010 : Bagaimana Memberi Tahu Abi

"Nak, bangun."

Kelopak mataku perlahan terbuka merasakan tepukan di pipiku. Tampak seorang satpam jongkok di depan wajahku.

"Jangan tidur di sini. Cepat pulang, sudah malam. Kampus mau tutup."

Aku menegakkan punggung, merotasikan mata ke sekeliling. Aku masih berada di ruang auditorium. Hanya saja, sosok tadi sudah tidak ada. Cepat-cepat aku menyingkap lengan kemeja. Ada bekas coretan pena di sana. Artinya, itu bukan mimpi. Lalu aku menghadapkan layar ponsel ke wajah. Jejak darahnya menghilang.

Suara deringan ponsel membuatku tersentak kecil. Nama Abi muncul di layar. Aku setengah membungkuk pada satpam yang hanya geleng-geleng kepala sebelum berlalu dari sana dan mengangkat panggilan.

"Kenapa sih lo hobi banget ngilang?!" cecar Abi di seberang telepon dengan intonasi tinggi. Aku sampai menjauhkan ponsel dari telinga. Wajahnya kemudian terpampang jelas setelah ia mengubah sambungan menjadi panggilan video. Alisnya menukik tajam.

"Lo kencing atau berak sebenarnya? Lama bener." omel Abi. Ia seperti ibu-ibu kalau sedang mengomel begini. Meski begitu, aku merasa sedikit tenang karena suaranya mengalihkan pikiranku dari bayang-bayang sosok perempuan itu–juga keadaan sekitar yang semakin sepi.

"Maaf. Aku pake toilet di lantai dasar yang ada airnya, makanya lama." Aku tidak ingin mengatakan yang sejujurnya pada Abi. Setidaknya, bukan di sini. Lagipula aku tidak sepenuhnya bohong.

"Terus lo sekarang di mana? Gue lagi turun ke bawah, nih." Suara langkah kaki yang menuruni tangga terdengar jelas. Gambar di layar ponsel bergerak-gerak. Aku mengubah kamera menjadi menghadap belakang.

"Kalo gitu, kita ketemu di parkiran ya. Bye!"

"Stop! Jangan dimatiin–"

Tut … tut …

Sambungan telepon berakhir. Sial! Aku merutuk dalam hati. Menengok kanan dan kiri sekilas, aku bergegas lari secepat kilat. Hampir saja aku bertabrakan dengan Abi yang baru saja menuruni anak tangga terakhir. Aku mengatur nafasku yang tidak beraturan sambil memegangi kedua lutut. 

"Ngapain lari-larian gitu? Kayak habis dikejar setan aja." Abi memandangku dengan raut heran. Sosok Praya masih ada belakangnya. Bagaimana caraku memberitahu Abi?

"Ayo pulang." Aku bagian bawah kemeja Abi. Tubuhnya bergerak mengikutiku. 

"Nggak usah tarik-tarik juga keles," protes Abi, tapi anehnya dia tetap menurut hingga kami sampai di parkiran.

"Lo ngapain sih, woi!" Abi memandangku horor karena aku meraba celananya. Mungkin dia pikir aku hendak menggrepe-gr*pe tubuhnya. Padahal aku hanya ingin mengambil kunci motor dari saku.

"Si anjir! Gue kirain lo mendadak belok." Abi mengelus dada syok. Ia langsung merebut kunci motor dari tanganku dan memasukannya ke lubang kunci. Speedometer seketika menyala. 

"Buru." Aku menepuk pundak Abi dua kali setelah kami sama-sama sudah duduk di jok. Ia menggerutu kesal karenaku. Motor pun melaju kencang membelah jalanan yang tidak pernah sepi dari kendaraan.

Setibanya di kosan, aku langsung masuk ke kamar dan menutup pintu. Tak perlu repot-repot berganti pakaian, aku segera membuka ponsel dan mengetikkan sesuatu di kolom pencarian.

Cara melihat hantu

Berbagai artikel bermunculan. Aku meng-klik salah satu artikel. Bola mataku bergulir menelusuri setiap kata. Dari ketujuh cara, hanya opsi terakhir yang paling mungkin dilakukan yaitu melihat diantara kedua kaki. Yang jadi masalah, bagaimana aku membuat Abi melakukan hal itu.

"Apa cara ini bakal berhasil?" tanyaku pada diri sendiri. Aku tidak sepenuhnya yakin, tapi ini patut dicoba. Menurutku lebih baik dari pada harus memberitahunya secara langsung.

"Bi, Praya udah meninggal. Arwahnya ngikutin kamu terus." Tidak mungkin aku mengatakan itu, kan? Yang ada, kepalaku digetok olehnya karena mengatakan hal konyol.

Usai bebersih, aku mengirim pesan singkat ke Abi. Memberitahunya bahwa aku ingin mengajaknya makan bersama di kamarnya. Tentu saja aku memesan makanan lewat layanan antar pesan. Aku tidak pandai memasak asal kalian tahu.

Pesan balasan dikirim kurang dari satu menit. Kalau soal makanan gratis, Abi memang paling gercep.

Abi : Oke

Tidak mau berlama-lama, aku bergegas naik ke lantai atas tempat Abi berada usai mendapatkan pesananku dan membayar sejumlah uang. Kosan yang aku tinggali memang memiliki dua lantai. Aku dan Abi berada di kamar yang berbeda.

"Silahkan, Tuan." Abi menyambutku di depan pintu, setengah membungkuk layaknya seorang pelayan yang menyambut kedatangan tamunya, lalu ia tergelak sendiri. Jangan heran, Abi memang sering begitu.

"Sam, besok kita harus cari petunjuk. Gue ngerasa nggak bisa tenang sebelum membuktikan ucapan lo waktu itu." Abi membuka percakapan di tengah keheningan yang tadi sempat menyelimuti kami selama menghabiskan makanan. Aku melirik sekilas pada Praya yang sedari tadi mengamati Abi menikmati makanannya. Sepertinya gadis itu benar-benar jatuh hati pada sahabatku. Hingga akhir hayat pun, ia tetap di sisi Abi.

"Kalo nggak salah, sekitar seratus meter dari jembatan ada cctv. Tapi gue nggak yakin masih berfungsi atau nggak." Abi membuang styrofoam ke dalam keranjang sampah di dekat jendela.

"Oke, besok kita cek."

Aku memutar otak. Memikirkan cara bagaimana membuat Abi melakukan hal seperti di artikel yang aku baca. Sebuah ide tiba-tiba terlintas di benakku.

"Awas kecoa!"  teriakku dengan ekspresi takut yang dibuat-buat.

"Mana?!" Abi berdiri kaget. Kelimpungan. Panik setengah mati. Aku mati-matian menahan tawa. Mengerjai Abi ternyata semenyenangkan ini.

"Itu di bawah kakimu! Dia masuk ke celanamu, Bi!" pekikku membuat Abi semakin heboh. Ia membuka kedua kakinya lebar dan melongokkan kepalanya ke bawah.

Aku ingin bersorak dalam hati tapi menyadari tidak ada pergerakan dari Abi, aku jadi was-was.

"P-pra-ya …" Abi terbata-bata menyebut nama mantan kekasih pertamanya.

Aku meneguk saliva. Dadaku tiba-tiba berdebar, tapi aku yakin ini bukan debaran cinta. Apakah itu artinya berhasil?

Detik itu juga, Abi jatuh pingsan dengan kepala yang menyentuh lantai lebih dulu.

***

Terpopuler

Comments

Kaia Lituhayu

Kaia Lituhayu

Aku orang sunda tapi baru tau kalo bahasa sundanya mandul itu gabug🤧

2023-09-23

0

Kaia Lituhayu

Kaia Lituhayu

mood sekali abang satu ini 😂

2023-09-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!