"Lisa, kenapa kamu terus mengikuti langkahku?" tanya Cika merasa tidak nyaman karena terus diawasi.
"Kamu lupa ya, jika aku diperintahkan kak Alex untuk terus mengikutimu." ucap Lisa dengan tatapan sinis.
"Uups.., aku lupa jika kamu sedang dihukum." Cika tersenyum seakan mengejek, bagaimana pun dia masih kesal pada Lisa yang pernah menghajarnya tanpa ampun.
"Jangan senang dulu, sebentar lagi kedokmu pasti berhasil aku bongkar, aku juga akan membuktikan pada kak Alex, jika kamu adalah perempuan ngak benar dan penyelundup dari geng naga berkedok sekertaris." tantang Lisa, yang begitu yakin dibalik tampang polos Cika, dia adalah gadis berbahaya.
"Terserah, yang jelas aku bekerja untuk biaya pengobatan ibu, aku juga tidak kenal geng naga yang kamu maksud."
Malas meladeni Lisa berdebat, Cika memilih untuk berjalan-jalan disekitar taman. meskipun begitu setiap gerak-geriknya tidak luput dari pengawasan Lisa.
***
Disebuah ruangan VVIP club, seorang pria tampan yang seringkali dipanggil Ketua geng Macan, mengepalkan tangannya emosi. apalagi setelah tahu beberapa orang anak buahnya berhasil ditangkap oleh orang-orang Alexander, begitu juga dengan usaha-usaha bisnisnya yang mengalami kerugian besar karena kemarahan Alex.
"Bos, apa kita serang saja mereka."
"Jangan dulu, untuk saat ini mereka akan mengalahkan kita dengan mudah. sebaiknya malam ini kita berpura-pura mengaku kalah dan mengikuti permainan mereka dulu dengan mengajaknya negosiasi, sampai kita menemukan kelemahan seorang Alexander, baru kita serang mereka tanpa ampun." ucap Macan dengan tatapan membunuh.
"Orang seperti Alexander tidak punya kelemahan bos, bahkan dia tidak pernah takut mati."
"Kita lihat saja nanti."
Naga dan beberapa pengawalnya sengaja mendatangi kediaman Alex, dia tahu jika Alex tidak akan berani membunuhnya karena Kakek Huang. meskipun permusuhan bebuyutan mereka tidak pernah bisa dihilangkan, Macan tidak akan pernah menyerah sebelum berhasil mengalahkan Alexander dan merebut kekuasaannya.
Alex yang tengah menikmati sensasi lembut pijatan tangan Cika, harus terhenti ketika asisten kepercayaannya Rambo mendatanginya.
"Tuan ada tamu tak diundang." lapor Rambo.
"Siapa?"
"Kepala geng Macan."
"Ternyata besar juga nyalinya si bangsat itu, datang menemui ku." Alex bangkit mengenakan pakaiannya kembali. nafasnya memburu karena kesenangannya terganggu.
Belum sempat Alex melangkah, macan sudah berdiri dihadapannya.
"Hallo apa kabarmu?" sapa Macan melangkah seorang diri, sedangkan para pengawalnya berdiri berhadap-hadapan dengan para pengawal Alex, siap untuk saling serang menyerang jika diperintahkan oleh bos mereka masing-masing.
"Untuk apa kamu menemuiku?"
"Kamu lupa ya jika aku keturunan Hendrawan." dengan santainya Macan duduk bersebelahan dengan Cika, sambil membungkuk sedikit menyapa gadis itu.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah sudi berhubungan dengan mu."
Macan melirik pada Cika, dia melonggo hingga tidak mendengar ucapan Alex, dia tidak menyangka jika wanita peliharaan Alex kali ini benar-benar cantik.
"Kali ini, aku memuji seleramu. bolehkah aku ikut mencicipi Wanita peliharaan mu ini." tangan Macan terjulur ingin menyentuh dagu Cika, namun belum sempat tersentuh, dengan kasar Alex menarik kerah bajunya, laku mendorong Macan hingga terjungkal ke tanah.
"Brengsek kamu, coba sekali lagi kamu berniat menyentuh Cika, jika tidak ingin ke-dua tanganmu aku patahkan." hardik
"Ha...ha...jadi gadis cantik ini namanya Cika." Macan tersenyum puas. dia tidak menyangka jika seseorang Alexander begitu bucin terhadap perempuan, sesuatu yang bukan dirinya.
"Cepat pergi dari sini, sebelum nyawamu melayang ditanganku." Alex menarik pistol yang diselipkan dipunggung nya. sedangkan Cika masih melonggo seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat, sebuah pertengkaran kecil yang melibatkan dirinya.
"Oke, aku akan pergi."
"Hay Cika, semoga kita dipertemukan kembali. tidak sabaran bisa ngobrol-ngobrol berdua denganmu, apalagi ikut merasakan pijatan lembut tangamu." ucap Macan sambil tersenyum puas b melangkah pergi, meninggalkan Alex yang terlihat begitu emosi, namun dia berusaha untuk menahan, jaga image dihadapan anak buahnya, agar tidak dipandang lemah karena berkelahi demi seorang perempuan.
***
Hari ini Cika sudah di izinkan pulang menjenguk ibunya, gadis itu sangat bahagia. apalagi setelah mengetahui kondisi sang ibu yang terlihat semakin membaik.
"Cika, bos orang yang sangat baik ya."
"Maksud ibu?"
"Tuan Alex sudah membantu biaya pengobatan ibu, bahkan dia juga sudah memberikan kita tempat tinggal yang layak seperti ini."
"Ya Bu, tapi ini tidak gratis Bu." jawab Cika menundukkan kepalanya.
"Terus semua ini apa?" ibu Cika terlihat gusar, dia mulai berfikir macam-macam.
"Jangan-jangan kamu jual diri pada tuan Alex, jangan nak itu dosa." ibu semakin curiga, bahkan beberapa hari ini Cika tidak pulang.
"Tidak mungkin aku jual diri hu, buktinya sampai saat ini aku masih perawan. aku tidak pulang kerumah karena kamu sedang menangani proyek besar Bu, sehingga sangat sibuk."
"Terus dari mana semua ini, nak?"
"Aku diberikan pinjaman, tiap bukan gajiku dipotong hu, jadi ibu tidak perlu kawathir ya." bujuk Cika berusaha membohongi ibunya, jika pekerjaannya sebagai sekertaris plus-plus Alex.
"Ingat Cika, jangan pernah bohongi ibu."
"Iya, tapi ibu juga harus percaya pada Cika."
"Iya nak, ibu percaya padamu."
Macan tersenyum senang begitu mengetahui jika kelemahan Alexander adalah Cika, gadis cantik yang merupakan sekretaris barunya.
"Apapun caranya, aku harus berhasil mendekat Cika."
Macan mendekati Cika, saat gadis itu baru saja keluar dari pelataran apotik, karena Cika habis menebus resep obat-obatan milik ibunya.
"Hallo Cika, senang bertemu lagi denganmu, cantik. " sapa naga sok ramah.
"Hay juga." balas Cika merasa sungkan, karena dia tahu jika ketua dari geng Macan merupakan musuh yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Alex.
"Kamu habis dari mana, ayo naik kedalam mobilku."
"Tidak terimakasih tuan."
"Jangan sungkan Cika, kamukan tahu sendiri jika aku adalah saudara bosmu." balas Macan tersenyum ramah, dua sangat mengagumi Cika pada saat pandangan pertama.
Cika masih ragu, kejadian kemaren masih membekas dikepalanya.
"Ayolah Cika, aku hanya ingin berbaik hati dengan mangantar kamu pulang, lihatlah diatas sana sudah mendung, apa kamu mau kehujanan." bujuk Macan sambil membukakan pintu mobilnya.
Tidak ingin berdebat lagi, sebelum keburu diguyur hujan lebat Cika masuk kedalam mobil Macan, duduk disebelah pria yang ketampanannya hampir setara dengan Alexander.
"Cika mulai sekarang, maukah kamu menjadi sahabatku." ucap Macan lebih santai, jauh berbeda dengan Alex yang cenderung kadar dan duka memaksa.
"Tapi tuan_"
"Jangan panggil tuan, kesanya aku sudah tua dan sangat formal."
"Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?"
"Macan atau Naga itu nama asliku, cukup panggil namaku saja."
Sepanjang perjalanan pulang, Cika ngobrol-ngobrol santai dengan naga, yang memiliki jiwa humoris. sehingga Cika sering dibuatnya ngakak layaknya sahabat seumurannya tidak sesangar wajahnya sewaktu bertemu dengan Alex.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur Lizza
lanjut
2024-05-03
0
Ryani
chika polos apa bego yah😂🤣,,,, pengen rasanya di kunyah kunyah
2023-11-01
4
Katherina Ajawaila
Chika ya pin2 bo, ketahuan Alex habis kamu jadi bubur kertas. 😡😡😡😡
2023-10-25
0