Wanita Tanpa Etika

Tatapan tajam serta raut wajah sinis dari orang-orang yang nampak tengah menikmati sejuknya udara taman, akhirnya membuat pria bertubuh kekar itu kembali menurunkan tubuh Resta, meskipun belenggu tangan kekar nya masih menahan tubuh gadis itu.

"Diam lah! aku hanya ingin membantu mu! lihatlah tangan mu terluka."

"Tidak, aku baik-baik saja! jadi lepaskan aku sialan! berani-beraninya kau menyentuh ku seperti ini! aku bisa menuntut ..., mmmmmm!" kalimat Resta kembali terpotong.

"Maaf, maaf jika mengganggu aktivitas kalian Tuan dan Nyonya sekalian! kekasih saya memang seperti ini saat kami berselisih paham. Tolong maafkan kami!"

"Aaaaaassh, sialan! kenapa kau menggigit jariku sayang?" meskipun lisannya mengumpat pria itu mencoba untuk mengendalikan dirinya untuk tetap tersenyum dihadapan orang-orang.

"Apa maksudmu? aku bukanlah kekasih mu! lepas ku bilang!" gadis itu kembali memberontak dan meninggikan suaranya.

"Tak bisakah kau tenang untuk sesaat? atau aku akan mencium mu dihadapan semua orang-orang ini? kau ingin kita berurusan dengan petugas security karena keributan ini?"

Resta kembali terdiam saat mendengar ancaman pria asing yang kini semakin mengunci pergerakan tubuhnya.

Semua tampak kembali terlihat tenang,

Resta terduduk dengan kesal sebelum akhirnya mendongakkan kepala saat menyadari seseorang menyodorkan botol air mineral.

"Christian," pria itu mengulurkan kembali tangan kosong nya dan berakhir kecewa karena Resta mengacuhkan nya.

"Kau itu seorang pembohong, kenapa namamu terdengar agamis sekali? sungguh tidak sesuai!" gadis itu berucap dengan memalingkan wajahnya.

"Baiklah panggil saja diriku dengan sebutan Tristan! tidak terlalu agamis bukan? lagipula aku memang bukan orang baik. Bagaimana dengan luka ditangan mu? apa diriku membuat itu semakin memburuk?"

"Diriku malas berbasa-basi, aku harus pulang sekarang! permisi."

Senyum perlahan nampak terukir pada bibir Christian, ia memperhatikan langkah Resta hingga menghilang dari jangkauan matanya.

Bukankah dia gadis yang menarik?

Pria tampan bertubuh kekar itu kembali tersenyum dengan mengalihkan pandangan sebelum akhirnya menenggak botol air mineral.

"Bisa-bisanya diriku bertemu dengan manusia aneh seperti nya! bukan menghirup udara segar diriku justru harus beradu mulut dengan orang yang tak ku kenal!" Resta menggerutu di sepanjang jalan menuju rumah nya.

Atensi Claresta teralihkan tatkala melihat Tuan Adam beserta anak juga istrinya nampak memasukkan beberapa perlengkapan camping ke dalam bagasi mobilnya.

"Kak Resta! apa kakak bersedia ikut dengan kami? ayah akhirnya meluangkan waktunya dan memilih lokasi camping ternyaman untuk kita hari ini meskipun tak akan menginap," Rensi tersenyum dengan meraih tangan saudarinya.

"Ayolah Resta untuk sesekali turuti kemauan adikmu! kau akan kesepian jika dirumah sendirian."

"Jangan memaksanya sayang! aku tak ingin Resta merasa terbebani karena kita akan bertemu dengan beberapa keluarga ku disana." Nyonya Anne nampak mengisyaratkan siapa-siapa yang akan mereka temui.

Waah siapa lelaki dengan suara lembut itu? aku sungguh tak mengenal nya,

Tapi apa salahnya untuk ikut? setidaknya mereka berbasa-basi untuk mengajak ku bukan?

Apa salahnya untuk mencoba membaur Clares?

Tuan Adam benar-benar memilih lokasi yang begitu nyaman untuk acara camping keluarga kecilnya, pria itu sedikit banyak juga nampak memperhatikan anak sulungnya.

"Bagaimana kabar kalian? apa semua baik-baik saja? maaf karena harus membuat kalian menunggu, Liam sedikit terlambat bangun jadi kami harus menunggunya."

"Tak apa Laurent, kami juga baru saja tiba!"

Sepanjang acara camping hari itu, Resta memilih berjalan sendirian mengelilingi taman. Gadis itu acuh dan tak ingin ikut campur apalagi masuk kedalam obrolan keluarga ibu sambungnya.

'Apakah dia anak sambung Anne? penampilan nya sungguh diluar dugaan, sama sekali tak seperti ibunya.

'Mungkin belum, dia masih belum dewasa! lihat saja setelah ia keluar dari universitas, pasti penampilan nya tak akan jauh berbeda dari ibunya'

Resta seketika melangkah mendekati dua orang wanita paruh baya yang semula menggunjing kan dirinya,

"Seharusnya kalian berbicara dihadapan ku, jangan menjadi pecundang seperti itu! apa kalian tidak malu dengan usia kalian yang sudah bau tanah?"

"A-apa ini? apa maksudmu itu kami?" sahabat dari Nyonya Anne itu nampak tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Resta.

"Siapa lagi kalau bukan kalian?" Resta kembali menatap tajam kedua wanita itu tanpa rasa takut.

"Wah kau ini sungguh tidak sopan sekali gadis muda? kau sungguh menyinggung perasaan ku! apa orang tua mu tidak mengajarkan tentang etika?"

"Etika? apa itu etika? coba jelaskan padaku Nyonya! apa dirimu juga memiliki nya? setidaknya introspeksi dirimu sebelum melontarkan kalimat bahwa diriku tak memiliki etika! dasar wanita tua sialan!"

"Kau! anak kurang ajar!"

Resta tersungkur seketika saat salah satu wanita itu mendorongnya.

Semua orang terdiam, Tuan Adam nampak menaikkan dagunya.

"Minta maaf sekarang Resta!" suara itu terdengar tegas penuh amarah seperti biasanya.

"Untuk apa? mereka yang tak mampu menjaga mulutnya! kenapa harus aku yang meminta maaf?"

"Minta maaf sekarang! atau ...,"

"Atau ayah akan memukul ku? pukul saja diriku sekarang! bukankah itu sudah biasa? jangan samakan aku dengan wanita sialan- ...,"

"Diam!, dan minta maaf lah sekarang juga Claresta!" suara Tuan Adam kembali nampak bergetar dengan sorot mata tajam yang tak juga memudar.

"Maaf! maaf atas semua kekacauan yang telah ku perbuat! maaf karena telah terlahir dan menjadi beban untuk kalian! aku ..., gadis bastard ini sungguh meminta maaf!"

Semua yang menyaksikan hal itu nampak tak percaya, Nyonya Anne kembali terlihat merasa bersalah atas kejadian yang menimpa putri sulungnya, tapi lagi-lagi ia hanya terdiam.

Tertunduk dengan menahan air mata,

Claresta sekuat tenaga mencoba untuk menggerakkan kedua kakinya.

Kaki sialan, ayolah cepat bergerak.

Jangan mengharap belas kasihan pada siapapun disini, dirimu sungguh tampil layaknya seorang badut ditempat ini!

Claresta, gadis bermata indah itu akhirnya menjatuhkan harga dirinya. Ia meraih tas ransel berwarna hitam miliknya dan bergegas meninggalkan tempat camping saat itu juga.

Berkali-kali menghela nafas panjang,

Gadis malang bermata indah itu kembali merogoh saku hoodie nya, sebatang nikotin kembali ia sematkan dibibir dan menarik pemantik api dengan jemari kurusnya.

Asap yang memenuhi relung paru-parunya kembali ia hembuskan dengan memejamkan mata,

Kupikir hari ini akan membaik, tapi ternyata sama saja!

Kira-kira kemana aku bisa menyuarakan isi kepala ku ini? kenapa sungguh berisik sekali?

Dering gawai yang kembali terdengar di telinganya tak membuat gadis itu kunjung membuka mata.

Ia mengacuhkan semuanya,

Semilir angin yang kian dingin dan menusuk tulang, suara serangga malam yang mulai bersahutan, serta cakrawala yang mulai beralih gelap menghitam.

Apa Tuan Adam benar-benar keterlaluan? dia hampir 4jam duduk diam disini,

Bagaimana aku bisa membantu mu jika kau lebih memilih diam seperti ini Claresta?

Episodes
1 Sambutan Keluarga
2 Sungai Lucia
3 Kenapa Diriku Mendapat Perlakuan Berbeda?
4 Teman Tambun Berkacamata
5 Sang Psikiater
6 Ibu Peri?
7 Si Nona Lucia
8 Tak Ada Salahnya Untuk Bermimpi
9 Wanita Tanpa Etika
10 Rute Bus Kota
11 Gadis Incaran Sang Casanova
12 Rasa Sayang Atau Penebusan Dosa Masa Lalu?
13 Boneka Si Wanita Berparas Paripurna
14 Kaleng Soda Kosong
15 Dokter Hidung Belang
16 Sarang Pria Mesum
17 First Kiss,
18 Kericuhan Keluarga Adam
19 Sahabat Tak Sederajat
20 Sang Pemilik Hati Christian,
21 Inner Child Erdogan Yang Terluka
22 Langit Orange Selalu Memberi Ketenangan
23 Impian Sederhana,
24 Kencan Sang Penguasa
25 Luapan Emosi Nyonya Emili
26 Permohonan Seorang Christian
27 Kamar Rawat Yang Telah Kosong
28 Sembuh Tanpa Bercerita
29 Luka Dan Air Mata Masa Lalu,
30 Badai Pasti Berlalu
31 Baku Hantam Di Tengah Gerimis Malam
32 Kasih Sayang Sang Pelayan
33 Si Dokter Buaya,
34 Gadis Topi Hitam
35 Kesalahpahaman Erdogan
36 Traktiran Makan Malam
37 Sugar Daddy?
38 Gaun Hitam Yang Cantik Elegan
39 Impian Kebahagiaan Rensi
40 Bisik-bisik Pelayan
41 Ketulusan? Atau Rasa Iba?
42 Claresta, Bukan Lucia!
43 Kekasih Pura-pura Di Mansion Tuan Buaya
44 Air Mata Sang Model Cantik Paripurna
45 My Ello
46 Aku Tak Salah! Aku Tak Akan Minta Maaf!
47 Kekhawatiran Sang Dokter Tampan
48 Ukiran Indah Pada Pergelangan Tangan,
49 Sang Pembalut Luka,
50 Dalamnya Luka Hati, Siapa Yang Tahu?
51 Resep Obat Dari Dokter Kesayangan
52 Bayangan Seseorang Yang Kian Nyata
53 Kecurigaan Christian
54 Kadar Glukosa,
55 Greek Yogurt
56 Tragedi Anak Tangga
57 Sandaran Hati Claresta
58 Pelita Dalam Kesunyian
59 Wajah Chubby Yang Menggemaskan Bagi Erdogan
60 Pengkhianat Atau Pecundang?
61 Hatiku Sakit!
62 Liontin
63 Sahabat Masa Muda
64 Hangat Senja Membaur Dengan Kecemasan
65 My Mom My Enemy
66 Fitting Room
67 Musuh Ku, Sahabat Ku
68 Kebenaran Yang Terucap Tanpa Sadar
69 Kecemburuan Yang Merusak Segalanya
70 Berhati-hatilah! Ucapan Adalah Sebuah Do'a
71 Senyum Kebahagiaan Claresta,
72 Mawar Putih Untuk Sang Kekasih Hati
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Sambutan Keluarga
2
Sungai Lucia
3
Kenapa Diriku Mendapat Perlakuan Berbeda?
4
Teman Tambun Berkacamata
5
Sang Psikiater
6
Ibu Peri?
7
Si Nona Lucia
8
Tak Ada Salahnya Untuk Bermimpi
9
Wanita Tanpa Etika
10
Rute Bus Kota
11
Gadis Incaran Sang Casanova
12
Rasa Sayang Atau Penebusan Dosa Masa Lalu?
13
Boneka Si Wanita Berparas Paripurna
14
Kaleng Soda Kosong
15
Dokter Hidung Belang
16
Sarang Pria Mesum
17
First Kiss,
18
Kericuhan Keluarga Adam
19
Sahabat Tak Sederajat
20
Sang Pemilik Hati Christian,
21
Inner Child Erdogan Yang Terluka
22
Langit Orange Selalu Memberi Ketenangan
23
Impian Sederhana,
24
Kencan Sang Penguasa
25
Luapan Emosi Nyonya Emili
26
Permohonan Seorang Christian
27
Kamar Rawat Yang Telah Kosong
28
Sembuh Tanpa Bercerita
29
Luka Dan Air Mata Masa Lalu,
30
Badai Pasti Berlalu
31
Baku Hantam Di Tengah Gerimis Malam
32
Kasih Sayang Sang Pelayan
33
Si Dokter Buaya,
34
Gadis Topi Hitam
35
Kesalahpahaman Erdogan
36
Traktiran Makan Malam
37
Sugar Daddy?
38
Gaun Hitam Yang Cantik Elegan
39
Impian Kebahagiaan Rensi
40
Bisik-bisik Pelayan
41
Ketulusan? Atau Rasa Iba?
42
Claresta, Bukan Lucia!
43
Kekasih Pura-pura Di Mansion Tuan Buaya
44
Air Mata Sang Model Cantik Paripurna
45
My Ello
46
Aku Tak Salah! Aku Tak Akan Minta Maaf!
47
Kekhawatiran Sang Dokter Tampan
48
Ukiran Indah Pada Pergelangan Tangan,
49
Sang Pembalut Luka,
50
Dalamnya Luka Hati, Siapa Yang Tahu?
51
Resep Obat Dari Dokter Kesayangan
52
Bayangan Seseorang Yang Kian Nyata
53
Kecurigaan Christian
54
Kadar Glukosa,
55
Greek Yogurt
56
Tragedi Anak Tangga
57
Sandaran Hati Claresta
58
Pelita Dalam Kesunyian
59
Wajah Chubby Yang Menggemaskan Bagi Erdogan
60
Pengkhianat Atau Pecundang?
61
Hatiku Sakit!
62
Liontin
63
Sahabat Masa Muda
64
Hangat Senja Membaur Dengan Kecemasan
65
My Mom My Enemy
66
Fitting Room
67
Musuh Ku, Sahabat Ku
68
Kebenaran Yang Terucap Tanpa Sadar
69
Kecemburuan Yang Merusak Segalanya
70
Berhati-hatilah! Ucapan Adalah Sebuah Do'a
71
Senyum Kebahagiaan Claresta,
72
Mawar Putih Untuk Sang Kekasih Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!