"Sebenarnya, apa yang kalian cari? Kenapa aku diculik? Dan kenapa aku nggak ingat apa-apa?"
Ah, aku lupa kalau Praya masih ada di sini. Namun, aku pura-pura tidak mendengarnya.
"Saya suka pemuda yang penuh semangat seperti kalian." Detektif itu mengambil alih map coklat di atas meja. "Silahkan habiskan minuman kalian. Setelah ini, saya akan tunjukkan kalian sesuatu."
Tepat setelah mengatakan itu, terdengar suara dering ponsel. Rupanya suara itu berasal dari ponsel sang detektif. Ia tampak berbincang sebentar dengan wajah serius, lalu menutup panggilan.
"Maaf, sepertinya hari ini tidak bisa. Saya ada urusan mendesak." Detektif itu mengambil kartu nama dari saku jaketnya dan menyerahkan pada Abi. "Hubungi saya kalau kalian menemukan petunjuk baru."
Detektif itu berjalan ke kasir untuk membayar tagihan dengan mengapit map coklat di ketiaknya. Selepas itu, ia segera keluar dari kafe dan melangkah cepat menuju kantornya yang berjarak beberapa meter dari sini.
"Agha Shankara." Abi mengeja nama yang tertera di kartu.
"Bi, kenapa semalem kamu nggak datang?" Aku baru ingat kalau ingin menanyakan itu.
"Perut gue tiba-tiba mules. Jadi kelupaan, deh. Hehe." Abi terkekeh garing.
Aku menatap Abi skeptis. Iris matanya yang bergerak tak menentu menandakan ada sesuatu yang disembunyikan laki-laki itu.
"G-gue ke toilet dulu. Tiba-tiba kebelet." Abi beranjak dari duduknya. Ia memasang ekspresi menahan kencing.
Sembari menunggu Abi, aku iseng membuka ponsel mencari berita mengenai kecelakaan seorang siswi SMA. Tadi aku lupa menanyakannya pada Detektif Agha. Namun, aku tidak menemukan satupun artikel yang kucari.
"Masa sih, nggak masuk berita? Emangnya nggak ada yang ngelaporin?" tanyaku berbicara sendiri. "Tapi, gimana bisa muncul rumor kalo beritanya aja nggak ada?"
Abi datang tiga menit kemudian. Seketika dia menarik kursi ke sisiku dan mendudukkan pantatnya dengan ekspresi seperti ibu-ibu komplek yang siap menyebarkan gosip terbaru.
"Eh, lo tau nggak? Gue tadi ketemu Aksara." Abi memulai sesi pergosipan dengan kalimat legend.
"Aksara?" tanyaku mulai tertarik. Biasanya, aku selalu mengabaikan berita sampah yang disampaikan oleh Abi. Namun, untuk kali ini, dia berhasil memancing rasa penasaranku.
Abi mengangguk kukuh. "Dia ternyata kerja sampingan di sini."
Untuk seseorang yang suka menutup diri dari sekitar seperti Aksara, rasanya cukup aneh mendengar bahwa gadis itu bekerja di kafe yang notabene ramai pengunjung.
"Gue papasan sama Aksara. Dia sempet ngelihatin gue aneh, abis itu langsung buang muka dan jalan gitu aja. Sumpah, tuh cewek makin serem aja gue lihat-lihat."
Agaknya aku salah sudah bertanya padanya. Memang lebih baik aku abai seperti biasanya.
"Langsung pulang, nih?" Aku menghabiskan tetesan terakhir americano coffe-ku dan mendorong kursi menggunakan tumit, berdiri.
"Mampir dulu ke mini market. Stok peralatan mandi gue udah habis." Abi mengeluarkan kunci motor dan melemparnya ke atas lalu ia tangkap. Begitu terus berulang.
•
Karena seharian tidak ada kegiatan, aku memilih menghabiskan waktu dengan menonton High And Low series yang berjumlah 12 season. Aku sungguh terpikat dengan karakter Muyamura yang tampan dan jago berkelahi. Pantas saja para cewek di kelasku sering membicarakannya. Rupanya dia memang sekeren itu.
Sayangnya, pada saat menonton season terakhir dimana konflik sedang panas-panasnya, wifi tiba-tiba mati. Baru kutahu penyebabnya adalah pemadaman listrik setelah mengecek obrolan grup. Langsung saja aku menyalakan data, tapi film tetap saja berputar-putar hingga 15 menit berlalu. Berikutnya, muncul notif kalau paket internetku sudah habis. Sungguh suatu ketidak beruntungan yang menyebalkan.
Niat hati mau membeli paket internet melalui aplikasi shopee, tapi rupanya saldo tidak mencukupi. Mau tidak mau aku harus keluar untuk membeli paket data agar bisa lanjut menonton. Akan tetapi, rasanya malas beranjak kalau sudah menyatu dengan kasur. Meski begitu, aku tetap memaksakan diri untuk keluar daripada mati penasaran karena tidak menonton kelanjutannya.
Selesai membayar, aku berniat langsung pulang malah tidak jadi karena pedagang rujak keliling yang melintas di depanku. Sudah lama sekali aku tidak makan itu. Langsung saja aku memanggilnya agar ia berhenti.
"Pesan satu, Bang. Yang pedes." Aku menyebutkan pesananku.
"Siap, A!" Pria kumis tipis yang kutebak adalah orang sunda itu mengacungkan jempol dengan wajah semringah.Tangannya begitu cekatan memotong buah-buahan.
Sebuah mobil yang berhenti di depanku mencuri perhatianku. Kaca mobil turun perlahan. Wajah seorang perempuan muncul kemudian. Aku tahu, itu mahasiswi dari fakultas ekonomi. Hanya saja, aku tidak ingat namanya siapa. Ia hendak buka suara tapi mulutnya terkatup kembali karena suara ribut di kursi belakang. Mengejutkannya, seorang perempuan lain langsung membuka pintu belakang dan turun dari sana dengan ekspresi yang bikin merinding. Matanya menatap tajam ke depan sedangkan kepalanya sedikit tertunduk. Entah kenapa aku merasakan aura membunuh yang begitu kuat terpancar darinya.
Mataku membola begitu gadis itu merebut pisau milik sang penjual. Para perempuan yang masih berada di dalam mobil memekik tertahan. Namun, yang lebih menarik perhatianku adalah sosok lain yang menyebabkan dirinya bertindak seperti itu. Tubuh gadis itu dikendalikan oleh sosok perempuan yang wajahnya sama persis–hanya berbeda rambut saja–yang aku asumsikan sebagai saudari kembarnya. Sepertinya mereka adalah kembar identik yang salah satunya memiliki nasib buruk sehingga meninggal lebih dulu.
Penampilan sosok itu juga menyeramkan. Seluruh wajahnya membiru serta kepalanya sedikit mendongak ke atas. Bola matanya putih semua. Ada bekas cengkeraman tangan di lehernya. Aku tebak, gadis itu mati dicekik sekuat tenaga dan berakhir meninggal karena kehabisan nafas. Jika bukan siang hari, aku tidak yakin sanggup menatapnya seperti ini.
Sosok itu menggerakkan tangan saudari kembarnya yang memegang pisau dan mengarahkan ke lehernya sendiri dengan posisi miring seakan ingin menyayat kulit lehernya. Lengan baju yang dipakainya sedikit turun, memperlihatkan banyak luka memanjang yang menghiasi pergelangannya.
"MATI!" Sosok itu berteriak penuh amarah melalui saudari kembarnya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments