"Kamu pasti pelukis terkenal itu ya, tapi meskipun begitu kamu tetap tidak diizinkan memasuki ruangan seseorang jika pemilik nya sedang tidak ada."
"Aku adalah orang terdekat Alex, bahkan kamu pernah beberapa kali bercinta dalam ruangan ini, jadi dia tidak akan marah." Ariana sudah habis kesabaran, menghadapi Cika masih baru menjabat sebagai sekretaris tali sudah belagu. Ariana mendekati Cika sebelah tangannya maju ingin menjambak rambut gadis itu, namun tidak jadi dia berusaha mengendalikan emosinya.
"Aku tidak boleh gegabah, aku tidak mau momen indah pertemuanku dan Alex hancur gara-gara sekretaris kampungannya ini."
"Gadis norak, jangan pancing kemarahanku lagi. apa kamu mau aku minta Alex untuk memecatmu hari ini juga." ancam Ariana tersenyum sinis.
"Aku tidak takut, Tante."
"Hey apa katamu, aku minta kamu diam. sebelum kesabaranku habis," ucap Ariana sinis dengan nafas naik turun menahan emosi.
"Terserah mau ngomong apa, pokoknya sekarang Tante keluar dan tunggu tuan Alex diruang tunggu." tunjuk Cika pada sofa yang terdapat disalah satu ruangan khusus tamu. Tanpa banyak bicara lagi dan malas berdebat Ariana pergi menuju ruang tunggu dengan wajah ditekuk kesal.
Tidak lama terdengar langkah kaki yang semakin mendekat, Ariana yang tahu jika itu Alex yang datang. langsung menghampiri dan bergelayut manja di lengan kekarnya.
"Sayang, sekretaris barumu ini. sekarang sudah berani melarangku untuk masuk kedalam ruanganmu." ucap nya manja.
"Ya, itu semua atas perintahku, Ariana." balas Alex.
"Tapi aku bukan orang lain sayang, yang patut dia curigai, meskipun sekretaris barumu ini lumayan cantik. tapi terlihat kampungan, huhf....mataku sakit berlama-lama disini." rengek Ariana yang nasih tidak terima perlakuan Cika barusan.
"Sudahlah, ayo masuk." ajak Alex.
Alex tersenyum, dia sempat melirik ekspresi yang ditunjukkan Cika, meskipun pura-pura sibuk dengan laptopnya, namun ekspresi wajah sektretaris itu sangat tegang tanpa senyum. Alex tahu jika saat ini Cika tengah kesal, bahkan dia tidak melirik sedikit pun pada Alex maupun Cika.
"Dasar Mak lampir, masa dia mengatakan aku kampungan." umpat Cika, yang spontan membuat Rambo ikutan tertawa.
Sementara diruang kerja, seperti biasanya Ariana kembali bergelayut manja, dia sudah pasrah untuk bercinta kembali dengan Alex. diluar dugaan Alex tidak merespon sedikitpun sentuhanya, padahal Ariana sudah mengeluarkan jurus pamungkas yang selalu ampuh membuat Alex puas.
"Sayang, ada apa denganmu?"
"Maaf Ariana, sepertinya kamu tidak bisa menjadi partner ranjangkku lagi. kita sudahi saja semua yang pernah terjadi."
"Kenapa Alex, apa gara-gara sektretaris kampungan itu yang sudah mencuri perhatianmu?" Ariana masih tidak terima.
"Bukan, tapi aku sudah bosan berkelana dan bercinta tanpa hubungan yang jelas. sudah saatnya aku menentukan pilihan sesuai dengan hatiku."
"Maksudmu, apa kamu sudah menemukan wanita yang tepat, siapa dia Alex?"
"Kamu tidak perlu tahu, yang jelas aku merasa nyaman denganya."
"Alexander, begitu mudahnya kami mengakhiri hubungan kita.. hick... hick..."
"Hapus air mata palsu mu, apa ini cukup." Alex memberikan sebuah cek, mata Ariana langsung melotot tidak percaya dengan nominal uang yang tertera di sana.
"Sangat... sangat cukup!" mata Ariana kembali berbinar-binar bahagia.
"Mulai sekarang jangan pernah muncul lagi di kehidupanku, hubungan ranjang kita sudah berakhir."
Arina pergi meninggalkan ruangan Alex, seraya mengipas-ngipaskan lembaran cek tersebut begitu berpas-pasan dengan Cika.
***
Selepas pertemuan bisinis, Alex langsung menghampiri meja kerja Cika. nampak sekretaris kesayangannya itu sudah tertidur pulas menunggunya.
"Cika, Cika baguuun..!" bisik Alex, namun Cika malah memperbaiki posisi tidurnya, sehingga dia menjadi tidak tega untuk membangunkan kembali.
Kedua tangan Alex terangkat, siap mengendong tubuh mungil Cika menuju mobilnya. dengan sangat hati-hati takut jika gadis itu akan terbangun. dengkuran halus terdengar dari sudut bibir Cika.
Mobil Rolls-Royce meluncur membelah jalanan yang mulai sepi karena sudah larut malam, Alex memperhatikan wajah sang sekretaris yang masih larut dalam mimpi indahnya.
Tiba-tiba tangan putih mulus Cika, melingkar memeluk pinggang Alex dengan hangat nya dari arah samping, Cika memperlakukan layaknya guling yang empuk. seakan menimati kehangatan ditengah dinginnya malam. deru nafas Cika terasa hangat menyentuh kulitnya.
Mobil sudah berhenti di depan pintu utama, Alex kembali menggendong Cika menuju kamar. membuat semua ternganga tidak percaya, jika Cika diperlakukan bak putri oleh tuan muda mereka yang biasanya sangat cuek.
"Huuuffp....tubuhmu berat sekali, aku pikir kamu seringan kapas."
Alex membaringkannya dengan perlahan, membantu membuka sepatu lalu memindahkan tas yang masih melekat. Alex ikut berbaring disebelah Cika yang tidak terbangun sama sekali oleh pergerakannya. lama Alex memandang Cika yang tidur dengan ekspresi lelah, timbul rasa iba, cinta, sayang dan perasaan lainya yang sulit diartikan.
"Cika, kamu adalah wanita pertama yang membuat jantungku berdetak. perasaan aneh yang membuatku selalu ingin didekatmu, aku tidak ingin ada pria lain selain aku yang menyentuh dan membelaimu. aku ingin aku yang pertama dan terakhir untukmu, Cika. apakah kamu juga merasakan hal yang sama denganku....atau hanya keterpaksaan dan uang?" bisik Alex, dia yakin jika Cika tidak akan mendengar isi hatinya. sebelum pergi Alex merapikan selimut tebal yang menutupi tubuh Cika.
Alex yang semula sangat ngantuk, tiba-tiba kembali melek. dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang masih lengket karena seharian ini dia belum mandi sama sekali. dia ingin menyegarkan kembali pikiran nya dengan berendam di bactub. aromaterapi yang tercium membuat perasaan Alex menjadi tenang.
Cika membuka matanya, mengedarkan pandangannya. "Siapa yang sudah membawa ku kedalam kamar. apakah tuan Alex yang sudah melakukan nya?" bathin Cika.
Merasa sudah segar kembali, Alex menyudahi mandinya, dia mengunakan handuk kecil untuk melilit bagian bawahnya, sedang satunya lagi untuk mengeringkan rambut pendek nya. tetesan air mengenai dada bidangnya sehingga terlihat basah.
Cika kembali berpura-pura tidur ketika mendengar pintu kamar mandi seperti dibuka seseorang dari dalam, Alex berjalan keluar dengan santainya menuju lemari pakaian. Alex tidak menyadari jika Cika diam-diam memperhatikan dan mengagumi bentuk tubuhnya.
"Tuan Alex terlihat sangat seksi dengan bentuk tubuhnya yang Wah!." bathin Cika, menyembunyikan seluruh tubuhnya dibalik selimut tebal. dia merasa canggung memikirkan akan berdua kembali tidur berdua bersama Alex dikamar yang berukuran luas tersebut.
Cika kembali mencoba mengintip dengan menyibak sedikit selimut namun kembali dia membatalkan niatnya. begitu melihat sang bos dengan santainya melepas handuk lalu sengaja melemparkan kesembarang arah.
"Kyaaa...... Tuan, tidak bisakah kamu ganti pakaian didalam kamar mandi saja!" Cika kembali menenggelamkan wajahnya dalam selimut. Sedangkan Alex hanya tersenyum, memperhatikan Cika yang masih malu-malu.
"Bukankah kita sudah pernah bercinta, untuk apa masih malu."
"Pokoknya aku malu dan tidak ingin lihat."
"Hey jangan pura-pura lupa untuk menghindariku, tidak mau melihat, tugasmu disini untuk melayaniku." Alex berjalan semakin mendekat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur Lizza
lsnjut
2024-05-03
0