BAB 12

Pelangi mengangkat bahunya. "Bukan aku," ucapnya sebelum ayahnya menuduhnya. "Tadi kami berbincang mengenai kekurangan kakiku, tapi begitu aku tanya apa kekurangannya, Kak Lentera justru menangis," ia mencoba menjelaskan apa yang terjadi sesaat sebelum Lentera menangis.

Rimba mengangguk percaya, ia mendekat ke arah putrinya dan menarik selimut hingga ke dada. "Kamu istirahatlah, ini sudah hampir pukul 02.00," ia mengecup kening putrinya sembari memberikan ucapan selamat tidur kepadanya. "Sleep well, baby."

Tangan Pelangi terulur sebelum ayahnya beranjak dari tempat tidurnya. "Ini punya Kak Lentera, tadi tertinggal di sini." ia tahu bahwa ayahnya pasti akan menyusul Lentera untuk mencari tahu penyebab dia menangis.

Rimba mengangguk sembari menerimanya. "Nanti Papa akan berikan padanya, sekarang kamu tidur ya," sekali lagi Rimba mengelus kepala putrinya kemudian ia berjalan menuju pintu dan mematikan lampu.

"Papa..." ucap Pelangi saat Rimba hendak menutup pintu kamarnya.

"Iya sayang," sahutnya, tangannya terhenti dan ia menatap putrinya dari pintu.

"Katakan terima kasih pada Kak Lentera karena sudah menjaga tidurku setiap malam sehingga aku bisa tidur nyenyak."

Rimba tertegun, ia tak menyangka jika Lentera sedetail itu memperhatikan putrinya agar bisa tidur nyenyak, hal yang tak pernah terpikirkan olehnya. "Akan Papa sampaikan, good night baby."

"Good night, Papa." pintu kamarnya pun tertutup, Pelangi percaya jika Papanya akan menyelesaikan masalah Lentera, ia pun memejamkannya.

...****************...

Rimba menghampiri Lentera di saung tamannya, wanita itu masih menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Lentera, apa ada masalah?" Rimba mengulurkan tangannya ke bahu Lentera untuk menenangkannya, namun Lentera justru berteriak histeris.

"Jangan sentuh aku!!!" tubuh Lentera berguncang dengan hebatnya, ia menggigil memeluk dirinya sendiri.

Rimba mengangkat tangannya. "Maaf... Aku tidak akan menyentuhmu," ia mundur satu langkah agar Lentera percaya dia tidak akan menyentuhnya. "Tenanglah, Ra... Ini aku Rimba. Aku tidak akan menyakitimu," ucapnya dengan lembut.

Perlahan Lentera mendongak, ia langsung menyadari sikapnya membuat Rimba atau bahkan Pelangi bingung, ia bergegas menyeka air matanya dengan tangannya. Sekuat teanga ia mencoba untuk terlihat normal, seperti tak ada hal yang menyakitkan yang pernah terjadi padanya. "Maaf, tadi aku hanya...." ia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Rimba, Lentera tak ingin menceritakan trauma masa lalunya kepada Rimba.

Rimba kembali maju satu langkah, sembari mengulurkan tangannya ke arah Lentera. "Tadi handphonemu tertinggal di kamar Pelangi."

Dengan tangan yang masih gemetar Lentera mengulurkan tangannya dan mengambil handphonenya dari tangan Rimba. "Terima kasih," ucapnya lirih.

Rimba berjalan melewati Lentera, kemudian duduk dengan santai di sebelahnya, ia memandangi langit malam yang cerah yang di penuhi oleh bintang-bintang. "Ra, terima kasih ya, kau sudah menjaga Pelangi agar dia bisa tidur nyenyak di sepanjang malam." Rimba memulai obrolannya. "Asal kau tahu, Ra. Sejak pertama kau bersedia menerima tawaranku untuk menjadi terapis Pelangi, aku sudah menganggapmu sebagai sahabat, karena aku yakin kita akan sering berdiskusi membicarakan banyak hal termasuk perkembangan Pelangi," Rimba mengalihkan pandangannya ke arah Lentera." Sebagai sahabat yang baik, aku tidak keberatan untuk mendengarkan masalah pribadimu. Ini juga demi kelancaran proses terapi Pelangi," imbuhnya agar Lentera tak menganggapnya ikut campur dalam masalah pribadinya.

"Maafkan atas sikapku tadi, aku janji hal itu tidak akan terjadi lagi. Ini sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat," ia beranjak dari tempat duduknya, namun dengan cepat Rimba menahanya dengan memegang pergelangan tangannya. "Ra, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, aku akan selalu ada kapanpun kamu membutuhkan aku," Rimba melepaskan tangannya.

Lentera terkejut dengan reaksi yang terjadi pada dirinya, di kondisi yang tanang Rimba sama sekali tak membuatnya takut seperti pria-pria lain yang menyentuhnya, Lentera bahkan baru sadar jika saat pertemuannya dengan Rimba, ia pernah menjabat tangan pria itu. 'Apa aku sudah pulih? Tapi bagaimana dengan Jagat kemarin?' batinnya.

"Terima kasih, aku permisi dulu." Lentera berbalik, dan kembali masuk ke rumah.

Sementara Rimba memandangi wanita itu berjalan menjauh darinya, ingin rasanya ia memeluk Lentera ketika tadi ia menangis, sebab melihatnya menangis membuat dadanya terasa sesak. "Aku harap suatu hari nanti kau mau bercerita denganku."

...****************...

Pagi hari Rimba turun untuk sarapan lebih lama dari sebelumnya, ada banyak berkas yang harus ia rapihkan sebelum ia berangkat ke kantor. Saat ia bergabung di meja makan bersama Lentera dan putrinya, mereka berdua hampir menghabiskan sarapan mereka.

Rimba melihat wajah riang Lentera seolah kejadian semalam tak pernah terjadi, namun Lentera tak bisa menutupi sorot matanya, dari situ Rimba bisa membaca bahwa masalah itu belum selesai.

"Bik Sore sedang tidak enak badan, jadi tadi aku buatkan sandwich untukmu, semoga kau suka," ia menghidangkannya di atas piring Rimba, kemudian menuangkan susu untuknya. Semenjak Pelangi makan makanan sehat, secara otomatis Rimba pun menyantap makanan yang sama sebagai bentuk contoh untuk putrinya.

"Omong kosong, ini adalah sandwich terenak yang pernah aku makan," sahut Pelangi. "Aku bahkan sudah menghabiskan tiga potong."

Rimba tertawa sembari menatap Lentera, sudah lama sekali ia tidak di layani seperti ini, sejak almarhum istrinya belum memiliki pria simpanan. "Terima kasih."

"Papah," ujar Pelangi, setelah menghabiskan satu gelas susu berkalsium tingginya. "Aku ingin kembali menjalani home schooling, bolehkan?" pintanya. Sudah beberapa bulan belakangan ini ia tak mau belajar lagi, sebab merasa percuma meneruskan sekolah kalau ia tak bisa berjalan dan akan akan mati di tempat tidurnya, namun setelah melihat video Gabi yang di tunjukan oleh Lentera tadi malam membuatnya semangat untuk belajar lagi.

"Baletku bisa saja terhenti untuk sementara sampai kakiku pulih, tapi aku masih punya otak yang bisa aku gunakan untuk berpikir, aku ingin kembali menjadi juara kelas dan mengikuti lomba cerdas cermat."

Rimba tersenyum, ia hampir menitikan air matanya melihat semangat putrinya berkobar, ini lah yang di tunggu Rimba sejak dua tahun yang lalu. "Tentu saja sayang," ia mengelus lengan Pelangi dengan lembut. "Nanti Papa akan menghubungi gurumu," ia menoleh ke arah Lentera. "Bagaimana dengan jadwal terapinya?"

"Seperti biasa setelah Shalat Subuh aku akan memberinya latihan ringan setelah itu dia bisa sarapan dan sekolah. Pukul 14.30 kita bisa mulai sesi latihan di ruang olahraga dan kolam renang. Jadwal resminya akan aku buat siang ini."

"Terima kasih banyak ya Ra," Rimba yakin semangat putrinya ini ada karena obrolan mereka tadi malam, seandainya ada ucapan lebih dari kata terima kasih sudah pasti akan ia ucapkan untuk Lentera.

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

alhamdulillah pelangi keinginan utk belajar kamu masih tetap ada...semangat yaa pelan2 pasti kamu akan kembali spt dulu

2023-09-23

3

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

mngkin karena kau merasa nyaman dengan Rimba

2023-09-23

3

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

semangat pelangi....akan ada pelangi yang indah setelah hujan yakinlah pada dirimu sendiri kamu bisa mencapainyaaa

2023-09-20

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!