Di detik berikutnya, tanganku berhenti mengusapnya. Aku merasa ada yang janggal. Kenapa aku tidak melihat apa-apa setelah menyentuh Ilina?
"M-maaf." Aku langsung menjauhkan tanganku begitu Ilina memutar tubuh menghadapku. Netra kami saling bertubrukan. Tak ada satu patah kata pun yang terucap sampai aku mengerjapkan mata dan memalingkan wajah.
Aku mengikuti Ilina yang berteduh kembali di tempat semula sambil terus mengusap kepala anak kucing yang kedinginan. Padahal ia sendiri juga kedinginan. Itu terlihat dari sikapnya yang terus merapatkan kaki. Pakaiannya basah kuyup, begitu juga denganku.
Aku menggosok telapak tanganku seraya meniup-niup untuk menciptakan rasa hangat, lalu menempelkan telapak tanganku ke pipi Ilina. "Gimana? Lumayan hangat, kan?"
Pandangan Ilina turun pada telapak tanganku yang berada di pipinya.
"Maaf kalo aku lancang. Aku bukan bermaksud modus," pelanku, kemudian menurunkan tanganku dari pipinya. Ilina hanya mengangguk kecil dengan bibir dikulum. Tampak menggemaskan di mataku.
Menit demi menit terlewati. Rintik hujan menjadi satu-satunya suara yang menemani kami berdua di malam yang dingin ini. Aku tidak tahu sampai kapan hujan akan berhenti. Jadi, aku memutuskan untuk menghubungi Abi memintanya untuk mengantarkan payung. Aku tidak berharap banyak, tapi rupanya anak itu mengangkat panggilan pada deringan ketiga.
"Paan?" tanya Abi jutek dengan suara sedikit serak khas bangun tidur. Tentu saja ia kesal karena direcoki saat sedang tertidur lelap.
Melalui ujung mata, kulihat Ilina diam-diam menyimak pembicaraanku dan Abi.
"Tolong–"
Tut .. tut …
Panggilan tiba-tiba berakhir karena sinyal hilang. Aku merutuk dalam hati. Kenapa disaat seperti harus kehilangan sinyal?
Agaknya Ilina menyadari kegelisahanku, ia bertanya perhatian, "Ada masalah?"
"Sinyalnya tiba-tiba hilang," beritahuku sambil mengangkat ponsel dan menggerak-gerakkan tangan agar sinyal kembali.
"Kalo emang perlu, kirim pesan aja," saran Ilina. Anak kucing dalam dekapannya terlihat nyaman terbukti bahwa tidak ada pergerakkan darinya seperti tadi.
Aku mengetik pesan pada Abi dan menekan tombol send. Hanya dalam hitungan detik, pesan yang kukirim berubah menjadi centang biru. Sayangnya, aku terlalu berharap banyak pada anak itu. Kenyataannya, hingga hujan reda, sosoknya tidak muncul jua.
Aih, tega benar manusia satu ini. Ingatkan aku besok untuk tidak mengajaknya bicara sehari penuh.
•
Aku dan Abi berangkat ke kediaman paman Abi seperti rencana kami kemarin. Hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai ke sana. Sebelumnya, Abi sudah mengabari pamannya soal kasus Praya dan beliau dengan senang hati membantu kami bertemu rekan detektifnya.
Di sinilah kami berada. Di sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari kantor tempat detektif itu bekerja. Ia meminta kami bertemu di sini, tapi paman Abi tiduk ikut bergabung karena dia memiliki urusan lain yang harus segera diselesaikan.
Detektif itu mempersilahkan kami memesan minuman yang diinginkan. Aku dan Abi duduk berhadapan dengan detektif tersebut. Seorang pelayan kemudian mendekat ke meja kami untuk mencatat pesanan dan berlalu dengan setengah membungkukkan kepala.
"Kenapa kalian tertarik dengan kasus ini?" tanya detektif itu membuka percakapan.
Aku dan Abi saling melempar pandang. Pada akhirnya, aku mengalah untuk bicara. "Praya itu teman kami. Kami tidak bisa abai begitu saja. Firasat saya mengatakan kalau ada yang janggal dengan kematian Praya," ungkapku.
"Kamu tidak bisa menjadi detektif hanya dengan mengandalkan firasat. Tapi, detektif sejati itu yang memiliki pandangan luas dan dapat melihat berbagai kemungkinan. Menaruh rasa curiga itu perlu," tuturnya panjang lebar.
Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan. Aku memilih americano coffee karena menurutku penampilannya mirip kopi yang biasa kuminum di warkop. Aku memang tidak begitu suka jenis kopi espresso. Bagiku, kopi hitam original lebih enak dari jenis kopi manapun.
"Dari raut wajahmu, saya tahu kalau kamu memiliki alasan yang lebih kuat dari sekedar firasat. Apa tebakan saya salah?" Detektif itu mengangkat cangkir cappuccino-nya dan menyesapnya perlahan.
"Saya bisa melihat masa lalu," ucapku setelah beberapa saat.
Satu detik.
Dua detik.
Di detik ketiga, tawa detektif itu pecah. Ia sempat menjadi perhatian beberapa pengunjung selama beberapa sesaat.
"Heh, bocah, kurang-kurangi menonton sinetron. Perut saya geli mendengar kata-katamu." Pria dengan potongan comma hair itu geleng-geleng kepala sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.
"Saya tahu anda tidak akan percaya. Tapi yang jelas, kami berhasil menemukan petunjuk berkat penglihatan saya." Aku mengedik dagu, mengisyaratkan Abi untuk menunjukkan 'penemuan' kami.
Abi menyodorkan map coklat ke hadapan detektif itu. "Silahkan lihat sendiri. Saya yakin anda pasti tertarik, Tuan Detektif." Abi menarik sudut bibirnya ke atas. Merasa puas melihat ekspresi sang detektif setelah mengetahui isi map coklat tersebut.
"Jadi, apa kami boleh bergabung?" tanyaku penuh harap.
"Why not?" Detektif itu melebarkan kedua tangannya.
Yes! Aku bersorak dalam hati.
"Sebenarnya, apa yang kalian cari? Kenapa aku diculik? Dan kenapa aku nggak ingat apa-apa?"
Ah, aku lupa kalau Praya masih ada di sini.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments