Aromaterapi dan suasana yang kembali romantis, membuat pikiran Cika kembali rilex dan nyaman, dia menerima takdirnya dengan ikhlas menjadi wanita pemuas nafsu Alex. hingga pria itu bosan lalu membuangnya, fokus Cika sekarang mengumpulkan uang-uang sebanyak-banyaknya modal hidup setelah dibuang Alex.
Semangatnya kembali bangkit, dia menerima semua perlakuan dan belaian Alex yang tidak berkesudahan. dalam hati Cika yakin jika sebenarnya Alex orang baik, namun ada satu hal berat yang membuatnya seakan memiki kepribadian ganda yang sulit ditebak.
"Cika, aku bantu pijit ya, agar kamu segar kembali."
"Silahkan tuan, eh Alex!" ucap Cika memejamkan mata menikmati pijitan lembut dikepalanya. Alex tersenyum melihat Cika yang mulai nyaman dengan sentuhanya. Cika bingung dengan perasaannya sendiri yang semula ingin membenci Alex, akan tetapi selalu tidak bisa. bahkan bayangan percintaan mereka yang panas kembali membuatnya bergairah. pertama kalinya mereka menyatu dan Cika mencapai puncak kenikmatan.
"Kenapa wajah tampan tuan Alex, selalu muncul setiap aku memejamkan mata. kenapa denganku, apakah aku sudah ikut-ikutan gila ketularan sikap Alex, termasuk otak mesumnya."
"Cika!"
"Ya," melirik wajah tampan Alex tepat dihadapannya, pandangan mereka bertemu menyelami perasaan masing-masing. detik demi detik berlalu begitu saja, mereka masih saling pandang, tanpa peduli suara cicak yang jatuh kepeleset melihat kemesraan mereka berdua.
Cika mersakan pelukan Alex semakin erat, seperti pria itu takut kehilangannya. Cika tidak ingin kegeeran dan berandai-andai jika sang big bos dihadapanya juga menyukainya. biarkan semua mengalir bagaikan air. nikmati saja toh dia merasa tidak terlalu dirugikan dalam hal ini, uang melimpah dan pria yang sangat tampan.
"Semangat Cika, dua miliar harus kamu dapatkan. syukur-syukur cintanya sekalian..ha...ha..." sisi lain dari Cika ikutan muncul.
"Apa kamu pernah pacaran sebelumnya?"
"Pernah tuan, sekarang tidak lagi."
"Bagus, karena aku tidak suka berbagi."
Cika merebahkan kepalanya di dada bidang Alex, tersenyum bahagia karena dia adalah orang pertama mendapatkan kerawanan Cika. dia ikut memejamkan mata, sekilas wajah cantik dan segar Cika kembali menari-nari, senyuman yang manis dengan tingkahnya yang polos, membuat hari-hari Alex lebih berwarna merah, kuning hijau di langit yang biru.
Sementara diruang makan yang mewah, Lisa mulai gundah gulana. sesekali matanya tertuju pada ruang kamar Alex.
"Sedang apa mereka dikamar berduaan, kenapa dari semalam belum juga turun kebawah." umpat Cika, sedangkan Rambo tersenyum melihat kecemburuan Lisa.
"Jika dua pasangan tengah dimabuk cinta, mereka tidak akan merasakan lapar Lisa." balas Rambo yang langsung mendapat plototan tajam mata Lisa.
"Aku tidak membutuhkan pendapat mu, Rambo." ucap Lisa semakin muak.
Tidak lama Alex dan Cika keluar kamar, berlajan menuruni satu persatu anak tangga sambil bergandengan mesra. aura kebahagiaan terpancar dari wajah Alex maupun Cika.
Mata Lisa tertuju pada rambut Cika dan Alex yang masih basah, aroma wangi shampo dari merek yang sama menyeruak, membuat kebenciannya pada Cika semakin bertambah.
"Dasar murahan, sangat menjijikkan." umpat Lisa kesal dengan tatapan datar, namun mengisyaratkan kebencian yang mendalam.
"Ayo sarapan." ajak Alex, kemudian matanya beralih menatap Lisa yang cemberut sambil melototi makanan dihadapannya.
"Lisa, kamu kenapa lagi?"
"Kak, aku tidak suka kamu memperlakukan Cika begitu istimewa. dia cuma sekertarismu." Lisa akhirnya berterus-terang.
"Memangnya ada masalah, aku menyukai Cika. bagaimanapun kedepannya kamu harus menghormati Cika." ucapan Alex membuat Lisa benar-benar marah, dia langsung pergi meninggalkan meja makan.
"Kak Alex benar-benar berubah semenjak kedatangan gadis kampung itu, bahkan dia tidak pernah mendengarkan dan mempedulikan aku lagi." Lisa menatap foto masa kecil mereka yang begitu bahagia, semasa masih ada Elena diantara mereka.
"Coba saja kamu masih ada di dunia ini, kak Alex tentunya tidak akan pernah melirik gadis kampung itu." umpat Lisa mengusap air matanya.
"Aku yakin Cika punya maksud tertentu mendekati kak Alex, kita lihat saja nanti aku akan membuka siapa dirimu yang sesungguhnya Cika."
***
"Wow transferan setengah miliar masuk ke rekeningku, mungkinkah ini sebagai bonus dari Alexander. karena sudah merenggut keperawanan ku semalam." bathin Cika dengan perasaan tidak menentu, senang namun juga terbesit kesedihan merasa jika dirinya tidak jauh beda dengan para wanita diluaran sana yang menjual dirinya demi uang.
"Dulu aku bertekad menjaga kesucian, yang nantinya akan aku persembahkan pada suamiku, tapi kenyataan berkata lain. aku melakukannya demi uang dan kesembuhan ibu." bathin Cika.
Sepasang tangan kekar tiba-tiba memeluk Cika dari arah belakang, refleks dia membalikkan badannya sambil tersenyum. menatap Alex yang hanya mengunakan handuk kecil untuk menutupi bagian intinya saja. Aura maskulin yang terpancar membuat seorang Alex terlihat semakin jantan. seakan terhipnotis tanpa sadar Cika bergumam dengan mulut sedikit terbuka dan matanya yang tidak berkedip.
"Mmm....Sempurna!"
Alexander mengulum senyum puas, melihat Cika yang terkagum-kagum pada bentuk tubuhnya yang sispek dengan otot-otot tubuh bak binaragawan karena rajin olahraga. Alex terus memandangi Cika hingga gadis itu salah tingkah.
"T...tuan terimakasih ya."
"Untuk apa?" Alex berlagak tidak tahu.
"Atas transferannya yang lumayan banyak." Cika tersenyum riang.
"Kamu tahu jika uang segitu tidak ada artinya bagiku, aku bisa memberikanmu lebih asalkan patuh dan mau menjadi wanitaku satu-satunya."
"Tentu aku mau, karena aku sayang kamu, tuan."
"Apa katamu?" ulang Alex, dia ingin mendengar kata-kata yang terdengar indah itu dari mulut Cika lagi.
"Aku sayang sama tuan."
"Jujur, sayang sama aku apa sama uangku!" goda Alex.
"Dua-duanya tuan, karena aku bukan perempuan yang munafik. aku butuh uang untuk bertahan hidup dengan ibuku."
Malam ini mereka kembali tidur sambil berpelukan, baru beberapa menit memejamkan mata. Cika kembali terbagun begitu mendengar Alex yang yang seperti mengigau dalam tidurnya. Alex yang sedang mimpi buruk nampak keringat membasahi tubuhnya, tangan Alex menggapai-gapai memangil-mangil Elle.
“Elle.... Elle....Ellena...!!!”
"Siapa Ellena, kekasihnya kah?" bathin Cika penasaran.
Cika menggoyangkan pelan lengan Alex, berusaha untuk membangunkannya dari mimpi buruk.
“Tuan... Tuan bangun..!"
Cika kembali menguncang agak keras hingga Alex seketika terlonjak kaget, dan terbangun dari mimpi buruk nya.
"Tuan kamu habis mimpi buruk ya?"
"Nggak, tapi mimpi basah, udah jelas seperti apa masih saja nanya."
"Iya ya, kelihatan dari tubuh tuan yang sudah basah semua karena keringat."
"Diam Cika, aku sedang tidak bercanda."
"Ups sorry." Cika mengambil segelas air putih lalu memberikan ketangan Alex.
"Minumlah dulu, tenangkan dirimu, tuan. aku selalu disampingmu melewati ini semua." ucap Cika mengelap lembut keringat diwajah dan tubuh Alex. perasaan iba seketika menyelimuti hatinya, semenjak mereka memulai bercinta untuk pertama kalinya dalam kondisi sama-sama sadar. Pelukan hangat Cika mampu membuat Alex sedikit banyak merasakan lega dan kembali tenang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur Lizza
pengen tau rahasia alex
2024-05-03
0