Alex tersenyum mendengar penuturan Cika itu, kemudian menarik tangan Cika dan menggenggamnya erat, berjalan menuju kamarnya.
Cika menatap takjub kamar luas dan
mewah di hadapannya, berbagai miniatur berkelas tersusun rapi di setiap sudut ruangan.
"Tuan apa kita tidur satu kamar?"
"Ya, apa kamu mau menolak lagi? seharusnya kamu bersyukur. Karena banyak wanita cantik yang mengantri ingin tidur denganku."
"Kalau begitu, aku tidur di sofa saja. Sepertinya lebih nyaman dan menyenangkan." Cika berjalan cepat menuju sofa, namun Alex lebih dulu menarik sebelah tangannya.
"Disini aku yang menentukan, kamu tidak diberi kuasa untuk menolak."
"Tuan, cuma tidur saja kan tidak lebih?"
"Terserah aku, karena sekarang kamu sudah menjadi peliharaanku, kelinci kecil yang imut. "
"Sejak kapan aku jadi peliharaannya, tadi dia ngomong apa? Kelinci kecil yang imut? Panggilan yang sangat jelek." Gumam Cika mengepalkan tangannya kesal karena sikap Alex yang sesuka hati.
"Ayo cepat kenakan bikini, aku ingin menikmati suasana pantai berdua denganmu." Perintah Alex seraya memberikan paper bag ketangan Cika.
“Aku...aku...., malu tuan. masa memakai pakaian transparan dan ininya lagi ada bolong-bolong, seperti habis dimakan tikus.”Cika mengangkat bikini berwarna merah hati, sambil mendekat kan kewajahnya dengan tatapan mata melotot, seumur-umur Cika belum pernah memakai bikini. sontak hal ini membuat Pria tampan itu tertawa lepas sesuatu yang jarang sekali dilakukannya.
“Duuuh gimana ya, bisa-bisa aku masuk angin nantinya?" Ucap Cika sambil berfikir cara terbaik dan aman memakai baju yang menurutnya tidak layak pakai, sebagai wanita, Cika merasa direndahkan tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak untuk melawan ataupun membantah Alex, karena uang pria itu jauh lebih berkuasa.
"Cepat, aku tidak mau menunggu terlalu lama."
Mendengar nada suara Alex yang mulai meninggi, Cika segera berlari menuju kamar mandi membawa paperbag berisi bikini dan beberapa buah lingerie seksi model terbaru, Cika tidak tahu jika Alex sudah mempersiapkan segalanya.
"Aku harus menghubungi Anye, minta pendapatnya."
Cika mengeluarkan ponselnya, menghubungi sahabat baiknya Anye. Karena saat ini pikirannya benar-benar buntu.
"Hallo Cika, bagaimana liburanmu dengan Presdir mesum itu?" Tanya Anye sambil tertawa meledek kesialannya.
"Sangat parah, kamu tahu nggak dia memintaku memakai bikini untuk menemaninya berjalan di tepi pantai."
"Ha...ha... baguslah, aku yakin dia bakal klepek-klepek melihat tubuh indahmu." Ucap Anye.
"Tapi aku belum siap dengan semua ini, Anye. Kamu tahu sendiri impianku yang akan menyerahkan tubuh dan cintaku untuk suamiku nantinya." Ucap Cika berubah melow teringat Cikco cinta pertamanya dulu.
"Jika kamu belum siap, berterus terang saja. Masih banyak perusahaan lain yang bisa memperkejakan dirimu."
"Tapi aku sudah terikat, Alex sudah membiayai pengobatan ibuku, bahkan jumlahnya tidak sedikit. Aku tidak akan mampu melunasinya dalam waktu singkat."
"Cika, saranku sih sebaiknya kamu memanfaatkan keadaan. Alex bukanlah orang sembarangan, jadi selama kamu bekerja dengannya, pandai-pandailah merayu agar kamu mendapatkan banyak uang, begitu lepas darinya, kamu bisa menjadi kaya raya sehingga perjuanganmu tidaklah sia-sia."
"Tapi aku belum berpengalaman, apalagi soal bercinta."
"Ikuti nalurimu dan nikmati saja setiap sentuhannya, bayangkan sejumlah uang tergeletak dihadapanmu sehingga kamu tidak terbebani dan merasa terpaksa melayaninya." Ucap Anye.
"Kamu benar Anye, aku bosan hidup serba kekurangan. Aku harus bisa memanfaatkan keadaan ini." Cika Kembali bersemangat.
Tok!tok!
"Cika, kamu tidur apa ganti pakaian. Kenapa lama?" Teriak Alex.
"I...iya sebentar tuan." Cika menyembunyikan ponselnya dan segera mengenakan bikini dengan caranya sendiri.
Diluar Alex mulai resah, dia sudah tidak sabaran lagi menunggu Cika memakai bikini dengan warna kesukaannya. Alexandre mulai berfantasi liar seraya membayangkan wajah cantik Cika.
Ceklek!
Terdengar handel pintu kamar mandi terbuka, detak jantung Alex sudah mulai berpacu dengan gairah yang membara, meskipun belum melihat Cika melangkah keluar. tapi Alex sudah bisa membayangkan tubuh indah Cika.
"Bagaimana tuan, apa aku sudah terlihat seksi?"
Alex segera berbalik menatap Cika, matanya membulat seperti berusaha menahan tawanya.
"Tuan, kenapa Anda melotot?"
"Aku memintamu memakai bikini dengan benar, tanpa ada kaos dalaman seperti ini. Cepat ganti dan jangan buat aku lebih marah lagi." Teriak Alex seraya menarik baju dalaman Cika yang terlihat lucu.
"Tuan ini model terbaru, bahkan ada motif kelincinya juga."
"Tidak!"
Cika kembali masuk kamar mandi dan memakai nya dengan benar, dia menatap pantulan wajah dan tubuhnya yang bisa dikatakan polos, karena yang melekat dapat dikatakan tidak berfungsi dengan benar.
“Seumur hidupku, aku belum pernah disentuh laki-laki, apa lagi dengan berpenampilan seperti ini. Coba disini ada pintu ajaib Doraemon, pasti aku langsung ngumpet disana. Atau Matra agar bisa menghilang seketika, bagaimana ini.....aku sangat malu, apalagi bagian ini yang tengah-tengahnya dibolongin" Cika tersenyum antara malu dan lucu dengan penampilan nya sendiri.
Ceklek! pintu terbuka, mata Alex membulat sempurna, dia begitu terkesima melihat penampakan bidadari cantik dan sangat seksi yang tengah tersenyum manis berjalan kearahnya. Sehingga Alex tidak menyadari jika bidadari tersebut sudah ada dihadapannya dengan jarak yang sangat dekat. Saking dekatnya Alex bisa mendengar detak jantung mereka yang saling berdetak, seirama dengan jakun Alex yang turun naik menelan Saliva nya.
"Kenapa Cika terlihat berbeda, dengan para wanita yang dekat denganku selama ini." Alexander semakin penasaran dengan sosok Cika yang mulai mengusiknya.
"Cika, apa kamu tidak takut aku berbuat macam-macam dengan pakaianmu seperti ini?"
Pertanyaan Alex membuat bibir Cika bergetar, keberaniannya semula mulai goyah, sejatinya dia benar-benar takut. Tenggorokannya terasa kering, Namun dia berusaha menyembunyikan dengan tetap tersenyum.
"Jawab, jangan diam saja!"
"I....iya, saya takut pada tuan."
"Bagus, saya suka mendengarnya."
Alexander menciumi tengkuk lalu menjalar hingga leher jenjang Cika, kedua tangannya mengunci pergerakannya.
"Jadilah Wanitaku, Cika."
Bisikan suara lembut Alex yang penuh gairah, membuat tubuh Cika gemetaran, gadis itu semakin ketakutan. Ingin rasanya dia mendorong kasar tubuh Alex lalu mencakar- cakar wajahnya dengan jurus kucing ngamuk, tapi tidak bisa dia lakukan.
Wangi tubuh Cika membuat Alex semakin memperdalam ciumannya, Cika semakin pucat keringat dingin membasahi tubuhnya, kata hati terdalamnya ingin berteriak memaki-maki Alex, yang bertolak belakang dengan pikirannya yang menginginkan uang agar bisa hidup kaya setelah terlepas dari Alex.
"Kamu sakit, kenapa pucat begini?" Alex menghentikan ciumannya.
"Ini first Kiss saya tuan, anda sudah merebutnya."
"Apa? Aku tidak percaya. Wanita itu sama saja bahkan aku tidak yakin jika kamu masih perawan." Alex tersenyum merendahkan.
Alexander kembali mencium bibir Cika dengan begitu lembut, sehingga detak jantung Cika seperti genderang mau pecah melompat ke sana kemari. Dia ikut terbawa suasana dan terlupa ucapan Alex barusan yang begitu menyinggung perasaannya.
"Bernafaslah dengan benar."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur Lizza
cakar aja Cika muka Alex🤣🤣
2024-05-01
0
Mimik Pribadi
Cikaaa,,,,aku jga ikut ketakutan,takut Bos mu kebablasan mbobol 😬😬
2023-12-03
2
Aidah Djafar
duuuh Alex jngn ngebobol donk nikahin dulu c Cika 🤦🙃😁
2023-11-27
1