Saat makan malam, Jagat datang dengan membawa dua milkshake untuk Lentera dan Pelangi. "Tanpa gula dan menggunakan susu tinggi kalsium, aku harap kau tak keberatan," ia melirik ke arah arah Lentera sembari memberikannya ke keponakannya.
Lentera tertawa, ia teringat kejadian tadi pagi. Pasti Jagat memperhatikan jika ia sedikit memkasa Pelangi untuk minum susu ketika bocah itu minta lemon tea.
Tak hanya membawa milkshake, jagat pun membawa dua kotak lego castle dan mengajak mereka semua bermain setelah makan malam. "Kita bagi dua tim. Uncle dengan Kak Lentera, sementara kamu dengan Papamu. Bagaimana? Papamu penyusun lego yang handal," Jagat mengedipkan matanya ke arah Pelangi.
Rimba langsung tahu, jika Jagat ingin melakukan pendekat dengan Lentera. "Tidak bisa," tolaknya dengan tegas. "Kita perlu gambreng untuk menentukan tim."
"Tidak perlu gambreng," Pelangi bersuara. "Aku yang menentukan dengan siapa aku ingin main." Dua pria itu tidak bisa menentang, sebab jika Pelangi tak ingin main maka permainan itu akan di batalkan. "Baiklah, kau ingin main dengan siapa?" tanya Jagat pasrah, meski berharap dia bisa satu tim dengan Lentera.
"Aku mau satu tim dengan...." Pelangi memandangi satu persatu tiga orang dewasa di hadapannya. "Aku mau main dengan Kak Lentera."
Lentera tersenyum lebar, ia berlari kecil memposisikan dirinya di sebelah Pelangi. "Aku tidak akan mengecewakanmu," bisik Lentera, ia kemudian menoleh ke arah Jagat untuk menerima lego milik timnya.
Lentera tersentak, seolah ia tersengat aliran listrik ketika Jagat mengambil kesempatan untuk memegang tangannya saat menyerahkan lego. "Kak Lentera?"
Lentera menggeleng, ia berusaha tersenyum ke arah Pelangi. "Ayo kita susun," dengan cepat ia membuka kerdus dan mengeluarkan isinya, untuk mempermudah dalam menyusun lego Lentera memisahkan bagian-bagian yang sama ke dalam wadah.
Jika Lentera dan Pelangi nampak kompak dalam bekerja sama, lain halnya dengan tim Jagat dan Rimba mereka berdua beberapa kali terlibat cek-cok. "Harusnya aku tidak satu tim denganmu," bisik Jagad sembari melirik ke arah Lentera dan Pelangi.
"Kau membawa lego, karena sengaja ingin mencari kesempatan bersama Lentera." Jemari Rimba memasang kepingan lego namun matanya menatap Jagat dengan tatapan tajam. "Kau itu masih berstatus suami orang, apa kau mau membuat huru hara di rumah ini?" dengan suara yang sangat pelan dan nyaris tak terdengar.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menyelesaikan masalahku dengan Rembulan malam ini juga."
Rimba mengangkat alisnya, sembari menaruh kepingan lego itu di lantai. "Apa kau mau menceraikan Rembulan?"
"Sudahku katakan, aku menyerahkan semua keputusan ini padanya."
"Lalu apa yang mau kau katakan padanya? Kau mau bilang kau tertarik pada wanita lain?" Sekilas Rimba melirik ke arah Lentera, kemudian kembali menatap Jagat. "Dia adalah terapis anakku, aku berkewajiban melindunginya selama dia berada di rumah ini. Aku tidak akan membiarkan Lentera terseret dalam masalah rumah tanggamu!"
Rimba beranjak dari tempat duduknya ketika putrinya tertidur dalam pangkuan Lentera, sudah lama ia tak melihat pemandangan ini. Dulu Rimba pikir rumah tangganya adalah rumah tangga impian semua orang, hingga akhirnya Badai, mantan kekasih istrinya datang dan membuat kehangatan itu hilang. Rimba mencoba untuk bertahan dan memperbaiki, tapi sayangnya maut telah terlebih menjemput Mentari.
Pelangi begitu damai tidur di pangkuan Lentera, bahkan dia memeluk pinggang Lentera begitu erat. "Aku akan membawanya ke kamar," ucap Rimba, perlahan Rimba mengangkat tubuh Pelangi, namun putrinya enggan lepas dari tubuh Lentera, bahkan ia merengek saat Rimba mencoba melepasnya. "Biara aku saja yang menggendongnya," ucap Lentera.
"Tapi badan Pelangi sangat berat..."
"Aku pernah menggendong anak yang lebih berat dari ini," Lentera tersenyum, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya sembari menggendong tubuh Pelangi, sementara Rimba dengan siaga buru-buru membuka pintu lift.
Jagat memandangi mereka, ketika mereka melewatinya, ia menghela napasnya baru kemudian ia beranjak dan kembali pulang.
...****************...
Sesampainya di kamar Pelangi masih memegangi Lentera dengan erat, ia menatap Rimba dan bertanya bolehkah ia tidur bersama Pelangi?
Rimba mengangguk. "Tentu saja," jawabnya. "Kalau kau perlu sesuatu kamarku ada di sebelah, kau ketuk saja," ia mengecup kening putrinya dan membisikan ucapan selamat malam, barulah Rimba keluar dari kamar, membiarkan Lentera dan Pelangi beristirahat.
Di tengahnya redupnya suasana kamar, karena Rimba mematikan kampu kamar sebelum dia keluar dari kamar Pelangi. Lentera masih bisa merasakan betapa eratnya Pelangi memeluk dirinya, ia mengelus kepala bocah itu dengan lembut.
Satu persatu buliran-buliran bening jatuh di pipi Lentera tanpa bisa ia tahan, isak tangis mulai terdengar samar. "Andai bayiku tidak mereka gugurkan, mungkin usianya sudah sebesar Pelangi." Lentera meremas perutnya, rasa perih menjalar di hatinya setiap kali ia teringat akan janin yang pernah di kandungnya.
Lentera merasa, ia dan Pelangi sama-sama memiliki kesamaan yaitu sama-sama pernah kehilangan. Isak tangisnya seketika terhenti ketika Lentera mendengar suara erangan menggerutu dari mulut Pelangi. Lentera panik sebab mengira bocah itu terbangun dan tahu jika dirinya menangis, ia buru-buru menyalakan lampu di meja sebelah tempat tidurnya.
Begitu Lentera melihat mata Pelangi tertutup rapat, ia menghembuskan napas lega. "Maaf jika aku mengganggu tidurmu," bisiknya, Lentera bersiap turun dari tempat tidur Pelangi, ia tak ingin mengganggu bocah itu tidur.
Namun ketika Lentera baru menurunkan satu kakinya, ia kembali mendengar erangan, Pelangi mencoba berguling miring, tapi kakinya menolak sebab tak bisa ia gerakan.
Lentera langsung paham, dengan lembut Lentera membantu menyesuaikan posisi Pelangi tanpa harus membuatnya terbangun. Lentera melakukan hal itu kepada sebagian besar pasiennya, sebagai bentuk perhatian yang biasanya tidak pernah pasiennya sadari. 'Apakah Pelangi tak pernah mengganti posisi tidurnya?' batin Lentera, kalau Pelangi terus berbaring telentang selama dua tahun, tidak heran temperamennya segalak kucing garong.
Lentera membantu Pelangi, menggeser kakinya. Disertai embusan napas lembut, Pelangi membenamkan wajah ke bantal, irama napasnya makin dalam dan bocah itu berangsur rileks.
Sambil tersenyum, Lentera menarik selimut hingga menutupi bahu Pelangi, lalu ia kembali ke kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
**✿𝕾𝖆𝖒𝖘𝖎✿**
lhooo.... lhoo... lhoo... lentera sudah pernah menikah opo hamil karena kecelakaan
2023-09-21
2
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
semoga aja pelangi esok akan seindah seperti semula....wajar saja pelangi merasakan sakitttt
2023-09-16
3
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
ya Allah ternyata Lentera punya masa lalu yang begitu sedihhh haduuh
2023-09-16
4