"Benarkah, kamu pikir aku anak TK yang bisa dibohongi begitu saja. Cika mulai dari sekarang kita musuh. meskipun belum saatnya bagiku untuk menghabisi lalat kecil sepertimu." bisik Lisa penuh penekanan.
"Apa salahku padamu Lisa, kenapa kamu selalu jahat padaku?"
"Kesalahanmu cuma satu, kenapa hadir di kehidupan kak Alex." jawab Lisa.
"Kenapa kamu marah hanya padaku, bukankah masih banyak gadis yang dekat dengannya."
"Tapi kamu berbeda dari mereka Cika, terutama sikap dok polosmu ini. kak Alex memperlakukan dirimu begitu istimewa. sedangkan mereka tidak, habis dipakai mereka akan dibayar lalu disuruh pergi."
"Tuan Alex pasti bakal marah besar, begitu mengetahui jika kamu telah mengancam diriku, Lisa." Cika melirik kedalam berharap Alex segera keluar dari ruangan tersebut.
"Jangan coba-coba mengadukan semua ini pada kak Alex, jika tidak. nyawa ibu kesayanganmu berakhir malam ini juga ditanganku." ucap Lisa yang langsung membuat Cika berdiri terdiam kaku.
"Aku mohon Lisa, jangan lakukan ini padaku." kedua kaki Cika gemetaran tidak mampu menopang tubuhnya lagi, seakan ingin pingsan detik itu juga.
Lisa langsung bersembunyi kembali begitu melihat kedatangan Alex.
"Sayang, kenapa wajahmu berubah tegang seperti ini?" tanya Alex melihat ekspresi perubahan Cika.
"Ti... tidak apa-apa tuan." berusaha menyembunyikan ketakutannya akan ancaman Lisa barusan.
"Tuan, aku boleh bertanya tentang siapa Lisa sebenarnya?" tanya Cika takut-takut.
"Baiklah, mungkin sudah saatnya kamu tahu tentang kehidupanku Cika." ucap Alex menerawang, Cika mempertajam pendengarannya, siap mendengar cerita masa lalu Alex.
"Lisa sahabat baik dari adik perempuanku Elena, kami bertemu ketika sama-sama hidup di jalanan yang keras."
"Jadi tuan mempunyai seorang adik perempuan?"
"Ya, dua sangat cantik dan imut. namun tidak dengan kenyataan hidup yang kami terima." Alex mulai menceritakan perjalanan hidupnya hingga dia menjadi seorang pria yang kuat, berani dan ditakuti para musuh dan saingan bisnisnya.
***
On Previous Chapter....!!!
"Ellena kecil terus menangis memegangi perutnya yang lapar, sementara sang ibu lebih mementingkan dirinya sendiri dan suami barunya. yah kehidupan Alex kecil dan adiknya berubah dratis setelah kepergian sang ayah.
"Kakak, aku lapar!"
"Tahan dulu perutmu ya dek, ibu tidak menyisakan apapun untuk kita makan." ucap Alex bingung begitu membuka tudung saji, tidak ada satupun makanan yang bisa mereka makan.
"Kakak, ini ada tulang ayam bekas yang dimakan papa, aku makan ya."
"Jangan dek."
Namun terlambat, Elena yang tidak tahan lagi memakan makanan sisa ayah tirinya, Alex menahan air matanya menyaksikan semua itu, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, jika dia protes ibu atau ayah tirinya tidak segan-segan untuk memukul dirinya maupun Elena.
Hampir setiap hari mereka mendapatkan perlakuan tidak adil dari sang ibu, terkadang timbul dipikiran Alex, jika mereka berdua bukanlah anak kandung, lantas siapa ibu kandung mereka yang sesungguhnya?.
Dari hari ke hari, kondisi Elena semakin memprihatinkan. sehingga Alex nekad mencari uang sendiri dipasaran tradisional, menjadi kuli angkut ataupun pekerjaan lain yang penting dua bisa membelikan adiknya makanan.
Senyum mengembang dibibir Alex, saat menerima upah dia langsung membeli makanan. tidak peduli hujan dia terus berlari pulang.
"Ellen pasti senang, aku bawakan makanan kesukaannya."
Alex sampai dirumah dengan nafas yang masih ngos-ngosan, namun langkahnya langsung dihadang oleh ayah tirinya Mark. refleks Alex menyembunyikan bungkusan makanannya dibalik punggung.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku?" hardik Mark.
"Tidak ada, pa."
"Bohong."
Dengan sekali tarikan, Mark berhasil merampas makanan tersebut dari tangan Alex.
"Jangan itu buat Elena."
Alex berusaha mempertahankan namun tenaganya kalah banyak, bahkan Mark memukulinya dengan tanpa perasaan, sedangkan sang ibu tidak bisa berbuat apa-apa. dia sangat menyayangi suami barunya ketimbang anak-anaknya sendiri. bahkan dia tidak pernah sedikitpun mau mendengarkan keluh kesah ataupun mau membela, prioritasnya hanya menyenangkan dan memanjakan suami pemalasnya.
Seperti biasa, Alex dan Elle kembali memakan makanan sisa, bahkan tidak layak untuk mereka makan.
"Maafkan kakak, yang tidak bisa melindungimu dan memberikan makanan yang layak untukmu, dek."
"Ngak papa, aku bahagia asalkan kakak selalu bersamaku." jawab Elena menyembunyikan sakitnya, berpura-pura kuat dihadapan sang kakak yang telah berkorban banyak untuknya, bahkan Alex seringkali tidak makan apapun asalkan adiknya bisa makan.
"Kak, kenapa banyak luka pukul ditubuh mu? suami ibu memang jahat. coba saja ayah kita masih hidup tentu keadaan kita tidak seperti ini." kenang Ellen ketika sang ayah masih hidup, yang sangat menyayangi anak-anaknya.
"Sabar ya dek, kakak janji akan menjadi ayah sekaligus kakak yang baik untukmu." bujuk Alex.
"Kak, kenapa ibu kita berubah ya. padahal sewaktu masih ada ayah, ibu sangat menyayangi kita berdua."
"Entahlah, kakak juga tidak tahu kenapa ibu bisa berubah seperti ini."
Malamnya, Elle melihat ibu dan ayah tirinya makan makanan enak. begitu selesai makan, sang ibu menyembunyikan sisa makanan tersebut ditempat buang tinggi, agar anak-anaknya tidak bisa menjangkau.
Ellen yang tidak bisa menahan diri lagi, secara diam-diam berusaha untuk mengambil makanan tersebut. meskipun dia harus memanjat meja makan untuk mencapai lemari tempat menyimpan makanan. tangan Ellen terjulur tinggal beberapa centimeter lagi dia berhasil mencapai makanan. namun sial, aksinya keburu diketahui ayah tirinya yang kejam.
"Dasar maling kamu ya." menjewer keras sebelah kuping Elena.
"Maafkan Elle, pa. Elena sangat lapar." mengusap perutnya dengan air mata berlinang.
"Lapar katamu, makan ini." kembali menjewer lebih keras, hingga kuping Elena memerah.
"Malam ini, kamu harus dihukum lagi." menarik paksa Elena menuju gudang belakang.
Alexander tidak bisa menahan emosinya lagi, secara diam-diam dia mengikuti ayah tirinya. sambil membawa ceruit. begitu ayah tirinya lengah tanpa persiapan terlebih dahulu, Alex tiba-tiba menyerangnya dengan menghunuskan ceruit berkali-kali keperutnya, hingga pria paruh baya itu bergelimang darah terkapar tidak berdaya.
"Kakak!" jerit Elena menagis ketakutan, Alex langsung tersadar dengan apa yang telah dia lakukan, refleks dia membuang ceruit tersebut.
"Ellen, kita harus segera kabur, sebelum ibu datang dan mengetahui semua ini."
"I...iya kak."
Alex membimbing sang adik berjalan mengendap-endap untuk mencapai jalan raya, mereka menumpang mobil pengakut buah menuju kota yang jauh untuk memulai kehidupan yang baru bersama adiknya.
Rasa lelah baik fisik maupun pikiran membuat Alex dan Elle tertidur pulas dibak belakang mobil. cukup lama mereka berdua tertidur, hingga guncangan pekan dilenganya membangunkan Alex.
"Dek baguuun, kita sudah sampai di kota. silahkan turun." ucap sang sopir, karena dia akan menurunkan barang-barang angkutannya.
"Terimakasih bang." Alex segera membangunkan Elena.
"Kak, kita mau kemana?"
"Kakak juga tidak tahu, yang jelas kakak akan melakukan pekerjaan apapun untuk kita berdua. kamu jangan takut. kakak akan selalu bersamamu." Alex menyemangati sang adik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur Lizza
pantes Alex marah yg namany ibu.rupany ibunya jahat
2024-05-03
0
Mimik Pribadi
Ya ampuuun ibu macam apa itu,anak2nya disiksa tidak diberi mkn demi laki2 arogan dan pemalas,bener2 menjijikan
2023-12-03
0
Katherina Ajawaila
kasihan juga nasip Alex dan kknya, pada ibu kandung bisa jadi serigala. dasar
2023-10-25
0