Seorang pria dengan tubuh tinggi kekar nampak memasuki kediaman mewah milik kekasihnya, beberapa pelayan di rumah itu seketika tertunduk dengan wajah masam.
"Christian! aku merindukan dirimu baby! kenapa baru datang kemari?"
Wanita itu seketika bergelayut manja pada tubuh kekar kekasihnya.
"Kau tahu beberapa anak cabang perusahaan milik orang tuaku membutuhkan penanganan dariku akhir-akhir ini, jadi aku minta maaf karena baru sempat mengunjungi mu sayang!"
"Apa calon anak tiri ku sudah kau bawa kemari? aku ingin turut berkenalan dengannya."
"Kau ini sungguh sarkas sekali Chris! aku akan membawanya kemari mendekati hari H nanti."
"Bagaimana jika dia tak memberikan restu pada kita?" pria itu kembali berucap dengan menyentuh lembut bibir wanita yang kini telah mengalungkan kedua tangan di pundaknya.
"Setuju ataupun tidak, kita akan tetap bertunangan! aku tidak peduli dengan pendapat Claresta, aku hanya ingin memenuhi kewajiban ku sebagai ibunya! yaitu memberi nya tempat tinggal."
"Kenapa tidak membiarkannya untuk menetap bersama ayahnya?" Christian kembali berujar tanya dengan tangan nakal yang hampir menelanjangi dan menampakkan tubuh polos Emili.
"Kami telah memiliki kesepakatan perihal Claresta baby! jadi, aaaaaaggghhhh ...," kalimat Emili kembali tersendat karena ulah Christian.
"Bisakah kita bermain sekarang? aku sungguh merindukan rintihan manja mu itu Clara!"
Bak muda-mudi yang tengah dimabuk asmara, Emili kembali pasrah saat tangan Christian kembali bermain nakal dan memberikan rangsangan pada setiap inci lekuk tubuhnya. Adegan panas itu kembali tersaji liar di meja makan.
Gila, ya itulah Clara Emilia Ramsey!
"Apa kakak belum juga kembali ibu? diriku tak bisa memejamkan mata karena turut memikirkan nya." Rensi mendekati Nyonya Anne yang turut nampak gelisah di sofa ruang tamunya.
Nyonya Anne hanya menggelengkan kepalanya,
Semoga saja Adam tak kembali lebih dulu,
tolong Tuhan aku sungguh menyayangi putri sambung ku, hatiku turut tersayat setiap kali melihat Resta mendapatkan perlakuan kasar dari suami ku sendiri.
Buliran cairan bening itu akhirnya jatuh begitu saja, dengan cepat Nyonya Anne mengusap lembut pipi basahnya.
"Apa ibu menangis karena memikirkan kak Resta?"
"Rensi kau harus tidur sekarang Nak! kau ingat kan untuk acara besok pagi?"
Tak mendapati jawaban dari ibunya, Rensi memilih untuk tak kembali bersuara. Gadis itu akhirnya menuruti perkataan sang ibu untuk kembali menuju kamarnya.
...****...
"Jangan terburu-buru, kau bisa tersedak Lucia!"
Tangan lembut Liam yang kembali mengusap perlahan bibir Resta membuat gadis itu kembali terdiam kaku.
"Kita gagal ke rumah sakit hari ini! apa rencana mu besok? kau libur bukan?"
"Aku akan ke rumah sakit jika memang aku membutuhkan pertolongan! lagipula aku masih bisa membalut luka ini sendiri, aku juga memiliki banyak kain kasa serta cairan antiseptik di rumah."
Resta kembali tertunduk dengan menggigit bibir bawahnya.
"Aku akan mengantarmu pulang dan menjelaskan semuanya pada orang tuamu! jadi kau tak perlu khawatir." Liam kembali berucap dan memecah keheningan sementara diantara ia juga Resta.
"Tidak Li, jangan! aku bisa mengatasi kedua orang tua ku sendiri. Kau tak perlu repot-repot untuk melakukan hal itu."
"Benarkah?" Liam tak henti untuk menatap dalam mata indah itu kembali.
Lagi, Resta mengangguk tegas dengan senyum tipis yang terhias dibibir mungilnya.
Selama perjalanan pulang, Resta diam-diam mencuri pandang pada pria yang tengah menyetir untuk membawanya ke rumah. Entah apa yang dipikirkan nya, namun ia terlihat kembali menyunggingkan senyumnya.
"Jangan menatap ku seperti itu! kau bisa jatuh cinta padaku nona Lucia!"
"Siapa yang menatap mu? aku hanya memperhatikan jalanan sekitar." Resta kembali mengelak dengan wajah datar.
Kau ini pandai sekali menyembunyikan ekspresi Lu,
Aku menyukai mu atau hanya sebatas kasihan terhadap mu?
Suara pintu mobil yang tertutup seketika membuat Nyonya Anne beranjak dari duduknya, ia melangkah menuju teras rumahnya. Pandangan matanya nampak berbinar karena ia mendapati putri sambungnya telah kembali bersama Liam.
"Masuk lah! ini sudah malam! semoga mimpi mu indah nona Lucia."
"Mimpi?" senyuman Resta kembali sedikit merekah karena Liam.
"Iya, mari bertemu dalam mimpi!" Liam kembali terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Berhati-hatilah dalam berkendara Li! dan terima kasih untuk hari ini."
Liam mengangguk dengan senyuman sebelum akhirnya kembali melajukan mobilnya dan menatap Resta yang semakin jauh dengan lambaian tangan.
"Kau sudah kembali Nak? apa dirimu baik-baik saja?"
Resta tersenyum, ia menghampiri Nyonya Anne yang begitu mencemaskan dirinya.
"Ibu kenapa belum tidur? diriku baik-baik saja bu! apa ibu lupa dengan kunci duplikat yang kubawa?" gadis itu tersenyum setelah melontarkan pernyataan nya.
"Apa kau sudah makan Nak? apa dirimu ingin ibu menyiapkan makan malam?"
Suara itu sekali lagi terdengar begitu tulus ditelinga Resta, namun wajah Resta kembali nampak datar.
"Aku sudah makan diluar ibu, maaf aku hanya ingin istirahat sekarang."
Gadis itu berlalu dan kembali mengacuhkan keberadaan ibu sambungnya.
Kemunafikan macam apa ini? kenapa mereka tega mencabik-cabik hatiku seperti sekarang ini?
Sampai kapan diriku harus hidup dalam lingkaran sandiwara sialan ini?
Resta kembali merebahkan tubuhnya, ia menatap kosong langit-langit kamarnya.
"Mimpi? apa aku bisa bermimpi kali ini? pria itu meminta ku untuk bermimpi?" Resta kembali bergumam seorang diri.
Wajah karismatik dengan senyum lembut yang selalu Liam tampilkan dihadapannya membuat gadis itu sulit memejamkan matanya malam itu.
Li, aku akan mencoba untuk bermimpi
Berkali-kali nona Lucia itu mengusap lembut perban yang kini telah kembali terlihat putih bersih di pergelangan tangannya,
...****...
"Aaaaaaggghhhh, aku benar-benar sudah gila!" pria bertubuh kekar itu nampak ambruk dengan nafas memburu di samping tubuh wanitanya.
"Apa kau tak menyukainya? kenapa kau lemah sekali malam ini sayang?" wanita itu berdecak kesal sembari memunguti pakaiannya dan melenggang pergi untuk membersihkan diri.
"Ada beberapa pekerjaan yang membuat ku sangat terbebani akhir-akhir ini Clara! bisakah kita mengundur acara pertunangan kita? setidaknya aku juga ingin mengenal putri mu lebih dulu! aku ingin mencoba untuk menjadi ayah yang baik."
Christian nampak menampilkan basa-basi nya saat sang model dengan paras cantik paripurna itu kembali mendekati ranjang.
"Apa pekerjaan mu benar-benar mendesak?"
"Begitulah sayang! kau tahu aku ini anak tunggal bukan? siapa lagi yang bisa diandalkan oleh orang tuaku?" pria itu kembali meraih pinggang ramping wanita pemilik anak satu itu untuk duduk di pangkuannya.
Percakapan hangat sebelum beristirahat, membuat wanita yang merupakan seorang model papan atas itu begitu merasa nyaman untuk terus menjalin hubungan dengan lelaki yang berbeda usia dengannya.
Suasana hari Minggu pagi membuat Resta beranjak keluar rumah lebih awal, gadis itu ingin menikmati suasana segar disekitar taman kota.
Bruuugh.
Tubuh Resta terpental seketika saat ia menabrak seseorang.
"Apa kau baik-baik saja? maaf aku sungguh tak sengaja? apa tangan mu terluka? kita ke rumah sakit sekarang!"
Tanpa ragu pria itu mengangkat dengan enteng tubuh Claresta, tanpa persetujuannya.
"Tidak perlu, terima kasih! tolong turunkan aku! tolong siapapun, tolong aku!"
"Hei, apa yang kau lakukan?"
Pria itu justru panik, teriakan Resta nampak mengundang perhatian beberapa mata untuk memperhatikan mereka berdua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments