"Jangan mendekat, tolong ampunilah."
"Tidak cara ampun untukmu, dasar wanita pecundang. kak jangan begitu mudah percaya pada perempuan ini, sapa tahu dia adalah musuh yang menyelundup masuk dan menyamar sebagai sekertarismu." tuduh Lisa.
"Tidak, aku bukan penyelundup. aku benar-benar bekerja dengan tuan Alex demi pengobatan ibuku." Cika membela dirinya dari tuduhan tidak beralasan yang dilayangkan Lisa.
"Bohong, buktinya kamu begitu membela komplotan dari geng Macan." teriak Lisa yang tidak sabaran lagi untuk menyingkirkan Cika.
Alex menyipitkan matanya menatap intens Cika, dia mulai terpengaruh perkataan Lisa.
"Benarkah kamu mata-mata mereka?"
"Apa itu geng Macan, aku tidak mengerti dan tidak mengenal mereka tuan."
"Bohong!"
Lisa menarik kasar rambut panjang Cika, lalu menghempaskan nya ke lantai. tanpa perasaan Lisa duduk diatas tubuh Cika dan mulai memukulinya.
"Lepaskan Lisa, tubuhku terasa sakiiit... sakiiit semua. tuan Alexander tolooong aku hick... hick..." teriak Cika mengangkat sebelah tangannya berusaha untuk menggapai Alex.
"Kamu pantas dihukum Cika!" Alex tersenyum menyeringai.
"Nikmatilah hukumanmu wanita brengsek!" Lisa ikut tertawa dan kembali menampar wajah Cika, meninggalkan jejak kemerah-merahan di wajah dan tubuhnya.
Lisa semakin membabi-buta, para pengawal termasuk Rambo menatap iba pada Cika tapi mereka tidak ada satupun yang berani untuk melerai, karena Alex tidak segan-segan memberikan hukuman pada siapapun yang ikut campur jika dia sedang marah.
"Bagaimana rasanya pukulanku, makanya jangan jadi wanita sok kecantikan dan sok peduli. terutama di depan kak Alex. karena semua itu percuma ha...ha..."
Cika reflek melawan dan berusaha untuk menutupi wajahnya, untuk menghindari cakaran kuku-kuku jari Lisa yang panjang, meskipun tenaganya selalu kalah banyak oleh Lisa yang kuat. perkelahian dua wanita cantik ini terlihat tidak seimbang, karena Lisa sudah jago bela diri dalam menghadapi musuhnya, mengingat hampir seluruh masa remajanya dihabiskan dengan hidup di jalanan yang keras.
Lisa memanfaatkan kesempatan itu untuk membalas rasa sakit hati dan rasa cemburunya pada Cika, apalagi setelah dia tahu Alex dan Cika sudah pernah tidur satu kamar selama mereka liburan berdua. Lisa tidak pernah suka pada siapapun yang dekat dengan Alex, meskipun dia tahu jika Alex tidak akan pernah menerima cintanya.
"Hentikan Lisa, aku mohon....aku mengaku salah..tolong maafkan aku. ini sangat sakiiit ...hick..hick.." Cika terkulai lemas bayangan ibunya kembali melintas seakan ikut menangis melihat ketidakberdayaan sang anak. dengan sisa-sisa tenaganya Cika masih berusaha untuk menghindari dari pukulan Lisa yang semakin brutal.
"Matilah ditangan ku!" Lisa mencekik kuat leher Cika, hingga ludah gadis itu terjulur ke keluar.
"I...ibu.. maafkan Cika, mungkin sudah saatnya Cika pergi menyusul ayah!" ucap Cika saat merasa matanya mulai berkunang-kunang. dada dan lehernya merasakan nyeri yang teramat sangat.
Cika merasa sudah pada titik terakhirnya hidup di dunia, dia sudah pasrah dan tidak ingin berjuang lagi, Cika memejamkan mata. sekilas bayangan wajah lembut sang ayahanda melintas, memberikan kedamaian sebelum kesadarannya hilang.
"Lisa hentikan! kamu bisa membunuhnya!" Alexander tiba-tiba menarik kasar Lisa hingga terhuyung kebelakang. api kemarahan terpancar dari wajah tampannya.
"Maafkan kak, aku lepas kontrol." Lisa menundukkan kepalanya ketakutan begitu melihat kilatan kemarahan yang ditunjukkan Alex padanya.
Melihat Cika yang sudah terkapar tidak berdaya, Rambo dan pengawal lainya ingin membantu mengangkat tubuhnya, namun Alex dengan tegas memberi isyarat pada mereka agar tidak ikut menyentuh tubuh Cika. dia tidak rela Cika disentuh pria lain.
"Minggir semua."
Alexander mengangkat Cika dengan ke-dua tangannya, membawa ala bridal style menuju kamar pribadinya yang luas dan super mewah.
"Cepat panggilkan medis."
"Baik, tuan."
"Cika...Cika..buka matamu." Alex yang panik berusaha membangunkan Cika. ada rasa bersalah dihatinya, karena telah membiarkan Lisa berbuat brutal. sebagian pakaian Cika sudah robek, beberapa bagian tubuhnya juga terdapat luka-luka kecil dan memar.
"Aku tidak menyangka kamu seperti ini Lisa, semula aku hanya memintamu untuk mengertaknya saja." umpat Alex, yang sempat lengah sewaktu insiden karena menerima telpon masuk.
"Maafkan aku kak!"
"Aku akan menghukumu."
"Jangan! kenapa kakak seperti ini. biasanya kakak tidak pernah mempermasalahkan jika aku memukul wanita-wanita yang telah berkencan dengan kakak."
"Cika berbeda, dia tidak sama dengan wanita manapun. dia wanita spesial untukku." ucap Alex mengertak giginya pada Lisa.
"Tuan apa yang terjadi, apa anda terluka?" tanya dokter begitu sampai di ruangan kamar Alex.
"Tidak tapi gadis itu." tunjuk Alex.
"Astaga, kasihan sekali gadis cantik ini. apakah ini perbuatan keji tuan Alex?" gumam dokter dalam hatinya tanpa berani bersuara. lalu mulai melakukan pemeriksaan dan mengobati Cika.
Perlahan Cika membuka mata, sambil meringis menahan sakit. seketika bayangan kejadian barusan kembali melintas, refleks gadis itu kembali berteriak.
"Tolong jangan sakiti aku lagi, maafkan aku jika sudah membuat kalian marah." ucap Cika berusaha mengangkat kedua tangannya yang sakit memohon pada Alex.
"Tidak akan ada yang berani menyakitimu lagi Cika, saya telah memarahi Lisa, percayalah." bujuk Alex dengan tatapan iba dan rasa bersalah.
"Tuan, saya ingin pulang bertemu ibu. saya tidak akan kabur dan ngomong macam-macam lagi." ucap Cika ketakutan.
"Ya, tapi setelah kamu sembuh. apa kamu mau ibumu syok melihat kondisimu yang seperti ini."
"Tuan kenapa tega sama saya?"
"Bukanya saya tega, tapi kamu yang terlalu lemah dan penakut. kenapa tidak melawan Lisa?"
"Dia terlalu kuat, tuan. seumur hidupku baru kali ini saya berantem."
"Oh pantas, mulai sekarang belajarlah ilmu bela diri. paling tidak kamu bisa melindungi dirimu sendiri."
"Baik tuan."
"Kamu ingin aku memberikan hukuman apa untuk Lisa?"
"Terserah tuan saja."
"Baiklah, aku akan memberikan hukuman pada Lisa, mulai sekarang dia akan menjadi pelayan sekaligus asisten pribadimu. agar Lisa bisa melindungimu setiap saat."
"Apa? tidak... tidak mau tuan." tolak Cika yang masih trauma atas perlakuan kasar Lisa barusan. dengan penuh kelembutan Alex mengusap lembut rambut Cika lalu mengecupnya.
"Istrahatlah, saya berjanji akan mengantarkan kamu pulang setelah sembuh." ucap Alex melunak, dia membantu menyelimuti tubuh Cika hingga batas dada. Cika menganggukkan kepalanya menuruti perkataan Alex, karena hanya itu cara terbaik agar dia selamat selama berada dikandang singa tersebut.
Cika kembali bersemangat mendengar janji Alex yang akan memulangkan dirinya, karena dia sudah tidak sabaran lagi untuk bertemu dengan sang ibu.
Dari balik pintu kamar, Lisa mengitip Alex dan Cika yang terlihat begitu intim, dia mengepalkan tangannya tanda permusuhan. karena baru pertama kalinya Alex begitu peduli dan perhatian pada seorang perempuan, sejauh ini cuma Cika perempuan pertama yang masuk ke dalam kamar pribadi Alex. dan Lisa selalu berangan-angan untuk menjadi yang pertama, sekarang impian cintanya telah pupus.
"Hayooo... ketahuan lagi ngintip bos ya!" ledek Rambo yang paling suka mengerjai Lisa.
"Diam kamu, Rambo."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur Lizza
Lisa Lisa jgn ngarep.
2024-05-03
0
Bundana Irpan Sareng Faizal
kasihan cika😭
2024-01-29
1
wonder women
gak sesuai judul .. di siksa kaya gitu koq bilang kesayangan .. udh kelewatan Thor
2023-11-16
3