"Terima kasih bibi, masakan bibi sungguh membuatku betah untuk berlama-lama disini." Claresta tersenyum dengan tetap menikmati hidangan di mulutnya.
"Benarkah kau menyukainya Nak? kalau begitu datang lah sering-sering kemari! bibi senang jika kalian berkunjung dan bersedia menyantap masakan bibi disini."
Senyum ramah serta perlakuan hangat dari keluarga Andrew membuat hati Claresta benar-benar mencair, gadis itu lebih banyak tersenyum juga berbicara pada ayah juga ibu Andrew.
"Berhenti lah makan sajian manis itu Vivian, lihat lah tubuh mu semakin membengkak!" Aluna kembali berucap dan memperingatkan salah satu sahabatnya.
"Terserah apa katamu Aluna! aku tak ingin memiliki tubuh kurus kerempeng seperti mu!"
Ucapan yang terlontar dari bibir Vivian seketika membuat semua orang tertawa,
"Kalian ini sungguh tak pernah berubah," Andrew akhirnya turut membuka suara dan menanggapi candaan kedua sahabatnya.
"Apa kau juga tinggal di asrama universitas Nak Resta?" suara lembut itu kembali terdengar melontarkan tanya.
Resta hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya,
"Kenapa Nak?"
"Tidak bi! Claresta tinggal dikediaman orang tuanya, tempat tinggalnya cukup dekat disana. Dia juga berbeda dari kita, Aaaaaawwgh!" Aluna terdiam seketika saat seseorang nampak menginjak kakinya.
"Maksud ku, Cla anak pindahan dan baru bergabung bersama kita." Kalimat Aluna terdengar terbata.
Claresta kembali bungkam dan menatap dengan raut wajah penuh pertanyaan pada gerak-gerik Andrew juga Vivian.
"Saya hanya belum terbiasa untuk tinggal berjauhan dari orang tua saya bi! jadi saya masih tinggal bersama mereka." Resta kembali terlihat memaksakan senyum nya.
"Pasti kedua orang tuamu sangat menyayangi mu ya Nak? bibi sungguh iri karena bibi harus berpisah dengan putra kesayangan bibi demi melepas Andrew untuk mengerjakan pendidikan."
Sangat menyayangi ku? mereka bahkan sama sekali tak ada dalam setiap langkah menyedihkan yang harus ku hadapi dalam perjalanan ku Bi,
Claresta kembali tersenyum getir,
"Terima kasih atas semuanya bi, saya akan berkunjung lain hari! dan ini tolong bibi terima, hadiah kecil yang sudah saya siapkan sebelumnya untuk bibi. Tolong jangan dibuka sekarang ya bi!" Resta tersenyum dengan menyematkan sebuah bingkisan kotak kecil pada genggaman ibu Andrew.
"Kenapa repot-repot begini Nak Resta?"
"Tidak repot bi, justru saya yang telah merepotkan bibi. Saya yang telah meminta Andrew untuk menyajikan masakan rumahan pada bibi."
Percakapan Resta bersama ibu Andrew nampak membuat ketiga sahabatnya saling termenung dengan pemikiran masing-masing.
Apa dia menyukai Andrew?
Raut wajah Aluna terlihat berbeda dari biasanya, meskipun sebuah senyuman juga terlampir di wajahnya.
Turun pada halte pemberhentian dekat rumahnya, Claresta melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kanannya.
Gadis itu kembali memeriksa kantong celana juga hoodie yang dikenakan nya,
"Apa aku tak membawa ponsel? aaaaaghh ..., bagaimana bisa diriku melupakannya? bagaimana jika Vivian juga Andrew mengkhawatirkan ku?" gadis itu berdecak kesal seorang diri dan melanjutkan langkahnya menuju sebuah supermarket.
Sebuah sorot lampu mobil nampak membuat Resta refleks menaikkan kedua tangan untuk menutupi wajahnya.
"Orang kaya congkak mana yang memamerkan mobilnya seperti ini?" gadis bermata indah itu kembali menggerutu seorang diri.
"Hai gadis keras kepala! kita bertemu lagi?" senyuman pria itu terlihat semakin mengembang.
"Siapa kau? apa maksudmu bertemu lagi?" Resta berucap datar saat melihat pria tampan berdasi yang nampak muncul dihadapannya.
"Apa? kau tak mengenali wajah tampan ku?"
"Wajah tampan? wajah mu itu sungguh pasaran Tuan!" Resta berucap ketus dan memasuki minimarket begitu saja.
Apa ini? apa dia sama sekali tak tertarik dengan pesona ku?
Model papan atas sekelas Emilia Ramsey bahkan tertekuk lutut dan menuruti semua perkataan ku,
tapi bocah ini? berani-beraninya dia memperlakukan ku seperti ini.
Christian berdecak kesal dengan menaikkan satu alisnya, pria itu nampak menahan amarah karena merasa direndahkan oleh ucapan Claresta.
"Biar diriku yang membayar untuk nya!"
Atensi Resta teralihkan seketika saat seseorang tiba-tiba menyodorkan kredit card nya pada petugas kasir supermarket,
"Apa maksudmu Tuan? aku masih mampu membayar sendiri."
"Maaf gadis ini milik saya, apapun tentang nya itu jadi tanggung jawab saya."
Christian kembali menarik pinggang ramping Resta dengan kedua tangan kekarnya dan tak memberi jarak antara dirinya juga Resta.
Petugas kasir nampak tersenyum ramah dengan memperhatikan Resta juga Christian secara bergantian.
"Lepas sialan!" tangan Resta seketika mengayun kasar dan mendarat sempurna pada pipi Christian.
Bukan menampilkan raut wajah garang, Christian justru terkekeh menanggapi tamparan keras yang ia dapatkan dari tangan Resta.
"Ternyata dirimu kuat juga sayang! aku mengunci target ku sekarang! apa kau tahu itu?"
"Apa maksudmu dengan target? jangan macam-macam aku bisa saja melaporkan mu ke kantor polisi!" wajah Resta kembali menegang meskipun dalam hati ia merasa sedikit ketakutan.
"Sekarang? kantor polisi masih jauh di seberang sana manis! apa kau yakin bisa kabur dariku?"
Pria itu mengarahkan jari telunjuknya dan menyentuh lembut hidung Resta yang kini kembali bungkam dalam dekapannya.
Bagaimana caraku kabur dari pria ini?
Tuhan tolong lah anak malang ini, untuk kali ini saja,
"Katakan lah manis! siapa namamu?" Christian menggeser posisinya dan kini nampak berhadapan dengan Resta yang tetap saja berwajah datar.
"Kau masih tak ingin bi- ..., Aaaaaassh! sialan kau gadis keras kepala!"
Claresta seketika berlari dan meninggalkan Christian yang nampak terhuyung kesakitan sembari memegangi alat vitalnya.
"Terima kasih Tuhan! malam ini Engkau benar-benar baik padaku, semoga saja Kau tak mempertemukan diriku lagi dengan pria itu." Resta berbicara seorang diri meskipun ia masih tampak kesulitan dalam mengatur nafasnya.
Lagi, pertemuan antara Christian dengan gadis keras kepala yang baru saja dijumpai nya semakin membuat Christian gusar, rasa penasaran dalam diri pria itu semakin membara.
"Hyaaaaaakk! gadis sialan!" Christian masih saja mengumpat seorang diri meskipun ia telah duduk didalam mobilnya.
"Lihat saja! berani-beraninya dia menendang masa depan ku dengan sekuat ini! jika sampai diriku mengalami disfungsi ereksi karena tendangan gadis itu, akan ku pastikan dia yang akan menjadi ****** untuk membangkitkan gairah ini kembali. Sepertinya akan menyenangkan bukan?" senyum devil kembali terukir jelas pada wajah Christian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments