Sejak dulu, aku tidak pernah percaya hantu dan hal-hal mistis. Menurutku, itu hanya takhayul belaka. Namun, setelah aku melihat sendiri bagaimana tubuh anak kecil tadi menembus dinding lorong, aku mulai memikirkan sesuatu. Tidak ada manusia yang bisa menembus sesuatu, kecuali dia manusia super. Akan tetapi, ini dunia nyata bukan fantasi. Tidak ada hal seperti itu. Jadi, kesimpulannya anak itu bukan manusia.
Mau berapa kali pun aku menyangkalnya, akal sehatku tetap tidak bisa menerima fakta bahwa ada manusia yang bisa menembus dinding kecuali dia adalah hantu. Apakah koma membuat indera keenam seseorang terbuka? Memangnya, ini dunia novel?
Aku memilih untuk memutar arah, kembali ke ruangan tempatku terbaring selama satu minggu barangkali Abi sudah di sana. Selain itu, aku berharap bisa meminimalisir pertemuan dengan makhluk-makhluk yang tak pernah aku harapkan untuk berjumpa. Syukurlah, aku tidak mengalami gangguan hingga tiba di tempat. Hanya saja, aku dibuat terhenyak melihat punggung wanita yang berdiri di depan pintu.
"Bunda …" lirihku dengan suara bergetar. Meski nyaris tak terdengar, rupanya suaraku berhasil membuat wanita itu menoleh. Matanya dalam sekejap berkaca-kaca. Ia sontak memelukku.
"Kamu sudah siuman, Sayang? Maafkan Bunda baru datang." Bunda mengecup belakang kepalaku. Kurasakan sesuatu yang hangat membasahi punggungku. Sepertinya beliau menangis. Nada suaranya yang bergetar menandakan kerinduan dan rasa bersalah yang kentara. Mendadak aku teringat kutipan seseorang bahwa mau sedewasa apa pun, seorang anak tetaplah anak-anak di mata orang tuanya. Baik ayah maupun bunda, mereka memperlakukanku sama seperti sembilan tahun lalu.
Bunda mengendurkan pelukannya, menatapku seksama. "Kamu sudah lebih tinggi dari yang terakhir Bunda lihat."
Aku buru-buru mengusap air mata yang dengan lancang menuruni pipi. "Dulu aku masih sebelas tahun. Sekarang aku udah dua puluh, Bun."
Bunda menangkup wajahku. "Selama itu ya, Bunda meninggalkanmu? Maaf." Ibu jarinya mengusap pipiku lembut.
Sial, air mataku jatuh lagi.
"Eh, Tante Anila?"
Dalam suasana haru-biru, Abi tiba-tiba muncul dengan wajah heran. Di tangan kanannya ada kantong bening yang berisi kotak makan. Aku ingin menggetok kepalanya karena sudah merusak suasana. Rasanya, air mataku naik lagi.
"Aku pikir Tante nggak akan datang." Abi kontan mengulum bibir mendapat delikan mata dariku.
"Maaf, hape Tante rusak jadi pesan dari kamu baru dibaca tiga hari kemudian." Sesal Bunda.
Ah, jadi itu alasannya?
"Pas banget, nih. Aku bawa makanan, sekalian aja kita makan bareng-bareng. Gimana?" usul Abi yang langsung disetujui oleh Bunda.
Kami bertiga makan bersama. Abi bercerita banyak tentangku pada bunda. Sesekali aku akan mengumpati sahabatku jika ia menceritakan hal buruk. Sedangkan bunda hanya tertawa melihat kami saling adu mulut. Kami menghabiskan waktu dengan bercengkerama sampai tidak terasa kalau hari sudah beranjak gelap. Abi memutuskan untuk pulang. Katanya, besok dia akan kembali untuk membantu membawakan barang-barangku sebab dokter sudah mengizinkanku untuk pulang besok.
Selepas kepergian Abi, aku buka suara soal pertemuanku dengan ayah. Aku tidak bermaksud membuat bunda sedih. Hanya saja, aku merasa harus memberitahunya.
"Begitu, ya?" Itu yang bunda katakan usai aku bercerita. Meski bibirnya menyunggingkan senyum, tapi sorot matanya tidak bisa bohong kalau ia merindukan ayah.
"Sam," panggil Bunda.
"Hm?" Aku melirik jemariku yang digenggam bunda.
"Izinkan Bunda mengganti sembilan tahunmu yang terlewatkan malam ini, ya?"
•
"Kenapa dengan wajahmu?"
Aku lupa, kalau bunda adalah orang yang memiliki kepekaan tingkat tinggi. Serapat apa pun kamu menyembunyikan sesuatu, beliau dengan cepat bisa mencium gelagatmu.
"Aku … kebelet pipis, Bun." Suaraku memelan di akhir. Jujur, sejak tadi aku menahan kandung kemihku yang rasanya ingin meledak, tapi aku malu untuk mengatakannya.
"Terus, kamu nggak berani ke toilet sendirian?"
Aih, bunda malah menanyakannya. Otomatis aku mengangguk patah.
"Umur doang nambah, tapi masih nggak berani ke toilet sendirian malam-malam." Bunda menggeleng pelan seraya terkekeh. Aku kan jadi malu!
Sebenarnya, aku bisa saja pergi ke toilet sendiri tanpa harus ditemani bunda. Toh, beliau hanya bisa menunggu di luar bukan ikut masuk ke dalam seperti dulu saat aku kecil. Namun, aku masih terbayang soal hantu anak kecil yang kulihat tadi siang.
Coba pikirkan, siang bolong saja mereka menampakkan diri. Lantas, bagaimana jika malam hari? Apalagi ini rumah sakit yang identik dengan orang mati. Sudah pasti banyak penampakan menyeramkan di sini. Membayangkannya saja bulu kudukku langsung berdiri.
Aku merutuk dalam hati karena tidak kebagian kamar VIP yang sudah pasti ada toiletnya sehingga aku terpaksa melewati lorong yang sama untuk menuju toilet demi menuntaskan hajat. Sepanjang jalan, aku terus was-was, takut kalau 'mereka' tiba-tiba muncul. Sesekali aku memanggil bunda, memastikan kalau beliau masih berada di sisiku.
"Bunda jalannya di sampingku, dong. Jangan di belakang," protesku saat sadar kami tidak jalan beriringan.
"Kamu kenapa, sih? Kaya orang parno aja." Bunda menatapku heran sembari menjajari langkahku.
"Nggak papa." Bohongku. Aku berusaha memasang wajah seolah tidak ada apa-apa, tapi aku tahu itu tidak akan berhasil.
"Kamu takut tiba-tiba ada setan nongol?" Tebakan Bunda tepat sasaran.
"Bunda, ih!"
Bunda justru terkikik melihatku panik.
"Loh, bukannya kamu nggak percaya takhayul?"
"Itu …" Aku melirik sekitar dengan gelisah. Semakin jauh kami melangkah, suasana semakin sepi. Tidak ada petugas kesehatan yang lewat di sekitar sini.
"Ah, pokoknya entar aku ceritain, deh. Bukan di sini tapi."
"Kenapa? Kamu takut?"
"Y-ya …" Aku menggaruk pipiku yang tidak gatal.
"Ngapain takut, orang di sampingmu aja hantu."
Langkahku otomatis terhenti. "Maksud Bunda?"
Saat aku menoleh, bukan wajah bunda yang kulihat, melainkan sosok perempuan dengan daster putih dan rambut panjang menutupi seluruh wajah–persis seperti penampakan kuntilanak di film horor. Lehernya patah.
"Ku-ku-kun kuntilanak!" Aku kontan memacu kaki cepat. Napasku tersengal. Kuntilanak itu terus tertawa menyeramkan di belakangku. Aku hanya terus berlari sampai kakiku tiba-tiba terkilir dan berakhir jatuh.
Aku mencoba untuk bangkit, tapi sulit. Seluruh persendianku terasa nyeri saat kupaksa kakiku berdiri sementara kuntilanak itu sudah melayang di atasku. Tangannya yang pucat dengan kuku hitam nan panjang terulur mencengkeram leherku.
"MATI!"
Aku berontak berusaha melepaskan diri. Akan tetapi, cengkeramannya di leherku semakin menguat. Tanganku berusaha meraba sekitar, mencari apa pun yang bisa kujadikan senjata agar bisa menyingkirkannya karena aku mulai kehabisan nafas. Aku bahkan terbatuk beberapa kali.
Mataku pun terbuka ketika aku melihat sebuah kayu yang kuambil di lantai berubah menjadi tangan Abi. Astaga, ternyata itu hanya mimpi.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
sisakata
aaa takut banget kalau tiba-tiba gitu kak😭😭😭😭😭😭
2023-10-23
0
AzukaJagga
tolonglah.. ngeri banget ..
lanjut thorrrr
2023-10-23
0
Lylia07
eh ternyata 😭
2023-10-18
0