Polisi itu memicingkan mata. "Apa ini yang ingin kamu pastikan, wahai pemuda? Tapi, bagaimana kamu tahu?"
"Insting, Pak," jawabku asal.
Polisi itu memandangku aneh. Meski begitu, ia tetap mempersilahkan kami pergi setelah mengatakan kalau kasus Praya resmi dibuka kembali. Pria itu menghubungi rekan detektifnya untuk menyelidiki kasus ini.
"Sam, Praya … beneran diculik?"
Dibanding polisi tadi, Abi jauh lebih terkejut setelah melihat sendiri rekaman cctv.
"Sesuai dengan penglihatanku."
Abi memegangi kepalanya. "Pusing gue mikirin ini semua. Rasanya … nggak masuk akal."
Aku mengabaikan Abi, menoleh pada sosok Praya yang tak semenyeramkan tadi. Wajahnya sudah normal kembali.
"Kamu nggak ingat sesuatu, Ya? Misal, orang aneh yang memakai pakaian serba hitam?" Sengaja aku bertanya untuk memancing ingatan Praya, tapi ia malah menggeleng.
"Yang aku ingat, aku loncat dari jembatan."
Benar dugaanku. Praya dicekoki minuman yang sudah dicampuri sesuatu menyebabkan ingatannya kacau. Ia sama sekali tidak ingat soal pria misterius yang membawanya pergi. Di pikirannya, ia mati karena loncat dari jembatan.
"Sam, lo ngomong sama Praya?" Abi berbisik di telingaku. "Dia di sini?" tanyanya lagi saat mendapat anggukan dariku.
"Eng." Sekali lagi aku mengangguk. "Bi, aku boleh pinjam hape Praya sebentar?"
Abi menarik ponsel Praya yang layarnya sudah retak dan mati dari dalam saku celana. "Buat apa?" Laki-laki itu menahannya, tidak langsung memberikannnya padaku.
"Ngecek."
Tepat saat aku menyentuh ponsel Praya sembari memfokuskan pikiran, sebuah penglihatan kembali muncul di otakku. Kejadiannya sama persis dengan yang aku lihat sebelumnya, hanya saja waktunya sedikit lebih maju dan durasinya sedikit lebih lama. Praya yang setengah sadar dimasukkan ke dalam mobil dan didudukkan di samping kemudi oleh pria misterius itu. Aku baru sadar kalau ada bekas luka di mata kirinya. Aku juga sempat melihat plat nomor yang tertera sebelum adegan berakhir.
"Hidung lo berdarah, Sam."
Celetukan Abi menyadarkanku kalau ada cairan merah yang menetes dari salah satu lubang hidungku. Aku mengusapnya menggunakan ibu jari.
"Lo terlalu memaksakan diri, Sam." Abi memandangku khawatir. "Ayo kita pulang. Lo harus istirahat setelah ini." Ia berniat memapahku tapi aku menolaknya.
"Aku bisa jalan sendiri. Aku baik-baik aja," kataku meyakinkan. "Darahnya udah nggak keluar." Aku memeriksa dengan cara menempelkan telunjuk ke lubang hidung. Tidak ada jejak darah, artinya pendarahan sudah berhenti.
Abi menghela pelan. "Gimana? Apa kamu dapat petunjuk baru?" Matanya menyorotku penasaran.
"Plat nomornya, Bi. B 1010 UN. Ayo kita minta polisi tadi untuk mengeceknya." Aku bersiap melangkah masuk ke dalam kantor polisi karena kami masih berada di halamannya tapi suara Abi mengurungkan niatku.
"Kalo lo ditanya dari mana dapat plat nomornya, lo bakal jawab apa? Nggak mungkin kan, lo bilang soal kemampuan lo itu?"
Aku diam kemudian. Ucapan Abi ada benarnya juga. Lantas aku mengembalikan ponsel pada Abi.
"Oke. Kita pulang aja. Ada yang harus kamu lakukan."
Abi menekuk alisnya. "Kenapa harus gue?"
"Karena cuma kamu yang bisa. Kamu jago gambar, kan?"
For your information, sebenarnya Abi ingin mengambil jurusan seni karena dia suka menggambar sejak kecil. Akan tetapi, orang tuanya tidak mengizinkan. Ahasil, ia memilih jurusan yang saat ini–sesuai permintaan mereka. Biar kata nakal, Abi adalah anak yang patuh pada kedua orang tuanya.
"Aku ingin kamu menggambar sketsa pria yang ada di penglihatanku."
•
Saat ini kami berada di kamarku. Abi tengah berkutat dengan pensil dan buku kosong yang aku sediakan. Tangannya menari-nari di atas kertas putih membentuk sketsa wajah seorang pria.
"Kayak gini bukan?" Abi menunjukkan hasil tangannya padaku. Aku mengamati gambar itu dengan seksama. Mirip. Aku mengangguk kukuh. Kami saling melempar pandang.
"Om gue punya teman detektif. Kita kasih gambar ini dan plat nomornya ke beliau aja. Besok lo nggak ada latihan lagi, kan?" Abi menyobek kertas itu dari buku sekaligus mencatat plat nomor yang sudah kusebutkan dan memasukkannya ke dalam map coklat.
"Hm."
"Hoaaamm." Abi menguap lebar seraya meregangkan tangan. "Gue balik dulu, ya. Ngantuk." Abi beranjak berdiri sambil menenteng map coklat.
Aku hampir lupa kalau sejak pulang dari kantor polisi kami belum berganti pakaian. Cuci muka saja tidak sempat. Perut ini juga belum diisi makanan.
"Warkop, kuy!" ajakku berhubung masih pukul tujuh. Sudah cukup lama aku tidak menikmati seduhan kopi panas, mungkin sekitar dua minggu yang lalu.
"Nggak ah," tolak Abi. "Gue mau mandi lanjut istirahat. Hari ini entah kenapa rasanya capek banget."
"Tumben nggak jalan."
"Gue lagi jomblo, mau jalan sama siapa. Lagian gue krisis moneter. Uang saku gue dibatesin sama bokap gara-gara gue ketahuan nge-vape," curhat Abi sedih.
Aku tergelak mendengar cerita Abi. "Rasain!"
Abi merengut, sejurus kemudian berbalik. Ia mengangkat satu tangannya. "Gue cabut dulu."
Aku menutup pintu setelah punggung lebar Abi tak terlihat lagi. Meraih handuk di cantelan belakang pintu, aku bersenandung kecil menuju kamar mandi. Selesai mandi, aku mengenakan hodie kesayanganku dan keluar menuju warkop tempat anak-anak kos biasa nongkrong. Itu adalah tempat yang sama dimana aku membeli lilin waktu itu. Setiap sabtu malam, warung itu beralih fungsi menjadi warkop. Selain murah, makanan di sana rasanya enak. Kalau kata teman-teman kosku cukup mengobati rindu akan masakan mama di rumah. Sebab, semua mahasiswa yang ada di sini adalah anak rantau.
"Warkop, Sam?" tegur salah satu tetangga kamarku yang baru saja mengunci pintu.
"He'em."
"Yok, sekalian."
Selama perjalanan menuju ke warkop, kami tidak banyak bicara. Meski kamar kami hanya terpaut dua kamar saja, kami jarang bertegur sapa. Selain karena dia seniorku sehingga kami tidak begitu dekat, dia adalah mahasiswa semester terakhir yang sibuk menggarap skripsi. Itu sebabnya, kami jarang bertemu.
Aku bukan anak pendiam, tapi kalau berada di dekat orang yang tidak banyak bicara seperti seniorku ini aku jadi ikutan diam. Bingung mau memulai percakapan dari mana. Kalau bersama Abi, rasanya obrolan mengalir begitu saja seakan tidak kehabisan topik.
Menit-menit yang cukup mengangguku akhirnya terlewatkan begitu kami sampai di warkop. Hanya ada satu-dua orang yang ada di sana. Maklum, sebab bagi orang kota, jam tujuh masih terbilang sore.
Tanpa sadar, jam sudah menunjukkan angka sepuluh. Tidak terasa kalau aku sudah menghabiskan waktu tiga jam di sini padahal hanya menyeduh kopi panas dan menikmati sepiring nasi goreng kampung sembari bercengkrama. Anak-anak kos sudah mulai ramai berdatangan.
"Eh, udah pada denger belum kabar Juna yang kecelakaan kemarin malam di jalan kenanga?" Salah satu laki-laki berambut gondrong yang baru beberapa menit yang lalu datang tiba-tiba mengganti topik pembicaraan. Tawa membahana yang tadi mengudara lenyap begitu saja. Tergantikan menjadi wajah-wajah penasaran.
"Juna dari fakultas hukum, kan? Kabarnya dia kecelakaan karena ngeliat hantu cewek pake seragam SMA di tengah jalan," sahut laki-laki berbibir tebal di sebelahku.
"Udah banyak yang lihat penampakan hantu itu. Rumornya sih, dia korban tabrak lari dan jasadnya belum ditemukan. Tapi nggak tau, masih simpang siur beritanya." Laki-laki berkulit sawo di seberang meja mengedikkan bahu. "Saran gue, usahakan jangan lewat jalan itu kalo malem."
Sejak tadi aku hanya diam menyimak pembicaraan mereka. Mendadak aku teringat gadis SMA yang dilaporkan hilang di kantor polisi kemarin. Apa ini hanya kebetulan semata?
Setelah membayar sejumlah uang, aku bergegas kembali ke kosan. Pikiranku terus dipenuhi berbagai kejadian yang aku alami beberapa hari terakhir sejak bangun dari koma. Saat melewati taman kanak-kanak, aku melihat gadis itu lagi. Ia duduk di ayunan membelakangiku–sama seperti waktu itu.
"H-hai." Aku melambai patah padanya.
"Kita bertemu lagi, ya," katanya mengulum senyum manis.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments