"Kalo aku bilang aku bisa melihat masa lalu, apa kamu bakal percaya?"
"Jawabannya udah pasti nggak. Mana ada hal kayak gitu, lo pikir ini film? Plis deh, nggak usah ngomong yang aneh-aneh." Abi tampak kesal sekaligus geram.
"Arrghh, sial!" Abi mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa ini harus terjadi sama gue, Sam?"
"Tenang, Bi! Aku tau ini sulit dipercaya, tapi tolong kamu dengerin dulu. Tadi aku dikasih penglihatan, Praya dibawa pergi sama seseorang pake mobil. Dia dicekoki minuman. Aku yakin, airnya udah dikasih sesuatu."
Abi menatapku tidak suka. "Lo mending jadi penulis novel aja deh, Sam. Cerita karangan lo cukup menarik."
"Terserah," pungkasku. "Apa kamu ingat Aksara dari fakultas sebelah?" Mendadak aku teringat mahasiswi yang sering kesurupan itu.
Abi mengangguk, emosinya sudah mulai stabil. "Terus, apa hubungannya sama dia?"
"Kita kan sempat ketemu sama Aksara di kantin, tuh. Ingat nggak dia tiba-tiba bilang apa pas nggak sengaja senggolan sama Praya?"
Abi mengernyitkan kening. Mencoba mengais memorinya yang lemah.
"Kalo nggak salah dia bilang … kamis … jembatan … topi hitam?" Abi sampai memiringkan kepalanya. "Gue nggak begitu ingat, sih."
"That's right!" Aku menjentikkan jari. "Sekarang hari apa?"
Pupil Abi membesar begitu sadar sekarang hari kamis. "Nggak mungkin …" Ia menutup mulutnya sembari menggeleng kuat.
"Itu yang aku pikirkan, Bi. Ucapan Aksara dan penglihatanku, semuanya cocok dengan kejadian hari ini. Aku rasa ini bukan cuma kebetulan," paparku mengutarakan isi pikiranku.
Abi menaruh telunjuknya di bawah dagu. Berpikir keras. Kerutan di dahinya tercetak jelas.
"Sebaiknya kita segera temukan Praya, Bi. Semoga aja belum terlambat." Aku bersiap naik ke motor Abi.
"Kenapa nggak lapor polisi aja? Percuma kita kejar, mereka pasti udah jauh." usul Abi. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai memencet nomor.
"Apa yang mau kamu laporkan? Kita nggak punya bukti."
"Lo benar." Abi mendesah kecewa, bahunya langsung melorot. "Terus, apa yang harus kita lakukan? Aku khawatir sama kandungan Praya."
"Kandungan? Maksud kamu, Praya hamil?" Aku sungguh terkejut mendengarnya.
Abi mengulum bibir, sadar kalau sudah salah bicara. Pada akhirnya ia mengangguk.
"Br*ngsek!" Aku mencengkeram kerah kemeja kotak-kotak yang dikenakan Abi. "Kamu ngehamilin dia, Bi?!" Aku sudah melayangkan pukulan jika saja Abi tidak memberikan jawaban.
"Bukan gue, Sam. Demi tuhan!" Abi mengangkat kedua tangan layaknya seorang penjahat yang tertangkap basah. "Gue nggak pernah nyentuh Praya. Lo tau kan, dia punya androphobia?"
Androphobia adalah gangguan kecemasan yang membuat penderitanya merasa takut berlebihan setiap berhadapan dengan laki-laki. Aku pikir hal itu nyaris tidak mungkin terjadi pada seseorang, tapi Praya mengalaminya. Kata Abi, gadis itu memiliki trauma masa lalu yang menyebabkan dirinya mengidap androphobia. Meski tidak dijelaskan secara rinci, aku bisa menebaknya.
Mengenai kenapa Praya bisa berpacaran dengan Abi yang love language-nya psychal touch, aku hanya tahu sebagian ceritanya. Abi pernah menolong Praya yang diganggu mahasiswa senior saat maba. Butuh waktu satu tahun lebih untuk bisa mendapatkan hati gadis itu. Sayangnya, hubungan mereka tidak bertahan lama karena Praya sangat pencemburu sedangkan Abi terlalu friendly kepada semua perempuan–khususnya teman-teman gadis itu.
"Selama pacaran aja kita nggak pernah gandengan tangan," ungkap Abi.
Aku tahu itu. Setiap jalan berdua, Abi dan Praya tidak pernah benar-benar bergandengan tangan. Abi mengikat tangan mereka berdua menggunakan kain. Awalnya memang terlihat aneh, tapi lama-lama orang-orang makin terbiasa. Bahkan ketika berboncengan pun, ada tas Praya yang menjadi penengah keduanya.
"Terus siapa pelakunya?"
Abi terdiam beberapa saat lalu mulai bercerita. Katanya, semalam Praya menghubunginya sekitar pukul sepuluh. Gadis itu meminta Abi untuk menjemputnya di dekat kafe langganan mereka dulu saat berpacaran.
Semalam aku memang sempat melihat Abi keluar dari kamar kosannya dengan terburu-buru. Kupikir ia hendak mengambil paket, rupanya menemui Praya.
Sebenarnya Abi sudah curiga mendengar suara Praya yang seperti menahan tangis. Ternyata dugaannya benar. Ketika tiba di sana, laki-laki itu melihat Praya tengah menangis sambil memeluk lututnya. Dengan tersedu-sedu gadis itu bercerita kalau dua bulan yang lalu ia dilecehkan oleh sepupunya sendiri. Berhubung dia anak yatim piatu, keluarga sepupunya malah menyuruh Praya untuk menggugurkan kandungan dan ia memilih kabur ke sini.
"Hati gue sakit banget dengernya, Sam." Abi mencengkeram dadanya. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan nanar.
"Tapi gue nggak bisa kalo harus mempertanggung jawabkan kesalahan yang nggak gue lakukan. Praya ngajak balikan dan minta gue buat nikahin dia karena dia ngerasa nggak ada yang mau sama dia yang udah kotor."
Aku bisa merasakan seberapa sakitnya hati Abi saat mengatakan itu padaku.
"Tentu aja gue nolak. Gue nggak mau mempertaruhkan masa depan gue. Lo tau? Gue satu-satunya harapan ortu. Tapi, gue justru mengambil keputusan yang salah. Sekarang situasi berubah begini …" Abi menutup wajahnya. Lututnya jatuh ke bawah. Hatiku trenyuh melihatnya mulai terisak.
"Menangis nggak akan menyelesaikan masalah, Bi. Ayo kita cari petunjuk. Itu lebih baik dari pada diam aja di sini." Aku mengulurkan tangan kepada Abi yang mendongakkan kepala, tapi ia tidak menyambut uluran tanganku. "Kita pasti bisa menemukan titik terang."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments