Suara nada dering dari ponsel si Nona Lucia membuat nya tertahan dan kembali duduk untuk memeriksa gawai didalam tas miliknya.
Kita bertemu setelah kelas mu usai, temui mom di tempat biasa kau menghabiskan waktu senja.
"Dia pikir dia siapa? memerintah ku seenaknya?" gadis itu kembali bergumam seorang diri.
Masih termenung dengan tatapan nyalang pada gawai di genggamannya, suara langkah kaki kembali terdengar memasuki ruang kelas kuliah nya yang semula telah hening dan sepi.
"Ha-aaai Cla? apa kau keberatan jika kami berbicara dengan mu?" seorang gadis tambun berkacamata nampak gugup dan mencoba untuk menyapa.
"Apa kalian yang meninggalkan minuman herbal di atas meja untuk ku?"
"I-itu benar Cla, maaf kami tak tahu harus bagaimana untuk bisa memulai pembicaraan dengan mu."
Resta memalingkan wajah, namun gadis itu tersenyum entah karena tingkah gugup teman satu kelasnya atau karena hal lain.
"Kenapa meminta maaf? apa kalian berbuat salah? apa kalian juga ingin mem_bully diriku?" Resta kembali melontarkan pertanyaan setelah menghela nafas kasar.
"Tidak! sama sekali bukan seperti itu Cla, kami justru senang jika bisa berteman dengan mu. Sofia itu pem_bully senior, bertahun-tahun kami dibuat resah karena ulahnya! tapi sepertinya dia begitu takut terhadap mu Cla!"
"Jadi dengan kata lain, kalian ingin bersembunyi dibalik diriku! apa begitu?"
"I-iya"
"Tidak!"
Jawaban serempak yang keluar dari ketiga anak manusia itu, seketika membuat Resta tak mampu menahan tawa.
"Apa kau tidak marah Cla? kami sungguh minta maaf."
Tak ada salahnya untuk berteman dengan mereka bukan? sepertinya mereka bukan merupakan anak yang berasal dari keluarga congkak.
"Untuk apa marah? apa kalian ingin makan sesuatu? aku sungguh lapar, bisa tunjukkan cafe atau resto dengan menu masakan rumahan untuk ku?"
Resta beranjak dan menarik salah satu dari ketiga orang yang telah ia anggap sebagai sahabatnya.
Vivian, Andrew dan juga Aluna nampak terkejut tak percaya saat mendapati ekspresi gadis pindahan yang kini berjalan diantara mereka.
...***...
"Kalian bisa memesan apapun!" Resta berucap datar saat mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi cafe.
Tak berselang lama, seorang pelayan datang dengan berbagai menu makanan yang telah Claresta pesan sebelumnya, para sahabat barunya hanya terdiam. Mereka nampak begitu sungkan karena ini pertama kalinya mereka jalan bersama Resta.
"Cla apa ini tidak berlebihan? apa orang tuamu tidak marah jika kau menghamburkan uang seperti ini?"
"Aluna benar Cla, bukannya kami tidak senang karena dirimu mentraktir kami semua! tapi ..."
"Apa kalian menghemat uang?" Resta kembali memotong perkataan Vivian.
"Kami bisa masuk dan belajar ke universitas yang sama dengan mu karena beasiswa, itulah alasan kenapa Sofia selalu merendahkan keberadaan kami." Andrew akhirnya turut membuka suara.
Resta seketika terdiam, mata indahnya menatap Andrew yang telah tertunduk begitu juga dengan Vivian juga Aluna.
"Kalau begitu, bolehkah diriku bermain dan menumpang makan ditempat kalian lain waktu? sepertinya kalian berasal dari keluarga yang begitu hangat."
Ketiga sahabatnya kembali menatap Resta dengan berbinar.
"Tentu saja! jika kau bersedia aku akan meminta ibuku untuk memasak makanan rumahan." Andrew kembali menanggapi kalimat Resta dengan senyuman.
Sepertinya kehidupan ini tak terlalu buruk Tuhan, terima kasih.
Mendapatkan kawan dari universitas barunya, hati Claresta sedikit kembali menghangat, ia juga terlihat banyak bicara selama duduk di cafe bersama teman-temannya.
...****...
"Darimana saja dirimu Claresta? kau tahu mom menunggu mu disini lebih dari satu jam?" suara Nyonya Emili begitu terdengar melengking saat putri semata wayangnya berjalan mendekat.
"Aku pikir dirimu sudah pergi, jadi aku kemari! lagi pula untuk apa kau mencari ku?"
Wajah datar dengan nada suara yang begitu malas nampak menghiasi percakapan Resta untuk menanggapi kalimat Nyonya Emili.
"Sopan sedikit kalau berbicara dengan orang tua! kenapa tidak membalas pesan ataupun menjawab telepon dariku? apa ponsel mu rusak lagi? atau kau justru membuangnya?"
"Berapa kali mom bilang? periksa ponsel mu dan letakkan pada tempat yang sekiranya mudah untuk kau jangkau. Kau tahu kan mom sibuk demi dirimu Resta! terakhir kali mom menghubungi mu, entah manusia jalanan mana yang menjawab dan memegang ponsel milik mu!"
Resta justru tertunduk dengan menyunggingkan senyum mendengar semua ceramah dari mulut ibu kandungnya. Ia merasa geli mendengar kalimat terakhir yang ia tangkap dari mulut Nyonya Emili.
"Kapan kau berencana untuk tinggal bersama mom? apa kau lebih betah tinggal di rumah ayah mu?"
"Apa dirimu tak memiliki niatan untuk membelikan sebuah apartemen untuk ku? supaya aku tak harus kesana-kemari untuk pindah tempat tinggal! kalian ini sungguh membuatku muak!"
Plakk.
"Jaga mulutmu Claresta! seharusnya kau itu bersyukur karena aku dan Ayahmu masih memperhatikan dirimu! apa kau ingin menjadi gelandangan? anak tak tahu di untung!" telinga Nyonya Emili nampak memanas, tangannya masih nampak mengepal sempurna setelah mendarat kasar di pipi putri tunggalnya.
"Apa hanya ini? apa kau tak ingin menenggelamkan saja gadis bastard ini ke aliran sungai itu?"
"Diam Clares!" bentakan diiringi tamparan kembali lepas begitu saja dari Nyonya Emili.
Gadis itu hanya terdiam sembari tertawa pelan dihadapan Nyonya Emili, ia menatap kosong pada wanita yang berdiri tegak dihadapannya.
"Aku akan mengatur perpindahan mu nanti, kau harus tinggal bersama ku!"
"Apa dirimu sedang membutuhkan sensasi? apa karirmu hampir meredup, sehingga kau melakukan ini padaku? apa kalian belum juga puas menyakiti ku?" buliran air mata akhirnya jatuh begitu saja di pipi sang Nona Lucia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments