Lentera bangun sebelum matahari menyingsing untuk shalat subuh dan berkemas, setelah itu ia pamit dengan Nathan, pasien yang ia tangani. Awalnya Nathan dan anak-anak lainnya berat untuk melepas Lentera, mereka terlanjur nyaman dengan kehadiran Lentera, namun mereka sadar bahwa banyak anak di luaran sana yang membutuhkan pertolongan Lentera.
"Kau sudah jauh lebih baik," ucap Lentera pada Nathan. "Asalkan kau giat berlatih seperti apa yang Kakak selalu ajarkan, Kakak yakin dua atau tingga minggu ke depan kau sudah tak memerlukan tongkat itu lagi."
Nathan tersenyum sembari mengangguk. "Baik Kak, aku mengerti. Terima kasih atas semua bantuan yang kakak berikan, semoga pasien kakak selanjutnya bisa lekas pulih sepertiku. Kakak jangan lupa datang kemari lagi ya, jika kakak senggang."
"Pasti, kakak akan datang lagi untuk menengok kalian."
Saat Lebtera tengah berpamitan dengan pemilik dan para pengurus panti, Rimba datang, pria itu sama tersenyum melihat koper-koper Lentera yang sudah tersusun rapih di depan panti, ia menunggu dengan sabar hingga Lentera selesai berpamitan sembari mengamati supirnya memasukan koper-koper Lentera ke mobil.
“Saya tahu Anda akan menerima tawaran saya,” ucap Rimba sembari membukakan pintu mobil untuk Lentera, kemudian ia tersenyum ke anak-anak dan para pengurus panti yang melepas kepergian Lentera.
“Apakah Anda selalu seyakin ini, Pak Rimba?” tanyanya ketika mereka sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil.
“Aku tidak pernah seyakin ini, tapi dokter Elegi menceritakan banyak hal tentangmu kepadaku. Menurutnya, kau akan menerima tawaran ini karena merupakan tantangan buatmu, dan ketika aku melihatmu, aku tahu kata-katanya benar.”
“Aku harus bicara dengan dokter Elegi karena dia membocorkan rahasiaku,” ucap Lentera bercanda.
Rimba tertawa “Tenanglah masih banyak rahasia Anda yang belum bocor.”
Lentera mengangkat bahunya. " Entahlah."
Mobil yang membawa mereka melaju menuju Juanda Airport, kemudian perjalanan di lanjutkan dengan jet pribadi yang terbang ke barat menuju ibu kota. Dalam perjalanan Lentera mulai mengajukan beberapa pertanyaan tentang Pelangi kepada Rimba. Apa yang Pelangi sukai? Apa yang tidak dia suka? Apa saja hobinya? Lentera ingin tahu usia, pendidikan yang sekarang sedang di tempuh, warna kesukaannya, teman-temannya, serta lingkungan keluarganya.
Lentera menyadari biasanya seorang anak kecil yang mengalami kecelakaan biasanya akan banyak orang yang memanjakannya, dan benar saja dugaan Lentera. Rimba memperingatkannya agar hati-hati kepada ibundanya, sebab ibundanya setiap waktu datang ke rumahnya untuk menjaga Pelangi. "Rumah eyangnya hanya beda satu blok dari rumah kami, jadi ibuku bisa setiap saat datang ke rumah. Sejak kecelakaan itu Ibuku tidak pernah mau jauh dari Pelangi, dan aku yakin beliau takkan senang ketika kau datang lalu memberikan extra pelatihan untuk cucu satu-satunya, beliau hampir gila saat Pelangi kritis.”
“Aku takkan mengizinkan program terapiku mendapatkan gangguan apa pun,” Lentera memperingatkan Rimba dengan pelan. “Aku akan terus memantaunya dari waktu ke waktu, siapa tamu yang menjenguknya, makanan apa yang dia santap, bahkan panggilan telepon untuknya. Kuharap ibumu memahami itu.”
“Aku akan mencoba meyakinkan ibuku, tapi ibuku sungguh keras kepala. Beliau bahkan mengetahui pasword setiap pintu di rumah kami, sehingga beliau bisa kapanpun masuk ke rumah."
“Aku tak bermaksud durhaka, hanya saja ini untuk kebaikan Pelangi. Jadi aku harap Pak Rimba mau mengganti pasword pintu rumah anda.” Lentera mengungkapkan rencananya, dan amat serius dengan niatnya. Entah Senja nenek yang sangat menyayangi cucunya atau bukan, wanita itu tidak boleh mengambil alih atau mencampuri program terapi Lentera.
“Bagus,” sambut Rimba menyetujui, kernyitan muncul di dahi polosnya. “Aku ingin Pelangi bisa berjalan lagi, aku menyetujui semua program yang kamu buat.”
Flashback off
...****************...
"Aku melihat dari caranya menangani Pelangi, sungguh luar biasa," ucap Jagat, ketika mobil yang di kendarai oleh Rimba masuk ke gerbang kantornya. "Dia bukan hanya memiliki kempuan yang hebat, tapi memiliki paras yang cantik serta sifat yang keibuan. Tetap tegas namun terasa lembut, tipe wanita yang selama ini aku cari." Jagat mengungkapkan kesan pertamanya melihat Lentera tanpa basa-basi.
Seketika Rimba menginjak rem hingga tubuh Jagat hampir mengenai dashboard "Apa maksudmu?" ia menatap Jagat dengan tatapan tajam. "Kau jangan macam-macam kepadanya, dia kemari untuk melatih putriku, bukan untuk bersenang-senang. Lagipula kau sudah punya istri, apa kau berniat menyelingkuhi adik iparku?"
"Bukankah kau sudah tahu bagaimana Rembulan memperlakukan aku selama ini?" Jagat merubah posisinya dan membalas tatapan Rimba. "Aku yakin, dia tidak peduli jika aku menikah lagi, yang ada dalam pikirannya hanyalah perusahaannya."
Rimba memang tak tahu banyak tentang rumah tangga Jagat dan Rembulan, adik iparnya. Tapi selama ini dia hampir tak pernah melihat kebersamaan Jagat dan Rembulan, karena Rembulan terlalu sibuk dengan perusahaan keluarganya, terlebih saat istrinya, Mentari meninggal dunia. Rimba hampir tak pernah bertemu dengan Rembulan lagi, bahkan di acara keluarga sekalipun.
"Kau tak perlu khawatir, aku tidak akan mengngganggu jadwal kerjanya karena aku pun menginginkan Pelangi bisa berjalan lagi. Kau juga tak perlu khawatir aku mempermainkannya sehingga bisa mengganggu konsentrasinya dalam memberikan terapi untuk Pelangi. Aku akan menggunakan cara terbaik untuk mendapatkannya." wajah Jagat terlihat sangat bersungguh-sungguh.
"Apa kau berniat menceraikan Rembulan?"
Jagat mengangkat bahunya. "Aku serahkan sepenuhnya kepada Rembulan, apakah dia bersedia di madu atau dia pilih perceraian."
Rimba menggelengkan kepalanya, ia hampir tak percaya Jagat bisa mengatakan hal itu. "Kau sungguh-sungguh gila."
"Lima tahun aku bersabar untuknya," ucap Jagat sembari menghembuskan napas beratnya, ia meyandarkan tubuhnya di bangku menatap parkiran yang ada di hadapannya. "Aku manusia biasa, aku juga butuh kehangatan dan kenyamanan dalam rumah tangga yang aku bina. Aku sudah berusaha menghormati keputusannya untuk tak memiliki anak, tapi selama lima tahun dia selalu menomor duakan aku dengan pekerjaannya, dia menolak semua bantuanku padahal aku hanya ingin dekat dengannya. Aku butuh istri yang lembut, yang bisa memberikan hati, dan cintanya untukku, dan kini aku menemukannya di Lentera. Aku mau dia," Jagat menepuk bahu Rimba kemudian ia keluar dari mobil.
Sementara Rimba masih terdiam dalam mobilnya, rasa tak rela tiba-tiba muncul dalam benaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
**✿𝕾𝖆𝖒𝖘𝖎✿**
rumah tangga macam apa yg di jalani jagat n rembulan ni kek gini kok msh di pertahanin
2023-09-21
2
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
pasti mereka sangat kehilangan lentera karena mereka sudah merasa nyaman dengannya
2023-09-14
2
☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ
akankah ada cinta segitigaa antara Lentera, Rimba dan Jagat..🤔
2023-09-14
2