BAB 20

Begitu masuk kamarnya Lentera tersungkur ke lantai, ia menangis sejadi-jadinya, tubuhnya gemetar begitu hebat. Sentuhan Rimba kali ini mengiatkannya pada kejadian masa SMAnya, Lentera begitu ketakutan.

Sejak kejadian pemerkosaan itu, Lentera menepis banyak hal: teman, keluarga, dan pria-pria yang mencoba mendekati menawarkan hubungan percintaan. Lentera sudah tak percaya lagi pada siapa pun.

Bahkan pada Rembulan yang menawarkan sebuah pertemanan pun, dalam benak Lentera tak betul-betul mengiyakan, ia tak ingin terlalu dekat dengan siapapun, terlebih salah seorang anggota keluarga Rimba.

Lentera membutuhkan pertolongan sebesar Pelangi membutuhkannya. Namun, itu semua tidaklah mudah bagi Lentera, karena setiap kali ada orang lain yang mencoba mendekat dengannya, itu sudah membuatnya gemetar ketakutan. Ia bahkan tidak pernah bersenda gurau dengan teman wanita hingga larut malam, tidak pernah menghadiri pesta, juga tidak pernah belajar cara bergaul dengan orang lain layaknya manusia normal. Seumur hidup Lentera membuat dinding pembatas yang tinggi untuk melindungi dirinya dari siapa pun yang berpotensi menyaktinya. Siapa pun!!

Pemerkosaan itu mengubah jiwanya begitu drastis sehingga ia tidak pernah bisa bangkit dari liang kelam kenangannya. Saat Lentera membayangkan masa depannya yang ada hanya kesedihan dan sendirian.

Lentera menyeka air matanya, ia bertekat untuk tidak lagi dekat dengan Rimba, ia merasa sudah waktunya untuk menjaga jarak dengan pria itu sebab semakin lama terasa semakin dekat dan itu membuatnya sangat takut. Lentera tak ingin kejadian tadi terulang kembali.

Perlahan Lentera bangkit dan berjalan ke tempat tidur, ia memfokuskan dirinya pada program terapi Pelangi yang sudah berusaha mengokohkan kakinya untuk berdirinya. Pelangi yang penting, bukan trauma masa lalunya! Kalau sampai traumanya menghambat proses terapi Pelangi, akan membuat pemulihan Pelangi berantakan.

Lama Lentera terlalut dalam perang batinnya, tanpa sadar ia tertidur.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan paginya Lentera berdiri ragu-ragu di depan cermin, ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan wajah muram."Aku begitu kotor," gumamnya sembari memperhatikan rambutnya yang hitam, lebat, lurus di bahu. "Aku tak pantas untuk siapa pun."

Lentera begitu larut dalam pikirannya hingga ia tidak mendengar suara-suara yang dibuat Pelangi di kamarnya. Ketika suara serak khas bangun pagi Pelangi bergemuruh membuyarkan pikiran Lentera. “Kakak, apa kau terlambat bangun pagi ini?"

Lentera berputar menghadap pintu bersamaan dengan pintu yang terbuka dan Pelangi mendorong kursi rodanya melewati pintu. "Aku sudah lapar, sebentar lagi guruku datang," protes bocah itu. "Tadi aku ke bawah, kata Bik Sore. Kakak belum turun."

"Oh astaga, maafkan aku sayang," Lentera meraih jaketnya kemudian ia menghampiri Pelangi dan mendorong kursi rodanya keluar dari kamar.

"Apakah kakak sedang sakit?" Saat di dalam lift Pelangi memperhatikan Lentera tengah memakai jaket yang tadi di bawanya dari kamar.

Lentera hanya merasa tubuhnya kotor sehingga ia ingin menutupnya serapat mungkin. "Perut kakak sedang tidak enak sedikit, karena hari pertama mensturasi," dustanya.

"Setelah sarapan kakak istirahatlah, tidak perlu menemaniku belajar."

Lentera tersenyum sembari mengelus kepala Pelangi dengan lembut. "Tidak apa-apa, ini sudah mendingan kok sayang." ia mendorong kursi roda Pelangi ketika puntu luft terbuka.

Jika biasanya Lentera membaca buku untuk mengupdate ilmunya ketika ia menemani Pelangi belajar, hari ini Lentera lebih banyak melamun. Hal ini di sadari oleh Pelangi yang beberapa kali melihat tatapan Lentera yang kosong, namun Pelangi tak mengatakan apa pun, ia baru menanyakan pada Lentera ketika mereka tengah berduaan di ruang olahraga.

"Apa ada yang mengganggu pikiran kakak?"Pelangi berusaha menyeimbangkan tubuh dengan tangan sementara kakinya menopang bobotnya.

Lentera terkejut dengan pertanyaan Pelangi. "Dari pagi tadi aku melihat kakak tidak seperti bisanya," lanjutnya. "Apa kakak sedang ada masalah? Kakak seperti orang yang baru kalah ratusan juta karena judi online."

Seketika Lentera tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak mengenal hal begituan, dari mana kau tahu tentang judi online?"

"Semalam sebelum tidur, aku sempat membuka internet. Banyak berita yang memuat orang-orang frustasi karena judi online dan pinjol."

Lentera mengangkat bahunya."Ya begitulah, orang-orang yang ingin memiliki uang banya secara instan tanpa mau bekerja keras. Boleh kakak mengawasi aktivitasmu di dunia maya?" ia paham jika Rimba tak memiliki banyak waktu untuk mengawasi putrinya 24 jam sehingga terkadang Pelangi bisa mengakses internet tanpa pengawasan dari orang dewasa.

"Ya, bukankah mulai nanti malam kakak akan tidur denganku?"

"Papamu sudah bilang?"

Pelangi menggeleng. "Pagi-pagi sekali saat kakak belum keluar kamar ada orang yang datang ke kamarku untuk mengganti tempat tidur, dan Bik Dore mengatakan jika Kakak akan tidur bersamaku."

Saking terlalut dalam lamunannya Lentera bahkan tidak mendengar suara apa pun dari kamar Pelangi. "Ya sudah, kalau begitu sekarang kita cukupkan latihan hari ini, kamu tidak ingin kan kakimu sakit seperti kemarin?"

"Aku masih mau berdiri," tolak Pelangi.

"Baiklah," Lentera membantunya menggerakkan kaki, saat Pelangi mengambil langkah pertama, keringat membanjiri sekujur tubuh Pelangi ketika merasakan kesakitan yang menyiksa otot-ototnya, dia tidak terbiasa dengan aktivitas seberat itu.

Sesi latihan hari itu berakhir pukul 17.00 WIB, lebih lama dari biasanya, sehingga pada malam hari Pelangi merasakan kram di kaki yang membuatnya terjaga berjam-jam, dan Lentera memijatnya hingga kelelahan, sementara Rimba yang baru saja pulang kerja pun turut menemani dan memberikan suport untuk putrinya.

Tidak ada diskusi apa pun dengan Rimba di malam itu, sebab Pelangi kesakitan dan Lentera terlihat menjaga jarak dengan Rimba. Pelangi nyaris tidak sempat relaks saat satu kram tersembuhkan karena kram lain langsung membuat kakinya kaku. Akhirnya Lentera memutuskan untuk membawa Pelangi turun dan memasukkannya ke kolam renang, di bantu oleh Rimba dan tindakan itu berhasil meredakan kram di kaki Pelangi.

Saat Rimba membopong tubuh putrinya kembali ke kamar, Pelangi terlelap dalam gendongan Papanya. Rimba sempat ingin mengajak Lentera mengobrol setelah ia membaringkan putrinya di tempat tidur, namun Lentera menolaknya, dengan halus Lentera meminta Rimba keluar dari kamar Pelangi sebab ia ingin beristirahat.

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

wkwkwkw..ramee yaa pinjol dan judi online🤭 disini jg iklannya itu terus 🙈

2023-09-26

3

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

sepertinya trauma yg diderita Lentera sangat besar...dan selama ini dia tdk pernah ke psikiatri kah utk berobat mnyembuhkan trauman nya?

2023-09-26

3

🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸

🌟𝙈𝙗 𝙔𝙪𝙡²🇵🇸

lentera jika kamu terus²an mensugesti dirimu "aku kotor tdk pantas u orang lain"..kamu akan terus tenggelam dlm masakelam mu cobalah membuka diri/berteman dg orang lain.. tdk semua orang jahat lentera...

2023-09-24

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!