Berkacamata
5 Sang Psikiater
6 Ibu Peri?
7 Si Nona Lucia
8 Tak Ada Salahnya Untuk Bermimpi
9 Wanita Tanpa Etika
10 Rute Bus Kota
11 Gadis Incaran Sang Casanova
12 Rasa Sayang Atau Penebusan Dosa Masa Lalu?
13 Boneka Si Wanita Berparas Paripurna
14 Kaleng Soda Kosong
15 Dokter Hidung Belang
16 Sarang Pria Mesum
17 First Kiss,
18 Kericuhan Keluarga Adam
19 Sahabat Tak Sederajat
20 Sang Pemilik Hati Christian,
21 Inner Child Erdogan Yang Terluka
22 Langit Orange Selalu Memberi Ketenangan
23 Impian Sederhana,
24 Kencan Sang Penguasa
25 Luapan Emosi Nyonya Emili
26 Permohonan Seorang Christian
27 Kamar Rawat Yang Telah Kosong
28 Sembuh Tanpa Bercerita
29 Luka Dan Air Mata Masa Lalu,
30 Badai Pasti Berlalu
31 Baku Hantam Di Tengah Gerimis Malam
32 Kasih Sayang Sang Pelayan
33 Si Dokter Buaya,
34 Gadis Topi Hitam
35 Kesalahpahaman Erdogan
36 Traktiran Makan Malam
37 Sugar Daddy?
38 Gaun Hitam Yang Cantik Elegan
39 Impian Kebahagiaan Rensi
40 Bisik-bisik Pelayan
41 Ketulusan? Atau Rasa Iba?
42 Claresta, Bukan Lucia!
43 Kekasih Pura-pura Di Mansion Tuan Buaya
44 Air Mata Sang Model Cantik Paripurna
45 My Ello
46 Aku Tak Salah! Aku Tak Akan Minta Maaf!
47 Kekhawatiran Sang Dokter Tampan
48 Ukiran Indah Pada Pergelangan Tangan,
49 Sang Pembalut Luka,
50 Dalamnya Luka Hati, Siapa Yang Tahu?
51 Resep Obat Dari Dokter Kesayangan
52 Bayangan Seseorang Yang Kian Nyata
53 Kecurigaan Christian
54 Kadar Glukosa,
55 Greek Yogurt
56 Tragedi Anak Tangga
57 Sandaran Hati Claresta
58 Pelita Dalam Kesunyian
59 Wajah Chubby Yang Menggemaskan Bagi Erdogan
60 Pengkhianat Atau Pecundang?
61 Hatiku Sakit!
62 Liontin
63 Sahabat Masa Muda
64 Hangat Senja Membaur Dengan Kecemasan
65 My Mom My Enemy
66 Fitting Room
67 Musuh Ku, Sahabat Ku
68 Kebenaran Yang Terucap Tanpa Sadar
69 Kecemburuan Yang Merusak Segalanya
70 Berhati-hatilah! Ucapan Adalah Sebuah Do'a
71 Senyum Kebahagiaan Claresta,
72 Mawar Putih Untuk Sang Kekasih Hati
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Sambutan Keluarga
2
Sungai Lucia
3
Kenapa Diriku Mendapat Perlakuan Berbeda?
4
Teman Tambun Berkacamata
5
Sang Psikiater
6
Ibu Peri?
7
Si Nona Lucia
8
Tak Ada Salahnya Untuk Bermimpi
9
Wanita Tanpa Etika
10
Rute Bus Kota
11
Gadis Incaran Sang Casanova
12
Rasa Sayang Atau Penebusan Dosa Masa Lalu?
13
Boneka Si Wanita Berparas Paripurna
14
Kaleng Soda Kosong
15
Dokter Hidung Belang
16
Sarang Pria Mesum
17
First Kiss,
18
Kericuhan Keluarga Adam
19
Sahabat Tak Sederajat
20
Sang Pemilik Hati Christian,
21
Inner Child Erdogan Yang Terluka
22
Langit Orange Selalu Memberi Ketenangan
23
Impian Sederhana,
24
Kencan Sang Penguasa
25
Luapan Emosi Nyonya Emili
26
Permohonan Seorang Christian
27
Kamar Rawat Yang Telah Kosong
28
Sembuh Tanpa Bercerita
29
Luka Dan Air Mata Masa Lalu,
30
Badai Pasti Berlalu
31
Baku Hantam Di Tengah Gerimis Malam
32
Kasih Sayang Sang Pelayan
33
Si Dokter Buaya,
34
Gadis Topi Hitam
35
Kesalahpahaman Erdogan
36
Traktiran Makan Malam
37
Sugar Daddy?
38
Gaun Hitam Yang Cantik Elegan
39
Impian Kebahagiaan Rensi
40
Bisik-bisik Pelayan
41
Ketulusan? Atau Rasa Iba?
42
Claresta, Bukan Lucia!
43
Kekasih Pura-pura Di Mansion Tuan Buaya
44
Air Mata Sang Model Cantik Paripurna
45
My Ello
46
Aku Tak Salah! Aku Tak Akan Minta Maaf!
47
Kekhawatiran Sang Dokter Tampan
48
Ukiran Indah Pada Pergelangan Tangan,
49
Sang Pembalut Luka,
50
Dalamnya Luka Hati, Siapa Yang Tahu?
51
Resep Obat Dari Dokter Kesayangan
52
Bayangan Seseorang Yang Kian Nyata
53
Kecurigaan Christian
54
Kadar Glukosa,
55
Greek Yogurt
56
Tragedi Anak Tangga
57
Sandaran Hati Claresta
58
Pelita Dalam Kesunyian
59
Wajah Chubby Yang Menggemaskan Bagi Erdogan
60
Pengkhianat Atau Pecundang?
61
Hatiku Sakit!
62
Liontin
63
Sahabat Masa Muda
64
Hangat Senja Membaur Dengan Kecemasan
65
My Mom My Enemy
66
Fitting Room
67
Musuh Ku, Sahabat Ku
68
Kebenaran Yang Terucap Tanpa Sadar
69
Kecemburuan Yang Merusak Segalanya
70
Berhati-hatilah! Ucapan Adalah Sebuah Do'a
71
Senyum Kebahagiaan Claresta,
72
Mawar Putih Untuk Sang Kekasih Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!