Rasa perih serta nyeri yang sengaja Resta biarkan berhari-hari pada pergelangan tangannya nampak nya sedikit berkurang karena penanganan yang sempat ia peroleh dokter, gadis itu bahkan dengan mudah terlelap dalam mobil Tristan.
Apa karena efek obat penenang? apa dia memiliki masalah kecemasan?
"Aaaaaghh, seharusnya aku tak membawanya kemari!" Tristan kembali mengacak kasar pertengahan garis rambut nya.
"Baiklah aku akan mengenakan topeng pria bijak berhati malaikat malam ini! itu jika devil dalam diriku tidak memberontak!" pria itu kembali bergumam seorang diri sembari mengangkat tubuh Resta dan memasuki kamar apartemennya.
Tristan nampak terlihat begitu memperhatikan langkah kakinya, pria itu sama sekali tak ingin jika gadis yang berada dalam gendongannya terusik dan kembali membuat ia merasa pening di kepala.
"Tidur lah Luci, kau aman disini! tapi kenapa sepertinya aku mengenal mu? wajah mu tak begitu asing bagiku! atau ini hanya kebetulan semata?" pria itu kembali terkekeh saat memandangi wajah Claresta.
"Ternyata dirimu bisa nampak anggun jika memejamkan mata seperti ini wahai gadis tempurung batok kelapa! aku mungkin menyukai mu,"
Terduduk di bantalan empuk sofa ruangannya, Tristan menuangkan wine dan menenggak nya seketika.
"Dia kembali menghubungi? tapi aku lelah! jika ku jawab sekarang, dia pasti akan meminta ku untuk mengunjungi nya. Aaaaaaggghhhh ..., hidup macam apa ini Christian? berpura-pura mencintai seorang wanita hanya untuk pelampiasan ego mu karena luka masa lalu? kau bahkan menjanjikan pernikahan bulshit itu" pria itu kembali tersenyum getir.
Di sisi lain, Emili nampak terduduk seorang diri di sebuah room bar eksklusif yang biasa ia kunjungi, wanita itu mencoba untuk menghibur diri dan meluapkan kekesalannya karena ulah Claresta, putri semata wayang nya.
Kemana Christian? kenapa tidak menjawab panggilan ku sama sekali hari ini, apa pekerjaan nya belum juga bisa ditinggal?
Aku merindukan mu baby,
Bodyguard nya nampak kembali menghampiri dan berbisik pada Emili begitu wanita itu hendak menyentuh mojito pesanan nya,
"Maaf bolehkah diriku bergabung dengan mu? ada sesuatu yang ingin ku bicarakan!" suara seseorang seketika terdengar begitu bodyguard Emili berjalan keluar ruangan.
Senyuman tipis dari Nyonya Emili membuat pria yang baru saja hadir itu nampak mendaratkan bokong nya di sofa panjang yang berhadapan dengan sang model ternama.
"Aku memiliki sebuah tawaran kerjasama, jika kau tak keberatan! dan tentu dengan keuntungan yang jauh lebih besar!"
Blare Dominic, seorang CEO dari perusahaan multinasional yang sedikit banyak telah mengetahui masa lalu dari ibu kandung Claresta itu nampak menyematkan sebuah senyum devil.
"Apa kau masih terobsesi padaku? dan tetap ingin menjadikan ku wanita simpanan mu? lebih baik kau pergi sekarang jika ingin kembali melontarkan kalimat itu, Blare!"
"Ternyata dirimu masih saja tetap keras kepala Clara, bagaimana kabar putri ku? ku dengar dia telah kembali ke kota ini beberapa hari yang lalu, apa itu benar?"
...****...
"Liam? apa kau sudah mengetahui keberadaan Resta Nak?" suara Nyonya Anne terdengar begitu khawatir.
"Maaf Nyonya, saya masih belum juga menemukan nya! apa dia sengaja tak membawa ponselnya?" suara Liam tak kalah cemas dalam sambungan telepon malam itu.
'Ponsel kakak berada di kamarnya ibu' Rensi turut menanggapi percakapan telepon antara Liam juga ibunya.
"Benar Li, Resta hampir tak pernah menyentuh ponsel miliknya beberapa hari ini."
"Baiklah Nyonya, saya akan mencoba cari tahu melalui teman asrama universitas nya! nanti akan saya kabari, selamat malam."
Sambungan terputus,
"Aaaaaaggghhhh sial! kemana aku harus mencari mu Claresta? apa dirimu baik-baik saja?" Liam mengacak kasar rambutnya, raut wajah khawatir begitu nampak dalam dirinya.
...****...
"Berapa kali ku katakan dia bukanlah putri mu!"
Clara Emilia Ramsey, wanita itu kembali menegang sorot mata tajamnya mengiringi langkah Blare meninggalkan room bar.
"Berapa kali ku katakan dia bukanlah putri mu!" teriakan Nyonya Emili kembali memenuhi room bar meskipun dentuman musik menenggelamkan suaranya.
Gelapnya langit malam nampak mulai mengalah dan perlahan berganti dengan terang nya cahaya mentari yang mulai mendominasi.
Claresta terbangun dengan wajah linglung,
Dimana ini?
Gadis itu berucap dalam hati sembari menatap sekeliling, mencoba mengenali setiap detail sudut ruangan yang kini ia tempati.
Asing,
Pria itu? apa ini kediaman nya?
Claresta sontak menarik kembali selimutnya dan memejamkan mata,
"Apa yang telah kulakukan Tuhan? kenapa diriku bisa sampai di sarang pria yang lebih mesum dari Liam?" gadis itu merengek dan memukuli kepalanya sendiri dan bersembunyi dibawah selimut.
Sarang pria mesum katanya?
Baiklah, diriku memang pria mesum!
Tristan kembali terkekeh perlahan,
"My sugar baby, are you wake up?" suara Tristan nampak terdengar berat menggoda.
Apalagi ini Tuhan?
Claresta semakin mencengkeram kuat selimut berwarna putih yang menutupi seluruh tubuhnya,
"Ayolah baby! Daddy sudah menunggu mu hampir semalaman! bangunlah, daddy berjanji akan memulai dengan perlahan, kau tak perlu khawatir sayang."
Tidak Claresta, kau harus kabur sekarang juga! kau menguasai karate bukan?
Ayolah! lakukan sesuatu untuk melindungi dirimu, bodoh!
Belaian lembut yang sengaja Tristan lakukan pada permukaan selimut seketika membuat Claresta mendorong kasar tubuh pria itu,
"Aaaiiiish! kenapa kau ini kasar sekali Luci?" Tristan tersungkur ke lantai saat itu juga.
"Dasar pria kurang ajar! apa kau pikir aku takut padamu? berani sekali kau menyentuh ku!" Resta beranjak dan menggenggam vas bunga yang siap ia arahkan pada pria yang masih saja memegangi siku nya karena kesakitan.
Tristan kembali terkekeh menatap kepanikan pada wajah Claresta,
"Apa kau yakin berani berbuat kriminal seperti itu? ku lihat dirimu merupakan gadis yang lebih memilih bermain aman, jika kau melukai ku! orang tuamu pasti akan turun tangan bukan? ayolah baby! lagi pula akan menyenangkan jika kita bisa sedikit bermain-main di ranjang! aku hanya ingin memastikan junior ku ini baik-baik saja setelah kau dengan sengaja menendangnya dengan kasar malam itu!"
Pria itu kembali bangkit sehingga makin membuat tubuh Resta gemetar,
Pranggg,
Tangan Resta mengayunkan kasar vas bunga dan pecah seketika.
"Berani kau mendekat? aku tak akan segan-segan untuk melukai mu!" suara Resta kini bergetar dengan mengacungkan pecahan tajam dari vas bunga.
"Kau pikir aku takut dengan ancaman gadis tengil seperti mu?"
Resta kembali bungkam, pria itu bahkan tetap melangkah perlahan dan mencoba mendekatinya.
"Baiklah, aku memang tak berani melukai orang lain!" Resta kembali berucap tegas,
"Tapi diriku tidak akan pernah main-main! lebih baik mati daripada harus menjadi ****** untuk pria seperti mu!"
Apa yang kau lakukan?" Tristan meninggikan suaranya seketika, matanya terbelalak.
Darah segar kembali mengalir dari telapak tangan Claresta, hal itu membuat Tristan turut panik. Pria itu seketika meraih tubuh Claresta dan mendekapnya tanpa aba-aba.
"Lepas! lepaskan aku sialan! biar saja ku akhiri semua ini, kenapa aku harus bertemu dan berurusan dengan manusia-manusia bejat tak berperasaan seperti kalian?" Resta berteriak meluapkan isi hati nya, buliran air mata pun nampak telah mengalir membasahi pipinya.
Gila dan tak memiliki rasa takut untuk melukai diri sendiri, itulah yang Resta lakukan setiap kali kecemasan menguasai hatinya.
"Tenang lah! aku mohon, aku minta maaf! sungguh diriku tak bermaksud untuk serius melakukan hal itu!" Tristan, pria tampan bertubuh kekar itu nampak kewalahan dalam menangani pergerakan kuat dari tubuh Claresta, pria itu juga masih bergulat dan mencoba merebut pecahan vas bunga dari tangan si nona Lucia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments