"Macan, jika kamu bersaudara dengan tuan Alex. berarti kamu tahu banyak tentangnya?"
"Ya, karena sewaktu kecil kami pernah hidup bersama. namun karena suatu masalah sehingga kami jadi bermusuhan sampai sekarang. bahkan persaingan dan kebencian tidak pernah reda diantara kami." terang Macan.
"Aku pernah bertanya tentang ibunya, dan tuan Alex sangat marah bahkan dia pernah mencekik leherku dan menodongkan moncong pistol di kepalaku." ucap Cika sambil bergidik ngeri membayangkan.
"Ha...ha... tentu saja dia marah, untuk kedepannya demi keselamatanmu sendiri, jangan pernah tanyakan tentang masa lalunya lagi. terutama tentang ibunya." ucap Naga.
"Ya, aku tidak akan berani."
"Oya sejauh mana hubunganmu dengan Alex?"
"Sebatas bos dan bawahan, tidak lebih."
"Apa kamu belum pernah tidur dengannya?"
"Apa maksudmu, Naga?"
"Maaf jika aku lancang, tapi setiap wanita yang seringkali menemani Alex. pasti sudah pernah tidur dengannya sebagai pemuas nafsu."
"Bisa jadi, tapi aku tidak seperti mereka. sebisa mungkin aku akan jaga diri."
Mobil yang dikendarai Naga sudah masuk perkarangan rumah Cika, namun wajah gadis itu tiba-tiba berubah pucat dan gemetaran.
"Cika kamu kenapa?"
"Naga, tuan Alex, kenapa dia ada dirumah ku." tunjuk Cika ketakutan melihat api kemarahan yang ditujukan Alex, sedangkan naga tersenyum puas, paling tidak dia telah berhasil membuat pria itu cemburu. bahkan naga sengaja membukakan pintu untuk Cika, memperlakukan bak putri dihadapan Alex. pria itu mengepalkan tangannya, apalagi dia sempat melihat Cika tersenyum ramah pada Naga.
"Aku akan membunuhmu, Naga." Alex tidak tahan lagi melihat semua itu, Cika hanya miliknya seorang.
"Jangan tuan, ibu Cika bisa mati mendadak jika tuan dan naga berkelahi disini." Rambo berusaha menahan langkah Alex.
"Peduli apa aku pada perempuan itu."
"Kakak, paling tidak tolong jaga image mu. jangan tunjukkan kelemahanmu dihadapan Naga, jika tidak Naga akan semakin merasa menang. bagaimana pun kehormatan dan nama baik kakak jauh lebih penting dari pada memperebutkan seorang sekretaris murahan seperti Cika." bisik Lisa, sehingga Alex diam karena perkataan Cika dan Rambo ada benarnya juga.
Sebelum pergi, Naga sempat berbisik di telinga Alex. yang membuat tangannya mengepal ingin menghancurkan wajah Naga, namun dia masih berusaha untuk berfikir jernih kembali.
"Cika wanita yang luar biasa, aku sangat menyukainya..ha...ha.." tertawa puas.
Setelah kepergian Naga, kini tinggal Cika yang mundur ketakutan.
"Suruh Cika kembali ke rumahku malam ini juga, jika tidak mau paksa dia." perintah Alex pada Rambo.
"Baik tuan." Rambo mendekati Cika.
"Cika malam ini kamu diminta kembali datang kerumah besar, jika tidak mau terpaksa kami melakukan kekerasan."
"Tapi aku masih ingin bersama ibuku."
"Tolong bekerjasama lah dengan baik Cika, jika tidak ibumu akan ikut terlibat karena kemarahan tuan Alex."
Mendengar ucapan Rambo, Cika langsung mengangguk, bagaimanapun keselamatan ibunya jauh lebih penting.
"Cika, aku tidak menyangka kamu mempunyai keberanian yang begitu besar, setelah berhasil menggoda kak Alex, sekarang Naga. benar-benar wanita murahan." bisik Lisa sebelum melangkah pergi menyusul Alex dan Rambo menuju mobil.
Begitu mobil Alex pergi, Cika langsung masuk kedalam rumah. nampak ibunya tengah istrahat dikamar ditemani seorang perawat wanita suruhan Alex.
"Syukurlah, sepertinya ibu tidak mengetahui apa yang sudah terjadi barusan." Cika mengusap dadanya lega.
Tepat jam tujuh lewat tiga puluh menit, sopir utusan Alex sudah datang menjemput Cika kerumahnya.
"Cika kamu mau kemana nak?"
"Ibu, ada tugas mendadak malam ini. sehingga Cika diminta untuk datang. maafkan Cika setelah bekerja tidak punya banyak waktu lagi untuk menemani ibu." ucap Cika berusaha menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Pergilah nak, hati-hati." ucap ibu tersenyum ramah melepas anak gadisnya, meskipun jauh di lubuk hatinya ada perasaan khawatir, namun perempuan paruh baya itu berusaha untuk menyingkirkannya, dia yakin Cika pasti bisa menjaga dirinya.
***
"Cepat masuk nona, tuan Alex sudah menunggu anda didalam." perintah Rambo seraya membukakan pintu kamar.
Langkah kaki Cika semakin gemetaran, nampak Alex berdiri dihadapan jendela kaca membelakanginya, kedua tangannya pria tampan itu dimasukkan kedalam saku celananya. susah payah Cika berusaha mengeluarkan suaranya.
"Tuan..tuan Alex."
"Kenapa kamu menghianatiku, Cika." dengan tatapan tajam.
"Tidak! aku tidak pernah mengkhianati mu, tuan." Cika menggelengkan kepalanya, air mata membasahi wajahnya. melihat hal itu cengkraman tangan Alex semakin kuat.
"Sakiiit tuan, lepaskan aku." Cika berusaha melepaskan diri, namun percuma tenaganya kalah banyak dengan tenaga Alex yang kuat.
"Apa dia sudah menikmati tubuhmu terlebih dahulu, hah?"
"Tidak tuan, kami bertemu secara tidak sengaja."
"Berapa kamu dibayar laki-laki itu?"
"Dia tidak membayar ku, tuan hick...hick..."
"Hentikan air mata buayanya, kenapa semua wanita jahat dan hanya menginginkan uang dan uang." Alex begitu emosi, sehingga kamar yang semula terlihat rapi hancur berantakan, Cika menutupi wajahnya sambil menagis ketakutan.
"Semula aku pikir kamu berbeda dari mereka Cika, tapi aku salah....kamu malah dekat dengan musuhku!!!"
Alex menarik pistol dari balik pinggangnya, mengarahkan pada Cika, yang hanya bisa menagis pasrah seraya menggelengkan kepalanya pelan, seakan memberi isyarat agar jangan menembaknya.
"Katakan jika kamu tidak akan bertemu dengan dia lagi!" teriak Alex, Cika yang ketakutan tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi.
Dooorr...!!!
Dooorr!!!
Alex menembakkan keatas langit-langit kamar, Cika yang ketakutan sehingga membuat kedua kakinya tidak mampu untuk menopang tubuhnya, dia meluruh dilantai memeluk lututnya.
"Stop, tuan kenapa Anda selalu menyalahkan saya, Pria itu sendiri yang terlebih dahulu mendatangiku." entah keberanian dari mana, Cika tiba-tiba bersuara lantang.
"Kenapa kamu tidak menghindar, kamu sudah tahu jika dia musuhku, Cika!"
"Maafkan aku, aku tidak tahu sebelumnya tuan."
Alex tersadar tidak seharusnya dia terlalu kasar pada Cika, karena permasalahannya dengan Naga yang tidak pernah berhenti.
"Shiiit sial!! kenapa dengan ku, perasaan apa ini?"
Alex memaki dirinya sendiri yang kelewat emosi dan cemburu buta, sehingga lepas kontrol dan kembali membuat Cika ketakutan. dia bingung dengan perasaan aneh yang seringkali muncul setelah bertemu Cika.
"Bagunlah dan hapus air matamu." Alex merengkuh pinggang Cika, menariknya kedalam pelukannya. aroma wangi yang tercium dari tubuh Cika membuatnya merasa tenang dan nyaman.
"Kamu sangat wangi." bisik Alex melunak.
"Apa kamu takut padaku?" Alex kembali bertanya, ada rasa bersalah dihatinya.
"Iya."
"Makanya jangan buat aku marah lagi, sekarang temani aku mandi. aku ingin mendinginkan kepalaku yang sempat dibuat mendidih." Alex menarik tangan Cika menuju kamar mandi.
Pria tampan itu berubah dratis, menjadi lebih lembut dan romantis, Alex mengisi bactub dengan air penuh, dengan aroma terapi yang yang membuat pikiran kembali rilex.
"Tuan, aku malu!" Cika memalingkan wajahnya ketika pria itu dengan santainya melepas seluruh pakaiannya dihadapan Cika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur Lizza
sabar Cika
2024-05-03
0
Anonymous
Cewek nya kok bego ya🤣
2023-11-17
3
Katherina Ajawaila
bego sih di buat pancingan ikut aja. dasar, mikir chika mm kamu sakit. tahan sedikit jadi cewek ko. bego amat
2023-10-25
1