"Kau tidak apa-apa, Lentera?" Rimba terlihat khawatir terhadap Lentera. "Apa dia mengatakan hal yang tidak-tidak?"
Lentera tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saya, kami tadi hanya mengobrol sebentar," jawabnya dengan santai, ia tak ingin membuat Rimba cemas. "Aku ke ruang olahraga dulu ya, Pelangi sudah menungguku." Lentera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang olahraga.
"Brengsek!!" gerutu Rimba, sembari mengusap wajahnya dengan kasar, ia tahu jika sesuatu terjadi antara Rembulan dan Lentera, sebab ia sangat mengenal adik iparnya yang begitu ambisius dan akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Perasaan bersalah menghantui dirinya karena ia datang terlambat dan tak bisa melindungi Lentera. Sebelum kembali ke kantor, Rimba menghampiri security rumahnya untuk memberikan perintah agar Jagat dan istrinya tak masuk ke kediamannya tanpa izin darinya.
Rimba tak ingin Lentera terseret dalam masalah rumah tangga mereka, terlebih Rimba yakin bahwa Lentera sama sekali tak memiliki perasaan apa pun terhadap Jagat.
...****************...
Lentera menghampiri Pelangi dengan wajah riang, bocah itu menunggu Lentera sembari bermain congklak bersama Bik Sore. "Mau adu coklak lagi dengan Kakak?" tanyanya dengan senyuman manis menghiasi wajah cantik Lentera.
"Tidak!!" jawab Pelangi dengan wajah cemberut, pipinya di kembungkan sebesar-besarnya. "Aku tahu saat awal Kakak datang kemari dan mengajakku bermain congklak ternyata kakak bermain curang. Kakak menyelipkan satu biji coklak di jari kelingking Kakak agar Kakak bisa jalan terus."
“A-apa?” tanya Lentera, terbata-bata. Ia tak percaya jika kecurangannya itu di ketahui Pelangi padahal ia sudah sehalus mungkin mengelabuhi Pelangi. Lentera sekarang semakin yakin jika bocah di depannya ini benar-benar bocah yang sangat cerdas dan teliti.
“Dasar curang. Jadi sudah berapa banyak anak yang sudah Kakak bohongi?”
Pipi Lentera memerah. “Hanya kamu,” sahutnya, tapi ternyata jawaban itu justru membuat Pelangi semakin marah.
“Tidak bisa kupercaya!” Pelangi masih kesal, suaranya semakin keras. “Kakak tahu bagaimana perasaanku dikalahkan oleh Kakak padahal aku sama sekali tak pernah kalah dalam permainan ini? Aku hafal betul berapa jumlah biji congklak dan aku mampu menghitung dimana biji terakhir akan berhenti, tapi kakak bermain curang!"
“Kakak minta maaf, tapi aku melakukan itu agar kau mau terapi,” ucap Lentera terus terang sambil berusaha menahan diri untuk tidak tertawa, melihat wajah Pelangi yang nampak menggemaskan ketika protes.
Lentera menarik Pelangi dalam pelukannya. "Please jangan marah lagi," ia mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Pelangi. "Janji, setelah ini Kakak tidak akan pernah mencurangi dan membohongimu lagi."
Pelangi membuang wajahnya, namun tangannya melingkar erat di pinggang Lentera pertanda bahwa dia tidak 100% marah dengan Lentera. "Ayolah, maafkan kakak. Habis itu kita main secara jujur, kakak janji."
Dengan malu-malu akhirnya Pelangi mau melingkarkan jari kelingkingnya ke jari Lentera. Lentera begitu senang bisa meluluhkan hati Pelangi, ia semakin mendekap erat bocah itu. "Terima kasih," ia mengecup singkat kepala Pelangi, kemudian mengajaknya bermain congklak.
Saat mereka tengah menghitung biji-biji congklak, Bik Sore pamit ke dapur untuk menyiapkan makan siang. “Baiklah pada hitungan ketiga,” kata Pelangi. “Satu… dua..... tiga.” mereka melakukan suit jari dan di menangkan oleh Pelangi.
Pelangi berkesempatan memulai permainan, dengan sabar Lentera menunggu gilirannya bermain.
Satu putaran.
Dua putaran.
Lumbung Pelangi sedikit demi sedikit mulai terisi penuh, bebeda halnya dengan lumbung Lentera yang masih kosong sebab ia belum juga mendapat giliran bermain. Lentera menyipitkan matanya, ia baru menyadari mengapa ia tak kunjung mendapat giliran. Rupanya Pelangi menggunakan caranya dulu untuk mengalahkannya.
"Hei, kau curang!" pekik Lentera.
Pelangi yang tak pandai berbohong pun tertawa tebahak-bahak. "Bagaimana rasanya di curangi? Satu sama, kita impas," sahutnya terpingkal-pingkal.
Lentera langsung menangkap tubuh Pelangi. "Rupanya kau pendendam ya." ia menggelitik tubuh bocah itu, hingga tawa Pelangi semakin pecah “Hentikan! Hentikan Kakak...!” Air mata geli mengalir di wajah Pelangi.
“Kau tidak sungguh-sungguh memaafkan kakak.” Lentera tak melepaskan terkamannya dan terus menggelitiki rusuk Pelangi.
Pelangi menjerit sambil berguling minta ampun untuk meloloskan diri dari jemari Lentera. Dia tiba-tiba terhenti ketika satu suara mengusik mereka.
“Lentera!”
Senja terkejut melihat Cucunya terbaring di lantai, dan terdengar suara jeritan. Senja langsung berasumsi bahwa telah terjadi kecelakaan mengerikan dan dia langsung menyingkirkan Lentera lalu memeluk Cucu kesayangannya, tangannya yang ketakutan memeluk Pelangi dengan erat dan menghadapkan sang Cucu ke arahnya.
'Tidak seperti biasanya Eyang datang ke rumah jam segini, biasanya jam segini Eyang ikut dengan Eyang Kakung ke kantor.' batin Pelangi, tapi Pelangi bersyukur karena dengan begini Lentera tidak lagi menggelitikinya dan tidak lagi membahas soal kecurangannya.
“Eyang! Tidak terjadi apa-apa denganku,” ucap Pelangi dengan suara tenang. “Kami hanya sedang bermain-main. Aku sama sekali tidak terluka."
Senja berangsur tenang, wajahnya yang pucat pasi lambat laun mulai berwarna lagi. Pelangi melepaskan pelukan eyangnya, lalu meraih selimut yang biasa menutupi kakinya. “Eyang tumben datang jam segini.”
Senja menjauh dari Pelangi seraya memandang cucunya dengan terkejut. "Kakimu?" ia menggelengkan kepalanya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ini sudah jauh lebih baik, Eyang."
"Ya, laporan perkembangan Pelangi sudah saya serahkan kepada Rimba setiap minggunya, termasuk kenaikan berat badannya. Nyonya bisa cek sendiri," sahut Lentera, ia mengerti mengapa Senja terkejut karena sebelumnya Senja tak pernah melihat Pelangi mengenakan celana pendek, seandainya Senja melihat kondisi Pelangi saat di awal sebelum kedatangannya, seperti halnya dengan Rimba dan Bik Sore tentu Senja akan merasakan perbedannya.
"Baiklah, tapi seharusnya saat ini kalian menjalani sesi terapi, bukan sesi bermain-main.” Senja kemudian berdiri. “Aku minta maaf karena telah mengganggu, sebetulnya aku datang kemari karena sesuatu hal, tapi sudahlah lupakan. Kalian silahkan lanjutkan lagi sesi terapinya." Senja pun meninggalkan ruang olahraga.
"Apa Eyang marah?"
Lentera mengangkat bahunya. "Sepertinya beliau hanya kaget melihat kakimu, tapi kakak yakin setelah ini beliau akan lebih merasakan kemajuan perkembangan terapimu dan sedikit demi sedikit beliau akan menerima," ia membantu Pelangi berbaring di meja pijitnya, Lentera mulai mengeluarkan jurus jitu untuk melemaskan otot-otot Pelangi sebelum memulai latihan.
"Pelangi, aku harap kau tidak bosan dengan kakak sehingga kita bisa terus bersama-sama latihan samapai kau bisa berjalan lagi."
“Aku belum pernah bosan dengan Kakak sejak Kakak datang memasuki kehidupanku, Kakak adalah orang yang paling menyenangkan yang pernah aku temui.” Pelangi membenamkan wajahnya di bantal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
🍭ͪ ͩ𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻☪️¢ᖱ'D⃤
akhirnya pelangi mengalami kemajuan yang sangat pesat terbukti eyang senja sampai terkejut melihatnyaa...dan pelangi juga makin merasakan kedekatan denga Lentera. .dan semakin sayang dengan Lentera mungkin kah ini pertanda...
2023-09-20
4
🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜
Pelangi semakin dekat dengan Lentera bahkan sekarang Pelangi sudah bisa kembali tertawa. Semoga kehadiran Lentera walaupun pada awalnya hanya sebagai terapismya Pelangi, bisa memberikan perubahan yang lebih baik untuk Pelangi.
2023-09-18
2
🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜
Mau komentar di beberapa paragraf kok nggak bisa yaa ada notif bab sedang di revisi.
2023-09-18
2