"Maaf sudah membuatmu ketakutan." Alex mencium puncak kepala Cika dengan perasaan bersalah.
Perlahan Alex mendekat kan bibir nya hendak menikmati bibir mungil Cika. namun teriakan Cika yang tiba-tiba mengacaukan segalanya, begitu melihat sesuatu yang tidak ingin dia lihat, untuk pertama kalinya dengan pasangan yang bukan muhrimnya.
"Kenapa berteriak?"
"Iii..it,.... itu... itu menakutkan sekali, tuan." sambil menunjuk kebawah dengan mata tertutup.
"Mulai sekarang, kamu harus terbiasa melihat benda tersebut, mengerti!!" balas Alex, Cika akhirnya menganggukkan kepalanya pelan, meskipun hatinya menolak.
"Sekarang buka matamu!" perintah Alex, Cika membuka perlahan sambil menggeser posisi duduknya.
"Mau kemana? siapa yang menyuruhmu bergeser."
"Aku cuma mau membantu untuk menggosok punggungmu, tuan." alasan Cika merasa lebih nyaman jika berada di belakang Alex.
"Baiklah, awas saja jika pijitan mu tidak enak! aku terkam kamu." ujar Alex seperti ekspresi harimau ingin menerkam mangsanya.
"Ini orang urat malunya pasti sudah putus semua, sehingga dia terlihat sangat enjoy memamerkan benda itu padaku." gumam Cika dalam hati, sambil mengepalkan tinjunya ke arah kepala Alex dari belakang.
"Lakukan saja tugasmu dengan baik, apa perlu kamu saya suruh untuk memijid ini sekalian.!" sambil tersenyum licik Alex menunjuk pusaka kebanggaannya.
Refleks Cika menundukkan mukanya, yang sudah memerah seperti kepiting. saat Alex berdiri menuju Shower, dan membilas tubuhnya.
"Ada pertemuan bisnis di klub malamku, bersiaplah." ajak Alex.
"Tuan, tidak bisakah aku menunggumu dirumah saja." pinta Cika.
Gadis itu masih trauma dengan tempat tersebut, terakhir dia memasuki klub saat tubuhnya akan dilelang oleh Sugiono dan kawan-kawan. Kali ini apalagi yang akan terjadi, Alexander tidak menjawab, itu artinya Cika harus tetap ikut bersamanya malam ini.
Suara hingar-bingar musik memekakkan gendang telinga, Cika melirik kiri-kanan merasa tidak nyaman, dia mengeratkan pegangan tangannya dilengan Alex. begitu memasuki sebuah ruangan khusus tempat pertemuan Alex dan rekan-rekan bisnisnya yang lain.
Cika duduk berjarak beberapa buah kursi saja dari Alex, dia tidak ingin mengganggu berjalannya rapat. yang merupakan sisi lain bisnis gelap yang dijalani Alex selama ini.
Cika memainkan ponselnya agar tidak merasa bosan, setiap gerak-gerik Cika tidak luput dari pengawasan Lisa. gadis itu tersenyum licik sambil memikirkan sebuah rencana untuk menyingkirkan Cika dari kehidupan Alex.
Lisa membisikkan sesuatu pada salah seorang pelayan, setelah itu dia kembali masuk kedalam ruangan. berlagak seolah-olah tidak ada kejadian.
"Silahkan nona, ini minuman anda."
"Terimakasih." jawab Cika tanpa menoleh, karena tengah asik membalas chat-chat group SMAnya dulu, sambil sesekali tertawa cekikikan, melihat hal itu Lisa semakin muak.
Merasa tenggorakanya kering, tanpa pikir panjang lagi Cika langsung meneguk minuman dihadapannya. meskipun minuman tersebut terasa asing dan aneh.
Bibir tipis Lisa langsung menyeringai begitu melihat gelas Cika sudah kosong, sedangkan Alex masih terlibat dalam pembicaraan bisnis yang terlihat semakin memanas, bahkan pria itu sempat beberapa kali mengerbak meja dihadapannya.
"Mampus kamu Cika, akan aku buat kamu buruk dimata kak Alex."
Lisa semakin senang begitu melihat Cika yang mulai pusing, meskipun dia masih berusaha untuk menjaga kesadarannya.
"Aku harus mencuci muka ke toilet." beberapa kali Cika mengerjakan matanya berusaha untuk melawan rasa pusing dan ngantuk yang tiba-tiba menyerangnya, dia berjalan menuju toilet wanita dengan sempoyongan.
"Target sedang menuju toilet wanita, segera beraksi." Lisa mengetik dan edan singkat, namun belum sempat dia mengirimkan isi pesan tersebut, Alex memanggilnya.
"Lisa, tetap awasi Cika. aku tidak mau dia kenapa-napa."
"Tapi dia cuma pergi ke toilet kak." sanggah Cika tidak suka melihat sikap Alex yang begitu perhatian pada Cika.
"Apa? kamu berani membantah ku?"
"Tidak kak, baiklah saya akan ikuti Cika."
"Rambo, kamu juga keluar temani Lisa."
"Baik tuan."
"Gagal sudah rencana yang sudah atur, tenang Lisa. masih banyak waktu dan kesempatan untukmu menyingkirkan Cika." Lisa tersenyum jahat, tanpa disadarinya Rambo tengah memperhatikan ekspresi wajahnya.
"Lisa, apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak, aku ngak ngak mikir apa-apa. pergi sana jangan ikutin aku terus."
"Sapa juga yang mengikutimu, aku disini diperintahkan tuan Alex untuk mengawasi kalian berdua." jawab Rambo santai menunggu dengan jarak beberapa meter dari posisi toilet wanita.
"Aku heran, pelet apa yang sudah diberikan perempuan kampung ini pada kak Alex. sehingga dua buah berubah dratis seperti ini." umpat Lisa, sedangkan Rambo tersenyum menanggapi kecemburuan Lisa.
"Coba sedikit saja kamu melihatku Lisa, betapa tulusnya aku mencintaimu." bathin Rambo.
Tidak lama terdengar keributan dari dalam toilet wanita, membuyarkan lamunan Lisa dan Rambo yang larut dengan pikiran masing-masing.
"Cika?" ucap mereka berbarengan.
Mereka langsung masuk, nampak Cika dengan rambut acak-acakan jatuh di depan pintu toilet, dia terus mencerai tidak jelas.
"Sepertinya ada seseorang yang ingin mencelakai nona Cika, dengan mencampur minumannya." balas Rambo segera melaporkan pada Alex, dia tidak berani menyentuh Cika karena sudah pernah mendapatkan ancaman dari Alex.
"Brengsek, siapa yang sudah berani berbuat seperti ini pada Cika." umpat Alex dan segera menggendong Cika menuju kamar.
"Mungkin salah seorang utusan dari geng musuh-musuhmu." ucap Lisa berusaha menghilangkan jejak.
"Awas kamu Macan, aku akan buat perhitungan denganmu." Alex mengepalkan tangannya emosi.
"Panas....panas...tuan tolong aku." Cika berusaha melepas pakaiannya sendiri.
"Keluar kalian, tinggalkan aku berdua saja dengan Cika." ucap Alex. Rambo menyikut lengan Lisa, memberi kode agar ikut keluar bersamanya. Lisa mengentalkan kakinya kesal, bukan akhir seperti inilah yang dia inginkan.
Alex memperhatikan Cika yang tersiksa dengan obat perangsang, namun dia juga tidak bisa berbohong jika gairah kelelakiannya semakin bergeloranya melihat tubuh Cika yang setengah telanjang berusaha menggodanya.
"Memang momen ini yang selalu aku tunggu-tunggu Cika, tapi dalam kondisimu yang sadar. kalau kamu seperti ini sama saja aku telah memperkosamu, dan aku merasa tidak tertantang menaklukkan orang tidak berdaya seperti ini."
Alex menggendong tubuh Cika menuju kamar mandi, mengisi bactub dengan air dingin lalu merendam Cika yang terus meronta dan mendesah meminta Alex membantunya. Cika semakin berani mencium bibir Alex dan melumatnya semakin dalam. tangan Alex mulai bermain nakal, mengelus kulit putih mulus tersebut.
"Kamu sangat cantik dan begitu menggoda Cika, aku tidak tahan lagi untuk menikmatimu."
Alex membenamkan wajahnya, menelusuri setiap lekuk tubuh Cika yang membuatnya semakin menggila, nafasnya semakin memburu dan terasa memanas seperti aliran darah di seluruh tubuhnya, Alex ingin segera menyatu bersama tubuh Cika.
"Tahan Alex, tubuh Cika terlalu indah untuk dilewatkan..aku harus bermain-main dulu."
"Kamu menyukai permainanku baby?" bisik Alex, yang langsung dianggukkan Cika.
"Teruskan!!! aaaagghhh...!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur fadillah
Heeeeeeemmmm.....
2024-06-06
0
Nur Lizza
Lisa angek 🤣🤣🤣🤣
2024-05-03
0