BAB 18

Pelangi mengangkat kepala untuk menatap Lentera. "Terima kasih Kak Lentera," mata Pelangi berkiauan dengan air mata yang menetes di wajahnya, kemudian ia kembali membenamkan kepalanya di dada Lentera. Lalu Lentera mencium kepala bocah itu. "Kau seharusnya berterima kasih pada dirimu sendiri sayang," bisiknya. "Ini semua adalah hasil dari usahamu, kakak bangga sekali padamu."

Bahagia, dan rasa terima kasih yang begitu besar kepada Lentera membuat Pelangi enggan melepaskan pelukannya. Rimba tersenyum bahagia, ia kembali mengelus bahu Lentera yang tengah mendekap hangat putri semata wayangnya. Lentera dan Pelangi terlihat enggan beranjak dari tempatnya untuk sesaat sebelum mereka mendengar teriakan yang memekakan telinga.

"Apa yang sedang kalian lakukan?!"seru Senja, tatapannya yang tajam tertuju pada tangan Rimba yang berada di bahu Lentera.

Dengan wajah terkejutnya, Rimba langsung menurunkan tangannya. "Mommy??" ujarnya. "Bukankah Daddy akan mengajak Mommy ke Puncak menikmati akhir pekan?"

"Oh jadi kau yang menyuruh...."

"Eyang, aku sudah bisa berdiri," potong Pelangi menghentikan kalimat Eyangnya. Untuk beberapa detik Senja terdiam, mencerna informasi yang cucunya sampaikan. "K-kamu bisa berdiri?" tanyanya tergagap, luapan ketidakpercayaan bercampur rasa bahagia. "B-benarkah?"

Pelangi mengangguk dengan mantap. "Iya Eyang, aku bisa berdiri lagi dengan kakiku sendiri," ia meminta Lentera dan Papanya untuk membantunya berdiri agar ia bisa memperlihatkannya kepada Eyangnya.

Dengan deraian air mata, Senja membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya sembari menggelengkan kepala ketika ia melihat cucu yang begitu ia sayangi bisa berdiri lagi dengan kakinya sendiri. “kau bisa berdiri lagi sayang?” Senja hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya, perlahan Senja mulai mendekat ke arah Pelangi untuk meyakinkan ini bukanlah mimpi.

"Pelangi bisa berdiri lagi, Mom," Rimba membenarkan "ini semua karena terapi yang di berikan oleh Lentera."

Lentera menggelengkan kepalanya. “Tidak. Ini semua karena kerja keras Pelangi. dia berhasil menumpukan berat tubuhnya di kaki,"ucap Lentera.

“Ini sungguh luar biasa.”

Setelah Pelangi memperlihatkan bahwa dia sudah bisa berdiri lagi, Lentera mengkkahiri sesi terapinya. "Hari ini kita cukupkan sampai disini, kamu sudah terlalu banyak bekerja keras dalam sesi latihan kali ini, Sayang," ucap Lentera sembari menarik kursi roda mendekat ke arah Pelangi, kemudian Rimba membantu putrinya duduk.

"Boleh aku bicara sebentar denganmu?" tanya Senja pada Lentera.

"Tentu saja Nyonya," Lentera tersenyum sembari menganggukan kepalanya, ia kemudian menunduk ke arah Pelangi. "Nanti Kakak akan menyusul."

Pelangi menganggukan kepalanya, sementara Rimba bersiap mendorong kursi roda putrinya keluar dari ruang olahraga. "Kami duluan ya,"Rimba percaya kali ini Mommynya tak akan sinis lagi kepada Lentera untuk itulah ia meninggalkan mereka berdua.

Setelah Rimba dan Pelangi pergi, wajah Senja terlihat menyesal. “Aku tahu kau pasti berpikir aku terlalu cerewet mengurusi Pelangi. Kuakui itu benar. A-ku… aku minta maaf atas sikapku ketika kau baru datang. Saat itu aku berpikir kau tak akan sanggup menolong cucuku, dan aku tidak ingin harapan Pelangi melambung, hanya untuk kemudian kecewa lagi. Tapi, kemarin aku berpikir kalau pun Cucuku tidak bisa berjalan lagi, bisa kulihat terapi yang kau berikan berguna untuknya. Berat badannya bertambah dan dia kembali kelihatan sehat.”

Lentera Terkejut mendengar permintaan maaf Senja. “Aku mengerti Nyonya, hal itu sudah sering terjadi pada orang terdekat pasien. Jadi aku bisa memakluminya.”

“Selama ini aku selalu berpikir untuk menyingkirkanmu karena kau bukan hanya akan menyakiti Pelangi, tapi kau juga menjauhkanku darinya. Dia cucuku satu-satunya, aku begitu menyayanginya, aku tidak sanggup jika melihatnya terpuruk lagi."

Lentera tersenyum, kemudian meraih tangan Senja. "Demi Allah, aku tidak bermaksud menjauhkan Nyonya dari Pelangi. Mulai sekarang Nyonya bisa menjenguknya kapanpun Nyonya inginkan, dan seperti yang aku katakan di awal pertemuan kita, terapi ini tidak akan tidak menyakitkan tapi sekarang kita bisa lihat sendiri bagaimana hasilnya. Mari kita bersama-sama memberikan support kepada Pelangi agar dia segera bisa jalan lagi."

Ucapan Lentera begitu lembut dan begitu menyentuh hati Senja, ia mengulurkan tangannya untuk mengelus lengan Lentera. "Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih Lentera," ucapnya. "Sepertinya pencapaian ini patut untuk di rayakan. Apa makanan kesukaanmu Lentera? Aku akan memesankannya untukmu?"

Lentera terkejut dengan perhatian yang Senja berikan padanya, namun Lentera mengingatkan dirinya untuk tidak terlena dengan kebaikan Senja maupun Rimba, bahkan tidak pula terlena akan kedekatannya dengan Pelangi, sebab setelah Pelangi bisa berjalan nanti ia akan pergi. "Apa saja Nyonya, aku bisa makan apa pun selagi itu halal." Lentera mengakhiri perbincangannya dengan Senja, ia pamit untuk mengganti pakaiannya.

...****************...

Sesuai dengan rencana Senja, malam harinya ia mengadakan pesta barbeque di halaman kediaman Rimba. Acara itu di hadiri pula oleh Jagat dan Rembulan karena mereka berdua turut andil dalam mensuport Pelangi selama ini.

Mereka berdua sangat senang dengan pencapaian yang di raih oleh Pelangi, bahkan Jagat sampai memberikan hadiah lego yang cukup langka dengan harga fantastis. "Kapan-kapan kita akan bermain bersama, bagaimana?" tanya Jagat.

Pelangi mengedipkan matanya. "Tentu saja," ucapnya riang. "Tapi Uncle harus satu tim dengan Aunty Rembulan."

Rimba tak bisa menjawabnya, ia hanya tersenyum simpul kemudian berkata. "Uncle bantu Papamu dan kakung dulu ya," ia mengelus kepala Pelangi lalu meninggalkan bocah itu di meja makan bersama dengan Senja.

Sementara Lentera sendiri berada di dapur membantu Bik Sore menyiapkan bahan lainnya, tanpa Lentera sadari Rembulan berjalan mendekat ke arahnya. "Bik, boleh aku saja yang mengerjakan?" Rembulan meminta telur yang berada di tangan Bik Sore.

Untuk sesaat Bik Sore nampak bingung melihat Rembulan yang tak biasanya mau masuk dapur, namun Bik Sore akhirnya mengerti, Rembulan pasti ingin bicara dengan Lentera. "Baik Non, kebetulan Bibik juga ingin merapihkan meja makan di taman," ia pamit dengan Lentera sebelum meninggalkan dapur.

"Wafel?" tanya Rembulan pada Lentera yang tengah menuang adonan pada cetakan wafel.

"Untuk hadiah Pelangi, dia sangat suka wafel coklat dan telur orak-arik buatanku."

"Kau cocok jadi ibu sambungnya," ujar Rembulan sembari tertawa lebar. "Kau sungguh hebat sekali bisa menaklukannya hingga membuatnya bisa berdiri."

Lentera hanya tersenyum menanggapi ucapan Rembulan, karena ia tengah berkonsentrasi membuat wafel yang kedua. Ia membuat dua wafel untuk Rimba dan Pelangi.

"Aku ingin minta maaf, karena aku hampir menuduhmu pelakor," wajah Rembulan berubah menjadi serius. "Tapi beberapa waktu belakangan ini aku melihat sendiri kau sama sekali tak punya perasaan lebih terhadap Mas Jagat, dan itu membuatku sedikit lega."

Lentera menaruh wafel buatannya di piring saji, kemudian ia menatap Rembulan. "Aku yakin Nyonya bisa kembali memenagkan hati suami Anda lagi. Ibarat batu yang terus-menerus terkena tetesan air, sekeras apapun batu itu, tetesan air akan melunakkannya."

"Jangan panggil aku Nyonya, panggil saja namaku. Aku ingin berteman denganmu, kamu mau kan?"

Lentera mengangguk, meski ia tak tahu bentuk pertemanan seperti apa yang Rembulan tawarkan padanya tapi tidak salahnya bagi Lentera untuk menerimanya toh pertemanan ini sifatnya hanya sementra, Februari nanti dia akan pergi dari rumah ini dan kemungkinan tidak akan lagi berhubungan dengan keluarga Rimba, termasuk Rembulan.

"Kau membuat dua wafel? Yang ini untukku ya?" pinta Rembulan. "Sepertinya enak."

"Jangan!!" pekik Lentera. "Ini untuk Pak Rimba. Aku tak memakai gula di wafel Pelangi dan Pak Rimba karena kemarin Pak Rimba mengeluhkan gula darahnya naik, kalau kau mau nanti aku buatkan yang sedikit agak manis."

Rembulan tersenyum sembari menganggukan kepalanya. "Kau betul-betul istri sekaligus ibu idaman pantas saja Rimba dan Jagat tergila-gila padamu."

"Pak Rimba?"Lentera mengerutkan keningnya.

Rembulan buru-buru menutup mulutnya, ia tak ingin membocorkan apa pun sebelum kakak iparnya sendiri yang mengatakan perasaannya pada Lentera. "Tidak," elaknya. "Ayo cepat buatkan untukku! Aku juga mau..." Rembulan mencoba mengganti topik pembicaraannya.

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

☠ᵏᵋᶜᶟ ⏤͟͟͞R•Dee💕 ˢ⍣⃟ₛ

istilahnya bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian...
terapi yg dilakukan pelangi pasti sakit luar biasa namun nanti dia akan memetik hasil dr kerja kerasnya...

2023-09-26

3

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤

wah bener kan rimba ada hati Mada Lentera....semoga aja mereka bisa bersatuu

2023-09-23

2

🍭ͪ ͩᵇᵃˢᵉ fj⏤͟͟͞R ¢ᖱ'D⃤ ̐

🍭ͪ ͩᵇᵃˢᵉ fj⏤͟͟͞R ¢ᖱ'D⃤ ̐

buah dari kesabaran Lentera membimbing Pelangi untuk sembuh meski dia harus melewati banyak hal dan menentang keinginannya melatih Pelangi.

2023-09-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!