Weekend kemarin seharusnya aku menghabiskan waktu dengan menonton list film yang menumpuk sambil rebahan di atas kasur seharian, tapi aku justru harus berurusan dengan para hantu. Satu masalah belum selesai, sudah muncul masalah lain. Kali ini aku mulai menebak-nebak, sekiranya hantu macam apa lagi yang akan kutemui. Memikirkan semua itu, kepalaku jadi cenat-cenut. Belum lagi, setengah hari ini Abi tampak lebih kalem. Bahkan, tiga maba imut yang menyapanya saat mereka melewati meja kami tidak ia gubris membuat mereka merengut sebal sekaligus malu.
"Bi, wanita mana yang harus kupercayai?" tanyanya dengan pandangan menerawang.
Aku yang sedang asik scroll beranda instagram yang berisi konten mukbang orang Cina tak begitu mendengar ucapannya.
"Gue mau cerita, plis dengerin."
Aku lebih tertarik menyeruput jus mangga dari pada menatap lawan bicaraku. "Hm."
"Kemarin gue kan diajak ke event cosplay sama temen kamar gue. Eh, ada dua cewek cantik ngajak bikin konten bareng. Ya udah dong, kita iyain. Lumayan kan, kalo viral kita ikut kecipratan." Abi jeda sebentar untuk mengambil nafas. "Nah, di sinilah momen b*ngsatnya!"
Aku mendongak lantaran Abi yang menekan kata terakhir.
"Karena kita bikin konten dance, otomatis seluruh badan gerak, kan? Pas lagi nge-dance, tiba-tiba wig salah satu cewek itu jatuh. Dan lo tau?" Abi bercerita dengan suara menggebu-gebu.
"Anj*ng. Bab*. M*nyet. Ternyata dia LAKI! Bukan cuma dia, tapi dua-duanya berbatang semua cuy! Gimana gue nggak syok coba? Orang gue udah foto ala-ala suami beristri dua," ucapnya dramatis. "Wtf-nya nih, temen gue baru bilang kalo di acara itu tuh emang banyak trap. Kan ta*!"
"Pfffttt. Bwahahaha …" Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Jadi, itu alasannya? Konyol sekali.
"Lo yang namanya Sambara, bukan?"
Mendengar namaku disebut, otomatis kepalaku tertoleh ke samping. Ada seorang laki-laki yang tidak aku kenali tampak sedang menanyakan sesuatu pada dua laki-laki di meja yang terletak tidak jauh dari meja kami.
"Bukan. Tuh, dia." Laki-laki itu menunjukku. Lantas laki-laki yang lebih muda yang bertanya tadi mengampiriku.
"Oh, lo Sambara?" tanyanya memastikan.
Aku mengangguk sekilas.
"Ada titipan surat buat lo." Laki-laki itu menyodorkan kertas putih yang dilipat-lipat. Dibanding surat, ini lebih mirip pesan singkat anak era 2000-an. Sesudahnya, laki-laki itu segera pergi.
Aku membuka kertas yang dilipat dan membaca sederet kalimat yang tertulis di sana.
Temui gue di taman dekat kampus setelah kelas sore berakhir.
~ A
"Cieee dapet surat cinta." Abi melirik kertas di tanganku dengan eskpresi menggoda. "Inisial A siapa tuuh?"
Aku buru-buru meremat kertas itu dan memasukkannya dalam kantong celana. Berdehem singkat.
"Anak fakultas apa?" tanya Abi penasaran.
"A-aku nggak tahu." Aku tidak bohong. Jangankan jurusan apa yang gadis itu ambil, namanya saja aku tidak tahu. Aku hanya tahu sebagian kecil dari nama cewek di fakultasku saja. Seringkali aku ingat rupa, tapi tidak dengan namanya.
"Hah? Gimana ceritanya dia ngajak ketemuan kalo lo aja nggak tahu namanya."
Seorang wanita dengan apron lusuh mengantarkan segelas es teh manis ke meja kami. Abi mengucapkan terimakasih, setelahnya, wanita itu pergi.
"Emang, ada urusan apa dia ngajak ketemuan?" tanya Abi dengan tatapan menyelidik.
"Mungkin ada yang ingin dia sampaikan. Maybe." Sekali lagi aku mengedik bahu.
"Ck! Berisik banget," gerutu Abi kesal karena sejak tadi ponselnya tidak berhenti berbunyi, tanda pesan masuk beruntun. Begitu juga ponselku di saku yang terus bergetar tapi aku abaikan. Aku pikir itu hanya pesan spam tidak penting yang dikirim di grup.
Abi hendak menekan tombol power tapi urung karena notif pesan yang muncul di locksreen mencuri perhatiannya. Ketika di klik, ruang obrolan grup kelas terbuka. Aku turut membaca pesan-pesan di sana. Salah seorang teman mengirim klip video yang membuat geger. Itu adalah rekaman kejadian kemarin.
"Bukannya itu Aida kembarannya Audi? Dia … kesurupan? Baru tau gue kesurupan bisa nular. Eh, tunggu. Jangan-jangan …." Abi mengangkat wajahnya dari ponsel bahkan sebelum video selesai diputar. Saat pandangan kami bertemu, aku tahu, aku telah menjadi pusat perhatian seisi kantin. Tentu saja, karena dalam rekaman video amatir itu ada diriku. Bagaimana gadis itu mengangkat tubuhku dan melemparku seperti barang sudah pasti mengejutkan mereka. Hanya saja, suara percakapanku dengan sosok itu tidak ikut terekam. Yang terdengar hanyalah kata 'mati' yang diserukan keras-keras.
"Inisial A itu … Aida?" Abi mengaduk es tehnya agar gula yang masih mengendap di bawah segera larut.
"Mungkin." Aku mengangkat bahu.
"Mungkin?" Abi mengulang ucapanku.
"Jangan bilang lo baru tahu namanya." Abi menggeleng takjub dengan bahasa tubuhku yang menunjukkan kalau ucapannya benar. "Sam, Sam. Cewek mana yang lo kenal? Gue jadi curiga lo beneran punya gangguan orientasi seksual."
"Ngawur kamu!" Aku mengibaskan ujung sedotan milik Abi ke wajahnya sebagai bentuk protes atas tuduhannya yang tidak berdasar. "Orang-orang bisa salah paham tahu," tekanku dengan suara rendah.
"Iye-iye, maaf." Abi mengelap wajahnya menggunakan tisu yang tersedia di setiap meja. Laki-laki itu memutar ulang klip video dari awal. "Jadi, Audi udah mati, ya?"
Di samping Abi, sosok Praya ikut menyimak ucapan laki-laki itu. Aku memang masih belum terbiasa dengan keberadaan Praya, tapi setidaknya ia tidak menunjukkan wujud yang menyeramkan seperti pertama kali aku melihatnya. Yang sulit adalah pura-pura untuk tidak melihatnya. Karena mau bagaimana pun, ia berada tepat di depanku–hanya terpisah oleh meja.
"Padahal dia belum ditemukan sejak dikabarkan hilang beberapa bulan lalu. Tahu-tahu udah almarhum." Abi masih memandangi ponselnya meskipun video amatir berdurasi dua menit yang diputar sudah berakhir. "Apa mungkin dia diculik kayak Praya?" terkanya, matanya kini terfokus padaku.
Aku termenung memikirkan kata-kata Abi. Memang, tidak banyak hal yang kutahu tentang mahasiswa di universitas tempat aku menimba ilmu. Namun, aku pernah mendengar kalau dua bersaudara itu berada di fakultas yang berbeda. Mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa keduanya hampir tidak pernah terlihat bersama. Aku pun beberapa kali bertemu dengan mereka secara terpisah. Tetapi, alasan itu tidak cukup menjelaskan atas bekas luka di lengan Aida dan kemarahan Audi sampai-sampai ia ingin membunuh kembarannya sendiri.
"Aku lihat ada banyak bekas luka di lengannya, Bi. Apa mungkin dia sering self-harm?"
"Serius?" Abi tampak kaget mendengar perkataanku.
"Rasanya nggak mungkin, deh. Anaknya selalu kelihatan ceria, nggak kayak ada masalah. Tapi …" Abi mencodongkan kepalanya ke depan. "Gue pernah denger desas desus kalo orang tua mereka sering ngebanding-bandingin Aida sama Audi," bisiknya nyaris tak terdengar, tapi masih bisa dijangkau telingaku.
"Setahu gue, Audi lebih pinter dari Aida. Mungkin aja itu penyebabnya," imbuhnya, berpendapat. Kalau yang dikatakan Abi benar, sepertinya alasan itu cukup masuk akal.
Abi menyeruput es tehnya hingga tandas. "Kayaknya, kutukan anak kembar itu nyata. Selalu aja ada yang lebih diistimewakan."
***
Note :
¹ Kenapa harus asetku yang ditendang. Awas saja kalau saya sampai mandul.
² Bagaimana ini
³ Kenapa kalian cuma diam
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments