005 : Gadis Mata Almond

"Heureux de vous revoir," gumamnya.

Aku masih bisa mendengarnya meski tidak begitu jelas. Entah bahasa apa yang ia gumamkan, aku tak tahu. Kini aku sedang bergelut dengan pikiranku sendiri. Kalau ini cuma mimpi, kenapa sosok di dedapanku ini terlihat begitu nyata?

"Tampar aku," pintaku. Hanya itu yang terlintas di pikiranku saat ini.

"Maaf?"

"Cepat tampar aku!" Aku memaksa, bahkan menyodorkan pipiku tapi gadis itu justru memundurkan kepala dengan kening berkerut.

"Kenapa aku harus–"

PLAAKK

Karena terlalu lama, aku langsung saja menarik tangannya dan mendaratkan tamparan cukup keras di pipiku sendiri.

"?!"

"Aw, sakit!" Aku mengusap pipiku yang perih. Ternyata bukan mimpi.

Gadis itu menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Are you okay?" tanya gadis itu tidak yakin.

Aku mengangguk sekali. "I'am fine."

"Oh-oke."

"Ah, ya. Apa yang kamu lakukan di sini sendirian?" Aku ikut duduk di ayunan yang masih kosong persis di samping gadis itu.

"Aku sering ke sini buat nenangin pikiran." Suara besi yang berayun setiap kali kaki gadis itu mendorong ke belakang bagai melodi di malam yang sunyi ini. Cahaya rembulan di atas sana menyorot lembut ke wajahnya. Ia terlihat seperti seorang dewi surgawi yang turun dari nirwana.

"Gadis aneh," komentarku. "Memangnya kamu nggak takut keluar sendirian malam-malam begini? Siapa tau, ada setan nongol."

"Hihi, kamu lucu." Gadis itu tertawa kecil. Meski ia menutup mulutnya menggunakan tangan, aku masih bisa melihat lesung yang mencuat di pipi kirinya.

"Aku nggak takut hantu. Menurutku, manusia lebih menyeramkan. Hantu cuma bisa menakuti, sedangkan manusia dapat menyakiti. Bahkan membunuh."

Entah firasatku saja atau bagaimana, aku merasa kalau mimik wajah gadis itu sedikit berubah usai mengatakan kalimat terakhir dengan nada rendah.

"Ya … kamu benar." Aku melempar tatapan ke depan, pada sebuah perosotan semen bergambar doraemon. Sudah lama sekali sejak terakhir aku main perosotan. Itu menyadarkanku bahwa kini aku sudah beranjak dewasa, bukan anak-anak lagi. Mengingatkanku akan realita kehidupan yang sesungguhnya. Jika diberi satu permintaan, aku ingin kembali menjadi anak kecil agar tidak perlu merasakan pahitnya kehidupan.

"Omong-omong, kamu habis dari mana?" Netra beningnya melirik kantong plastik di tanganku.

"Oh, ini–ya ampun, aku lupa!" Aku menepuk jidat. Saking asiknya mengobrol, aku sampai lupa tujuan. Pasti bunda sudah menungguku dari tadi. Aku juga baru sadar kalau senter di ponselku masih menyala.

Aku beranjak berdiri. "Maaf, aku harus pergi sekarang. " Lalu mematikan senter.

"Ke mana?" Gadis bersurai hitam itu menghentikan gerakkan ayunan menggunakan kakinya, memutar kepala.

"Pulang." Aku sempat menoleh padanya sebelum benar-benar menjauh. "Namaku Sambara Agnibrata. Tolong ingat baik-baik."

"Dari mana aja kamu? Bunda tungguin sampai lampunya nyala lagi kamu nggak balik-balik."

Benar saja. Begitu tiba di kosan, aku langsung disambut bunda yang berdiri di depan pintu. Berkacak pinggang.

Aku nyengir lebar. Melewati tubuhnya tanpa dosa sementara tatapannya yang bak laser terus terarah padaku.

"Kebiasaan, kalo disuruh beli sesuatu pasti mampir ke sana kemari." Bunda sudah balik badan, tapi ia masih menghunuskan tatapan tajam hingga aku menaruh kantong plastik berisi beberapa batang lilin di atas meja.

"Maaf, Bun. Tadi aku … ngopi dulu bentar. Hehe." Bohongku. Hampir saja aku keceplosan kalau aku sempat bertemu dengan seorang cewek dan mengobrol. Aku tidak mau diinterogasi macam-macam.

Dulu waktu aku kelas lima, ada seorang siswi yang menyatakan cinta padaku. Aku yang saat itu masih polos dengan mudahnya menceritakan pada bunda. Alhasil, bunda memintaku untuk mengajaknya main ke rumah. Beliau bertanya banyak hal seperti; Apakah ia bisa membedakan lengkuas dan jahe, apakah ia bisa memotong bawang tanpa menangis, apakah ia bisa menggoreng telur mata sapi bulat sempurna dan masih banyak lagi. Sejak itu, ia tidak mau berteman denganku lagi.

Melihat bunda memandangku skeptis, aku mengangkat dua jari sejajar pipi. "Suer!"

"Omong-omong, kamu udah punya pacar belum? Sini, kenalin sama Bunda." Bunda menaik turunkan alisnya.

"Aku mau fokus kuliah dulu, Bun. Pacaran urusan belakangan." Aku membuka bungkus kuaci yang bunda beli tadi siang, memakannya satu persatu.

"Yeee, bilang aja jomblo. Abi cerita kalo kamu nggak pernah deket sama cewek." Bunda memicingkan mata. "Jangan-jangan kamu gay?" tudingnya.

"Ngadi-ngadi," bantahku tidak terima. "Abi cerita apa aja sama Bunda?"

"Kamu nanya?" balas bunda dengan ekspresi meledek. Kalau tidak ingat bahwa beliau adalah orang yang melahirkanku, sudah kulempari wajahnya dengan kulit kuaci. Aku hanya bisa menahan diri untuk tidak mengumpat. Bunda tetaplah bunda yang suka bercanda. Aku pikir seiringnya bertambah usia, jokesnya berubah, ternyata masih sama.

"Tapi, kamu pernah suka sama cewek kan? Ya kali, udah kepala dua. Masa nggak pernah naksir cewek."

Mendadak wajah gadis itu muncul di benakku. Aih, aku baru ingat kalau aku lupa menanyakan namanya. Aku harap kami bertemu lagi.

"Tuh, pipinya merah!" Bunda menusuk pipiku menggunakan telunjuknya.

"Pasti kamu lagi jatuh cinta, kan?" Beliau mendekatkan wajahnya. "Siapa namanya?"

"A-apa, sih!" Aku memalingkan wajah. Malu.

"Salting nih, ye!" Bunda semakin gencar meledekku.

"N-nggak, kok. Biasa aja," kilahku.

"Terus kenapa pipinya merah?" Bunda menilisik wajahku. Aku terus menghindar dari tatapan menuntutnya.

"Kayak anak SMA lagi jatuh cinta."

Aku menyentuh pipiku yang memanas. Masa iya, sih, aku jatuh cinta? Padahal kami baru pertama bertemu. Apakah ini yang dinamakan fall in love at first sight?

***

Terpopuler

Comments

sisakata

sisakata

nama dia sambara. kalau aku samra hihi, salam kenal kakkk

2023-10-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!