Si Nona Lucia

Sebuah mobil berwarna silver nampak menghentikan langkah Resta beserta ketiga sahabatnya sore itu.

"Hai Nona Lucia!" teriakan diiringi senyum yang terukir indah membuat pria itu nampak tampil menawan sempurna.

"Siapa yang dia maksud? apa dia kenal dirimu Aluna? atau mungkin itu Cla" Andrew serta Vivian saling menatap bingung.

"Kalian tunggu lah sebentar disini!"

Liam semakin melebarkan senyumnya tatkala Resta melangkah mendekati arah mobilnya.

"Kau ini! kenapa suka sekali membuntuti ku? apa kau tak memiliki pekerjaan? pria matang seperti mu harusnya mencari seorang wanita dewasa, bukan justru membuntuti gadis yang masih duduk di bangku kuliah seperti ku! apa kau seorang pedofil?" Claresta kembali mengomel panjang lebar sesuka hatinya, mulut gadis itu memang terbiasa untuk berbicara dengan lancang.

Apa ini? dia sungguh banyak bicara,

dan itu membuat ku semakin menyukai nya,

Nona Lucia,

"Apa kau mendengar ku Li?"

"Tentu, baiklah! akan ku pikirkan untuk menjadi seorang pedofil untuk bisa bermain dengan mu!" pria itu kembali terkekeh menanggapi ucapan Resta.

"Dasar pria mesum!"

Sahabat Resta yang memperhatikan keduanya berdebat, nampak kembali dibuat bingung dengan pria yang baru saja berteriak dengan menyebut nama Lucia.

"Apa Cla mengenal nya? pria itu sepertinya dekat dengan Cla. Lihat lah caranya berbicara, dia jauh lebih cerewet dibanding saat bersama kita bukan?"

Aluna nampak melontarkan pertanyaan pada kedua sahabatnya yang hanya ditanggapi dengan anggukan dari Andrew juga Vivian.

Tak berselang lama, ketiga teman Claresta kembali terdiam saat gadis itu kembali menghampiri mereka.

"Apa kalian mau bergabung bersama Li?"

"Tidak Cla, kami lebih baik segera pulang. Kau pergilah!" Aluna nampak tersenyum dan membuat Vivian mengerucutkan bibirnya.

"Baiklah, bawa ini! kalian bisa makan sepuasnya."

Claresta kembali berlari menuju mobil Liam yang sedari tadi masih setia menunggunya.

"Cla tunggu!" Aluna kembali meninggikan suara mencoba untuk menahan Resta namun sia-sia.

"Ini bukan kartu kredit biasa bukan?" Andrew berucap dengan mata terbelalak.

Begitupun dengan Aluna juga Vivian.

Cla, dimana aku pernah melihat mu?

Vivian kembali mencoba mengingat dengan keras raut wajah itu.

...****...

"Jadi kita akan kemana Li?" senyum Resta nampak mengembang.

"Tentu saja ke rumah sakit!"

"Apa? untuk apa ke rumah sakit?" gadis itu menaikkan alisnya seketika.

"Jadi kau menjemput ku untuk ini? tidak Li, aku tak mau ke rumah sakit! turunkan aku sekarang!"

"Hei nona Lucia, tenanglah! aku hanya ingin memeriksa seberapa dalam luka di pergelangan tangan mu itu. Bukankah kau memintaku untuk memeriksa mu kemarin?"

"I-itu benar, tapi aku belum siap jika harus diperiksa sekarang!" Resta kembali membuang muka, gadis itu kini kembali menampilkan raut wajah datar.

Liam menghela nafas perlahan, ia menyadari bahwa Resta merupakan gadis yang teguh dengan pendirian.

"Baiklah, kita akan ke taman bermain! apa kau suka itu?"

"Kau pikir aku ini anak balita?" Resta kembali menanggapi suara Liam dengan acuh dan tetap menatap keluar jendela kaca mobil.

"Pantai atau museum? pilih salah satu!"

Tatapan mata si nona Lucia kini berbinar, gadis itu seketika meraih tangan Liam dengan senyum lebar.

"Bisakah kita ke pantai Tuan Li? please, I'm begging to you!"

Raut wajah penuh keceriaan dengan ucapan yang begitu antusias, membuat Liam turut tersenyum dan mengangguk dalam menanggapi permohonan gadis itu.

Sikapnya benar-benar berubah drastis,

Semoga saja dia bersedia untuk sedikit terbuka padaku.

Deru ombak serta suara burung dengan pasir putih yang terhampar ditepian air laut, membuat Claresta tak berhenti melayangkan pandangan mata.

Gadis itu menenteng sneaker di tangan kanannya dan berlarian kesana-kemari sembari menantang sang ombak, ia tak memperdulikan tatapan Liam yang sedari tadi memperhatikan dirinya.

"Perhatikan langkah mu Nona Lucia, atau luka ditangan mu akan kembali perih karena air asin ini!" Liam menarik pinggang Claresta dan membuat gadis itu beradu pandang dengannya.

"Apa mau mu? lepas!"

"Aku hanya ingin memperingatkan dirimu Lu!"

"Diam! dan jangan memanggilku dengan seenak hati mu!" rahang Resta kembali nampak menegang hingga semakin menampilkan pesona wajah tirus nya.

"Jadi, siapa namamu?" pria itu menyunggingkan senyum dengan tatapan tak teralihkan dari wajah Claresta.

Resta seketika mengulum saliva nya saat menyadari posisi Liam yang semakin dekat dengan dirinya.

Apa? apa aku harus menyebutkan namaku?

Tidak, bagaimana jika ia mengetahui semua tentang hidup ku, tentang wanita sialan itu?

"Jawab lah, cantik! kau tahu sepertinya aku tertarik untuk menjadi pedofil!" Liam kembali mendekatkan wajahnya dan berbicara pada telinga Resta.

"Hentikan Li! atau aku akan membunuhmu disini!"

"Coba saja! disini tak ada siapapun Lu, aku semakin tertantang untuk bisa menyentuh mu," pria itu berucap dengan senyum liciknya.

Pelukan erat serta tatapan tajam dari Liam membuat Resta gusar, gadis itu mencoba untuk mendorong kasar tubuh Liam.

"Katakan dulu siapa namamu, baru akan ku lepaskan dirimu nona Lucia!"

Ucapan Liam kembali membuat Resta berpikir,

Tak ada salahnya bukan dengan nama Lucia?

Pria ini tak mungkin meminta tebusan pada siapapun jika dia mengetahui bahwa diriku hanyalah gadis biasa,

tapi dia pernah mengantar ku sampai ke rumah bukan? jika dia memang ingin melukai ku? kenapa Li memaksaku untuk pergi ke rumah sakit?

Apa sebenarnya yang diinginkan oleh pria ini?

"Sepertinya nama Lucia itu tidak buruk! kau bisa terus memanggil ku dengan nama itu." Claresta mencoba untuk tetap tersenyum meskipun sebenarnya kemelut cemas telah menyelimuti hatinya.

Suara Resta yang nampak begitu terbata membuat Liam kembali menahan tawa,

"Jadi kau lebih memilih untuk menerima nama panggilan itu? apa kau tidak menyukai nama aslimu?"

"Bukan seperti itu, hanya saja ..., aku tak begitu nyaman!" Resta nampak berucap terus terang dengan wajah lesu.

Pria itu kembali terdiam dan perlahan melepaskan tubuh Resta,

"Maaf jika diriku membuat mu takut! aku sungguh tak bermaksud seperti itu," suara Liam kembali terdengar lembut, pria itu bahkan membelai surai rambut gadis bermata indah itu.

Apa ayahku akan bersikap seperti ini suatu saat?

Usapan lembut Liam pada kepalanya membuat Resta kembali melayangkan sebuah harapan di masa depan.

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

/Sob/

2024-03-24

0

lihat semua
Episodes
1 Sambutan Keluarga
2 Sungai Lucia
3 Kenapa Diriku Mendapat Perlakuan Berbeda?
4 Teman Tambun Berkacamata
5 Sang Psikiater
6 Ibu Peri?
7 Si Nona Lucia
8 Tak Ada Salahnya Untuk Bermimpi
9 Wanita Tanpa Etika
10 Rute Bus Kota
11 Gadis Incaran Sang Casanova
12 Rasa Sayang Atau Penebusan Dosa Masa Lalu?
13 Boneka Si Wanita Berparas Paripurna
14 Kaleng Soda Kosong
15 Dokter Hidung Belang
16 Sarang Pria Mesum
17 First Kiss,
18 Kericuhan Keluarga Adam
19 Sahabat Tak Sederajat
20 Sang Pemilik Hati Christian,
21 Inner Child Erdogan Yang Terluka
22 Langit Orange Selalu Memberi Ketenangan
23 Impian Sederhana,
24 Kencan Sang Penguasa
25 Luapan Emosi Nyonya Emili
26 Permohonan Seorang Christian
27 Kamar Rawat Yang Telah Kosong
28 Sembuh Tanpa Bercerita
29 Luka Dan Air Mata Masa Lalu,
30 Badai Pasti Berlalu
31 Baku Hantam Di Tengah Gerimis Malam
32 Kasih Sayang Sang Pelayan
33 Si Dokter Buaya,
34 Gadis Topi Hitam
35 Kesalahpahaman Erdogan
36 Traktiran Makan Malam
37 Sugar Daddy?
38 Gaun Hitam Yang Cantik Elegan
39 Impian Kebahagiaan Rensi
40 Bisik-bisik Pelayan
41 Ketulusan? Atau Rasa Iba?
42 Claresta, Bukan Lucia!
43 Kekasih Pura-pura Di Mansion Tuan Buaya
44 Air Mata Sang Model Cantik Paripurna
45 My Ello
46 Aku Tak Salah! Aku Tak Akan Minta Maaf!
47 Kekhawatiran Sang Dokter Tampan
48 Ukiran Indah Pada Pergelangan Tangan,
49 Sang Pembalut Luka,
50 Dalamnya Luka Hati, Siapa Yang Tahu?
51 Resep Obat Dari Dokter Kesayangan
52 Bayangan Seseorang Yang Kian Nyata
53 Kecurigaan Christian
54 Kadar Glukosa,
55 Greek Yogurt
56 Tragedi Anak Tangga
57 Sandaran Hati Claresta
58 Pelita Dalam Kesunyian
59 Wajah Chubby Yang Menggemaskan Bagi Erdogan
60 Pengkhianat Atau Pecundang?
61 Hatiku Sakit!
62 Liontin
63 Sahabat Masa Muda
64 Hangat Senja Membaur Dengan Kecemasan
65 My Mom My Enemy
66 Fitting Room
67 Musuh Ku, Sahabat Ku
68 Kebenaran Yang Terucap Tanpa Sadar
69 Kecemburuan Yang Merusak Segalanya
70 Berhati-hatilah! Ucapan Adalah Sebuah Do'a
71 Senyum Kebahagiaan Claresta,
72 Mawar Putih Untuk Sang Kekasih Hati
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Sambutan Keluarga
2
Sungai Lucia
3
Kenapa Diriku Mendapat Perlakuan Berbeda?
4
Teman Tambun Berkacamata
5
Sang Psikiater
6
Ibu Peri?
7
Si Nona Lucia
8
Tak Ada Salahnya Untuk Bermimpi
9
Wanita Tanpa Etika
10
Rute Bus Kota
11
Gadis Incaran Sang Casanova
12
Rasa Sayang Atau Penebusan Dosa Masa Lalu?
13
Boneka Si Wanita Berparas Paripurna
14
Kaleng Soda Kosong
15
Dokter Hidung Belang
16
Sarang Pria Mesum
17
First Kiss,
18
Kericuhan Keluarga Adam
19
Sahabat Tak Sederajat
20
Sang Pemilik Hati Christian,
21
Inner Child Erdogan Yang Terluka
22
Langit Orange Selalu Memberi Ketenangan
23
Impian Sederhana,
24
Kencan Sang Penguasa
25
Luapan Emosi Nyonya Emili
26
Permohonan Seorang Christian
27
Kamar Rawat Yang Telah Kosong
28
Sembuh Tanpa Bercerita
29
Luka Dan Air Mata Masa Lalu,
30
Badai Pasti Berlalu
31
Baku Hantam Di Tengah Gerimis Malam
32
Kasih Sayang Sang Pelayan
33
Si Dokter Buaya,
34
Gadis Topi Hitam
35
Kesalahpahaman Erdogan
36
Traktiran Makan Malam
37
Sugar Daddy?
38
Gaun Hitam Yang Cantik Elegan
39
Impian Kebahagiaan Rensi
40
Bisik-bisik Pelayan
41
Ketulusan? Atau Rasa Iba?
42
Claresta, Bukan Lucia!
43
Kekasih Pura-pura Di Mansion Tuan Buaya
44
Air Mata Sang Model Cantik Paripurna
45
My Ello
46
Aku Tak Salah! Aku Tak Akan Minta Maaf!
47
Kekhawatiran Sang Dokter Tampan
48
Ukiran Indah Pada Pergelangan Tangan,
49
Sang Pembalut Luka,
50
Dalamnya Luka Hati, Siapa Yang Tahu?
51
Resep Obat Dari Dokter Kesayangan
52
Bayangan Seseorang Yang Kian Nyata
53
Kecurigaan Christian
54
Kadar Glukosa,
55
Greek Yogurt
56
Tragedi Anak Tangga
57
Sandaran Hati Claresta
58
Pelita Dalam Kesunyian
59
Wajah Chubby Yang Menggemaskan Bagi Erdogan
60
Pengkhianat Atau Pecundang?
61
Hatiku Sakit!
62
Liontin
63
Sahabat Masa Muda
64
Hangat Senja Membaur Dengan Kecemasan
65
My Mom My Enemy
66
Fitting Room
67
Musuh Ku, Sahabat Ku
68
Kebenaran Yang Terucap Tanpa Sadar
69
Kecemburuan Yang Merusak Segalanya
70
Berhati-hatilah! Ucapan Adalah Sebuah Do'a
71
Senyum Kebahagiaan Claresta,
72
Mawar Putih Untuk Sang Kekasih Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!