Pelan-pelan Lentera menutup pintu dan kembali ke kamarnya. Ia amat sangat kelelahan sehingga kakinya pegal, tapi setelah berbaring di ranjang, ia tahu kantuknya takkan datang.
Lentera hanya berbaring menatap langit-langit, sadar malam ini ia tak akan bisa tidur… hanya karena tadi Jagat menyentuhnya saat ia hendak mengambil lego darinya.
Mungkin sebagian orang akan menganggap hal itu sepele tapi bagi Lentera itu bukan hal sepele. Ia boleh saja berhasil mengenyahkan mimpi buruknya jauh-jauh, ia boleh saja sudah membangun ulang hidupnya dengan utuh, tapi masa lalu tetap menjadi bagian hidupnya, dan itu bukan hal sepele.
Pemerkos*an bukan masalah sepele. Sejak malam itu Lentera tidak tahan disentuh siapa pun, maka dari itu ia memilih untuk menerima pasien anak, selain karena tak tahan di sentuh oleh pria, memilih pasien anak pun untuk menebus semua kesalahannya di masa lalu karena ia telah membiarkan bayinya di renggut begitu saja dari kandungannya.
Dari luar, Lentera tampak sudah pulih seutuhnya. Ia membangun tembok antara siapa dirinya sekarang dan dirinya dulu, tidak pernah lagi terpuruk meratapi yang sudah terjadi, benar-benar memaksa diri mengumpulkan kembali kepingan-kepingan hidupnya yang hancur dan dengan konsentrasi dan tekad baja akhirnya ia berhasil menyatukan kepingan-kepingan itu menjadi material yang lebih kokoh.
Ia bisa tertawa dan menikmati hidup. Dan yang lebih penting, ia belajar cara menghormati diri sendiri, dan itu tugas terberat dari semuanya. Tetapi, Lentera tetap belum sanggup menerima sentuhan pria.
Kejadian malam itu mengikis habis harga dirinya, membuatnya merasa hina untuk di miliki oleh siapa pun, sehingga ia memilih untuk berkelana dan membantu anak-anak yang kurang beruntung.
Saat menangani kasus, ia membina hubungan akrab yang penuh cinta dan kasih sayang terhadap pasiennya. Lentera begitu menyayangi pasien-pasiennya dan, tak terhindarkan, mereka juga sayang padanya… hingga kurun waktu tertentu. Mereka menjadi keluarganya, hingga sesi terapi selesai dan Lentera meninggalkan mereka dengan senyum di wajah, siap melanjutkan perjalanan menemui pasien berikutnya.
Baru kali ini Lentera menangani pasien dari keluarga yang sangat berada, sebelum menerima tawaran ini ia sempat bertanya-tanya apakah ia yakin akan menangani Pelangi? Karena ayahnya Pelangi sangat mampu memperkerjakan terapis yang lebih handal bahkan mampu membawa putrinya berobat ke luar negeri, tapi begitu melihat langsung bocah itu, Lentera melihat banyak kesamaan antara dirinya dan Pelangi, ia mulai jatuh hati dengan bocah itu melebihi pasien-pasien lainnya yang pernah ia tanangai.
Lentera bertekad untuk membuat Pelangi bisa berjalan dan meraih kembali mimpi-mimpinya. Meski jauh di lubuk hatinya ia ingin memiliki putri seperti Pelangi, atau selama masih berkesempatan bersamanya, Lentera akan menganggap Pelangi adalah putrinya sendiri. Tapi ia takut, jika saatnya berpisah apakah ia akan sanggup berpisah dari Pelangi?
Lama Lentera, memikirkan hal itu, ia baru tertidur pukul 02.00 dini hari. Meski demikian ia tetap bangun saat adzan subuh berkumandang. Ia langsung mandi dan shalat subuh barulah ia mengahmpiri Pelangi di kamarnya.
“Selamat pagi,” kicau Lentera .
Pelangi masih berbaring miring, tak lama kemudian ia membuka matanya, mengamati Lentera dengan ekspresi kesal, namun Lentera tak peduli, ia tetap tersenyum manis ke arah Pelangi. “Kau siap memulai harimu Pelangi?” tanya Lentera tanpa beban.
“Tidaaaaakkkkk!” teriak Pelangi. “Kakak, ini masih tengah malam!”
“Tidak juga. Sebentar lagi matahari akan terbit.”
“Apanya yang akan terbit? Ini masih gelap gulita, Kakak.”
“Hanya tinggal beberapa menit lagi,” sahut Lentera menenangkan, ia tertawa sambil menyibak selimut yang menutupi tubuh Pelangi. “Apakah kau tidak ingin menyaksikan matahari terbit?”
“Tidak!”
“Matahari terbit dipagi hari pasti indah,” bujuk Lentera sambil menurunkan kaki Pelangi dari ranjang. “Ayo, temani Kakak menyaksikan matahari terbit.”
“Di mana-mana, matahari terbit ya di pagi hari, Kakak. Aku tidak ingin menyaksikannya,” rengek Pelangi. “Aku masih ingin tidur!” teriak Pelangi.
“Kau sudah tidur berjam-jam, sayang. Dan aku yakin kau tak ingin melewatkan matahari terbit. Ini akan menjadi matahari terbit yang istimewa.”
“Apa yang membuat matahari terbit kali ini istimewa? Apakah ini menandai permulaan hari, Kakak akan menyiksaku hingga mati?” tanyanya dengan kesal.
“Matahari pagi hari ini terasa istimewa karena aku menyaksikannya bersamamu," ucap Lentera sambil tersenyum riang, ia memegang tangan Pelangi dan menariknya paksa supaya bangkit.
Lentera membantu Pelangi pindah ke kursi roda dan menutupi tubuhnya dengan selimut, sadar bahwa udara akan terlalu dingin bagi Pelangi. “Di mana tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit?” tanya Lentera.
“Aku tidak ingin keluar dari rumah ini, jadi kita lihat di taman rumahku di dekat kolam renang saja,” gerutu Pelangi sambil mengusap wajah dengan dua tangan, "Kau sangat menyebalkan, Kak Lentera."
Lentera merapikan rambut Pelangi yang acak-acakan, dengan menggunakan jemarinya sambil menunduk dan tersenyum lembut. “Oh, aku tidak tahu jika aku begitu menyebalkan untukmu sayang,” gumamnya. “Apakah tidurmu tidak nyenyak tadi malam?”
“Tentu saja nyenyak!” ucap Pelangi dengan ketus. “Kakak membuatku lelah luar biasa hingga aku tidak bisa mengangkat kepala," ucapnya begitu saja, namun kemudian ia mengeluarkan ekspresi malu-malu yang melintas di wajah Pelangi. “Baiklah, tadi malam adalah tidurku paling nyenyak selama dua tahun ini,” Pelangi mengakui dengan gusar, setidaknya dia mengaku.
“Sudah lihat seperti apa dampak terapi yang kuberikan?” canda Lentera, lalu mengubah topik sebelum kemarahan Pelangi berkobar lagi. “Kau harus memimpin jalan menuju kolam renang. Aku tidak ingin berjalan melewati halaman dalam, karena pekerja meletakkan banyak perkakas mereka di sana. Pasti sulit berjalan di sana dalam keadaan gelap.”
"Ya," ucapnya tanpa semangat, lalu Pelangi menggerakkan kursi roda dan mendahului Lentera melintasi rumah yang sunyi senyap menuju pintu belakang. Ketika mereka mengitari belakang rumah menuju kolam renang, seekor burung berkicau menyanyikan lagu merdu menyambut hari baru, dan suara itu membuat Pelangi mendongak. Sudah dua tahun berlalu sejak insiden kecelakaan itu, Pelangi tak pernah mendengar kicauan burung.
Sambil duduk di samping kolam renang, Lentera membacakan buku cerita, sementara Pelangi mendengarkan sembari menyaksikan semburat kelabu pertama ketika fajar menyingsing. Lalu akhirnya sinar terang pertama sang surya mulai terlihat. Tidak ada awan-awan yang mewarnai langit dalam nuansa merah muda dan emas yang tidak terhitung jumlahnya, hanya ada langit biru dan matahari keemasan bercampur putih, tapi kedamaian hari baru membuat pemandangan itu seindah pemandangan matahari terbit paling semarak yang pernah Pelangi saksikan. Dalam waktu singkat tubuhnya mulai hangat, dan Pelangi menurunkan selimut yang menutupi bahunya.
Dari lantai dua kamarnya, Rimba menyaksikan kebersamaan antara Lentera dan putrinya yang begitu intim. Sejak kecelakaan itu, baru kali ini ia melihat putrinya bangun di pagi hari, jika terus seperti ini, ia berharap Pelangi akan kembali mau melaksankan shalat subuh berjamaah lagi seperti dulu.
“Aku lapar,” ucap Pelangi.
Lentera menutup bukunya kemudian menatap Pelangi. "Kakak bisa melihat betapa kau menghargai hal-hal indah dalam hidup,” ucap Lentera sembari beranjak dari tempat duduknya.
“Kalau Kakak terus-menerus membangunkanku sepagi ini, jelas saja aku kelaparan sekarang. Apakah hari ini aku mendapatkan sampah yang sama seperti kemarin pagi?”
“Ya,” sahut Lentera dengan tenang. “Sarapan bergizi, tinggi protein, adalah makanan yanb tepat dan kau butuhkan untuk menaikkan berat badan.”
Pelangi tak berkomentar sebab ia tahu, Lentera tak akan mengganti menunya walau pun ia menolak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
Lentera mempunyai trauma yang mendalam....bisakah di mengikis trauma nya sendiri
2023-09-17
3
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
astagfirullah sungguh nyesek sekali sudah diperkosa bayinya pun di gugurkan dengan paksaaaa 😭
2023-09-16
3
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
owhh astaga..ternyata lentera pernah diperkosa hingga hamil...
2023-09-16
3