008 : Praya-2

Niat kami untuk mencari petunjuk gagal gara-gara ketua kelas menyuruhku dan Abi untuk segera kembali ke kampus karena matkul selanjutnya jamnya dimajukan. Ah, aku hampir lupa kalau ada kuis hari ini. 

Hari sudah sore ketika seluruh kegiatan di kampus selesai. Kami sudah terlalu lelah jadi memutuskan untuk langsung pulang. Aku langsung merebahkan diri di kasur dan tanpa sadar mulai memejamkan mata. Ketika aku terbangun, aku melihat langit sudah gelap melalui jendela kecil yang gordennya masih terbuka.

Aku mengucek mata sembari meraih jam weker di atas nakas. Jarum panjang rupanya menunjukkan angka sepuluh. Aku kontan melotot. Selama itukah aku tertidur?

Aku bergegas turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka lalu berganti pakaian. Bunyi notifikasi pesan memberondong telingaku kala aku menyalakan data. Diantara pesan itu ada nama Abi terselip. Ada tiga panggilan tidak terjawab darinya juga. Aku lantas membuka pesan Abi. 

Abi : Sam, lo masih tidur ya?

Abi : [ send a voice note ] Gue tadi dihubungin sama ibu kos Praya, nanyain kenapa dia nggak pulang-pulang

Abi pernah bercerita padaku soal aturan di kosan putri tempat Praya tinggal. Di sana, seluruh penghuni kos harus berada di kamar pukul sepuluh malam. Lewat dari jam itu, mereka tidak diizinkan masuk.

Abi : [ send a voice note ] Gue bingung mau jawab apa, jadi gue terpaksa berbohong kalo Praya lagi pulang ke rumah sepupunya. Gimana hebohnya mereka nanti kalo tau yang sebenarnya

Tulisan terakhir dilihat pada bawah nama Abi berganti menjadi online tepat setelah aku membuka pesan suara terakhir. Tampak di room chatt ia sedang mengetik sesuatu. Aku tidak sempat membacanya karena perutku mendadak bunyi. Aku lapar. Sejak siang memang belum makan apa-apa. 

Aku memutuskan membuka layanan pesan antar. Saat hendak melakukan pembayaran, aku baru ingat kalau saldoku tinggal lima ribu. Alhasil, aku membatalkan pesanan dan memilih mencari makanan di luar. Beruntung di sini bebas, tidak ada aturan tertentu seperti di kosan tempat tinggal Praya. 

Entah mengapa udara malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Suasana juga tampak sepi, biasanya banyak pedagang keliling yang lewat di sekitar sini. Sialnya, ponselku mendadak kehilangan sinyal. Aku jadi tidak bisa mendengar musik melalui spotify seperti yang biasa kulakukan.

Kurasakan angin berhembus di tengkuk leherku. Perasaanku mendadak tidak enak. Aku mempercepat langkahku. Sayup-sayup kudengar suara tangis seseorang. Aku mengedarkan pandang, mencari asal suara. Apa aku salah dengar?

Aku menajamkan telinga. Suara tangis itu terdengar semakin jelas ketika aku melangkah ke sisi kanan jalan, tepatnya dekat pepohonan.

"Praya? Apa itu kamu?" Aku mendekat dengan langkah pelan, cukup terkejut karena mendengar suara gadis itu di sini. Apa dia berhasil kabur?

Sosok Praya muncul dari balik pepohonan. "Kamu bisa melihatku, Sam?"

"Tentu aja aku bisa lihat–" Aku menutup mulut saat mataku tidak sengaja melihat kedua kaki Praya yang melayang di atas tanah.

"Sam …" panggil Praya pelan. Ia mendekat perlahan padaku. Aku sontak mundur sedikit demi sedikit.

"Tolong temukan jasadku …" Tangan Praya berusaha menggapaiku.

Tidak, tidak, tidak! Aku yakin ini cuma mimpi. Aku belum benar-benar bangun. Pasti ini semacam mimpi dalam mimpi. Abi pernah mengalaminya juga. Ya, itu masuk akal.

"Sam, rasanya sakit sekali …" Praya merintih kesakitan sambil mencucurkan air mata. Darah segar mengalir dari kedua pahanya, meninggalkan jejak merah di belakang.

Kakiku rasanya tidak sanggup lagi berpijak menyaksikan pemandangan di depanku, jatuh terduduk. Aku ingin menangis, tapi air mataku tidak keluar. Perasaan sedih, takut dan marah bercampur menjadi satu di dadaku.

Aku terus bergerak mundur sambil menutup telinga untuk menghalau suara tangisan Praya yang menyayat hati setiap kali gadis itu mendekat. Tubuhku terdesak, menabrak tiang lampu jalan. 

"Jangan mendekat!" Aku menyilangkan tangan di depan wajah.

"SAM!"

Sebuah cahaya menyilaukan menyorot wajahku. Suara langkah kaki terdengar mendekat. Aku membuka mata sipit-sipit. Ya tuhan, kali ini apalagi?

"Sam! Lo ngapain di sini?" Abi mencodongkan badan ke depan. Ia mematikan lampu flash di ponselnya yang menyebabkan pandanganku terhalang tadi.

Aku mengedarkan pandang. Sosok Praya sudah menghilang. Jejak darahnya juga tidak ada. Aku mengerjap seperti orang bodoh. Ini sebenarnya mimpi atau bukan?

"Woi! Malah bengong." Abi menabok pipiku cukup keras. Rasanya perih. Lama-lama kulaporkan dia karena suka melakukan kekerasan terhadap teman.

"Gue tadi hubungin lo berkali-kali tapi nggak bisa. Lo kehabisan data, heh?" 

Buru-buru aku mengecek ponsel. Sinyal sudah kembali. Terdengar bunyi notifikasi pesan beruntun. 

Abi berdecak sebal. "Yaelah, ternyata off data. K*mpret emang lo, Sam. Bikin orang panik aja." Laki-laki yang kelahirannya hanya selisih 17 hari denganku itu menendang kakiku.

Menyebalkan. Sepertinya aku harus benar-benar melaporkan kekerasan yang dilakukan Abi pada pihak berwajib. Kemudian aku berdiri, menepuk-nepuk pantat untuk mengusir debu yang menempel di celanaku.

"Gue ribut nyariin, lo malah duduk di pinggir jalan kayak orang linglung. Pengin tak HIH!!" Abi membuka mulut layaknya singa yang siap menerkam mangsa.

Aku memperhatikan ponselku yang sinyalnya penuh. Beberapa saat yang lalu, aku sungguh melihat ponselku yang kehilangan sinyal. Kenapa mendadak jadi kembali penuh? Ini mulai membuatku pusing. Aku jadi tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan. 

Aku ingat. Biasanya, orang yang sedang tidur tiba-tiba terbangun gara-gara bermimpi jatuh tersandung. Mungkin, dengan melakukan itu aku bisa tahu apakah ini mimpi atau bukan. Aku lalu menjatuhkan diri dengan pura-pura keseleo.

"Aduh!"

"Anjir! Lo kenapa, siiih? Jalan aja nggak bener," geram Abi.

Aku tidak langsung berdiri, sengaja diam dengan posisi seperti ini. Berhitung dalam hati.

Satu.

Dua.

Tiga.

Aku masih di tempat yang sama. Jadi, ini bukan mimpi? Kalau begitu, aku sungguh bisa melihat hantu? 

***

Terpopuler

Comments

Kaia Lituhayu

Kaia Lituhayu

cakeeeep

2023-09-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!