Aku tidak begitu mendengarkan celotehan Abi sepanjang kami menuju ke kampus hingga berjalan ke kelas. Atensiku teralihkan pada sosok Praya yang melingkarkan lengannya di leher Abi. Kepalanya menyender di bahu laki-laki itu. Sejak semalam, ia mengekori Abi dengan posisi seperti itu.
"Sam. Bahu gue kok rasanya berat, ya." Abi melakukan peregangan kecil pada bahunya.
Aku diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak mau membuat dia takut.
"Sam!" Abi menyikut lenganku. "Jangan diem aja elah. Sariawan lo?"
"Hah–enggak." Aku menggeleng.
Selama kelas berlangsung, aku sama sekali tidak bisa fokus. Sosok Praya yang berada di belakang Abi terus menganggu pikiranku. Selain itu, kata-katanya semalam masih terngiang di telingaku. Sepertinya aku harus segera mengusut kematian Praya.
Kelas hari ini dimulai dari siang hingga sore. Sebab itulah, hingga pukul setengah enam kami masih berada di kampus. Setengah jam lagi kelas berakhir, tapi aku sudah tidak tahan untuk buang air kecil. Seharian ini aku memang banyak minum air dingin. Setelah mendapat izin dari dosen, aku buru-buru menuju toilet. Khawatir kalau sampai terkencing di celana.
Agaknya aku kurang beruntung. Toilet di lantai kelasku airnya mati. Aku terpaksa turun ke bawah melewati tangga dua kali untuk menuju toilet di lantai paling dasar dekat ruang auditorium. Koridor yang kulewati tampak sepi karena hampir semua mahasiswa sudah pulang–mungkin hanya anak-anak kelasku saja yang masih bertahan. Langit juga sudah gelap, tapi cahaya dari lampu-lampu yang sudah menyala cukup menerangi sekitarku.
Langkahku terasa semakin berat terutama saat sayup-sayup aku mendengar suara musik dari piringan hitam disertai nyanyian yang tampak tidak asing di telingaku.
London bridge is falling down
Falling down, falling down
London bridge is falling down
My fair lady
Jantungku berpacu dengan cepat. Keringat dingin dalam sekejap membanjiri keningku hingga ke leher. Aku ingin berbalik, tapi kakiku seakan tertahan di tempat. Kepalaku menoleh dengan sendirinya ketika pintu ruang auditorium yang tadinya tertutup kini terbuka perlahan menimbulkan suara yang sukses membuat bulu kudukku berdiri.
Aku melihat seorang perempuan mengenakan dress hitam tengah mengayunkan tongkat dirigen sesuai irama lagu. Terdapat hiasan topi kecil dan bulu angsa pada rambutnya yang ditata sedemikian rupa.
Entah apa yang terjadi, kakiku tiba-tiba bergerak sendiri ke arahnya. Perempuan itu memutari tubuhku sambil terus menyenandungkan lagu.
Build it up with iron bars
Iron bars, iron bars
Build it up with iron bars
My fair lady
Setelah itu, tiba-tiba pintu tertutup dengan suara keras. Aku ingin menjerit, tapi suaraku bahkan tidak mau keluar. Sekujur tubuhku gemetaran. Rasanya aku ingin pingsan.
Iron bars will bend and break
Bend and break, bend and break
Iron bars will bend and break
My fair lady
Suara perempuan itu berubah mengerikan. Tempo lagu semakin cepat, begitu juga dengan gerakan kaki dan tangannya.
Build it up with gold and silver
Gold and silver, gold and silver
Build it up with gold and silver
My fair lady
Aku menangis tanpa suara melihat perempuan itu tiba-tiba menusukkan tongkat dirigen ke lehernya hingga tembus. Darah segar langsung mengucur deras menyiprati wajahku. Anehnya, dia masih tetap bernyanyi meski dengan suara putus-putus.
Gold and silver we've not got
We've not got, we've not got
Gold and silver we've not got
My fair lady
Aku nyaris pingsan melihatnya. Di sisa kesadaranku, aku mengeluarkan pena dari sisi kanan tas yang telah aku siapkan sebelumnya dan meninggalkan coretan di lenganku. Jika ini mimpi, maka coretan di tanganku akan hilang. Begitu pun sebaliknya. Ide ini terlintas setelah kejadian semalam yang kupikir adalah mimpi. Setelah itu, kegelapan menjemput kesadaranku.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments