"Lancang sekali bibirmu menyebut tentang ibuku, tahu apa kamu tentang perempuan jahat itu. Hah jawab?"
Alex mencekik leher Cika dengan kasar, tanpa peduli jika Cika sudah terbatuk-batuk dan kewalahan untuk bernafas.
"Sa....sakiiit tuan, ma... maafkan saya." ucap Cika tersendat-sendat.
"Seumur hidupku, baru kamu wanita pertama yang berani-beraninya menyebut kata ibuku untuk perempuan itu!."
Alex semakin kesetanan, setelah mendorong kembali tubuh Cika, dia mengeluarkan sebuah pistol yang selalu dia selipkan di balik panggangnya.
"Tuan, anda mau apa dengan senjata berbahaya itu? I...iiini bukan pistol benarankan tuan?" tangan Cika gemetaran menunjuk benda tersebut.
Cika semakin ketakutan, air mata tidak berhenti membasahi wajah cantiknya. dia benar-benar takut membayangkan jika senjata tersebut tiba-tiba meledak di kepalanya, dia tidak menyangka ucapannya bakal membuat Alex begitu marah.
"Menurutmu ini benda apa? pistol air?" ucap Alex antara marah, gemas dengan sikap polos Cika.
"Aku mengajakmu ketempat ini untuk bersenang-senang, tapi baru satu hari kamu sudah membuat banyak masalah, dasar perempuan tidak berguna." umpat Alex yang membuat Cika benar-benar sedih dan terus menangis.
"Stop, aku paling tidak suka perempuan cengeng." teriak Alex seraya memainkan senjatanya, seakan benda tersebut sudah siap meledak. Cika menengadahkan kepalanya berusaha menahan air mata, bahkan kedua telapak tangannya digunakan untuk menutup mulutnya agar isak tangisnya tidak terdengar lagi oleh Alex. hanya bahunya yang terus berguncang menandakan jika tangisan kesedihannya belum berhenti.
"Malam ini tidurlah dilantai sebagai hukumanmu." ucap Alex sebelum pergi meninggalkan kamar hotel dengan aura kekejaman terpancar dari matanya. Cika hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa berani membalas tatapannya.
"Ibu hick..hick, aku bekerja keras sampai seperti ini hanya demimu, ibu. tapi kenapa pria jahat itu seakan membenci ibunya sendiri." Cika melihat lehernya yang memerah melalui pantulan kaca. dia tidak menyangka dibalik ketampanan seorang Alexander, dia memiliki pribadi yang kasar.
"Tuan Alexander sulit ditebak, apa dia memiliki kepribadian ganda?" pikir Cika, dalam sekejap mata senyuman bisa berubah menjadi amukan, dalam hitungan detik kelembutan sikapnya langsung berubah kasar.
Sesekali Cika masih terisak-isak, namun dia masih bersyukur Alex tidak benar-benar menembaknya melainkan hanya gertakan saja. ada rasa penyesalan karena sudah terjebak dalam kehidupan Alex yang keras, tapi Cika kembali pada prinsipnya semula, demi kesembuhan ibunya. dia rela melakukan apapun meskipun itu nyawanya sendiri sebagai taruhannya.
***
Alex yang masih kesal memasuki club, dia ingin minum-minum untuk menenangkan pikirannya kembali.
"Cika, suatu saat kamu akan mengetahui kenapa aku bisa berbuat kasar terhadap perempuan. masa laluku begitu menyakitkan sehingga aku tidak ingin mengingatnya kembali."
Selang satu jam Alexandre kembali kedalam kamar hotel seraya mengandeng seorang wanita cantik.
"Sayang, siapa perempuan itu?"
"Dia sekertarisku, yang sedang mendapatkan hukuman, karena kelancanganya."
"Kenapa pakaiannya robek-robek?" wanita yang sering disapa Sena tersebut tersenyum sinis menatap Cika yang tertidur dilantai.
"Mending Robek, dari pada tidak pakai baju sama sekali."
"Sayang, aku sangat siap tidak memakai apapun dihadapanmu." bisik Sena.
"Baiklah, tapi bangunkan gadis itu terlebih dahulu. aku ingin dia bisa belajar darimu cara menyenangkan aku." perintah Alex.
"Oke sayang."
Sena melenggang lenggokan tubuhnya berjalan kearah Cika.
"Hey Bagun kamu!" menggoyang tubuh Cika yang tertidur karena kelelahan menagis.
"Siapa kamu?" Cika memaksa untuk membuka matanya.
"Aku Sena, teman tidur tuan Alexander. perhatikan cara kami bercinta agar kamu bisa menyenangkan bosmu, bukanya membuat tuan Alex kesal dan marah saja."
Sena duduk diatas pangkuan Alex, lalu mulai berciuman penuh gairah, Cika benar-benar terkejut dengan kelakuan gila bos barunya itu. ingin dia menutup mata, namun rasa takut pada Alex membuyarkan keinginannya tersebut. Alex tersenyum dia tahu betapa kesal dan marahnya Cika saat ini padanya.
Tubuh Cika panas dingin, karena dipaksa untuk menonton adegan yang seharusnya tidak dilihatnya.
"Tuhan! mata polosku sudah ternodai!" rintih Cika memejamkan mata.
"Hey buka matamu lebar-lebar, awas jika sampai ada sedikitpun adegan kami yang kamu lewatkan." ancam Alex. Sena tersenyum puas melihat ketidakberdayaan Cika, jauh di lubuk hatinya Sena sangat iri pada kecantikan dan posisi Cika yang menjadi sekretaris pribadi Alex.
"Sudah cukup, aku ingin Cika yang meneruskan permainan ini." Alex mendorong tubuh Sena, agar turun dari pangkuannya. Alex tersenyum nakal melihat Cika yang ketakutan dan panik.
"Tapi sayang, kita baru pemanasan."
"Pergilah, aku akan membayar lebih kerjamu malam ini."
"Terimakasih tuan." Sena menyambar tasnya meninggalkan kamar, dia tersenyum senang membayangkan sebentar lagi saldo rekeningnya membengkak.
"Buka pakaianmu, lalu menari erotis lah dihadapanku."
"Saya malu tuan, karena itu seperti manusia zaman primitif."
"Oya, kalau begitu aku akan mengajakmu jalan - jalan ke zaman itu, sambil menikmati hukuman mu." balas Alex yang semakin tertantang melihat sikap penolakan Cika, karena selama ini banyak wanita cantik yang sukarela berlomba-lomba menyerahkan diri mereka pada Alexander.
Alex tidak bisa menahan lagi, dia mendekati tubuh Cika mencium bibirnya, semakin dalam dan memainkan dengan buas. Cika merasa geli karena belum berpengalaman soal berciuman.
"Aaaahhk.,, apa yang kamu lakukan."
"Tuan terus menekan bibirku, seperti mencari sesuatu dalam mulutku ini geli tuan." ucap Cika mengerjapkan matanya.
"Dasar bodoh, berciuman saja tidak bisa, bukankah kamu sudah pernah berciuman sebelumnya, kenapa masih tidak bisa-bisa." ucap Alex kembali kesal.
"Maaf tuan."
"Apa kamu tidak memperhatikan aku dan Sena barusan?" tanya Alex kesal, Cika menganggukkan kepalanya pelan.
"Kenapa kamu masih bersikap kaku seperti ini! sehingga aku tidak akan puas, melainkan seperti ingin memerkosamu secara paksa dan penuh tekanan." bentak Alex, dengan wajah kesal Pria itu bangkit lalu kembali mengenakan pakaian nya.
"Maafkan aku tuan, kita bisa mencobanya lagi." ucap Cika, menghempas kasar bokongnya dipangkuan Alex.
"Shiiit sial, kamu bisa mematahkan alat reproduksi ku, jika cara bercintamu seperti ini."
Dengan kesal Alex merebahkan tubuhnya di kasur, mungkin tidur adalah pilihan terbaik untuknya saat ini.
"Kenapa masih berdiri, apa mau aku tambahin hukumanmu?"
"Tidak tuan." Cika segera berlari dan tidur disebelah Alex.
"Jika belum bisa melayaniku, paling tidak hangatkan aku dengan tubuhmu."
"Bagaimana caranya, tuan."
"Cika... Cika, kamu kapan pintarnya sih. cepat peluk aku!" pinta Alex, seperti kucing kecil yang imut, Cika menggeser tubuhnya dan menyandarkan pelan kepalanya didada bidang Alex. rasa capek, stress karena perlakuan aneh Alexander, membuat Cika langsung tertidur begitu juga dengan Alex.
Suara nyanyian burung-burung yang saling bersahutan, ditambah lagi sinar cerah matahari membuat suasana pagi hari terasa begitu hangat. perlahan Cika membuka matanya seraya mengeliat pelan untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
"Tidurlah, aku masih ingin memelukmu."
Cika kembali berbaring disamping Alex, meskipun matanya tidak bisa untuk melanjutkan tidurnya. hembusan nafas Alex terasa hangat mengenai kulit wajah Cika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur Lizza
lanjut
2024-05-01
0
Nami chan
😭 kejam bgt sadis.. aku sakit hati
2023-11-02
1
Katherina Ajawaila
dasar, bos gendeng kaya piskopat aja nasip ya jadi org kecil✌✌✌
2023-10-25
1