"Kenapa yang dipijit tangan dan kepalaku saja." gerutu Alex kesal.
"Terus mau tuan, aku pijit apanya." malas melihat seringai mesum Alex yang selalu ingin mewujudkan bayangan ternakalnya bersama Cika setiap saat.
"Bagian ini, awas jika tidak bisa menyenangkan ku." sifat mesum Alex kembali kumat setiap berduaan dengan Cika diruang kantor.
"Aduuh sakiiit! kamu bisa mijid nggak sih?" Alex merasa benda pusakanya seakan ingin patah diremas Cika.
"Maaf tuan, soalnya aku tidak ahli dalam hal mijid memijit yang beginian." menarik kembali tangannya.
"Kelakuan tuan Alex bukan gila lagi, tapi sudah sangat gila. seumur-umur baru tahu jika ada orang seperti ini." gumam dalam hatinya.
"Kamu itu wanita, seharusnya bisa memperlakukannya dengan belain yang lemah lembut, coba kamu perhatikan cara orang bercinta, dan memuaskan pasangannya." gerutu Alex sambil membuka layar ponselnya lalu memperlihatkannya pada Cika.
Mata polos Cika langsung membulat "Ih jijik... aku tidak mau melakukannya." Cika menunjuk salah satu adegan mengulum permen.
"Apa sekarang kamu sudah siap untuk mempraktekkannya?"
"Siap apanya tuan? justru aku kasihan melihat mereka yang sudah ngos-ngosan. kenapa tidak berhenti saja dulu kan kasihan cewek itu terlalu memaksakan dirinya."
"Dasar tolol kamu Cika, cepat lakukan seperti mereka."
"Maaf tuan, aku tidak bisa." Jawab Cika yang sesungguhnya merasa jijik, seraya membayangkan bagaimana jika dia keselek oleh benda besar dengan ukuran king' size tersebut. tiba-tiba dia kembali tersenyum begitu mendapatkan ide untuk mengalihkan perhatian Alex untuk sesaat.
"Tuan..Rambo masuk ...!" Teriak Cika menunjuk pintu, refleks Alex menoleh ke arah pintu.
"Mana?" ucap Alex semakin kesal, melihat ke arah Cika yang malah cengengesan.
"Maksudnya, gimana kalau tiba-tiba Rambo ataupun Lisa masuk, lalu menyaksikan kita seperti manusia primitif ini?"
"Aku sudah mengunci pintu nya, lagian kalau Rambo berani masuk, akan aku potong sosis keramatnya itu biar dia tahu rasa dan tidak akan pernah merasakan seperti."
Cika menundukkan kepalanya, usahanya kembali gagal menjadi sekertaris Presdir dengan nilai tingkat kemesuman mencapai level seratus ini. tidak seindah yang dibayangkan sebelumnya.
"Pusing menghadapimu, Cika. cepat tutup celanaku kembali. aku ingin rapat." perintah Alex kesal, gairah yang semula begitu besar hilang seketika. dia menghempaskan tubuhnya kesal dengan sikap Cika.
"Tapi tuan, tapi resletingnya maceeett!!"
"Apa, kenapa bisa macet, ini celana mahal ratusan dollar. bagaimana aku bisa memimpin rapat jika ini nonggol terus."
"Nggak tau juga tuan." dengan tangan gemetaran Cika kembali berusaha untuk menaik-turunkan namun tetap tidak bisa. Cika mulai keringat dingin melihat Alex beberapa kali memukul jidatnya sendiri frustasi melihat kecerobohan Cika.
"Satu...dua...ti....tigaaaa. kreeek!!!" menarik sekuat tenaga hingga terdengar bunyi sesuatu yang robek diikuti dengan teriakan keras Alex.
"Siallan kamu Cikaa....!!!" wajah Alex merah padam menahan sakit.
Melihat hal itu Cika mundur ketakutan, melirik kiri dan kanan mencari celah untuk segera kabur dari amukan Alex.
"Kamu ingin mencelakai benda pusakaku ini, punya dendam apa kamu sama punyaku ini, Cika." maki Alex hilang kesabarannya. sambil melompat-lompat seperti kodok saking sakitnya. lalu pergi keruang ganti.
"Maaf tuan, saya benar-benar tidak sengaja."
"Pasti benda pusakanya masih perih." bathin Cika cekikikan dalam hatinya.
"Napa senyum-senyum!"
"Itu bapak baik-baik saja kan?"
"Bersiaplah Cika, aku akan memberikan hukuman padamu setelah kembali dari ruangan rapat." ancam Alex. belum sempat Alex melangkah pergi, Cika kembali berteriak histeris.
"Jambul brengsek!"
"Tuan jangan marah-marah melulu suer ini murni kecelakaan kerja tanpa ada faktor kesengajaan dariku." bujuk Cika mengatupkan kedua tangannya memohon, mata bulatnya dikedipkan beberapa kali. Amara Alex yang semula memuncak kembali luluh setelah melihat dua bola mata Hitam yang menarik perhatiannya saat awal perjumpaan mereka.
"Sangat imut dan menggemaskan." bathin Alex melanjutkan langkahnya. entah sejak kapan rasa itu muncul, yang jelas setiap tingkah konyol Cika terasa sangat menyenangkan.
"Oke, kita lihat saja nanti."
Cika mempercepat langkah kakinya, mengikuti Alex menuju ruangan rapat, dimana semua orang sudah menunggu kedatangan sang big bos. dengan santainya Cika duduk bersebelahan dengan asisten pribadi Rambo, membuat tatapan Alex semakin tajam tertuju kearah mereka berdua.
"Nona Cika, silahkan duduk disebelah tuan Alex." ucap Rambo merasa salah tingkah takut menjadi bahan amukan sang bos nantinya, karena dia tahu jika posisi Cika sekarang begitu dispesialkan.
"Oke, rapat langsung kita buka."
Semua Perseta rapat mulai mempersiapkan diri mereka masing-masing, aura kepemimpinan Alex mulai terlihat dingin dan mengintimidasi, sehingga suasana semakin mencekam menandakan jika ada masalah yang terjadi diperusahaan.
***
Selesai rapat, Alex pergi meninggalkan kantor bersama Rambo. menuju suatu tempat untuk menyelesaikan sengketa tanah yang akan dibeli Alex. lokasi yang strategis membuat Alex semakin berambisi untuk mendapatkan lokasi tersebut untuk ladang bisnisnya yang baru.
Cika membulat matanya, begitu melihat seorang wanita cantik berjalan melenggang lenggokan tubuhnya menuju ruangan kerja Presdir.
Cika memperhatikan penampilannya sambil menyipitkan mata, merasa kenal dan pernah melihatnya. rambut panjang lurus dengan warna kecoklatan, hidungnya mancung dan kulit putih bersih seperti bule. namun terlihat sedikit angkuh dan sombong.
Cika terus menatap kagum wanita cantik itu, dengan mengatur kedua tangan nya. seakan tidak percaya dengan penglihatan bahwa yang sedang berdiri dihadapan nya ini seorang pelukis terkenal, yang pernah disorot media dan menjadi tren topik berita di televisi. Cika ingat saat itu dia begitu terpesona dengan penampilan memukau seorang Ariana.
Namun yang ditatap malah membalas dengan tatapan dan plototan tajam mata nya.
"Siapa kamu?"
Tanya Ariana angkuh sambil mengernyitkan kening bingung dan menatap Cika dari ujung kaki sampai kepala. wajah cantik, rambut bergelombang dan kulit putih bersih, seperti terawat semua.
"Jawab aku, kamu siapanya Alexander?" Ariana sudah mulai kesal.
"Aku, Cika. lebih tepatnya sekretaris tuan Alexander."
"Apa Alex ada di ruangannya, aku ingin bertemu."
"Tidak ada nona, dia sedang ada pertemuan bisnis diluar."
"Kalau begitu, aku akan menunggu Alex didalam ruangannya." Arian berusaha masuk namun dicegat oleh Cika.
"Hey, nona cantik. tidak boleh main masuk saja kedalam ruangan Presdir." Cika mengikuti langkah Ariana kedalam, namun tiba-tiba Ariana memutar balik tubuhnya, alhasil tubuh mereka bertabrakan.
"Aduuh!" Cika memegang jidatnya yang sakit.
"Kamu, ngapain mengikutiku." Ariana mulai kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur Lizza
ulet bulu dtng
2024-05-03
0
Mimik Pribadi
Kamu hrs tahan banting utk bertahan Cika karna bnyk wanita disekeliling Alex,,,,,🤭🤭
2023-12-03
0
Katherina Ajawaila
datang deh para pesaing, 🤓🤓🤓
2023-10-25
0