"MATI!" Sosok itu berteriak penuh amarah melalui saudari kembarnya.
"Atuh Si Eneng kesurupan! Istighfar, Neng!" seru abang penjual rujak panik. Suaranya menarik atensi orang-orang di sekitar. Dalam sekejap kami menjadi pusat perhatian. Tiga gadis turun dari mobil, mereka sama paniknya.
Sang abang penjual rujak mencoba merebut pisau miliknya dari tangan gadis itu, tapi ia justru mendapat tendangan gratis di bagian intinya.
"Jangan menghalangiku!"
Abang penjual rujak tersebut memegangi bagian intinya yang berdenyut nyeri. "Duh Gusti, naha kudu asetku nu ditendang. Ngan awas lamun kuring jadi gabug." ¹
Aku bingung, mau membantu yang mana lebih dulu. Abang penjual rujak itu tampak kesakitan setelah gadis itu menendang bagian intinya, tapi kondisi gadis itu sendiri tidak kalah memprihatinkan. Dapat kulihat dari sorot matanya kalau ia begitu kesakitan dan tersiksa. Air matanya mengalir perlahan. Entah apa yang sudah gadis itu lakukan terhadap saudari kembarnya sampai sebegitu marahnya. Tiga temannya hanya bisa terpaku prihatin. Tidak berani mendekat apalagi mencegahnya. Salah-salah, pisau itu malah mengenai leher mereka.
Hatiku semakin resah. Aku merasa gadis itu seperti meminta tolong padaku melalui sorot matanya. Ia berusaha menahan tangannya sendiri yang dicekal oleh sosok itu dengan sisa kesadarannya, tapi sulit. Terpojok, aku mencoba mengajak sosok itu bicara. Biarlah orang-orang tahu kalau aku bisa berkomunikasi dengan makhluk halus. Aku harap mereka segera melupakan kejadian ini. Menurutku, kemampuan yang kumiliki ini bukan sesuatu yang dapat diberitahukan pada khalayak umum karena tidak semua orang percaya takhayul.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Kamu bisa melihatku rupanya." Sosok itu dengan cepat memutar kepala menghadapku, menyeringai lebar. Wajahnya jadi terlihat berkali lipat lebih mengerikan.
Aku cukup beruntung melihat sosok itu di waktu siang apalagi di tempat umum seperti ini. Meski dalam benakku bertanya-tanya mengapa hantu satu ini mau menunjukkan dirinya di keramaian pada siang hari. Padahal, mereka cenderung menampakkan wujudnya pada malam hari yang sepi.
Bisa kurasakan berbagai macam jenis tatapan menghujamku dari segala arah. Entah apa yang mereka pikirkan tentangku, aku tak peduli.
Aku mendekati sosok itu dengan langkah takut-takut, mengulurkan tangan. Dalam hati aku terus meyakinkan diri kalau dia tidak akan menyakitiku.
"Kembalikan pisau itu. Kita bicarakan ini baik-baik," pintaku hati-hati.
"Tidak mau! Aku harus membunuhnya, dia pantas mati!" raung sosok itu penuh penekanan.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu pada saudarimu." Aku masih berusaha membujuknya. Setiap aku maju satu langkah, ia juga mundur selangkah.
"Dia bukan saudariku!" bentaknya keras-keras. Pisau di tangannya berhasil menggores sedikit leher gadis itu. Sungguh aku ngilu melihatnya. Sementara tiga gadis lainnya memekik tertahan, saling berangkulan.
"Kalau kamu terus begini, saudarimu bisa mati."
"Sudah kubilang, dia bukan saudariku! Orang ini mencoba membunuhku!"
Dibanding aku, tiga teman gadis itu nampak lebih terkejut. Mereka saling melempar pandang satu sama lain. Memastikan kalau mereka tidak salah dengar. Apalagi, darah yang menetes dari bekas goresan pisau itu semakin membuat mereka bergidik.
"Lebih baik kamu pergi sekarang atau pisau ini juga akan menancap di lehermu," desisnya tajam. Sosok itu menyeringai mengerikan sambil mengarahkan mata pisau ke leherku dengan tatapan menggelap. Beruntung aku gesit menghindar.
"Aku tidak ada urusan denganmu. Enyahlah dari hadapanku sekarang juga!" Sosok itu mencengkeram leherku menggunakan satu tangannya yang bebas, mengangkat tubuhku hingga kakiku tidak lagi menapak aspal, lalu mendorongku kuat. Aku terpental cukup jauh, jatuh ke jalanan. Seluruh badanku remuk. Aku meringis kesakitan.
"Duh gusti! Kumaha ieu," ² racau abang penjual rujak spontan memegangi gagang gerobak dagangannya karena terlampau kaget dengan apa yang ia saksikan barusan. Sementara sisanya hanya menonton. Bahkan beberapa diantaranya mengangkat ponsel untuk mengabadikan kejadian tadi.
Tampaknya, sosok itu masih belum puas. Ia tidak membiarkanku walau hanya sekedar untuk mengeluh. Secepat kilat, ia kembali mendekat dan mengayunkan pisau, tapi lagi-lagi aku berhasil menghindar.
"Kemari kamu! Aku juga akan membunuhmu karena sudah menghalangiku!" berangnya tidak terima karena serangannya terus meleset.
"Naha anjeun didinya?! ³ Cepat telepon orang tuanya suruh ke sini!" seru sang penjual pada tiga gadis yang sejak tadi hanya berangkulan ketakutan serta menggigit jari. "Barangkali dia bisa ditenangin."
Dua gadis lainnya memandang gadis yang di tengah, menabok-nabok bahunya agar cepat melakukan apa yang diperintahkan. Dengan gugup dan gemetar, gadis itu pun mengeluarkan ponselnya dan mulai mendial nomor. Sayangnya, hingga beberapa kali, panggilan tidak juga tersambung. Hanya terdengar suara operator yang memberitahu bahwa nomor ini tidak bisa dihubungi karena sedang berada di luar jangkauan.
Ketiganya saling berbicara lewat tatapan mata. Kemudian gadis yang mencoba menghubungi orang tua gadis yang tengah kesurupan itu menggeleng lemah. Bahu kedua temannya seketika melorot.
"A-aku akan membantumu!" celetukku keras menghentikan gerakkan sosok itu. Tinggal sesenti lagi mata pisau yang tajam itu menyentuh leherku. Aku sampai menahan nafas. Jantungku terus bertalu-talu. Aku tidak sanggup membayangkan jika pisau itu sungguh menggores leherku.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan, hah?"
"Apapun!" jawabku asal. Yang terpenting, pisau itu bisa segera disingkirkan. Soal sanggup atau tidaknya aku memenuhi permintaannya, itu urusan belakangan. Sedetik kemudian, aku menyesali ucapanku.
Sepertinya sosok itu terhasut ucapanku. Ia menancapkan pisau ke permukaan yang tidak di aspal. "Aku akan memegang kata-katamu dan kembali untuk menagih janjimu." Setelah itu, sosoknya keluar dari tubuh gadis itu dan sang empu langsung jatuh tak sadarkan diri di bahuku.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments