Birunya langit adalah hal pertama yang aku lihat. Angin yang berhembus pelan menyapa kulitku lembut. Saat aku menoleh, padang rumput yang hijau terbentang luas sejauh mata memandang. Suara gemericik air terdengar damai di telingaku.
Samar-samar kulihat wajah seseorang yang amat kurindukan.
Ayah …?
Aku hampir menangis melihat sosok yang bertahun-tahun tidak kulihat kini merendahkan tubuhnya seraya mengulurkan tangan. Beliau tersenyum sehangat musim semi. Wajahnya berkilauan, mungkin lebih terang dari cahaya matahari.
Aku menyambut uluran tangan ayah. Tangisku pecah ketika akhirnya aku memeluknya. Tangan beliau mengusap punggungku lembut.
"Ayah, maafkan aku …" Aku tersedu, bahuku naik turun. Sejak kecelakaan sembilan tahun yang lalu, aku ingin sekali meminta maaf pada ayah. Akibat kecerobohanku, aku membuat beliau berpisah dengan bunda–wanita yang dicintainya.
Aku tahu, kesalahanku tak termaafkan. Itulah mengapa bunda memilih kembali ke kampung halamannya daripada tinggal bersamaku sebulan kemudian. Pasti sulit baginya hidup bersama orang yang telah merenggut nyawa suaminya. Aku juga tahu, bunda tidak membenciku. Beliau hanya tidak mau terbayang-bayang wajah ayah setiap kali melihatku. Dulu, bunda pernah bilang kalau aku mirip ayah sewaktu kecil.
"Kenapa kamu minta maaf, hm?"
"Aku … aku sudah membuat Ayah meninggal …" Aku terisak lagi.
Ayah menggeleng keras. "Bukan salahmu. Itu sudah takdir tuhan, Nak."
"T-tapi … bunda …" Aku tidak sanggup melanjutkan ucapanku. Kepalaku tenggelam dalam dada bidang Ayah.
"Sstt. Kamu nggak perlu merasa bersalah. Yang terpenting, kamu hidup dengan baik, kan?"
Aku mengangguk pelan.
"Kalo begitu, Ayah bisa pergi dengan tenang."
Aku mendongak, menatap manik hitam ayah yang meneduhkan. "Maksud Ayah? Bukankah sekarang kita berada di dunia yang sama?"
Ayah menyentuh bahuku. Satu tangannya yang bebas mengusap sisa air mata di pipiku. Meski usiaku sudah bukan anak-anak lagi, tapi perlakuan beliau masih tetap sama.
"Belum waktunya, Nak. Kamu harus kembali ke duniamu. Ayah yakin, Bunda menunggumu. Dia hanya butuh waktu."
"Ayah … " Aku berusaha menggapai tubuh ayah yang perlahan menghilang, tapi tidak dengan senyumnya. "Jangan pergi lagi …" Sayangnya aku hanya meraih udara kosong. Aku langsung menjatuhkan lutut. Menangis keras.
Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Yang jelas, pandanganku kabur saat mataku perlahan terbuka. Cahaya terang dari lampu langit-langit menyilaukan mataku yang belum sepenuhnya terbiasa. Suara gemuruh mesin dan bunyi alat medis yang berdenyut terdengar pelan di telingaku. Samar-samar kulihat seorang wanita duduk ditepi ranjang. Apakah itu bunda? Namun, saat aku mengerjap, sosok itu berubah menjadi wajah seseorang yang amat kukenal.
"Sam, ya ampun! Akhirnya lo bangun juga!" Abi lantas mendekat. Kami menjadi teman dekat karena mengambil prodi yang sama yaitu Hubungan Internasional.
Aku bisa menangkap kekhawatiran yang besar bercampur lega dari nada suara Abi. Lingkaran hitam di matanya cukup menjelaskan kalau ia tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari.
"Lo koma seminggu tau, nggak? Sumpah gue takut banget lo beneran nggak bangun lagi!" Abi mengusap air matanya yang mulai berjatuhan.
"Diem, nggak usah ngejek." Laki-laki itu langsung menyambar melihatku hendak buka suara. Jika bukan di situasi seperti ini, aku pasti akan mengejeknya habis-habisan karena menangis seperti anak kecil.
Aku lantas mencabut masker okisgen yang menutupi hidung dan mulutku. Kepalaku terasa berdenyut saat aku mencoba untuk bangun. Abi dengan sigap membantuku. Dia mengambil bantal untuk dijadikan sandaran.
"Makasih," ujarku lirih. Abi hanya menjawab dengan gumaman samar.
"Bunda … nggak ke sini, ya?"
Diamnya Abi sudah cukup menjadi jawaban. Seharusnya aku tidak menanyakan itu.
"Gue keluar dulu bentar nyari makanan. Sekalian ngasih tau dokter kalo lo udah siuman." Abi bangkit dari duduk, mengecek dompetnya lalu diselipkan lagi ke dalam saku celana. Sosoknya menghilang dibalik pintu. Hingga setengah jam berlalu, laki-laki itu belum kembali.
"Dia pergi ke mana?"
Aku melirik jam dinding berulang kali dengan hati gusar. Sudah satu jam, tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan Abi. Aku bahkan tertipu beberapa kali oleh suara langkah kaki di luar ruangan yang kukira adalah dia. Pada akhirnya aku memutuskan untuk keluar mencarinya. Dinginnya lantai menyapa kakiku yang telanjang.
Mataku menatapku sekeliling. Sepanjang aku memandang, hanya ada kakek nenek dan sepasang suami istri serta beberapa anak kecil–juga remaja. Tak nampak batang hidung Abi.
Aku menyusuri setiap lorong rumah sakit yang besar ini. Langkahku terhenti kala melihat dua orang perawat dan seorang wanita yang sedang mendorong brankar dengan tergesa. Wajah si wanita basah oleh air mata. Mulutnya tak hentinya mengelukan nama dari sosok yang terbaring di brankar dengan kepala berdarah. Sepertinya pemuda yang kutebak adalah anaknya itu habis kecelakaan dan kepalanya membentur sesuatu. Aku bergidik ngeri melihatnya, terutama karena bau anyir darah yang menusuk hidungku.
Tak lama kemudian aku berpapasan dengan seorang pemuda aneh yang tubuhnya diselimuti cahaya putih. Wajahnya sama persis dengan pemuda yang kepalanya berdarah tadi.
Aku tersentak. Astaga, apa maksudnya ini? Kenapa dia terlihat seperti arwah?
Aku menabok pipiku. Perih. Artinya aku tidak bermimpi.
Sebuah bola tiba-tiba menggelinding ke arahku. Aku membungkuk berniat untuk memungutnya, tapi bocah laki-laki yang muncul di belokan membuatku urung melakukannya.
Kakinya tidak menapak di lantai.
Aku mengerjapkan mata. Sepertinya aku berhalusinasi. Namun, aku malah dibuat semakin terkejut dengan apa yang kulihat selanjutnya. Bocah itu memungut bola miliknya dan pergi begitu saja. Tubuhnya menembus dinding lorong.
Aku tercekat di tempat. Kehilangan kata-kata. Berbagai asumsi buruk bermunculan di otakku. Apakah aku ….
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
WN. Nirwan
Hai! Ceritanya bagus. Serem. Saya juga ngikutin karya kamu yg lain di ijo.
Oh iya, saya juga sudah ikutan lomba yg kamu bilang waktu itu.
2024-01-10
0
sisakata
Huwa😭pas ambil bola mata kayak lagi ngambil kelereng😭
2023-10-23
0
AzukaJagga
Ya Allah, ya Allah... Aku udah nangis kali kalau jadi dia 😭
2023-10-23
0