014 : Namanya Ilina

"Kita bertemu lagi, ya," katanya mengulum senyum manis.

"Ah, i-iya." Aku mengusap tengkuk canggung lalu duduk di sisinya. Detik demi detik berlalu, tapi kami masih saling diam. Tidak ada yang mau membuka percakapan lebih dulu. Sejujurnya, aku bingung caranya memulai pembicaraan dengan gadis karena ini adalah pertama kalinya. Ingin menanyakan namanya, tapi aku terlalu malu untuk bertanya. Jadi, aku menanyakan hal lain saja.

"Omong-omong, kamu tinggal dimana …"

"Ilina. Panggil aja Ilina." Gadis itu tersenyum singkat. "Aku tinggal di sekitar sini. Kamu sendiri?" Ia menoleh padaku.

"Aku bukan asli sini. Aku kuliah dan tinggal di kos-kosan nggak jauh dari sini." Rasa canggung yang tadi menyelimutiku menguap setelah berbicara dengan Ilina.

"Oh, ya? Aku kira kamu warga asli, ternyata perantau. Aku sering lihat kamu lewat sini." 

Jadi, rupanya selama ini Ilina mengawasiku dari sini? Kenapa aku baru melihatnya akhir-akhir ini? Apakah karena aku tidak pernah memperhatikan sekitar?

"Kenapa kamu nggak pernah mencoba menyapaku?" Entah dapat keberanian dari mana aku menanyakan hal memalukan seperti itu. Detik berikutnya aku tersadar dengan apa yang aku tanyakan. Rasanya, aku ingin menarik kata-kataku lagi.

Ilina tidak menjawab, hanya tertawa kecil sembari menutup mulutnya. Semua perempuan memang melakukan itu, ya?

Bersama Ilina di sini, aku melupakan semuanya. Lupa kalau aku harus segera kembali karena esok pagi aku dan Abi harus menemui detektif yang merupakan teman dari pamannya. Aku sungguh lupa, kalau waktu terus bergulir. Kami menghabiskan malam ini dengan bercerita macam-macam. Dari sanalah aku tahu bahwa Ilina sudah lama tidak sekolah, tapi ia tidak memberi tahu alasannya.

"Hujan?" Aku menengadah saat telapak tanganku merasakan tetesan air. Perlahan tetesan itu menjadi banyak. Sebelum hujan berubah deras, aku buru-buru menarik Ilina untuk berteduh di depan bangunan TK.

Ilina memandang jemarinya yang digenggam olehku. Sadar dengan apa yang kulakukan, sontak aku melepas tangannya. Berdehem singkat untuk mengusir canggung.

Aku mengecek aplikasi cuaca di ponselku. "Padahal sudah dikonfirmasi kalau malam ini cuacanya bakal bagus. Siapa sangka akan turun hujan," gumamku berbicara sendiri.

"Cuaca memang sulit diprediksi seperti masa depan, bukan?"

"Hm?" Aku menolehkan kepala dan tatapan kami langsung bertemu.

"Nggak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kita nggak tahu apa yang menanti di depan kita. Entah itu kebahagiaan atau justru perpisahan. Siap nggak siap, kita harus menghadapinya. Tapi …" Ilina menatapku lekat. "Tuhan memberi kita waktu yang cukup. Udah seharusnya kita menggunakan waktu itu sebaik mungkin, kan?"

Aku terperangah menatap Ilina. Situasi ini dan juga kata-katanya mengingatkanku akan mimpiku malam itu.

Satu hari sebelum koma.

Bercengkrama bersama anak-anak kos di warkop sembari menikmati seduhan kopi panas membuatku lupa waktu. Aku kembali ke kosan setelah waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Sesampainya di kamar, aku langsung menjatuhkan diri di atas kasur kesayanganku. Hingga satu jam berlalu, aku belum juga tertidur. Ah, aku hampir lupa. Bagaimana mungkin aku bisa terpejam setelah minum dua cangkir kopi?

Aku memutuskan untuk membaca novel yang tersimpan di rak buku. Ini biasa aku lakukan jika susah tidur. Baru beberapa lembar saja, mataku sudah terasa berat. Kantuk menghampiriku. Aku jatuh tertidur.

Di bawah langit cerah yang kini berubah mendung, sepasang kekasih tampak berjalan menyusuri trotoar. Jari-jari keduanya saling mengait satu sama lain, berayun dengan tempo pelan. Meskipun ada banyak orang di sekitar, mereka terlihat sepenuhnya terfokus satu sama lain. Wajah mereka berseri-seri dan senyum senantiasa menghiasi bibir mereka. 

Tetesan air yang jatuh mengenai pipi mereka membuat sang adam menengadah ke atas. "Hujan? Perasaan tadi masih cerah cuacanya."

Pria itu lantas melepas jaket kulit yang melekat di tubuhnya dan merentangkannya di atas kepala mereka guna menghalau air hujan.

"Cuaca memang sulit diprediksi seperti masa depan, ya?" Pria itu menoleh pada wanitanya yang tersenyum kecil. 

"Nggak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Boleh jadi, yang menanti kita di depan adalah kebahagiaan atau sebaliknya. Siap nggak siap, kita harus menghadapinya. Tapi yang pasti, tuhan memberi kita waktu yang cukup. Selagi hari esok belum tiba, kita masih bisa menikmati waktu yang ada bukan?" Perempuan bersurai hitam itu menatap sang kekasih penuh kehangatan sementara tetes hujan yang berjatuhan sudah berubah menjadi rintik deras.

"Jadi …" Perempuan itu berlari kecil mendahului sang kekasih. Ia mengulurkan tangan. "Ayo nikmati kebersamaan kita saat ini!"

Pria itu tersenyum simpul. Ia menurunkan tangannya dari atas kepala dan meraih tangan sang gadis–menggenggam erat. Keduanya berlarian dengan wajah bahagia menerobos hujan tanpa penghalang apa pun.

"Kayaknya hujannya bakal lama. Kamu tetap menunggu sampai reda?"

Suara Ilina membuyarkan lamunanku. 

"Kalau aku pergi, gimana sama kamu?" Aku memelankan suara di akhir.

Ilina terkekeh singkat. "Aku udah biasa sendirian di sini." Ia membuka telapak tangannya, sengaja menadah air hujan. Apa yang ia lakukan membuatku tersenyum tanpa sadar. Dulu waktu masih kecil, aku juga sering melakukan itu saat hujan di depan rumahku.

Meong

Meong

Suara kucing menginterupsi percakapan kami. Di bawah ayunan, ada seekor anak kucing yang meringkuk kedinginan.

"Ilina!" Aku spontan memanggil Ilina saat ia menerobos hujan untuk menghampiri anak kucing itu. Aku mengikutinya di belakang. Menjadikan punggung tanganku untuk memayungi kepala meski itu sia-sia. Aku merendahkan badan untuk melihat lebih dekat anak kucing yang diambil Ilina dan dipindahkan ke dekapan gadis itu. 

Ilina yang tidak sadar kalau aku berdiri di belakangnya langsung menegakkan badan sehingga kepalanya membentur daguku.

"Aw!" Ilina mengaduh pelan. 

Reflek aku mengusap puncak kepalanya. "Kamu nggak papa?"

Di detik berikutnya, tanganku berhenti mengusapnya. Aku merasa ada yang janggal. Kenapa aku tidak melihat apa-apa setelah menyentuh Ilina?

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!