Materi jam pelajaran terakhir telah usai, mahasiswa berhamburan memenuhi halaman universitas yang semula lengang,
Empat sekawan itu nampak duduk dan kembali menikmati waktu mereka di sebuah cafe yang kini telah menjadi langganan Claresta.
"Kita ke mana sekarang?" Resta mengaduk minuman anggur susu dan menatap satu persatu wajah sahabat nya.
"Tentu saja pulang Cla! pertanyaan macam apa itu? kami tak mungkin bisa nongkrong dan kembali menghamburkan uang seperti dirimu," Aluna berdecak kesal,
Resta hanya terkekeh menanggapi kalimat sahabatnya,
"Tapi Cla ..., meskipun dirimu anak kesayangan, apa tidak berlebihan jika kau terlalu boros seperti ini?" Andrew berucap dengan buru-buru mengelap bibirnya.
Anak kesayangan? siapa anak kesayangan?
Resta kembali tertunduk, hatinya memberontak. Ia ingin mengungkapkan isi hatinya, namun pemikiran keras kepalanya kembali menghalangi nya.
Claresta bukanlah anak lemah,
Claresta mampu menjalani semuanya tanpa siapapun disisi nya,
Kalimat itu yang selalu berputar dan memenuhi isi kepala Claresta.
"Cla, apa yang terjadi sebenarnya? tanganmu ...,"
"Bisakah kalian tak menanyakan tentang hal ini? kalian sungguh cerewet sekali!" gadis itu beranjak dan meninggalkan teman-temannya yang terperangah karena perubahan sikapnya.
Wajah datar Resta kembali membuat Vivian, Andrew, juga Aluna nampak tak percaya.
"Kenapa kau mengulang kalimat itu Andrew? lihat lah, dia jadi marah sekarang!" Vivian turut beranjak dan berlari mengejar Resta yang telah keluar dan menjauh dari area cafe.
Aluna kembali menghela nafas, ia melayangkan pandangan pada Andrew. Wajah cemas Andrew yang nampak begitu jelas terlampir dihadapan nya, membuat gadis itu tersenyum miris.
"Cla tunggu! Claresta!" Vivian meninggikan suara demi mencoba untuk menahan langkah sahabat nya, namun nihil.
Claresta nampak masuk kedalam sebuah mobil taksi dan berlalu begitu saja.
Apa? kenapa diriku marah pada mereka?
Mereka tidak bersalah bukan?
Ada apa dengan diriku? apa aku memang se_aneh ini?
Gadis itu kembali terlihat frustasi dan bersandar diam pad kursi taksi dengan memejamkan mata.
Langkah kaki Claresta terhenti,
Gadis itu kembali menghela nafas kasar, mengeluarkan sebatang nikotin, membuat nya berasap, dan seketika menyematkan nya dibibir mungilnya.
Bukankah dirimu memang tak memiliki siapapun? kenapa harus merasa kehilangan jika mereka menjauh?
Jangan kan orang lain! orang yang melahirkan dirimu saja sempat ingin melenyapkan mu waktu itu Claresta!
Cairan bening itu seketika terjatuh dengan mudahnya, tenggorokannya kembali tercekat dengan suara isak tangis yang begitu dalam.
Sunyi nya suasana dipinggiran taman sungai Lucia sungguh berbanding terbalik dengan isi pikirannya.
Ricuh,
Dan hanya dirinya yang mendengar semua keributan itu.
"Oh sweetie? apa dirimu menunggu lama? maaf mom sangat sibuk dan baru bisa kemari!"
Resta menyeka dengan kasar air matanya, kepalanya akhirnya tertoleh dan mendapati seseorang yang suaranya sama sekali tak asing di telinga.
Wanita modis yang kini berada di samping tubuhnya membuat gadis itu semakin menampilkan senyum devil nya.
Ya, segampang itu perubahan dari raut wajah pilu menjadi dingin tanpa ekspresi pada paras manis Claresta.
"What's wrong? katakan secepatnya! tidak biasanya suaramu selembut ini Nyonya!"
"Claresta!"
"Tentu saja, see! five minutes!" Resta terkekeh menanggapi kalimat bentakan dari ibunya.
Nyonya Emili kembali menghela nafas dalam, sebelum akhirnya kembali mencoba menenangkan dirinya.
"Baiklah Resta, mom sedang tak ingin berdebat sekarang! dengarkan ini, mom akan mengatur semua kepindahan mu! mom juga akan mengirim orang untuk menjemput mu besok malam. Jadi jangan mempersulit keadaan, ikuti semua instruksi dari mom! kau paham?"
Resta kembali memalingkan wajahnya,
"Kau mendengarkan mom atau tidak?" raut wajah kesal kembali menyelimuti diri sang model.
"Jika diriku tak ingin pindah? apa mom akan mendengar ku? tidak kan? jadi untuk apa meminta bertemu seperti ini? kenapa tidak langsung menjemput dan menyeret paksa diriku besok malam?" gadis itu kembali menyesap dan mengepul kan asap nikotin dari bibirnya.
"Sampai kapan kau akan seperti ini Claresta?" nada tinggi itu kembali terlontar dari mulut Nyonya Emili.
"Sampai kapan kau memintaku untuk hidup jadi boneka mu mom? kenapa tak mengakhiri nyawaku saja waktu itu? aku benci diriku sendiri! aku juga tak ingin terlahir ke dunia ini, kenapa mom? kenapa dirimu mempertahankan seonggok kesalahan yang berwujud gadis bastard ini?" suara Claresta kian lirih, tatapan nya semakin kosong dihadapan Nyonya Emili.
Nyonya Emili nampak bungkam,
Entah mengapa dadanya sedikit terasa sesak mendengar kalimat yang terlontar dari putri semata wayangnya.
Aku? kenapa Claresta berbicara seperti itu? bukankah diriku telah memberikan segalanya selama ini untuk nya? apa maksud nya dengan boneka?
Dia memang sebuah kesalahan, tapi diriku telah berjuang untuk membesarkan nya bukan? Apa dia sama sekali tak menyadari hal itu,
Meskipun gadis bastard, dia tetap darah daging ku! dan aku mempertahankan nya demi masa tuaku, apa salah jika diriku menuntut dia untuk memenuhi kemauan ku?
Kedua orang wanita dengan ikatan darah itu kembali terlihat sunyi dan hanyut dalam pemikiran masing-masing, saling mencari kebenaran dalam diri mereka sendiri. Sama-sama tak ingin mengesampingkan ego dan saling menghakimi.
"Apa kau akan tetap diam disini?"
Resta kembali mendongakkan kepala, mencoba memperhatikan seseorang yang kembali berujar tanya.
"Ini sudah malam, udara juga semakin dingin. Apa kau membutuhkan tumpangan untuk pulang?" pria berjulukan psikiater itu terdengar lembut dalam melontarkan pertanyaan nya.
"Aku bingung harus pulang kemana Li,"
Lirih, itu yang terdengar dan membuat Liam turut terdiam.
"Apa kau membutuhkan tempat untuk bersandar?"
"Tidak! jatuh karena ulah sendiri akan lebih baik dibandingkan harus jatuh karena bersandar pada orang lain! rasanya pasti jauh menyakitkan."
"Maaf, aku tak bermaksud untuk memamerkan kesedihan!" lagi-lagi Resta menyeka kasar cairan bening yang jatuh di pipi nya.
Gadis itu beranjak dan melangkah cepat meninggalkan Liam yang masih termenung menatap nya.
...****...
Tuan Adam juga Claresta yang belum juga kembali ke rumah malam itu, membuat Nyonya Anne nampak kembali dilanda kekhawatiran,
Wanita berperawakan lembut itu terlihat mondar-mandir bak mengukur lantai ruang tamu selama lebih dari satu jam.
"Ibu, apa dokter Liam belum juga berhasil membujuk kak Resta untuk memeriksa lukanya?" Rensi perlahan duduk di samping ibunya.
"Kau tahu kan sayang, bagaimana sikap saudari mu? ibu juga sangat mengkhawatirkan nya, tapi ibu bisa apa?" suara Nyonya Anne terdengar kian melemah.
Maaf kan ibu Claresta,
Maaf jika ibu membuat dirimu berada di posisi sulit seperti sekarang ini,
"Kalian belum juga istirahat? kenapa berada disini sayang?" Tuan Adam meletakkan tas kerjanya dan duduk diantara istri dan juga putri bungsunya.
"Kami menuju kakak dan juga ayah."
"Apa Resta belum juga kembali?" Tuan Adam seketika memicingkan mata mendengar pernyataan anak bungsunya.
Nyonya Anne beserta Rensi hanya menatap diam pada ekspresi Tuan Adam.
Kemana lagi pergi nya anak itu? apa Emili benar-benar telah membawa Resta bersama nya? bukankah kesepakatan nya tidak seperti itu?
Lelaki paruh baya itu kembali terdiam dengan isi pikirannya,
"Sudah lah! kunci pintu nya, kita istirahat sekarang! tak perlu menunggu nya pulang!"
Tuan Adam menarik kasar dasi pada kerah lehernya sehingga nampak melonggar, lelaki paruh baya itu juga kembali acuh dan berjalan perlahan menuju kamarnya.
Kenapa selalu seperti ini? walau bagaimanapun Resta juga berhak mendapatkan perhatian darimu Adam,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments