BAB 8

“Aku belum melihatnya,”ucap Lentera jujur. “Sedari pagi tadi aku melatih Pelangi di kamar dan sama sekali tak melihat taman. Tapi aku yakin Pak Rimba tak akan membiarkan petukangnya merusak tamannya.”

“Kau lihat saja sendiri.”

Lentera menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya. “Kurasa sebaiknya kita makan siang dulu. Taman tidak akan ke mana-mana, tapi makanan kita akan mendingin.”

“Kau ingin mengulur waktu?” tanya Pelangi dengan dingin. “Aku sudah memberitahumu, Kakak galak. Aku tidak ingin ada yang berubah dari rumah ini.”

“Aku tidak bisa menyangkal, juga tidak bisa membenarkan tapi di mana-mana, jika petukang masih bekerja maka masih terlihat berantakan, tapi begitu semuanya selesai baru bisa terlihat rapih kembali," ucap Lentera dengan tegas.

"Tapi tidak dengan merusak ayunan almarhum Mentari,” ucap Senja dengan emosi, tapi kemudian Pelangi memutus kata-kata Eyangnya. “Sebaiknya kita lihat sekarang,” ucapnya singkat. “Aku ingin tahu seberapa fatal kerusakan taman Mama," ia menjalankan kursi rodanya ke arah taman, kemudian di ikuti oleh Lentera dan Senja.

Ini pertama kalinya Lentera menginjak di halaman kediaman Rimba yang ditata indah, sejuk dan wangi, meski matahari saat itu sedang terik. Tanaman-tanamannya di hiasi berbagai bunga dan berbagai spesies kaktus tumbuh sempurna dengan tanaman-tanaman yang biasa ditemukan di tempat beriklim jauh lebih bersahabat.

Ada sebuah saung yang begitu rindang. Batu-batu putih besar terhampar membentuk jalan setapak, untuk menuju ke arah saung di tengahnya ada air mancur yang bergemuruh merdu dengan semburan sempurna.

Di belakang saung, gerbang tinggi yang membuka ke area kolam renang, ada sebuah ayunan yang tergeletak. Kemungkinan dulu ayunan itu tempat bersantai menikmati keindahan sekitaran taman.

Keadaan saung memang berantakan, karena rupanya tukang yang dipekerjakan Rimba menggunakan saung untuk menyimpan perabot dan juga beberap bahan bangunan. Tetapi, Lentera melihat para pekerja berhati-hati sehingga tidak mengganggu satu tanaman pun, semua barang diletakkan dengan hati-hati di batu putih.

Senja menunjuk ke arah ayunan yang tergeletak itu. “Lihat itu!” teriak Senja. "Kau boleh membangun ruang olahraga, tapi tidak perlu menghancurkan ayunannya, kau bukan nyonya di rumah ini."

Mata Pelangi seakan menyala. “Ya, ayunan itu sangat berharga bagiku. Mama menghadiahkan ayunan itu kepadaku, kami sering duduk di sini setiap sore bersama Mama tapi sekarang kau menghancurkannya. Aku ingin semua pekerjaan ini dihentikan sebelum ada barang lain yang rusak, dan aku ingin kau keluar dari rumahku!!”

Lentera merasa bersalah karena bangku itu rusak, dan hendak membuka mulut untuk meminta maaf, namun tiba-tiba Rimba datang dan menjelaskan semuanya. "Papa yang menurunkan ayunan itu," ia berjalan mendekat ke arah putrinya dan berjongkok di hadapannya. "Besi-besi di ayunan itu sudah mulai keropos. Kemungkinan saat ayunan ini di buat, Mama di tipu oleh petukangnya karena tak memberikan besi yang terbaik. Papa tak ingin kau terluka saat nanti kau bisa jalan lagi dan menggunakan ayunan ini, jadi kebetulan ada petukang yang sedang membuat ruang olahraga untukmu, lebih baik sekalian membetulkan ayunanmu. Papa janji akan membuatnya yang sama persis dan lebih kokoh dari yang kemarin."

Pelangi mengerti dan bisa menerima semua penjelasan Papanya. "Aku minta maaf karena telah menuduhmu, kak Lentera."

Lentera tersenyum sembari mengangguk, ia merasa masalah ini sudah selesai. Ia tak ingin menuduh Senja sengaja ingin membuat onar. Lentera menganggap Senja hanya sedang berjuang untuk cucu yang dia sayangi, meskipun cara sayang Senja kepada Pelangi salah, ia tidak ingin melihat cucunya sakit karena terapi, padahal itu justru untuk kesembuhannya.

Lentera tak perlu berdebat dengan Senja, ia hanya perlu menjauhkan Senja dari Pelangi untuk sementara waktu agar pekerjaannya bisa dilanjutkan tanpa terus-menerus di ganggu, dan Rimba harus memutar otak untuk membuat Ibunya sibuk dengan hal lain.

"Baiklah karena semuanya sudah selesai, bagaimana jika kita makan siang?" Rimba mendorong kursi roda putrinya kembali masuk ke kediamannya, di ikuti oleh Senja dari belakang.

Sementara Lentera, berjalan mendekati ayunan itu dan membungkuk untuk mengamati besi-besinya, dengan serius Lentera menyusurkan telunjuk di besi itu. Ia mengerti akan kemarahan Pelangi karena peninggalan ibu merupakan sesuatu hal yang sangat berharga, ia pun kembali bangkit dan menyusul merke ke ruang makan.

Selama makan siang Lentera memperhatikan Senja yang dengan telaten menyuapi Pelangi, sikapnya penuh perhatian dan kasih sayang. Senja terus berada di sisi Pelangi sepanjang hari, mengusik cucunya seperti ayam betina menjaga anaknya. Pelangi memang lelah setelah menjalani terapi hari pertama, jadi Lentera membiarkan Senja memanjakan cucunya. Meski Lentera sempat merencanakan sesi latihan dan pemijatan sekali lagi, ia melupakan rencana itu alih-alih harus bertengkar dengan Senja. Besok akan lain cerita.

...****************...

Menjelang sore Lintang datang untuk menjemput istrinya, namun mereka tak langsung pulang, mereka berdua menemani Pelangi di kamarnya. Kesempatan itu Lentera gunakan untuk mengobrol bersama Rimba di teras depan.

Lentera mendongak ke arah gerbang yang menjulang tinggi di depan kediaman Rimba. “Aku kesulitan menghadapi Ibumu,” ucap Lentera tanpa basa-basi.

Rimba mengembuskan napas. “Aku tahu, ibuku selalu ikut campur mengenai Pelangi karena Pelangi adalah cucu satu-satunya, terlebih setelah kecelakaan itu dan Mentari sudah tiada. Mama semakin over protectif."

“Hari ini Pelangi menyinggung sedikit mengenai ibumu lebih dari sekedar mamanya," ucap Lentera hati-hati, ia tak ingin di anggap terlalu mencampuri urusan keluarga Rimba.

“Bisa dikatakan begitu. Saat Pelangi berumur tiga tahun, Mentari banyak berubah. Hal itu di karenakan dia bertemu kembali dengan mantan pacarnya. Mentari menjadi tak punya waktu untuk kami, dan dari situlah Pelangi lebih dekat dengan Eyangnya."

"Maaf," Lentera menjadi tak enak hati karena telah mengungkit masa lalu yang mungkin saja menyakitkan untuk Rimba.

"Tidak apa-apa," Rimba tersenyum penuh kegetiran. “Ngomong-ngomong mengenai ganti pasword pintu sepertinya itu bukan ide yang bagus, sebab Pelangi akan gusar kalau eyangnya tidak bisa masuk rumah. Tapi aku akan memilirkan cara lain, mungkin dengan meminta Daddy untuk mengajak Mommy bulan madu."

Lentera tersenyum sumringah, ia hampir tak kepikiran dengan cara itu. "Itu ide yang sangat bagus."

"Nanti aku akan bicara dengan Daddy."

Di tengah obrolannya bersama Rimba, tiba-tiba saja Senja dan Lintang datang. Mereka berdua pamit pulang kepada Rimba dan Lentera. Lintang tersenyum ramah kepada Lentera, sementara Senja hanya melewatinya saja.

Senja mencondongkan tubuhnya ke arah Rimba. "Jaga dirimu baik-baik," ia melirik sinis ke arah Lentera. "Jangan mudah terayu dengan bujuk rayu wanita, Mommy tidak ingin punya menantu seperti Mentari lagi," ucapnya penuh penekanan, ia kemudian mencium kedua pipi putranya. "Tadi Pelangi sedang mandi dengan Bik Sore, kau temani sana kemungkinan dia sudah selesai. Jangan berduaan dengan wanita yang bukan mahrommu."

"Iya, Mom." Rimba mengantar orangtuanya hingga ke mobil barulah ia dan Lentera masuk.

Terpopuler

Comments

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

duhh ternyataaa mentari kembali merajut kasih dengan mantan sungguh pesona mantan begitu dahsyat yaaa🤭

2023-09-16

4

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

Berarti hubungan Rimba dengan istrinya memang sdh tidak baik ya...
apa jangan2 kecelakaan tsb ada hubungannya dengan selingkuhannya..

2023-09-15

4

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

oohh mentari selingkuh kah...🤔

2023-09-15

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!